
Siang ini William kedatangan seorang tamu yang adalah ibunya sendiri. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu tentu saja tidak perlu membuat janji temu dengan putranya, Nadira pun segera mempersilahkan wanita itu masuk setelah menelepon atasannya dan mengabarkan bahwa Nyonya Willona berada di depan ruangannya.
"Terimakasih Nadira, sekretaris cantik anakku," ucap Willona, meski tidak terlalu berharap, wanita itu selalu membayangkan putranya akan menikahi salah satu karyawan di kantornya, seperti dalam cerita-cerita drama, begitu pikirnya.
Nadira tersenyum canggung, tentu saja gadis itu tidak sedikitpun berharap bahwa wanita di hadapannya itu akan menjadi ibu mertuanya, membayangkan menjadi istri Tuan William, bahkan tidak ada dalam daftar halusinasinya sekalipun.
Saat Willona membuka pintu, putranya itu menoleh, senyumnya selalu sama, pria itu tidak banyak berubah.
"Mami." William beranjak berdiri dan menghampiri sang mami untuk mendapat pelukan hangat darinya. "Kenapa tidak bilang mau ke sini, Kan bisa kujemput."
Willona yang sudah melepaskan pelukan putranya kemudian duduk di sofa, dan pria itu pun mengikutinya setelah menyuruh Nadira membuatkan minuman untuk sang mami.
"Kemarin mami dapet telefon dari Rachel, dia nangis-nangis katanya kamu jahat memangnya kalian kenapa lagi sih?" Willona bertanya tanpa basa-basi.
William menghela napas, kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, pria itu menoleh, "aku kan sudah bilang, Rachel itu bukan tipeku, aku tidak menyukainya," ucap pria itu.
Willona terlihat sedih, dan Ketukan di pintu juga suara terbukanya benda itu membuat keduanya menoleh.
"Teh hangat nya Nyonya." Nadira meletakan secangkir teh yang ia ambil dari atas nampan itu ke atas meja, dan mendapatkan ucapan terimakasih dari wanita di hadapannya.
"Bagaimana jika Nadira saja, apa kau suka?" tanya Willona sembari menarik sekretaris cantik putranya itu yang belum sempat menegakkan tubuhnya.
William menghela napas. "Tidak Mami." tolaknya dengan halus, dan gadis yang lengannya masih dicengkram oleh ibunya itu pun raut wajahnya terlihat lega, seperti kisah Justin sahabatnya yang menikah dengan sekretarisnya sendiri, mungkin sang mami mengharapkan hal yang sama akan terjadi.
Tentu saja itu tidak mungkin, kami punya takdir yang berbeda, dan harus dijalani sendiri-sendiri juga.
Willona tampak kecewa saat putranya mengatakan, bahwa Nadira telah diberi label berupa hak kepemilikan oleh Davin, wajah gadis itu sampai memerah saking malunya, namun wanita paruh baya di hadapannya itu ikut bahagia, toh Davin sudah seperti anaknya juga.
"Jika kau tidak mau dengan Rachel terus kapan kau akan mulai serius pada seorang perempuan? Mami tidak sabar ingin melihatmu jadi seorang ayah, mami ingin melihat kamu bahagia."
William tersenyum mengingat Lily, pria itu pun menceritakan bahwa ada seorang wanita yang kali ini dia cintai, meskipun tidak menceritakan tentang masalahnya dengan perempuan itu, tapi sepertinya Willona tau, bahwa cinta putranya belum mendapatkan restu.
"Kau punya masalah dengan kakaknya?" Willona mengulang cerita putranya.
William mengangguk, "aku juga tidak tau, kapan wanita itu akan menjauh, tapi untuk sekarang ini biarkan saja berjalan apa adanya."
"Jika kalian saling mencintai kenapa harus takut, pasti ada jalan sayang."
William menyandarkan kepalanya pada pundak Willona, "Mami, aku mencintaimu," ucapnya tiba-tiba.
Wanita yang kemudian tersenyum bingung itu pun menoleh pada putranya yang sudah beranjak tua, kemudian menepuk-nepuk pipinya.
__ADS_1
"Hanya mencintai mami yang tidak berujung menyakitkan, aku benar-benar bosan patah hati."
"Perjuangkan apa yang ingin kau dapatkan Will, kau sendiri yang sering bilang, bahwa di dunia ini tidak ada yang tidak bisa kau lakukan," ucap Willona memberi semangat, "saat pesta pernikahan putri Paman Lim nanti, ajaklah wanita itu, mami ingin bertemu."
***
Sepanjang hari ini, Lily terus memikirkan permintaan sang kakak agar wanita itu mau meninggalkan William, dan berhenti berhubungan dengan pria itu, tapi apakah Lily akan merasa mampu.
Wanita itu duduk di depan cermin saat dia berada di kamarnya, menatap kalung yang William berikan dan mengusap liontin nya dengan ujung tangan.
"Will, hari ini aku benar-benar memikirkanmu," gumamnya, menatap wajahnya sendiri di cermin yang tampak sayu. "Benarkah aku sudah terjebak dalam permainanmu? Benarkah kamu tidak serius mencintaiku?"
Lily bingung harus bagaimana mengikuti kakaknya, pria itu menyuruhnya untuk membuat William jatuh cinta dan meninggalkannya, dan sekarang yang jatuh cinta malah dirinya.
Saat Lily menyalakan ponsel di tangannya, dia tidak berani untuk membuka kontak William, yang berada di urutan pertama daftar orang yang paling sering menghubunginya akhir-akhir ini, "Will, kau benar, ternyata aku sudah mulai mencintaimu," lirihnya.
Suara pintu terbuka membuat wanita itu menoleh, Leon masuk ke dalam kamar mencari adiknya yang terdengar menangis.
"Kau tidak pantas menangisi pria itu Ly, dia adalah orang yang membunuh papa, ingat itu, dia orang yang menghancurkan keluarga kita."
Lily semakin tersedu, kenyataan itu lebih menyakitkan dari perasaan cintanya sendiri yang mungkin dipermainkan, Leon benar, pria itu adalah sumber dari kehancuran masa depannya, dia yang membuat ayahnya meninggal, dan tidak seharusnya perasaan cinta itu ia tumbuhkan di hatinya.
Leon mendekat, mencari keberadaan sang adik yang duduk didepan cermin menghadap dirinya, dia berlutut, saat kedua tangannya mencari sosok Lily, wanita itu mengulurkan jemarinya.
Lily mengangguk, namun yang dapat Leon tangkap, hanya sedu tangisan sang adik yang kemudian berucap,"aku yang salah Kak, hatiku terlalu lemah dengan perlakuanya, maaf, " sesal Lily.
Leon menggeleng, "kita sudah mendapatkan uangnya, kata Daniel aku akan segera mendapat jadwal operasi, dan setelah itu kita mulai semuanya dari awal, hanya ada kau dan aku, hanya kita berdua, balaskan dendam keluarga kita."
Lily tertegun. "Dari mana kakak tau aku telah mendapatkan uangnya?" tanya Lily.
Leon pun merasa heran, "bukankah kau yang aku temui subuh tadi saat aku mengambil minum?" tanyanya, dan mendapati adiknya itu diam saja dia kembali menjelaskan apa saja yang pagi itu mereka bicarakan, "tidak mungkin William yang aku temui itu kan Ly?"
"Tidak kak, itu memang aku, maaf telah melupakannya." Lily terpaksa berdusta, dia jadi berpikir, mungkinkah selama ini William telah mengetahui rencana mereka yang akan menjatuhkannya, tapi kenapa pria itu pintar sekali bersikap biasa saja, seolah hatinya tidak terluka, apa memang benar ungkapan cintanya itu hanya sekedar sandiwara, dan kini malah dia yang terperangkap ke dalamnya.
Leon tersenyum lega, "setelah aku sembuh nanti, kita pindah dari sini."
***
Di tempat berbeda, William mendengarkan percakapan mereka berdua, jika memang wanita itu akan pergi, dia ingin sekali saja mendengar suaranya.
William beranjak dari duduknya di tepi ranjang, mengambil ponsel di atas meja kemudian menghubungi Lily, pria itu melangkah ke arah kaca yang menyuguhkan pemandangan ibu kota di kamar apartemennya, menunggu wanita itu mengangkat panggilan telepon dari dirinya.
__ADS_1
Dari alat yang tersambung pada liontin Lily yang ia aktifkan di telinganya, pria itu mendengar Leon berbicara.
Jika itu dari William, angkatlah, dan katakan padanya bahwa kau tidak ingin menemuinya lagi.
William tertegun, siapkah dia mendengar kalimat itu terucap dari wanita yang dia cintai.
"Halo?" Suara Lily terdengar lemah, alih-alih membalasnya, William malah mematikan ponsel yang masih tersambung dengan perempuan itu.
Dia berpegangan pada kaca jendela, kakinya ya gemetar terlalu lemah untuk menopang beban tubuhnya, kenapa hanya sekedar melepaskan seorang wanita bisa sampai seberat ini, bukankah sudah berkali-kali dia sering melakukan hal yang sama. Perempuan dalam hidupnya sering kali muncul untuk pergi lagi, dan bukankah Lily juga begitu, mereka akan sama.
Tapi untuk sekarang ini pria itu belum bisa melepaskan Lily dari hidupnya, dan jika wanita itu benar-benar memutuskan untuk pergi, dia harus bagaimana.
Now the Day bleeds, into night fall
Sekarang hari yang menyakitkan memasuki malam.
And you're not here, to get me through it all
Dan kau tak di sini untuk menemaniku melalui itu semua
I let my guard down and then you pulled the rug
Aku lengah dan kau tiba-tiba menghilang
I was getting kinda ussed to being someone you loved
Aku mulai terbiasa menjadi seseorang yang pernah kau cintai.
(Lewis Capaldi- Some One You Loved)
Benarkah ini akhir dari perjalanan kisah mereka, bahkan cerita yang dituliskan untuk keduanya baru saja berganti alinea, bab baru belum selesai pada paragrap pertama, dan jika harus berakhir, apakah akan ada season yang kedua. Bahkan kisah William dengan wanita sebelumnya selalu selesai begitu saja.
Tapi William tidak akan menyerah, untuk kali ini dia tidak akan pernah mengalah.
*** Iklan***
Netizen: Ada yg nanya thor ini seting tempatnya di luar negri apa Indonesia kok kadang ada Bang Entin juga. 🤔
Author: Di Indonesia aja lah ya kalo di Luar Negri susah aku ngehalunya, lah jangankan ke luar Negri, keluar rumah aja jarang 😌
Netizen: Berarti Bang Bule kena virus warga +62 jadian kaga tapi udah patah hati 😒
__ADS_1
Author: Ditinggal pas lagi sayang sayange, pas lagi jeru-jerune 😌
Netizen: Ambyar thoor 🤧