
Kehamilan yang sudah memasuki bulannya membuat Lily merasa cepat sekali lelah, tidur tidak nyenyak dan sering kali merasa gelisah, dan pagi ini dia meminta William untuk menemani di rumah saja.
"Ingin makan sesuatu?" tanya William saat mereka sudah keluar dari kamar, sejak kandungan sang istri membesar, kamar mereka pindah ke lantai bawah agar tidak naik turun tangga.
Lily menggeleng, "aku hanya ingin minum, rasanya haus sekali," ucapnya.
"Kalau begitu kamu tunggu di kamar saja, biar aku ambilkan minum untukmu," ucap William, melihat sang istri yang tampak kewalahan berjalan, ia jadi merasa amat kasihan, rasanya ia ingin menggantikan wanita itu mengandung putranya, tapi tentu saja tidak bisa.
Lily menggeleng,"aku ingin menghirup udara luar, bosan terus di kamar," ucapnya setelah mendudukkan tubuhnya pada kursi, mengusap perutnya yang berisi. "prediksi dokter dua minggu lagi anak kita lahir," ucapnya terlihat tidak sabar.
William ikut mengusapnya, "itu hanya prediksi, bisa lebih cepat atau juga lebih lama dari itu," ucapnya.
"Benarkah?"
Pertanyaan itu membuat suaminya mengangguk, "Mau lahir kapan pun asalkan kau dan anak kita sehat dan selamat, bagiku sudah cukup," ucapnya.
William berbalik ke arah meja dapur. Mengambil air minum dari sana dan setelah berbalik pada istrinya, wajah wanita itu terlihat kesakitan, "ada apa?" tanyanya.
"Aku merasa perutku ini mulai sakit," ucap Lily sembari menyandarkan tubuhnya pada kursi, mencari posisi nyaman agar tidak sakit lagi, namun rasa sakit itu kian kuat hingga wanita itu mencengkram kaus lengan panjang sang suami dengan sedikit mengerang. "Aduh Sayang, perutku semakin sakit," ucapnya.
William yang mulai panik ikut mengusap perut istrinya itu, "mungkinkah kau akan segera melahirkan?" tanyanya memberi dugaan.
"Ada apa?" Pertanyaan itu berasal dari Leon yang hendak berangkat bekerja, pria itu sedikit terkejut mendapati adiknya kesakitan, dan kemudian ketiganya segera membawa Lily ke rumah sakit, mereka yakin wanita itu pasti akan segera melahirkan.
William menggenggam tangan Lily yang berbaring di ruangan bersalin, sesekali dia mengusap peluh di kening wanita itu, "Kamu pasti bisa sayang," ucapnya memberi semangat, dengan mencium punggung tangan Lily, satu telepak tangannya bergerak mengusap perut wanita itu, dokter bilang pembukaannya belum lengkap, jadi istrinya itu harus sabar menunggu, dan William nyaris gila karena hal itu.
Di luar ruangan, Leon menunggu dengan gelisah, sesekali menoleh ke ujung lorong menantikan kehadiran seseorang, dan beberapa saat kemudian Lura juga sepupunya datang dan langsung menghampiri pria itu.
"Bagaimana Lily?" tanya Lura khawatir.
"Masih di dalam ruangan," ucapnya, hingga tidak lama kemudian suara tangisan bayi terdengar oleh mereka, dan tentu saja membuat semuanya bahagia.
__ADS_1
Leon beranjak berdiri, raut wajahnya terlihat takjub. "Keponakanku sudah lahir," ucapnya dengan sesekali mengintip jendela di belakangnya yang rapat tertutup.
"Selamat Leon," ucap Naura juga kekasihnya nyaris bersamaan, kedua wanita itu sama-sama melempar senyum.
Beberapa saat kemudian, kemunculan William dari balik pintu disambut dengan pelukan dari Leon dan ucapan selamat karena dirinya sudah menjadi seorang ayah, William terlihat nyaris menangis karena begitu bahagia.
***
Beberapa hari setelah Lily diperbolehkan pulang, teman-teman William bergantian berkunjung ke rumahnya untuk melihat sang bayi, tak terkecuali keluarga dari Justin sahabat pria itu.
"Duuh gantengnya cucu ibu," puji Marlina ketika menggendong bayi mungil yang usianya baru beberapa minggu, menyodorkan pada anak menantunya, "liat deh Rin, ganteng banget yah, mukanya bule," ucapnya.
"Ya bule lah emak bapaknya bule." Ardi yang berdiri di sebelah sang istri ikut berkomentar.
"Ibu mau dong Ar, cucu ibu bule kaya gini," ucap sang ibu dengan wajah yang memohon, terlihat lucu tapi menyebalkan.
Ardi mendengus kesal, "ya gimana, orang aku bukan bule, makanya dulu ibu nikahnya sama bule lah biar akunya blasteran," balasnya.
"Eh siapa tau anak Karin nanti bule," sang ibu masih kekeh.
Justin menggeleng melihat ibu dan adiknya itu berdebat, hingga membuat siempunya bayi kemudian tertawa.
"Yaudah deh, apa aja yang penting sehat," ucap Marlina mengalah, kembali meletakan anak dalam gendongannya ke atas ranjang kecil di sebelah ibunya. "Sehat-sehat ya sayang," ucapnya yang kemudian membuat Lily mengucapkan terimakasih.
"Ah iya Wil, Lily, ini kado khusus dari ibu, satu set peralatan makan bayi, bapperware loh," ucap Nena dengan mengangsurkan satu kotak besar pada Lily yang tampak berbinar.
"Wah terimakasih," ucap Lily yang terlihat senang sekali, kemudian menaruh benda itu di sudut kamar bersamaan dengan kado lainnya.
Marlina menoleh pada Nena kemudian berbisik, "nanti bayarin yah," ucapnya pelan.
"Ih, Ibu nggak boleh gitu," balas Nena ikut berbisik.
__ADS_1
***
Sesaat setelah kepergian para tamunya, William menghampiri Lily yang tengah menggendong putranya yang sedikit rewel, dalam dekapan wanita itu anak pertamanya kembali tenang.
"Terimakasih sayang," ucap William bergantian mencium kening Lily juga putranya, pria itu kemudian tersenyum.
"Kau bahagia?" tanya Lily yang takjub melihat binar di mata suaminya.
William mengangguk, meraih tangan wanita itu kemudian mencium punggungnya, "sangat," jawabnya singkat, namun penuh penekanan. "apa melahirkan anak pertama kita membuatmu trauma?" tanya pria itu.
Lily mengerutkan dahi, "tentu saja tidak, kenapa kau bertanya begitu?"
"Aku ingin banyak bayi kecil seperti ini di rumah kita," ucap William.
Lily tertawa pelan, "Kalau begitu kau saja yang mengandung," selorohnya yang membuat pria itu mencebbikkan bibirnya.
"Aku mana bisa," ucap William yang kembali membuat Lily lagi-lagi tertawa, keduanya tampak begitu bahagia.
TAMAT.
Author: Makasih buat kalian pembaca gadis 100 juta alias Bang Bule, aku sayang sekali sama semua tulisanku jadi mohon jangan dihujat ya.
Meski tulisanku ini gak dapet penghargaan dari sistem yang ogah naikin level, tapi aku bahagia kalian masih mau baca, mau vote juga, dan pastinya sabar nunggu authornya yang lagi baperan ini, mangapin ya 🤧🤧🤧
Bagi like terakhir kalian buat Bang bule ya. 🤗
Netizen: Next thoor!! 😆
Author : Ya kaga Next lgi lah Sarboah kan udah tamat 🙄
Netizen: yah gw kebiasaan abisnya biasanya lu nyuruh komen next ðŸ˜
__ADS_1
Author : komen Nextnya di lapak Bang Jino ya jan lupa mampiiir 🤗🤗
Makasih banyak buat kalian, sehat sehat ya.