Gadis 100 Juta

Gadis 100 Juta
KENYATAAN


__ADS_3

Lily mengajak William masuk, dan setelah pria itu di dalam, bocah kecil yang meronta dari gendongannya itu kemudian ia turunkan.


"Itu anakmu?" Lily bertanya penasaran, karena sedari tadi pria itu hanya diam saat ditanya siapa tentang bocah di gendongannya.


Setelah memperhatikan Arka yang berjalan tertatih di antara bunga-bunga, William kemudian menoleh, "jika dia anakku, apa kau mau jadi ibunya?" tawar pria itu.


Lily terdiam, sorot mata penuh tanya ia arahkan pada pria itu, lalu beralih pada anak kecil yang berdiri di hadapannya.


Anak itu menoleh, tatapannya yang begitu polos terlihat amat menggemaskan, dan saat ia tertawa menunjukkan giginya yang baru tumbuh dua, Lily ikut tersenyum. "Kenapa kalian tidak mirip?" tanyanya yang kemudian berjongkok menghampiri anak kecil itu.


"Kau mau ini?" Lily mengambilkan setangkai bunga untuk diberikan pada bocah itu, dan Arka menerimanya dengan tertawa.


Melihat interaksi keduanya William tersenyum, mungkin seperti ini rasanya jika memiliki sebuah keluarga, dan entah kapan ia bisa mendapatkannya. "Itu keponakanku, namanya Arka."


Lily yang masih berjongkok kemudian menoleh, sebelum kembali duduk di kursinya dia mengajak anak itu untuk ikut dan ternyata mau. "Kenapa bisa denganmu?" tanyanya dengan sesekali menarik bunga di tangan bocah itu yang akan dimasukkan ke dalam mulut. "Jangan dimakan sayang."


"Ardi membawanya ke kantor, dia bilang tidak ada yang menjaganya, jadi kubawa saja."


Lily mengambil bunga dari tangan Arka kemudian meletakannya di atas meja, ia beranjak berdiri, "siapa Ardi?" tanyanya sembari berjalan menuju dapur.


William ikut berdiri untuk mengikuti langkah perempuan itu, "Ardi ayahnya Arka," jawabnya.


Sampai di dapur, Lily yang menggendong Arka kemudian membuka kulkas, dia mengambil biskuit dari sana dan memberikannya pada anak itu.


Lily tertawa saat Arka langsung memasukan makanan itu ke mulutnya, "anak seumuran dia apa saja pasti masuk mulut, lucu yah," ucapnya.


William bersandar pada meja dapur, mengusap kepala Arka yang duduk di sebelahnya. "Mana kutau kalau dia ternyata rakus," candanya yang membuat Lily tertawa.


"Kupikir kau tidak akan menemui aku lagi." Lily berucap tanpa menoleh, masih sibuk dengan bocah kecil di hadapannya.


Mendengar itu William tersenyum, "Kamu rindu?" tanyanya yang membuat Lily jadi terdiam.


"Em, tidak juga, hanya saja kupikir akan begitu," ucap Lily sedikit kelabakan.


William melipat lengannya di dada, "kurasa juga begitu, aku sudah berusaha untuk tidak menghubungimu, tapi tetap saja, wajahmu itu selalu memenuhi isi kepalaku," ucapnya yang membuat Lily tampak tersipu. "Aku amat merindukanmu," imbuh pria itu.


Lily menoleh sekilas, namun memilih untuk tidak menanggapi, wanita itu malah kembali menggendong Arka untuk ia bawa ke luar lagi.


William mencengram lengan Lily, membuat langkah perempuan itu kemudian terhenti. "Aku ingin mengajakmu untuk menemui ibuku," ucap pria itu.


Lily membatu, dia tidak tau apa sih maksud pria itu, "untuk apa?" tanyanya.


"Tentu saja aku ingin mengenalkanmu padanya," jawab William.


Lily menatap pria di hadapannya dengan tidak mengerti, "Will, apakah ini tidak terlalu cepat, aku bahkan baru mengenalmu, dan kau juga sama."

__ADS_1


"Jadi kamu tidak bisa?" William menghela napas saat melihat wanita di hadapannya menggelengkan kepala, "Kenapa?" tanyanya.


"Kan sudah kubilang, aku belum mengenalmu, dan lagi kenapa harus aku?"


William mengangguk pelan, "ok baiklah," ucapnya. "Mungkin lain kali saja," ucap William kemudian menegakkan tubuhnya, Pria itu melangkah lebih dulu.


Lily mengekori William dengan menggendong anak laki-laki yang tampak tenang dengan makanannya yang mulai mengotiri tangan, wanita itupun mengambil tisu untuk membersihkannya.


Di sela mengusap tangan lentik bocah kecil yang ia dudukkan di atas meja, Lily kembali memikirkan permintaan William yang ingin mengenakan dia pada kelurganya.


Sebenarnya pria itu niat atau tidak sih, seharusnya dia bisa sedikit memaksa, dan mungkin ia akan menyanggupinya. Lily reflek menggelengkan kepala, merasa tidak percaya dengan apa yang ia harapkan baru saja.


William melangkah ke pintu belakang toko bunga yang Lily tempati, ia penasaran seperti apa penampakannya, dan ternyata itu adalah sebuah taman, berbagai jenis bunga terhampar dengan indah di sana, dan hal itu amat membuatnya terpesona.



Dia melangkah lebih jauh, hingga tidak dapat menyadari, dengan keberadaan seseorang yang duduk di atas kursi.


"Siapa kau?"


William yang terkejut membalikkan tubuhnya ke belakang, dan terpaku saat melihat Leon berdiri di hadapannya.


Leon mengerutkan dahi, seseorang yang ia rasakan kehadirannya tidak mau memperkenalkan diri, dan pria itu pun bertanya sekali lagi. "Lily? Kau kah itu?"


"William, aku mencarimu ke mana-mana."


"William?" Leon tampak senang, dia akhirnya bertemu dengan seseorang yang ia harapkan kemunculannya.


Lily mendekat, menurunkan Arka dari gendongannya saat anak itu meronta turun, sepertinya taman bunga itu membuat ia semangat menemukan mainan baru. "Iy Kak, ini William yang ingin kamu temui selama ini."


Leon kembali tersenyum senang, pria itu tampak bahagia bisa berjumpa dengan malaikat penolongnya, "akhirnya aku dapat mengucapkan terimakasih secara langsung padamu," ucap pria itu.


William sedikit kebingungan untuk bersuara, akankah ia langsung diusir setelahnya. "Aku juga senang dapat berjumpa denganmu, Leon."


Suara itu seketika membuat tubuh Leon membeku, raut wajahnya berubah keras, dan hal itu membuat Lily yang sibuk mengejar Arka yang nyaris terjatuh kemudian merasa bingung, ada apa sih dengan mereka, aura yang tetpancar dari keduanya terasa sedikit berbeda.


"Selain namamu, ternyata suaramu juga mengingatkan aku pada seseorang," ucap Leon saat ketegangan di raut wajahnya berangsur tenang. Dan hal itu membuat William menghela napas.


"Siapa itu?" tanya William.


"Seseorang yang amat aku benci keberadaannya." Leon menjawab tenang, namun kilatan dendam yang terpancar dari raut wajahnya tidak dapat mengalihkan itu semua.


William tersenyum miris, "semoga bukan aku," harap pria itu.


Leon kemudian mengangguk, belum sempat menanggapi, seruan Nindi yang mengabarkan ada tamu di luar membuat mereka menoleh.

__ADS_1


"Bang Bule." Karin yang adalah ibu dari Arka muncul di belakang Nindi, perempuan itu dengan tersenyum sopan menghampiri kerumunan, kemudian memperkenalkan diri.


Arka yang menyadari keberadaan ibunya langsung menghambur pada perempuan itu, bocah kecil lucu itu nyaris melompat dari gendongan Lily.


"Bang Bule kebiasaan anak aku dibawa kabur," omel Karin yang membuat Lily tertawa pelan.


"Seharusnya kamu itu berterimakasih sama aku," ucap William tidak terima.


Karin kembali menyapa Lily dan meminta maaf telah merepotkan wanita itu, dia pun kemudian pamit lebih dulu.


"Ke sini naik apa?" tanya William saat mereka beranjak ke luar dari toko bunga itu.


Karin yang nyaris membuka pintu kemudian menoleh, "naik taxi aku, mau ke rumah ibu Marlina dulu, soalnya Bang Ar bilang nanti dijemput di sana."


William menoleh pada Lily juga Leon yang masih berdiri di antara mereka. "Biar kuantar saja," ucapnya, dan setelah itu segera berpamitan pada tuan rumah.


Lily melambaikan tangan saat mobil yang William tumpangi melesat ke jalan raya, setelah itu dia berbalik dan menghampiri kakaknya. "Kak Leon mau masuk?" tawar perempuan itu.


Leon yang masih berdiri di ambang pintu kemudian menoleh, "ada yang ingin kakak bicarakan denganmu," ucap pria itu.


Lily mengerutkan dahi, sembari menuntun sang kakak masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat, dia pun bertanya. "Apa yang Kak Leon mau bicarakan, katakanlah," ucapnya.


Leon yang raut wajahnya berubah dingin sedikit membuat Lily merasa aneh, pria itu tidak biasanya bersikap demikian. "Apa kau menyukai pria bernama William?"


Ditanya seperti itu wajah Lily sedikit bersemu, tentu saja dia malu untuk mengaku, dan akhirnya dia memilih untuk menyangkal hal itu. "Kak Leon kenapa sih? Kenapa bertanya seperti itu?"


"Jangan menaruh hati padanya Ly," pinta Leon yang membuat Lily mengerutkan dahi. "Dia adalah William Handelson, dan pria itu juga yang telah menghancurkan keluarga kita."


Lily yang nyaris limbung dari posisinya berdiri mencengkram ujung meja yang terdapat pada kamar pria itu, "apah?" tanyanya tidak percaya, separuh jiwanya nyaris terasa hilang entah ke mana, dia tentu saja tidak dapat menduga. "Katakan bahwa itu tidak benar kak," pintanya, dan berharap sang kakak tengah bercanda.


Leon menggelengkan kepala, "aku hafal sekali suaranya, mereka adalah orang yang sama," ucapnya, dia tidak tau apa yang sekarang adiknya itu rasakan, pria itu mengajaknya untuk menyusun sebuah rencana.


Api yang terpancar dari tatapan Lily, saat membayangkan tentang kehancuran keluarganya, membuat air bening yang menggenang pelupuk mata wanita itu seketika mengering, tidak seharusnya ia menangis, dan perasaannya yang mulai terkikis habis, membuat dirinya merasa begitu miris, bodoh sekali dia yang telah memberikan segalanya pada pria yang telah menghancurkan mimpi-mimpinya.


"Lily," panggilan Leon membuat wanita itu menoleh, kemudian bertanya ada apa, "Buat dia jatuh padamu, dan hancurkan dirinya pelan-pelan dari dalam."


Lily memejamkan mata, sanggupkah ia menjalankan rencana kakaknya, tapi tentu saja dia harus bisa. "Iya, Kak," ucapnya.


***iklan***


Netizen: Kumenangiiiis membayangkan betapa kejamnya dirimu atas diriku 😭


Author : Allah engkau dekat penuh kasih sayang, jangan pernah Engkau biarkan hambaMu menangis 🙄


Netizen : Ngapa jadi beneran kaya sinetron chanel ikan terbang sih thor 🤧 gak demen banget dah ah.

__ADS_1


Author : Allah Rohmaan Allah Rohim..... 😌


Netizen : Udah thoor udaaah


__ADS_2