Gadis 100 Juta

Gadis 100 Juta
CEMBURU


__ADS_3

William mendapat kabar dari sang ibu bahwa pesta Paman Lim di majukan satu minggu lagi, dan untuk mempersiapkan itu dia mengajak Lily mengunjungi butik ternama yang sering ia datangi.


Lily terlihat takjub dengan baju-baju yang tergantung di hadapannya, terlihat sederhana tapi begitu mewah, mungkinkah setiap busana yang diberikan padanya William membelinya dari sini?


"Pilih saja yang kau suka," ucap William yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang Lily, wanita itu pun sedikit terlonjak.


"Apakah urusanmu sudah selesai, sebaiknya kita pulang saja." Lily memberi usul.


"Bukankah ini bagus, ini akan terlihat cantik di tubuh mu." Alih-alih menanggapi usul dari Lily, William justru mengambil satu gaun selutut berwarna gelap dan menyodorkan pada wanita itu.


Lily berdecak, baju yang pria itu belikan beberapa hari yang lalu juga belum semuanya sempat ia pakai, untuk apa dia membelinya lagi, "tidak Will, aku pun tidak akan lama di apartemenmu, selepas kakakku pulang nanti kami akan tinggal di  rumah besar yang sempat kau beli, Kak Leon pasti akan menembusnya lagi nanti."


William menghela napas, "itu tidak perlu kau pikirkan, memang sudah menjadi hak kalian," ucapnya.


Lily sejenak terdiam, mungkinkah hal itu sebagai balasan untuk menembus semua kesalahan pria itu, sungguh tidak setimpal.


"Apa yang kau pikirkan?" tegur William saat melihat wanita di hadapannya itu tampak melamun. "Aku ingin mengajakmu menghadiri sebuah pesta, pilih lah gaun yang kau suka, ibuku ingin bertemu denganmu."


Mendengar itu Lily kembali tertegun, "ibumu?" tanyanya memastikan.


William mengangguk, senyumnya tampak mengagumkan pria itu begitu terlihat bangga saat menyebutkan ibunya, apakah wanita itu terlihat hebat, bahkan yang Lily dengar kedua orangtua William mengabaikan pria itu sejak balita.


Demi membuat pria itu merasa senang selama kakak kandungnya belum pulang, Lily selalu menuruti apapun keinginan William. 


"William? Kau kah itu?" Seorang wanita muda seumuran Lily tampak menghampiri dan dengan cepat memeluk pria itu.


Lily mengerjap terkejut, dan anehnya kenapa William tidak tampak kelabakan, sepertinya hal semacam itu sudah biasa mereka lakukan.


"Apa yang kau cari?" tanya wanita Cantik itu saat pelukan keduanya telah terlepas, entah kenapa Lily merasa keki mendapati William  begitu antusias pada wanita di hadapannya, mereka pun tampak serasi.


Keduanya terlibat obrolan hangat, mungkin hanya Lily yang merasa kedinginan menanggapi percakapan itu saat sesekali William menyinggung dirinya untuk bergabung dalam pembahasan, pria itu mengenalkannya sebagai teman dekat, teman katanya? Kenapa dia harus merasa tidak terima.


Ternyata wanita itu bernama Riska, dan dia adalah pemilik butik ini yang sempat ia kagumi sejak dirinya menginjakkan kaki, dan entah kenapa dia merasa menyesal karena telah banyak  memuji sebelumnya.


Saat keluar dari butik itu, Lily berjalan lebih dulu dengan langkah lebar-lebar meninggalkan William menuju mobil pria itu di parkiran, belum sampai ke tempat tujuan, lelaki di belakangnya menarik lengan Lily dan membuat langkah wanita itu sontak terhenti.


"Kau kenapa?" tanya William bingung, namun raut wajahnya tampak menahan senyum.


"Tidak kenapa-napa," ujarnya dengan melipat lengannya di depan dada, "Kamu sepertinya masih ingin ngobrol, kembali saja ke sana, biar aku pulang sendiri," ketusnya.

__ADS_1


William tertawa kecil, namun mengolok wanita itu bukanlah waktu yang tepat untuk saat ini, pria itu diam saja, dan memilih melingkarkan lengannya pada pundak Lily, menarik wanita itu untuk menghampiri kendaraan yang akan ia naiki.


Di dalam mobil pun suasana tampak hening, William tidak mau memulai perseteruan, meskipun tau wanita suka akan perhatian, tapi untuk bertanya kenapa, dia belum berani, toh biasanya nanti dia akan memulai ceritanya sendiri.


"Siapa wanita itu?" tanya Lily akhirnya.


William menoleh sejenak, pria itu dapat menangkap rasa kesal yang terpancar dari raut wajah wanita itu, dan dia mengulas senyum karenanya. "Hanya teman, kenapa?"


"Teman tidak seakrap itu Will, kalian bahkan berpelukan, dalam dunia laki-laki dan perempuan tidak ada yang benar-benar murni berteman, sepertinya dia menyukaimu," ucap Lily panjang lebar.


Lily sedikit terlonjak saat pria yang duduk di balik kemudi itu menepikan mobilnya, kemudian melepas sabuk pengaman dan menghadap pada dirinya. "Ke, kenapa?" tanyanya gugup, kalimatnya pun jadi tercekat.


"Kamu ingin aku menjelaskan apa?" tanya William, dan Lily malah kebingungan. "Kau dan aku pun statusnya tidak jelas, dan kita bahkan sering melakukan lebih dari sekedar berpelukan," imbuhnya kemudian.


Sejenak Lily diam saja, kemudian berkata, "dengannya apa kau juga begitu?" tanyanya.


William menggeleng, "Kenapa? Kau cemburu?"


"Tidak!" tukas Lily cepat, dan William sedikit tertawa karenanya.


"Kenapa kau selalu berpikiran setiap wanita yang aku kencani pasti pernah kutiduri? Apa aku memang terlihat sebrengsekk itu di matamu?"


"Ya, kau memang sebrengsek itu," balas Lily, namun tidak berani menatap pria di sebelahnya.


"Kenapa aku harus percaya, bahkan aku tidak peduli akan hal itu," tukasnya.


"Benar?" goda William, "kau terlihat begitu penasaran dengan Riska," sindirnya.


Lily jadi kebingungan, hingga tidak sadar saat wajah William sudah terlalu dekat dengan kepalanya, pria itu menangkup dagu Lily dengan sebelah tangan, sedikit menariknya untuk mengecup bibir wanita itu.


"Aku suka melihatmu cemburu," ucap William, kembali mengecup bibir Lily hingga wanita itu mengerjap terkejut, "suka melihatmu kesal seperti itu," imbuhnya dan berkali-kali mengecup bibir wanita itu lagi.


Lily menyentakkan kepalanya hinga tangan pria itu terlepas dari dagunya, "aku tidak kesal, aku tidak cemburu," tegas wanita itu.


***


Malam ke empat Lily tinggal di apartemennya, dan selama itu juga hanya sekali William menyentuh wanita itu, dan tentu saja rasa ingin selalu muncul setiap kali mereka saling bertemu.


William mencoba untuk terlelap di ranjangnya, namun pikirannya melayang entah kemana, saat dia mengaktifkan alat yang tersambung dengan kalung Lily, dia mendengar percakapan wanita itu dengan Leon beberapa saat tadi.

__ADS_1


Beberapa hari lagi Leon akan pulang, dan Lily menceritakan tentang dirinya yang ingin mengajak wanita itu menghadiri pesta saudaranya. Dan yang membuat William tidak menyangka, mereka mengatur rencana untuk melumpuhkannya dengan segera.


"Oh Lily, aku harus bagaimana? Apa aku harus diam saja saat bahkan kau berencana akan membunuhku?"


Tenggorokan William terasa kering, memikirkan rencana mereka terhadap dirinya membuat pria itu dehidrasi, dan kemudian beranjak dari ranjang untuk pergi ke dapur mencari air minum.


Sesampainya di tempat yang ingin dia tuju, William sedikit terlonjak dengan keberadaan Lily yang tengah meracik segelas susu di dapurnya.


"Aku tidak bisa tidur, dan segelas susu katanya dapat membuat seseorang bisa mengantuk, aku ingin mencobanya." Lily berucap ringan.


Mengingat obrolan wanita itu dengan kakaknya membuat William sedikit tertegun, namun kemudian tersenyum, melangkah menghampiri wanita itu.


"Mau berbagi denganku, aku juga susah tidur," ucap William.


Lily menyodorkan gelas berisi susu hangat pada pria itu, "minum lah," ucapnya.


William sudah meminum beberapa teguk cairan putih pada gelas di tangannya, saat wanita itu kemudian bertanya.


"Kenapa kamu tidak bisa tidur?"


"Memikirkanmu Lily," jawab William jujur.


Lily mengerutkan dahi, "aku?"


William mengangguk, dia memang memikirkan wanita itu, atas rencana untuk menghabisi dirinya beberapa hari yang akan datang, dan apakah pria itu harus siap.


"Mungkin kamu memikirkan wanita di butik tadi, kalian terlihat serasi sekali." Lily kembali membahas Riska, dan William tertawa karenanya.


"Apa kau percaya jika Riska itu bukan wanita sungguhan?"


Lily nyaris menyemburkan minuman di mulutnya, namun dengan segera ia telan, "apah?" tanyanya tidak percaya, dan William menceritakan tentang temannya itu yang dulunya memang laki-laki, kemudian melakukan operasi.


"Aku hampir tidak percaya, dia begitu cantik dan sempurna, bagaimana bisa," ucap Lily tidak menyangka.


William meraih jemari Lily, kemudian mencium punggung tangannya, "Kau lebih cantik," ucapnya.


Lily merasa hatinya berdesir, berkali-kali tatapan dalam pria itu nyaris membuat dirinya tenggelam hingga ke dasar, dan dia benar-benar terjebak di dalamnya.


Wanita itu memejamkan mata saat William mengusapkan buku jari pada bagian telinganya yang sensitif, kemudian sedikit menariknya untuk menyatukan bibir mereka, begitu lembut dan penuh perasaan.

__ADS_1


Tidak ada gerakan yang menggebu atau terburu-buru, seolah pria itu benar-benar memanfaatkan waktu agar berjalan lebih lambat mengikuti permainan panas mereka.


"Aku rela jika harus mati di tanganmu, dan mendapatkan kenangan manis sebelum itu," ucap William yang membuat Lily mengerutkan dahi, belum sempat bertanya apa maksudnya, pria itu sudah kembali menyatukan bibir mereka.


__ADS_2