Gadis 100 Juta

Gadis 100 Juta
TAKDIR 2


__ADS_3

William tengah menekuni kertas-kertas di hadapannya saat telepon di atas meja kemudian berbunyi.


"Maaf Tuan, ada Nona Rachel memaksa ingin bertemu," ucap sekretarisnya di seberang telepon, William sempat mendengar sedikit keributan dari perempuan bernama Rachel yang marah-marah.


"Biarkan dia masuk."


Setelah mengatakan itu tidak lama pintu pun terbuka, tidak ada sambutan dari William, pria itu masih duduk bersandar dengan tenang di kursinya.


"Sayang, aku rindu." Gadis berambut panjang itu menghambur pada William yang diam saja, kemudian duduk di pangkuannya. "Kenapa kau tidak pernah mencariku?" imbuhnya dengan memainkan ujung dasi pria itu.


"Sudah kubilang, jangan pernah datang ke kantorku, apa kau lupa?" tanya William datar, raut wajahnya tampak tidak senang.


Rachel sedikit menciut, namun tidak beranjak dari pangkuan pria itu. "Bagaimana aku tidak nekat datang ke sini, kau tidak pernah menghubungiku lagi," rengeknya.


Perempuan ini adalah salah satu dari beberapa wanita yang pernah William kencani, anak  pengusaha kaya namun sama sekali tidak mencerminkan seorang yang berwibawa.


William diam saja saat wanita itu mengusap bagian rahangnya, memainkan apapun yang dia suka dari dirinya. Pria itu ingin tahu seberapa besar dia tidak lagi menginginkan tubuh orang lain, karena setiap sentuhan yang ia rasakan yang terbayang adalah gadis seratus juta itu, oh Lily, di mana kau?


"Sayang, apa kau juga merindukanku?" tanya Rachel, mencondongkan kepalanya untuk menjangkau bibir pria itu.


William memejamkan mata, dan saat wajah Lily yang terbayang di kepalanya, dengan tiba-tiba dia mendorong tubuh perempuan di pangkuannya." Aku sedang tidak ingin, pergilah," usirnya.


Rachel yang sedikit terhenyak, kemudian menggeleng. "Aku tidak mau," tolaknya, "aku begitu merindukanmu Sayang," rengeknya kemudian.


Pria itu memijit pelipisnya yang terasa berat, membiarkan saja saat perempuan itu menarik dasinya dan membuka beberapa kancing kemeja yang ia kenakan, dan anehnya dia tidak merasa bergairah saat wanita itu terus menggoda dengan bibirnya.


Suara pintu terbuka membuat Rachel menghentikan gerakannya, dia tampak terkejut, namun tidak dengan William, karena dialah yang memanggil assistennya untuk menyingkirkan perempuan ini.


"Maaf Nona, kami terpaksa harus membawamu pergi," ucap Davin,  dua anak buahnya bergerak untuk menarik perempuan itu menjauh dari pangkuan William.


Rachel yang marah kemudian beranjak turun, perempuan itu merapikan penampilannya yang sedikit berantakan, "aku bisa pergi sendiri," ketusnya yang membuat dua pria bertubuh kekar dengan wajah datar itu berangsur mundur.


"Dengar ya Will, aku pasti akan membuatmu bertekuk lutut di kakiku," ancamnya dengan geram, kemudian beranjak pergi.


William bergeming di tempatnya, sama sekali tidak terusik dengan ancaman perempuan itu, baginya sudah biasa jika seorang wanita yang pernah tidur bersamanya lalu meminta hak lebih, namun berbeda dengan Lily, perempuan itu sampai saat ini bahkan keberadaannya tidak pernah ia temui.


Sembari merapikan kancing bajunya, juga dasi yang berantakan, William melirik pada Davin yang berdiri di seberang meja, asistennya itu seperti ingin mengatakan sesuatu. "Ada apa?" tanyanya.


"Tuan besar dikabarkan masuk rumah sakit, dan beliau meminta anda untuk menemuinya," ucap Davin hati-hati, pembahasan ini sering kali membuat raut wajah atasannya berubah ngeri. Pria itu sama sekali tidak terlihat panik.


William yang masih sibuk dengan dasinya kemudian bertanya, "sakit apa dia?"

__ADS_1


Davin menjelaskan riwayat penyakit ayah dari tuannya itu yang memang sering kali kambuh, tidak terlalu berbahaya, namun tetap saja hal itu tentu membuat siapapun merasa ketakutan, tuan besar adalah pemilik perusahaan ternama yang belum mengumumkan pada siapa warisannya akan ia jatuhkan. Dan sepertinya William justru tidak peduli akan hal itu.


"Katakan padanya, aku akan datang."


***


William yang diantarkan oleh asistennya menuju rumah sakit ternama milik keluarga Handelson, disambut ramah oleh para pekerja juga setiap orang yang berada di sana, tidak terkecuali petugas medis yang tidak sengaja berpapasan dengan dirinya.


Semua orang tau, meski belum sah diumumkan, William adalah salah satu kandidat terkuat yang akan mewarisi kepemilikan rumah sakit ini.


"Tuan besar berada di ruangannya, ada tuan muda juga di sana." Davin menjelaskan tentang situasi di ruangan pribadi atasannya itu. Satu ruangan yang dirancang khusus menyerupai sebuah rumah agar tuan besarnya merasa betah saat menjalani perawatan.


"Istrinya?" William menanyakan ibu tirinya.


"Nyonya sedang keluar, sepertinya menjemput anak dan cucunya."


William mengerti, pria itu menyuruh Davin berlalu lebih dulu saat sebuah panggilan membuatnya menjauh dari keramaian.


Pria itu tidak pernah merasa betah jika harus berlama-lama dengan keluarga dari ayahnya, saat ia berusia delapan tahun,  ayahnya menikahi wanita dengan satu anak yang usianya sama dengan dirinya, ibu William yang tidak terima, memilih diceraikan oleh pria itu, kemudian menikah lagi dengan orang lain.


Dan sejak saat itu juga William kecil yang tidak tau apa-apa merasa hidup sebatang kara, tinggal di rumah besar dengan para pekerja tanpa ayah dan ibu yang menemani hari-harinya.


William menutup sambungan telepon, menghindari keramaian membuat pria itu tidak tau sudah melangkah ke arah mana, dan ia memutuskan untuk kembali menyusuri setiap lorong yang ia lewati sebelumnya.


Saat hendak melangkah menghampiri, seorang pria ber jas putih yang menandakan bahwa ia seorang dokter di sana, tampak lebih dulu menemui wanita itu, mereka terlibat perbincangan hangat, dengan sesekali menyunggingkan senyum yang membuat William begitu membencinya.


Mengapa perempuan itu ada di sini William tentu langsung mengerti, keluarga Lily yang bernama Leon pasti dirawat di rumah sakit ini, dan saat pria itu menoleh ke dalam satu ruangan, dari kaca jendela yang terbuka di sana, dia menemukan sosok pria yang pernah ia kenal sebelumnya. Leon Fernandes, dia dapat mengenali pria Malang itu meski sebagian wajahnya dipenuhi luka dan ditutupi.


"Kita berjumpa lagi."


***


Akhir-akhir ini Lily merasa punya harapan baru, kesehatan sang kakak yang sering menunjukan kemajuan membuat perempuan itu semangat menjalani hari-harinya.


"Terimakasih Ly, sekali lagi kau mau menerima ajakan makan siang dari aku," ucap Daniel yang menemui Lily di depan ruangan tempat pria itu memeriksa pasiennya sebelum jadwal istirahat.


Lily tersenyum, "tapi kali ini biarkan aku yang membayar makananmu Niel, kau sudah terlalu sering membayar makananku," ucapnya membuat kesepakatan.


Daniel menggeleng, tentu saja pria itu tidak mau, dan saat perempuan di hadapannya mengancam tidak akan menerima ajakannya lagi, dia kemudian menghela napas, "ok baiklah, bagaimana jika kita membayar makanan masing-masing saja," ucapnya memberi solusi.


"Aku setuju," balas Lily, kemudian menoleh ke arah kamar mandi yang akan mereka lewati. "Kau duluan saja, aku ke toilet dulu," ucapnya yang membuat Daniel kemudian mengangguk, dan Lily masuk ke dalam ruangan saat pria di sebelahnya  beranjak pergi.

__ADS_1


Perempuan itu menyelesaikan urusan buang air kecilnya dengan cepat, sedikit merapikan pakaiannya kemudian keluar dari bilik kamar mandi, yang ukurannya membuat  pengap, dia terkejut setengah mati saat mendapati seorang lelaki berdiri di depan pintu yang akan ia lewati.


"Hay Lily, kita berjumpa lagi," sapa pria itu dengan senyum penuh arti.


"William," gumam Lily dengan sedikit ketakutan, genggaman pada gagang pintu ia eratkan, perempuan itu menolak untuk saling bertatapan. "Mau apa kau ke sini," entah itu pertanyaan yang tepat atau bukan, Lily merasa detak jantungnya berhenti saat pria itu mulai mendekat, dia memberanikan diri untuk mendongak. "Ini toilet khusus wanita, bagaimana kamu bisa masuk."


William mengingat saat di depan pintu tadi ia menempelkan kertas bertuliskan rusak di sana, tapi tentu saja pria itu tidak menjabarkan tentang ide briliannya, "mungkin kau harus tau, tidak ada satu peraturanpun yang dapat menghentikan, apa yang aku inginkan," ucapnya dengan nada mengancam.


"Aku bukan kekasihmu, maksudnya bukan Lily yang fotonya ada di dalam dompetmu, untuk apa kau mencariku? Urusan kita bukankah sudah selesai."


William terkekeh pelan, "wajahmu memang tidak ada di dalam dompet, tapi malah selalu memenuhi isi kepalaku," ucapnya dengan nada bercanda yang tertangkap oleh perempuan itu.


Lily berdecih, "omong kosong," tukasnya.


"Setelah malam itu, bukankah wajar jika aku merindukanmu." William mengangkat tangannya untuk mengusap pipi perempuan yang tampak ketakutan di hadapannya.


Lily menghindar, "tolong jangan kurang ajar," omelnya kesal.


Melihat itu William semakin gencar menggoda perempuan yang menurutnya begitu menggemaskan, "bukankah aku membayarmu agar dapat berlaku kurang ajar pada dirimu?"


Lily kembali merasa jijik pada dirinya sendiri, bagaimana bisa dia berurusan dengan pria selicik ini. "Tolong biarkan aku pergi," mohonnya.


William tersenyum, "Kau adalah perempuan termahal yang pernah aku bayar, bagaimana aku bisa melepaskanmu?"


Lily menghela napas geram, "aku akan menggantinya jika kau mau," tantang perempuan itu.


"Dengan tubuhmu?" goda William.


Lily semakin kebingungan,  seberapa berbahayakah pria di hadapannya ini, apakah hidupnya tidak akan tenang lagi.


William mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan di tempat itu. Kemudian beralih pada perempuan di hadapannya." Bisakah kita melakukannya di sini?"


Mendengar itu Lily terlonjak, kedua bola matanya membulat sempurna, "apa kau sudah gila," umpatnya yang membuat pria itu kemudian tertawa.


**iklan**


Author: jangan lupa makan biar mulut punya kegiatan lain selain ngegibah. 😌


Netizen : ghibah udah jadi hoby tanpa disadari thor, abis gimana ya seru banget si 😂


Author: Dosa Julehaa 😑

__ADS_1


Ceritanya ini agak serius ya, ho'oh biar beda, dari Bang Entin Bang Ar sampe Bang Bule biar ada ciri khasnya masing masing gitu.


__ADS_2