Gadis 100 Juta

Gadis 100 Juta
HARAPAN


__ADS_3

William mengernyit saat Lily menempelkan cairan pembersih luka pada pipinya yang sedikit tergores.


"Sakit yah?" tanya Lily dengan menghentikan gerakan tangannya.


William menggeleng, raut wajahnya yang tampak murung membuat Lily rindu, dengan senyum jahil yang selalu terbingkai pada wajah pria itu.


Setelah menempelkan plester untuk menutupi luka di wajah William, Lily menoleh pada jam dinding di kamarnya, "sudah larut malam kau tidak mau pulang?" tanyanya setelah meletakan kotak p3k ke atas meja.


William menghela napas, pria yang duduk di tepi ranjang wanita itu memandang Lily dengan tatapan memohon. "Aku ingin di sini sebentar," ucapnya, kemudian menggerakkan tangannya agar wanita itu mau mendekat. "Kemarilah," pintanya.


Lily sedikit ragu, namun kemudian menghampiri pria itu dan duduk di tepi kasur sembari bersandar pada kepala ranjang. "Kau kenapa sih?" tanyanya lagi.


Bukannya menjawab, William merebahkan tubuhnya dengan meraih telapak tangan wanita itu untuk menaruhnya di pipi. "Oh Lily?" sebutnya.


"Hmm?" Lily menyahut dengan gumaman.


William memejamkan mata, dengan telapak tangan Lily yang menjadi bantal untuk pipinya. "Kumohon jangan pergi," lirih pria itu.


Lily terdiam, bagaimana bisa dia berjanji untuk tidak pergi, bahkan niatnya mendekati pria itu justru untuk menyakiti nya, memberi luka untuk hatinya yang mulai rapuh karena cinta, tapi melihat raut wajahnya yang terlihat kecewa meski bukan karena dirinya, Lily justru ikut merana.


Wanita itu mengusap rambut kepala William dengan tangan kirinya yang bebas, "aku pergi ke mana?" tanyanya.


William mendongak, "jangan katakan pada kakakmu kalau aku ada di sini," pintanya.


Lily mengerutkan dahi, "memang kenapa, kakakku justru senang jika ada kau."


Pria itu hanya tersenyum, "tidak apa-apa, aku hanya tidak ingin mengganggunya," ucap William yang tidak mendapat tanggapan dari Lily.


Dia memilih untuk memejamkan mata lagi, berpikir sampai kapan kebersamaan ini akan berakhir, apakah Lily akan selalu menjadi orang pertama yang akan dia tuju saat dunianya terasa buntu? Bahkan dia juga tau wanita itu hanya berpura-pura, dan dia tidak akan pernah lelah mengikuti permainannya.


Lily ikut merebahkan diri dan berbaring miring saling berhadapan dengan pria di hadapannya itu, tangan kanannya ia biarkan menjadi bantal untuk pipi William yang kedua bola matanya masih terpejam.


Dia mengarahkan tangan kirinya untuk ia usapkan pada pipi William yang membuat pria itu sedikit mengernyit.


"Jangan sentuh aku Ly," pinta William.


Lily mengerutkan dahi, justru pria itu sendiri yng menarik tangannya untuk dijadikan bantal, dan dia menolak disentuh sekarang, maksudnya apa.

__ADS_1


"Kenapa aku tidak boleh menyentuhmu?" tanya Lily tidak mengerti.


Dengan perlahan William membuka kelopak matanya yang memancarkan Sorot berbeda, menyadari itu  Lily menarik tangan kirinya, namun dengan cepat pria itu menangkap pergelangan tangannya.


Lily mengerjap gugup, saat tatapan pria itu seperti ingin memakannya hidup-hidup, dia hafal sekali dengan Sorot netra itu, yang selalu sama saat pria itu tengah merayu.


Saat pria di hadapannya itu memejamkan matanya lagi, Lily justru merasa bingung, William mengarahkan tatapan ke arah lain saat kelopak matanya kembali terbuka.


"Aku sedang tidak ingin memaksa, pergilah," ucap William.


Lily mengerjap tidak percaya saat pria itu melepaskan pergelangan tangannya. Entah dia merasa kecewa dengan keputusan pria itu yang tidak jadi menyentuhnya, yang jelas Lily lebih mengakui bahwa dia kesal karena telah diusir dari kamarnya sendiri.


"Apa-apaan pria itu, dasar gila!" Lily terus menggerutu saat akhirnya mengalah dan turun dari ranjang dengan membawa selimut dan bantalnya.


Wanita itu keluar kamar, turun ke lantai satu untuk tidur di sofa yang terletak di bawah tangga, dia mencari posisi yang nyaman untuk tidurnya malam ini, kemudian memejamkan mata.


Namun sesaat kemudian terbuka, kembali berganti posisi dan mencoba untuk terlelap, tapi ternyata tidak bisa, dia menolak untuk mengakui bahwa isi kepalanya selalu memikirkan pria yang kini tidur di ranjangnya.


"Kira-kira dia sudah tidur belum yah," gumam Lily, kemudian menatap selimut di tubuhnya, "bagaimana jika pria itu ternyata kedinginan?"


Akhirnya Lily memilih untuk kembali ke kamarnya, dengan perlahan membuka pintu dan segera menghampiri pria itu untuk memasangkan selimut di tubuhnya.


William yang berada di ambang kesadarannya itu menangkap tangan Lily dan sedikit menariknya hingga jatuh terduduk ke atas ranjang, pria itu memeluk pinggangnya.


"Jangan pergi." Pinta William dengan semakin mengeratkan lengannya pada tubuh Lily. "Aku tau kau mungkin akan meninggalkanku tapi kumohon jangan sekarang," racaunya yang membuat wanita itu mengerutkan dahi, "jangan sekarang," ulangnya sekali lagi.


Dengan masih bingung, Lily melingkarkan tangannya pada pundak pria itu, kemudian menepuk-nepuk punggungnya. "Tenang lah, aku di sini."


William yang berangsur tenang mulai berhenti meracau, Lily ikut merebahkan diri dengan masih memeluk kepala pria itu di dadanya, dia bingung sebenarnya ada masalah apa sih dengan pria ini.


***


Pagi itu William terbangun lebih dulu, sedikit terkejut saat menyadari bahwa Lily  tertidur dengan memeluknya sampai saat ini, mungkin juga dari semalam, dia bahkan tidak mengingat dengan apa yang telah mereka lakukan, tapi dia yakin tidak terjadi apa-apa, saat menyadari pakaian yang semalam ia kenakan masih menempel ditubuhnya.


Pria itu turun dari ranjang dengan perlahan agar tidak membangunkan Lily, kemudian menuju dapur untuk mengambil air minum.


William hendak menuangkan air dingin yang ia ambil dari kulkas, namun saat mengambil gelas ia terkejut dengan kemunculan Leon yang tiba-tiba, gelas di tangannya terlepas mengenai meja dapur dan menimbulkan suara.

__ADS_1


Leon menoleh karena hal itu, "Lily, kau di sini?" tanyanya.


Tentu saja William menutup mulutnya rapat-rapat, tidak mungkin dia berani bersuara karena akan membuat pria itu banyak bertanya.


"Aku haus," ucap Leon.


William menuangkan air ke dalam gelas. Kemudian mengangsurkan pada tangan pria itu yang berada di atas meja, Leon pun meminumnya.


"Bagaimana hubunganmu dengan pria bernama William?"


Pertanyaan itu membuat William yang tengah meminum air di gelasnya nyaris saja tersedak, dia menutup mulutnya agar tidak terbatuk.


Leon meletakan gelas di tangannya ke atas meja, "Ly, kau sudah mendapatkan uang dari pria itu untuk operasi aku kan?" meski setiap pertanyaannya tidak mendapatkan balasan dari sang adik, tapi Leon terus saja berbicara. "Maaf jika aku membuatmu terpaksa mendekati pria itu, tapi setelah nanti aku sembuh, kau harus meninggalkannya."


William tidak terlalu terkejut mendengar kalimat itu, namun tetap saja ada sedikit rasa nyeri di sudut hatinya. Leon yang merasa kesal karena tidak mendapatkan tanggapan memutuskan untuk beranjak pergi dengan tongkat di tangannya, dan saat pria itu hendak menabrak kursi yang terletak di hadapannya, William menyingkirkan benda itu dengan segera.


William kembali ke kamar Lily dan mendapati wanita itu masih tertidur di tempatnya, dia pun duduk di tepi ranjang dan meraih tangan Lily untuk ia genggam jemarinya.


"Oh Lily, benarkah kau akan meninggalkanku? Jika iya, berikan aku kenangan manis untuk itu."


Lily mengerjapkan matanya pelan, wanita itu merasa terganggu, "Will...," gumamnya dengan sedikit mendorong dada pria itu yang menindih sebagian tubuhnya.


"Selamat pagi," ucap William dengan kembali mendaratkan ciuman di bibir wanita itu dengan sekilas.


Lily melengos, wanita itu berusaha menghindar, "hentikan, William," tolaknya saat tangan pria itu menggerayangi setiap inci bagian tubuhnya.


Sesaat William menghentikan pergeraknnya, menopang kepala menghadap pada wanita itu, "aku sudah mengirimkan uang untuk operasi kakakmu," ucapnya yang membuat Lily terdiam.


"Berapa?" tanya Lily.


"Banyak."


"Iya berapa?"


"Jika aku menyebutkan nominalnya apa kau akan memberikan aku sebuah hadiah?" tanya pria itu.


Lily berdecih, "memangnya hadiah apa yang kau inginkan dari aku?" tantangnya.

__ADS_1


Saat William tersenyum, Lily mengerjap gugup, tatapan matanya selalu sama seperti saat ia menginginkannya.


__ADS_2