Gadis 100 Juta

Gadis 100 Juta
PENAWARAN


__ADS_3

Beberapa menit sejak Nadira menghubunginya dan mengabarkan Lily sudah datang, entah kenapa lama sekali pintu ruangan kerjanya itu terbuka, William kembali mengaktifkan alat yang tersangkut di telinganya, dan pria itu mendapati sebuah keributan terdengar dari sana.


William beranjak menuju pintu, belum sempat tangannya memegang handle, benda itupun sudah terbuka dengan Lily yang jatuh terduduk di hadapannya.


Pria itu pun segera membantu Lily untuk bangun, setelah menanyakan keadaannya.


Melihat itu Rachel bersidekap tidak suka, "seperhatian itukah kamu pada perempuan itu Will?" sindirnya.


Dengan segala caci maki yang masih dapat ia tahan, William menghampiri Rachel setelah Lily sudah berdiri di belakangnya. "bisa kah kau pergi?" tanyanya baik-baik.


Rachel yang sedikit terkejut menurunkan lipatan tangannya, kemudian menggeleng. "Aku disuruh Tante Willona untuk terus mendekatimu, dan kau malah menyuruhku pergi?"


William menghela napas, Willona adalah ibunya, dan benar, wanita ini memang suruhan sang ibu untuk mendekatinya waktu itu, saat dirinya mungkin terlihat murung setelah ditinggalkan oleh Eva, danĀ  sejak awal pria itu pun tidak menyukainya.


Saat William terus mendekat, Rachel yang tidak merasa terancam memilih untuk tersenyum sinis, sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh tatapan tajam pria itu, dia sudah dapat restu dari calon ibu mertua, lalu apa?


"Will!" Pekik Rachel saat pria di hadapannya itu dengan kuat mencengkram dagunya, "lepaskan aku!"


William diam saja, namun semakin mengeratkan cengkramannya pada dagu Rachel hingga wanita itu merintih kesakitan. "Pernahkah aku berlaku kasar padamu sebelumnya Nona Andreas," tanya William dingin.


"Lepaskaan!" jerit wanit itu.


"Hentikan Will." Lily mencoba meredakan amarah William dengan menyentuh lengannya, namun pria itu diam saja.


Rachel yang tidak tahan terus berusaha melepaskan diri, "Kau membuatku sakit Will, kumohon lepaskan!" teriaknya nyaris menangis.


William melepaskan Cengkraman tangannya, dan tatapan tajam yang mengarah pada Rachel membuat wanita itu beringsrut mundur.


Namun Rachel mencoba untuk tetap berani, "aku tidak akan menyerah untuk membuatmu bertekuk lutut Will, bahkan jika harus melalui Tante Willona sekalipun," ancamnya, kemudian beranjak pergi.


Setelah pintu di hadapannya tertutup, William menoleh pada Lily yang terlihat ketakutan, pria itu mengangkat alis, "kenapa?" tanyanya.


Lily menggeleng, perempuan itu mengalihkan tatapan ke mana saja, melihat pria di hadapannya itu marah ternyata amat menakutkan.


Sentuhan di pipinya membuat Lily sedikit terlonjak, "Kau tidak apa-apa?" tanya William.


"Tidak," ucap Lily dengan menurunkan tangan pria itu dari wajahnya.


William mengajak Lily untuk menduduki kursi di depan mejanya, "apa yang membawamu sampai datang ke tempat ini Nona Fernandes?" tanya pria itu.


Lily berubah gugup, dia bingung harus memulai dari mana, "aku....," selain ucapannya yang tampak menggantung, wanita itu juga tidak berani menatap wajah pria di hadapannya.


"Kau merindukanku, begitu kan?" Tanya William dengan menyandarkan tubuhnya pada meja.


Kalimat itu membuat Lily reflek mendongak, "tidak," ucapnya setelah menggeleng.

__ADS_1


William menegakkan duduknya, kemudian mencondongkan tubuh ke arah Lily dengan kedua tangan yang bertumpu pada masing-masing sisi kursi, wanita yang semakin menundukkan kepala itu terkurung di dalamnya.


"Hanya ada dua kemungkinan terkuat saat seseorang menemui orang lain," ucap William dengan nada yang begitu tenang, tapi entah kenapa terdengar mengancam bagi wanita itu. "Yang pertama rindu, dan ke dua uang," imbuhnya yang membuat wanita di hadapannya itu seketika mendongak, William tersenyum. "Kau butuh uang?"


Lily membuka mulutnya tidak percaya, hendak mengutarakan sesuatu tapi tidak bisa, dan dia kembali mengalihkan pandangannya. "Iya," ucap wanita itu akhirnya, begitu lirih dan amat terpaksa.


William menegakkan tubuhnya, kembali bersandar pada meja kemudian bersidekap. "Berapa?" tanya pria itu.


"Kak Leon mendapatkan pendonor mata, dan untuk melakukan operasi, kami butuh banyak biaya." Lily memberanikan diri untuk mengutarakan maksud kedatangannya.


William tampak menganggukkan kepala beberapa kali, "Berapa yang kalian butuhkan?"


Pertanyaan itu membuat wajah Lily tampak berseri, dan dengan cepat menyebutkan nominal yang diperlukan. "Setelah kakakku sudah pulih nanti pasti uangmu akan kami ganti," ucap Lily.


William kembali mendekatkan tubuhnya pada Lily, kedua tangan yang bertumpu pada lengan kursi membuat wanita itu terkurung lagi, dia pun beringsrut mundur. "Aku tidak tertarik dengan uangmu," ucapnya mencoba meminta penawaran.


Lily menelan ludah, dari senyum pria itu yang tampak mesum seperti biasa, dia dapat menebak ke mana arah pembicaraan mereka akan bermuara. "Kau mau apa?" tanyanya.


"Bagaimana jika dengan tubuhmu?"


Kalimat itu tentu membuat Lily merasa marah, bahkan kakaknya bisa mengalami kebutaan pun karena ulahnya, dan saat ini dia malah mengemis belas kasihan pada pria itu, begitu pikirnya.


Lily mendorong tubuh William untuk menjauh, kemudian beranjak berdiri, "anggap saja aku tidak pernah menemuimu, permisi," ucapnya lalu melangkah pergi.


"Aku memang telah salah datang ke tempat ini, bahkan bertemu denganmu untuk yang pertama kali, adalah sebuah kesalahan besar untuk aku saat ini." Lily tidak menangis, namun matanya yang sedikit memerah menandakan bahwa dia begitu marah.


"Oh Lily, kau tidak bisa diajak bercanda sekali," goda William dengan senyum jahil yang terbingkai di wajah tampannya, cih, tampan, apa-apaan, Lily mencela penilaiannya sendiri.


"Aku tidak pandai bercanda, maaf," ucap Lily yang membuat pria di hadapannya itu sedikit terkekeh, padahal menurutnya sama sekali tidak lucu.


William menyentuh pipi Lily yang tampak memerah, kemudian mengusap nya dengan gemas, dan wanita itu malah menepis tangannya.


"Jangan sentuh aku Will, kau bahkan sudah punya kekasih," ucap wanita itu.


William mengerutkan dahi, "kekasih? Maksudmu perempuan yang tadi."


Lily menatap William dengan berusaha menyuguhkan ekspresi yang biasa saja, mengabaikan suasana hatinya yang berubah buruk entah kenapa. Dia mengangguk.


William terkekeh lagi, "siapa bilang dia kekasihku?" ucapnya.


"Dia sendiri yang bilang, bahwa kau adalah kekasihnya," balas Lily.


William berdehem, kemudian mulai bercerita siapa Rachel sebenarnya, mereka memang sempat berkencan beberapa kali, itupun karena paksaan sang mami, beliau tidak mau melihat putranya terlihat bersedih ditinggal oleh sang istri.


"Rachel itu putri dari rekan ibuku, kami hanya saling kenal, tidak dekat."

__ADS_1


"Tapi kau bilang sudah beberapa kali berkencan dengannya, bahkan mungkin kalian....," kalimat Lily terjeda, entah kenapa dia merasa tidak pantas meneruskannya.


William bersidekap, menatap wanita yang berdiri di hadapannya dengan lekat, "Kau mau bilang bahwa aku sudah menidurinya, begitu kan?"


Lily menghela napas, sepertinya dia harus terbiasa dengan kalimat seorang William yang begitu blak-blakan. "Aku tidak peduli juga, bukan urusanku," ucapnya.


William sedikit mencondongkan wajahnya, "benar kau tidak cemburu," goda pria itu.


Lily melengos, dia jadi berpikir kenapa pembahasannya jadi melebar sampai ke sana, padahal dia hanya ingin meminjam uang saja, sebenarnya pria itu mau memimjamkannya atau tidak sih.


"Aku harus pulang, Kak Leon pasti mencariku," ucap Lily kemudian berbalik.


William kembali menarik lengannya, "tunggu dulu, aku bahkan masih rindu," ucap pria itu.


Lily menatapnya dengan heran, "menemuimu bahkan begitu sulit, kenapa kau masih punya waktu untuk menahan aku di tempat ini?"


William tersenyum, "nanti kukirimkan uangnya," ucap pria itu, mengalihkan topik pembicaraan.


"Jika hal itu memberatkanmu, sebaiknya tidak usah."


"Kenapa aku harus merasa berat." William melangkah ke arah pintu kemudian menguncinya.


Melihat itu tentu saja Lily merasa waspada, "Kau mau apa?" tanyanya dengan menghampiri pria itu dan kembali memutar kunci di hadapannya.


"Hanya ingin menyalurkan kerinduan, memangnya tidak boleh."


Lily menghela napas, "dengar ya Will, kita bahkan bukan siapa-siapa, dan kau tidak bisa selalu memaksakan kehendakmu seperti itu."


"Untuk itu menikahlah dengan ku, Ly," ucap William enteng.


Lily berdecak sebal, "Kenapa kau begitu menginginkan aku?"


Sejenak pria itu terdiam, dia sudah beberapa kali telah memberikan alasan, "kurasa kau tidak perlu lagi bertanya."


"Apa karena namaku yang sama dengan mantan kekasihmu?"


William sedikit terkekeh, "tentu saja bukan karena itu," ucapnya.


"Atau karena merasa bersalah akan sesuatu?" desak Lily.


William tidak dapat membalas pertanyaan itu, "merasa bersalah untuk apa?"


"Peristiwa kebakaran pada perusahaan ayahku?"


Deg.

__ADS_1


__ADS_2