
Lily bingung kenapa akhir-akhir ini dirinya merasa lemas, terkadang juga mual, dan telat datang bulan sampai berminggu-minggu lamanya membuat jantungnya berdebar-debar.
Dengan gemetar wanita itu mengambil alat tes kehamilan yang ia beli di apotek terdekat, Lily merasa sedikit ragu, bukan karena tidak mengerti dengan caranya, dia hanya tidak siap dengan hasil yang akan ia dapat nantinya.
Dirinya bukan lagi anak kecil yang tidak tau apa-apa, sudah terlalu dewasa untuk sekedar mengerti dengan tanda-tanda kehamilan dalam tubuhnya, terlebih dengan William dia terlalu sering melakukannya.
Lily takut, dia terlalu yakin dengan hasil yang ia duga, karena jika sampai begitu adanya, bagaimana dirinya harus menjelaskan pada sang kakak, pria itu pasti akan sangat murka, dan membayangkannya saja dia sudah tidak kuasa.
Dua garis yang terdapat dari benda pipih yang ia pegang di tangannya membuat kedua kakinya terasa lemas, wanita itu mencengkram pinggir wastafel, seketika bingung dengan apa yang harus ia lakukan.
"Lily?"
Seruan Leon membuat benda di tangan Lily jatuh ke lantai karena terkejut, wanita itu menginjaknya saat kepala sang kakak menyembul di balik pintu kamar mandi yang memang masih terbuka.
"Kau baik-baik saja? Masih tidak enak badan?" tanya Leon khawatir, wajah sang adik yang terlihat pucat tentu saja membuatnya bertanya-tanya.
Lily menggeleng cepat, pandangannya yang menangkap bungkusan bekas tespek yang ia injak dengan kakinya itu seketika membulat, wanita itu berdoa semoga sang kakak tidak pernah menyadarinya.
"Kau terlihat kurang sehat," ucap Leon dengan lebih dekat pada Lily, namun wanita itu kemudian mendorongnya.
"Tidak apa-apa kakak, pergilah aku hanya sakit perut biasa," ucap wanita itu kemudian mengunci pintu saat kakaknya sudah berada di luar sana.
Lily terduduk di kloset, bingung memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya, tidak mungkin anak dalam rahimnya bisa disembunyikan lama-lama, dan jika untuk menggugurkannya tentu dia tidak akan bisa.
Wanita itu menangis, menyentuh perutnya tang masih rata dengan sebelah tangan, seharusnya momen seperti ini adalah saat-saat yang membahagiakan bagi seorang wanita, tapi kali ini dirinya justru amat ketakutan, dia tidak mau jika anak ini lahir tanpa tahu ayahnya siapa.
"Lily apa kau menangis?"
Suara Leon disertai ketukan di pintu itu membuat Lily sedikit terlonjak, wanita itu segera membungkam mulutnya sendiri, segera menghapus air mata dan merapikan kekacauan yang terjadi.
Setelah merapikan bekas tespek dan ia sembunyikan di dalam sakunya, dia pun membuka pintu. Leon dengan khawatir menyambutnya dengan pertanyaan ada apa.
Sejenak Lily memandang wajah sang kaka, mata baru yang terlihat jernih itu memancarkan kasih sayang yang luar biasa, dan wanita itu tidak sanggup untuk mengecewaknnya.
"Aku baik-baik saja Kak Leon," lirih Lily.
Leon reflek memeluk tubuh wanita itu, "bagus lah," ucapnya lega, kembali menjauhkan tubuh Lily dan mengusap kepalanya. "Ayo kita bicarakan rencana untuk nanti malam," ajak pria itu.
Lily mengangguk lemah, mengikuti sang kakak menuju sofa, Lily tidak bisa membayangkan apa yang akan pria itu lakukan jika dia mengetahui kehamilannya.
__ADS_1
***
William sudah siap menghadiri pesta Paman Lim, pria yang merupakan kerabat dekat dari sang papa itu adalah orang yang terpandang, tentu saja kali ini pestanyaย akan meriah.
Menurut Justin tidak mungkin jika Leon akan berulah di pesta itu, penjagaan yang dibangun Paman pastilah amat ketat, atau mungkin saja dia akan menjalankan rencananya saat kita akan pulang, entahlah, yang jelas dia harus siap dengan situasi yang tidak terduga.
William mendapat kabar dari Lily bahwa kakaknya tidak ada, dan Pria itu pun menjemput sampai di depan rumahnya. Dia yakin Leon pasti di dalam, atau pria itu sudah bersiap di tempat yang dia tentukan.
"Kamu begitu cantik malam ini," puji William saat Lily sudah duduk di kursi penumpang.
Wanita itu tersenyum dan berterimakasih, balik memuji bahwa pria yang duduk di balik kemudi itu pun begitu tampan, dan mobil yang ditumpangi keduanya, melaju ke tempat tujuan.
Lily sedikit gugup saat mereka sudah keluar dari mobil, wanita itu menautkan tangannya pada lengan William untuk bergandengan.
"Tanganmu dingin sekali," komentar William saat tidak sengaja menyentuh jemari Lily, gaun yang tampak terbuka di bagian pundaknya mungkin membuat wanita itu sedikit menggigil.
William mendekap jemari lentik Lily dengan kedua tangan, meniupkan udara hangat dari mulutnya dan menggosok tangan wanita itu. "Kau mau memakai jas yang aku kenakan?" tawar William.
Lily menggeleng, penampilannya sudah sempurna, dan gaun yang begitu pas di tubuhnya begitu cantik di pandang mata. "Aku baik-baik saja," ucapnya.
Suasana yang tampak ramai dan hanya William yang ia kenal membuat Lily tidak mau jauh-jauh dari pria itu, namun banyak sekali para tamu yang datang menyapa William dan kemudian menggodanya, karena mereka pikir keduanya adalah pasangan.
"Ini kah menantu baru untuk mami?" goda Willona saat mereka saling bertukar nama, diperlakukan semanis itu tentu Lily merasa tersipu.
"Mami," tegur William lembut, senyumnya terbit begitu saja.
Willona mengajak Lily untuk sedikit berbincang-bincang, dan dia suka dengan pembawaan wanita itu yang terkesan apa adanya, namun terlihat anggun dan menawan, "bisa ikut mami sebentar?"
Pertanyaan itu membuat Lily menoleh pada William, dan kemudian mendapat anggukan dari pria itu, Lily pun mengikuti langkah wanita paruh baya itu yang belum tau akan kemana.
Ada sedikit kegugupan yang Lily rasakan saat ini, dia takut kisahnya akan sama seperti cerita-cerita dalam tv, mendapatkan ancaman untuk pergi dan tidak boleh mendekati putranya lagi, sepertinya dia sudah terlalu siaga.
"William pria yang baik, dia bisa terlihat dingin namun hangat secara bersamaan, hanya orang orang tertentu yang dapat merasakannya." Willona berucap saat keduanya duduk saling menghadap di sofa panjang yang tersedia dalam pesta itu.
Lily merasa terenyuh saat wanita yang meminta dipanggil mami itu menggenggam jemarinya dengan lembut, senyunya begitu tulus, tersirat kasih sayang dari Sorot mata tuanya yang terlihat berbinar saat menatapnya.
"Putra mami begitu beruntung telah mengenalmu, sebelumnya mami tidak pernah melihat William sebahagia itu, saat kau menggandeng lengannya, kalian tampak serasi."
Lily tertegun, bagaimana jadinya jika wanita di hadapannya ini tau, bahwa putra kesayangannya akan ia bunuh. Lily tentu tidak sekejam itu."William pria yang begitu pengertian," puji Lily dengan tersenyum.
__ADS_1
Willona ikut tersenyum, mengusap pipi Lily dengan sayang, "William jarang sekali terlihat bahagia, dan dengan kamu dia mendapatkannya, tolong jaga anak mami ya Lily, mami yakin kamu wanita yang baik."
Tanpa sanggup untuk mengangguk, Lily justru ingin menangis, tapi sekuat tenaga ia menahannya.
"Lily, William mungkin sangat mencintaimu, tapi mami dapat melihat dari matamu bahwa kau mencintai William lebih dari itu," ucap Willona yakin dan entah kenapa wanita di hadapannya semakin terdiam, hingga akhirnya seulas senyum terbit dari bibir Lily yang tampak terharu.
"Terimakasih Mami," entah kenapa Lily teringat pada mendiang sang ibu yang telah lama meninggalkannya. Wanita itu mendapatkan pelukan dari Willona, dan dia kemudian membalasnya.
***
William menyampirkan jas miliknya pada tubuh Lily yang mungkin kedinginan, wanita itu menoleh, "Kau mau pulang? Acaranya sudah selesai," ucapnya.
Lily mengerjap gugup, dia nyaris lupa dengan rencana sang kakak karena terlalu asik bercengkrama dengan Willona, wanita itu pun mengangguk.
Setelah berpamitan, keduanya melangkah keluar gedung, Lily yang terlihat gugup dan takut sebenarnya sudah William duga penyebabnya karena apa, tapi pria itu tetap menanyakannya, dan tentu saja dijawab tidak apa-apa.
"Kau terlihat akrap dengan ibuku, apa yang kalian bicarakan?" tanya William saat keduanya sudah duduk di dalam mobil, William sedikit mencondongkan tubuhnya dan memasangkan sabuk pengaman untuk Lily.
"Tentu saja kau, siapa lagi," jawab Lily yang membuat pria di sebelahnya itu menjadi gemas.
William mencubit hidung mancung Lily yang begitu dekat di hadapannya, "jujur sekali dirimu," ucap pria itu dengan tertawa.
Lily hanya tersenyum menanggapinya, sejenak dia ragu. Akankan dia mengatakan tentang kehamilannya pada pria itu, dia benar-benar bingung harus memulai dari mana. "Will?" panggil Lily lirih.
William yang semula sibuk menyalakan mesin mobil kemudian menoleh, "apa Sayang?" tanyanya.
Dan panggilan itu membuat Lily sejenak melupakan dengan apa yang ingin dia utarakan.
Bersambung woey!!!
Netizen: etolong ya thor itu Lily mau ngomong sama Bang Bule, dia halim, gaboleh potong omongan orang gasopan ๐
Author: yaudah bat besok lagi kebanyakan jempol gw keriting. ๐
Netizen: jadinya Bang Bule beneran mau dimetongin ama mbak Lily, kasian dong anaknya thoor gak punya bapak ๐
Author: kan kalian maunya gitu ya, Bang bule mati trus Lily buka vidionya nyesel dah tamat gitu kan ya ๐
Gw udah pernah bilang ya, namatin cerita itu gampang, Lily bilang dia hamil, Bang bule bujuk bang Leon buat restuin, dan karena Leon udah liat vidio jadi dia tau bang bule gak salah, dan akhirnya mereka menikah. TAMAT.
__ADS_1