
Leon benar-benar sakit hari ini, pria yang masih mengenakan baju tidurnya itu berkali-kali bersin saat hendak mengambil air minum di dalam kulkas.
"Kamu demam, Kak, tidak boleh minum air es," cegah Lily dengan merebut botol air dingin di tangan pria itu.
William yang baru datang segera menghalangi sang istri dari Leon yang bersinnya tidak ditutupi, "Ibu hamil rentan terhadap virus, kau jangan dekat-dekat dengan kakakmu Sayang," ucapnya menasihati.
Leon mendecih, menggosok hidungnya yang gatal kemudian beralih mengambil air hangat dari dispenser.
"Mau ke dokter?"
Pertanyaan William membuat Leon sekilas menoleh, kemudian kembali fokus pada gelas di tangannya, "tidak perlu, nanti sembuh sendiri," tolaknya. "Maaf hari ini tidak bisa masuk kerja, kepalaku pusing," imbuh pria itu.
William mengangguk, dan berucap semoga cepat sembuh pada sang kakak ipar yang beranjak kembali ke kamar, dia pulang ke rumah hanya ingin makan siang bersama dengan sang istri yang katanya sudah memasak, dan kali ini menu yang wanita itu hidangankan sudah lumayan enak. "Terimakasih Sayang," ucap William saat akan kembali berpamitan ke kantor lagi pada Lily.
Belum sempat Lily menanggapi bel di pintu membuat keduanya menoleh, mereka pun berjalan ke arah benda itu, dan Lily terkejut dengan kedatangan Lura juga sepupunya, wanita itu memeluk Lily dengan erat.
Lily menyuruh kedua wanita itu masuk setelah melambaikan tangan pada suaminya yang beberapa saat lalu pamit kembali bekerja.
"Terimakasih buahnya Lura, aku senang sekali kau membawakannya," ucap Lily saat mereka sudah dipersilahkan duduk di atas sofa.
Lura sempat tertegun, kemudian menoleh tidak enak pada Naura, pasalnya kemarin dia tidak mengatakan mampir ke rumah Lily saat wanita itu menanyakan keberadaannya. "Iya, aku menitipkan pada kakakmu, saat kau ternyata tidak ada di rumah," balasnya.
Lily meminta maaf akan hal itu, dan kemudian menyuruh asisten rumah tangganya mebuatkan minum untuk mereka.
"Kudengar kakakmu sakit, jadi aku mengajak Lura untuk mampir ke sini," ucap Naura saat Lily menanyakan ada keperluan apa mereka mengunjunginya.
"Ah iya, Kak Leon memang sedang sakit, tapi hanya demam, sepertinya tidak terlalu parah, terimakasih atas perhatianmu," ucapnya pada wanita yang tengah dekat dengan sang kakak.
Lily beranjak berdiri, kemudian melangkah ke kamar sang kakak untuk membangunkannya, bersamaan dengan kedatangan bibi asisten rumah tangga, yang membawakan minum untuk mereka.
Setelah mengetuk pintu dua kali, Lily membuka benda itu dan menghampiri sang kakak, pria itu terlihat meringkuk di kasurnya, "Kak, ada tamu untukmu," ucap Lily yang membuat kelopak mata Leon kemudian terbuka.
"Siapa?" Tanya Leon.
Lily mendekati ranjang pria itu kemudian duduk di pinggirannya, punggung tangan wanita itu menyentuh kening sang kakak yang masih terasa hangat, "Naura," ucapnya.
Sejenak Leon mengerutkan dahi, baru beberapa menit tadi wanita itu mengajaknya makan siang bersama dan meminta tolong ditemani ke rumah sakit, dan sekarang sudah berada di rumahnya setelah ia mengatakan tidak enak badan, beruntung bukan cuma alasan.
"Jika kau tidak sanggup berjalan untuk menemuinya, biar dia yang kusuruh kemari menemuimu," ucap Lily memberi usul.
Leon berdecak setelah beranjak duduk dan menurunkan kedua kakinya ke lantai, memakai sendal berbulu di kamarnya kemudian berdiri untuk menemui tamunya itu. "Aku hanya demam, bukan lumpuh, masih bisa berjalan," ketusnya yang membuat sang adik malah tertawa.
Melihat penampilan sang kakak yang begitu kacau dengan piyama yang masih melekat di tubuhnya Lily berkomentar, "Kau tidak mau ganti baju dulu, Naura loh yang datang," ucap wanita itu. Merasa heran kenapa Leon tidak mau memperbaiki penampilan, bukankah wanita cantik itu adalah gebetannya.
__ADS_1
Namun tampaknya sang kakak tidak peduli, Leon memilih terus melangkah keluar tanpa mendengarkan pendapat wanita itu.
Saat sudah sampai di pintu penghubung, orang pertama yang Leon lihat adalah Lura, dan pria itu reflek menghentikan langkahnya. "Ada Lura juga, kenapa kau tidak mengatakannya," ucapnya pada Lily dengan sedikit mengomel.
Lily mengerutkan dahi, kemudian menoleh pada Lura yang tampak mengobrol dengan sepupunya, belum menyadari keberadaan mereka, dan kenapa sang kakak justru lebih merisaukan penampilannya di hadapan Lura.
"Eh kau mau kemana?" cegah Lily saat sang kakak hendak berbalik pergi, wanita itu menarik lengan Leon saat akan kembali ke kamarnya.
"Aku mau ganti baju," jawab Leon saat adiknya itu bertanya mau apa.
Hal itu membuat Lily mengerutkan dahi, kemudian kembali menarik sang kakak untuk menemui tamu-tamunya. "Mereka sudah lama menunggumu, tadi kusuruh ganti baju dulu tidak mau" ucapnya.
"Kamu tidak bilang ada Lura," balas Leon.
"Memangnya kenapa jika ada Lura?" Lily bertanya, dan setelah tidak mendapat jawaban dari pria itu, dia mendorong tubuh Leon untuk segera keluar, dan berkata tidak usah merisaukan penampilan karena dirinya sudah terlihat tampan.
Maaf sudah membuat kalian menunggu, ucap Lily menyesal, dan hal itu membuat keduanya menoleh.
Naura segera beranjak berdiri, menempelkan punggung tangannya pada kening pria yang terlihat pucat di hadapannya, hingga membuat Leon mengerjap dan menangkap pergelangan tangan wanita itu.
"Aku tidak apa-apa Naura, hanya sedikit demam." Leon berucap sembari melirikkan ekor matanya pada Lura yang tampak diam saja.
Lura beranjak berdiri, dan beralih duduk di samping Lily agar memberikan ruang bagi Naura dan Leon untuk duduk satu sofa, keduanya kemudian mengobrol.
Namun Leon menolaknya, "aku tidak apa-apa, nanti juga sembuh dengan sendirinya," ucap pria itu.
Lily mengajak Lura naik ke lantai atas untuk ke kamarnya, kedua wanita itu sibuk bercengkrama, tidak menyadari bahwa tatapan Leon mengekori pergerakan keduanya.
"Sepertinya kau tidak mendengarkan aku," ucap Naura saat melihat pria di sebelahnya tampak tidak fokus dengan obrolan mereka.
Leon meminta maaf, kemudian tersenyum dan menyandarkan tubuhnya pada sofa, "aku agak sedikit pusing," ucapnya beralasan.
Sesaat obrolan merekapun dilanjutkan, hingga Naura kemudian melirik jam di pergelangan tangannya dan teringat janji dengan Daniel beberapa menit kedepan.
"Tidak masalah, pergilah," ucap Leon saat Naura tampak menyesal tidak bisa menemani pria itu. "Biar nanti kukabarkan pada Lura, kau sudah ke rumah sakit karena sudah ditunggu.
"Apa tidak akan apa-apa?" tanya wanita itu.
Leon mengangguk, "Kau akan terlambat jika mengantar Lura lebih dulu, sebaiknya segera temui dokter itu, selagi dia masih ada waktu," ucapnya menasihati, hingga membuat Naura setuju, kemudian pamit pergi.
Sepeninggalan Naura, Leon masih bersandar di sofa yang ia duduki, memijat pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri, dan pusing di kepala sepertinya amat menjadi, pria itu tidak menyadari keberadaan Lura yng telah kembali.
"Naura mana?"
__ADS_1
Pertanyaan itu membuat Leon menoleh ke belakang, "sudah pulang," jawabnya.
Lura berdecak, kemudian mengambil ponselnya dari dalam tas dan terus berjalan nyaris melewati Leon, hingga pria itu kemudian menangkap pergelangan tangannya.
"Aku harus kembali ke kantor," sesal Lura setelah menoleh pada pria itu.
Leon menarik tangan Lura hingga wanita itu terduduk di sampingnya, kemudian menyandarkan kepala pada pundak wanita di sebelahnya.
"Aku sakit dan kau tidak ada perhatian sekali," keluhnya dengan memainkan jemari wanita itu.
Lura ikut menyandarkan tubuhnya pada sofa, membiarkan saja pria di sebelahnya itu bermanja-manja dengan menyandarkan kepala, dan jemarinya yang dipermainkan membuat ia merasakan bahwa Leon benar-benar demam. "Kamu kan sudah ada yang perhatian," sindirnya.
Leon menegakkan kepalanya, raut wajah pria itu terlihat kecewa, "Yasudah biar nanti aku minta perhatian padanya saja," ucap pria itu mengancam.
Dengan tertawa Lura melingkarkan lengannya pada pria itu, "iya deeh, cepat sembuh sayang, nanti kita jalan-jalan," ucapnya, kemudian memundurkan kepala saat wajah pria itu mendekatinya, "Kau mau apa?" protesnya dengan menahan senyum.
"Aku merindukanmu, kapan kau akan mengatakan semuanya pada Naura, apa aku saja yang mengatakannya?"
Lura menggeleng, "aku belum siap, setidaknya tunggu dia mengingat semuanya, dan jika benar dia membencimu setelah mengingat tentang dirimu, bukankah itu akan lebih mudah." Lura berucap sembari mengusap pundak Leon yang terlihat tengah berpikir.
"Bagaimana jika ternyata ingatan dia yang kembali justru semakin menumbuhkan perasaannya terhadapku," tanya Leon sedikit ragu.
Lura tertegun, dia memang sempat memikirkan tentang hal itu, dan sampai sekarangpun solusinya masih buntu.
Belum sempat Lura menanggapi, Leon sudah menempelkan mulutnya pada bibir wanita itu, rasa panas yang menjalar dari lidahnya membuat Lura melenguh, wanita itu memejamkan matanya sejenak, mencengkram baju tidur pria itu hingga membuatnya sedikit kusut.
Leon melepaskan ciumannya, tersenyum saat mata sendu Lura memancarkan gairah yang mendalam, dan membayangkan seberapa banyak pria yang sudah menikmati dirinya, pria itu masih saja belum merasa rela, ada sedikit kecewa di sudut hatinya yang terluka.
"Lidahku pahit, dan bibirmu terasa manis," ucap Leon dengan mengusap bibir merah jambu wanita itu dengan ibu jari. Keduanya tersenyum.
"Apa yang kalian lakukan?"
Iklan woey
Siapakah gerangan yang datang.
A. Lily 😆
B. Naura 😯
C. Tukang kredit panci 🙄
Akoh bikin kuis berhadiah santet online buat kalian ya 😆
__ADS_1