
Lily menutup kembali mobil William, setelah sedikit merunduk untuk melambaikan tangan, dan mendapat balasan sebuah senyuman, pria itupun segera pergi.
"Ada apa?" Tanya Lily pada Nindi yang tampak menunggu.
Nindi sedikit gugup, dia terlihat bingung, dan hal itu membuat Lily mengerutkan dahi. "Di dalam ada Non Lura, terus tadi saya lihat ada sedikit keributan yang dilakukan Tuan Leon, saya jadi khawatir."
Tanpa menanggapi gadis itu, Lily memutuskan untuk masuk ke dalam toko bunganya, wanita itu segera mencari sang kakak. Langkahnya yang semula tergesa kini memelan saat melihat Leon yang dibantu oleh Lura untuk berjalan.
Lily memilih untuk menunggu sahabatnya di meja tempat biasa mereka mengobrol, karena tadi, Lura pun sempat melihat keberadaannya, dan beberapa saat kemudian, sahabatnya itu kembali dan duduk berhadapan dengan dirinya.
"Kasihan Kak Leon," ucap Lura, masih menoleh ke arah pintu kamar pria itu kemudian menopang dagu, ia kembali menoleh pada sahabatnya dan menceritakan kejadian barusan yang dialami oleh Leon.
Sesaat Lily terdiam, "akhir-akhir ini Kak Leon memang terlihat kurang bersemangat, dia selalu merasa bahwa dirinya telah menyulitkan aku," ucap Lily dengan raut sedih.
"Kamu yakinkan saja, bahwa itu tidak benar, aku takut dia bunuh diri nantinya." Lura merasa khawatir.
Lily beranjak berdiri untuk merapikan bunganya yang sedikit berantakan di sekitarnya itu, "jika untuk bunuh diri kurasa tidak, dia punya keinginan untuk membalas dendam pada seseorang yang menghancurkan keluarga kami," ucapnya dengan membawa satu vas berisi bunga-bunga kemudian ia taruh di atas meja, ia berniat merapikannya.
Lura memang sudah dengar cerita dari sahabatnya tentang keluarganya, namun perempuan itu memilih untuk tidak membahasnya lebih lanjut. "Tadi Nindi bilang kau pergi dengan seseorang. Siapa?"
Tangan Lily yang bergerak merapikan bunga kemudian terhenti, dia sedikit ragu jika harus menceritakan ini, "Kau ingat William?"
Pertanyaan itu membuat Lura mengerutkan dahi, "Tuan William maksudnya?" tanya wanita itu memastikan, dan saat sahabatnya itu mengangguk, dia sedikit tidak percaya, "Tuan William yng waktu itu membelimu?"
Lily memutar bolamatanya jengah, kenapa juga harus diperjelas seperti itu, "memang William yang mana lagi?"
Lura menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut, "benarkah kau masih berhubungan dengan orang itu?"
Lily semakin bingung, bukankah memang mudah jika ingin mempunyai hubungan dekat dengan seorang William, "kudengar kekasihnya banyak, kenapa kau terkejut."
Lura menggeleng, "Tuan William itu bukan orang sembarangan, wanita yang ia kencani pun bukan perempuan sembarangan juga, dan biasanya mereka hanya bertahan satu malam, setelah itu Tuan William akan menghilang, tapi denganmu sampai saat ini masih dekat, bagaimana aku tidak terkejut. "Lura berceloteh panjang lebar, mengungkapkan keheranannya, dan yang semakin membuat dirinya syok, Lily bercerita bahwa pria itu mengajaknya untuk menikah.
"Kau bercanda kan?" Lura tampak tidak percaya.
"Kurasa juga dia yang bercanda." Lily memberi kesimpulan.
Lura menggaruk rambut kepalanya yang tidak gatal, "tapi kau menerimanya?"
Setelah menggeleng, Lily kemudian berkata, "kupikir dia hanya penasaran padaku saja," ucapnya.
__ADS_1
Tatapan Lura mengikuti pergerakan sahabatnya yang beranjak berdiri untuk menaruh bunga di tempatnya, "jika dia serius kau bagaimana?"
Sesaat Lily terdiam, "kurasa tidak mungkin, dan lagi aku masih mengharapkan pria baik-baik yang akan menjadi pendampingku nanti, tapi dengan keadaanku yang seperti ini apakah mungkin?"
Lura menopang kedua pipinya dengan telapak tangan, "yaa, seorang putri sepertimu memang seharusnya mendapatkan seorang pangeran, bukan pria brengs*ek yang sering tidur dengan banyak perempuan."
Lily menghela napas, dia juga bingung masihkah ada pangeran yang tersisa untuknya, dan jika memang ada, maukah dia menerima keadaannya?
***
Lewat beberapa hari setelah kejadian itu, William belum pernah menghubungi Lily, dia ingin tau apakah benar akan timbul rasa Rindu, tapi nyatanya perasaan itu amat menggebu. Pria itu bersandar pada sofa dan memejamkan matanya, kali ini ia berada di kantor bersama sahabatnya.
"Apa kau gila?" Komentar Justin saat William bercerita bahwa ia ingin menikahi Lilynya, dia beranjak dari kursi di balik meja kerjanya, kemudian menghampiri pria itu.
William menoleh saat Justin duduk di sebelahnya, tatapan pria itu seolah tidak percaya."Tentu saja aku memang sudah gila, puas kau hah?" ucapnya.
Justin mengusap wajahnya dengan telapak tangan, urusan percintaan sahabatnya ini ternyata lebih kusut dari sepintal benang. "Lalu setelah kau menikah, dan wanita itu tau yang sebenarnya setelah itu apa?" tanyanya tidak sanggup untuk menerka.
William menghela napas, "jika dia mau mendengarkan penjelasanku mungkin kita akan bahagia, aku hanya perlu bicara pelan-pelan, dan kurasa dia akan mengerti."
"Iya kalo dia mengerti." Justin beranjak berdiri, kemudian melangkah menuju mejanya dan bersandar di sana, menghadap pada pria itu. "Jika ternyata dia memilih untuk meninggalkanmu? Maka akan ada lagu di antara kalian, kumenangiiis membayangkan, betapa kejamnya dirimu atas diriku!" Justin bersenandung dengan menyentuh dadanya sendiri, hingga terlihat begitu menghayati.
"Siyal!" William yang kesal melemparkan sebelah sepatunya yang sigap ditangkap oleh pria itu, bagaimana dia tidak keki, bukannya memberi solusi, pria itu malah menyanyikan sountrack lagu sinetron chanel ikan terbang, dan yang ia tidak mengerti kenapa pria itu terlihat hafal sekali.
William berdecih, kembali memasangkan sepatutnya lagi dengan berkata, "setidaknya aku sudah menikahinya, dan untuk berpisah bukankah akan kecil kemungkinannya?"
"Dan sampai itu terjadi kau akan menjadi duda untuk yang ke dua kali? Oh ayolah Will, anakku bahkan sekarang sudah tiga," ucap Justin mengingatkan, bahwa pria itu sudah jauh tertinggal dalam hal menanam saham.
William melengos, "nanti aku cetak kembar empat saja biar kau kalah," tantangnya yang membuat sahabatnya itu mencebikkan bibir.
Belum sempat Justin menanggapi, ketukan di pintu dengan sedikit terburu-buru membuat keduanya menoleh. Ardi yang adalah Adik dari Justin dengan panik menghampiri keduanya dengan membawa putra pertamanya.
"Bang Aku ada rapat, nggak mungkin lah bawa Arka masuk, nitip ya." Pria itu menyerahkan putranya yang baru belajar berjalan itu pada sang abang yang tampak kebingungan.
Justin menatap keponakannya yang tertawa, kemudian beralih pada ayahnya yang sibuk mengumpulkan data-data,"memang maminya ke mana?" tanya pria itu.
Ardi yang sudah selesai dengan kertas-kertas di tangannya kemudian mendongak, "dia ada urusan di hotel Papi Hendrik, Arka gak bisa dibawa aku pikir hari ini nggak ada rapat jadi ikut aku aja, ternyata aku lupa."
Justin menggeleng, "omanya memang tidak ada?" tanyanya dengan sesekali menarik dasi yang ia kenakan saat bocah kecil dipangkuannya, nyaris memasukkan benda itu ke dalam mulut. "Masa nitip ke aku?" protesnya.
__ADS_1
"Omanya ada arisan, bentar aja kok paling setengah jam." Ardi berucap dengan setengah berlari ke arah pintu, dan mendapati hal itu Justin terus saja menggerutu.
William yang sejak tadi menyaksikan interaksi keduanya hanya tersenyum, pandangannya mengarah pada bocah laki-laki di pangkuan Justin yang sedang lucu-lucunya, dan bocah itupun tampak tertawa.
"Kamu duduk di sini saja ya sayang, ayahmu sudah tidak waras." Justin mendudukkan bocah itu di sebelahnya, namun Arka kecil kembali merangkak ke pangkuan pamannya itu.
"Ta ta ta!" ocehnya tidak jelas, yang membuat Justin kemudian menghela napas.
Suara pintu terbuka, kembali membuat keduanya menoleh, "Maaf Pak Justin, Anda sudah ditunggu klien di ruangan rapat," ucap sekretaris pria itu, kemudian kembali menutup pintu.
"Ah, aku juga ada janji ternyata," gumam Justin, kemudian beranjak berdiri, pria itu menyerahkan bocah di tangannya pada William, "Kau urus sebentar, aku pergi dulu," ucapnya.
William yang ditinggal dengan seorang bayi di tangannya jadi kelayakan, bagaimana jika bocah ini menangis, lapar, ingin minum susu, atau malah ingin buang air? Dia harus bagaimana, bahkan pengalaman menggendong saja belum ada.
Pria itu mengernyit saat anak dalam pangkuannya terus mengoceh, lalu tertawa sendiri, dia jdi teringat sesuatu. "Bagaimana jika kita jalan-jalan, kau mau?"
Meski pertanyaannya tidak mendapatkan jawaban, William menganggap anak itu telah memberikan persetujuan. Merekapun kemudian beranjak pergi.
William menoleh pada Arka kecil yang ia dudukkan di jok penumpang di sebelahnya, dia tersenyum ketika melihat anak itu tertawa. Kali ini mereka berada di depan toko bunga Lily, dan setelah beberapa hari, akhirnya pria itu kembali datang untuk menemui, Arka akan menjadi alasan kuat kenapa ia mencari keberadaan Lily.
Saat William tengah menggendong Arka untuk masuk ke dalam toko bunga itu, ternyata Lily pun tengah membukanya hendak keluar, keduanya saling bertatapan.
Lily mengalihkan pandangannya pada anak kecil dalam gendongan William, kemudian beralih pada wajah tampan pria itu, alih-alih berkomentar ketidak miripan antara keduanya, dia malah berkata.
"Setelah beberapa hari yang lalu kamu mengaku pernah menikah, sekarang apa? Kamu mau menunjukkan jika ternyata kamu juga sudah punya anak?" tanya Lily.
***
Netizen: lu keknya hapal banget thor sinetron chanel ikan terbang. ðŸ¤
Author : ya abis gimana ya tiap hari ceritanya gitu gitu aja, ketemuan, menikah, selingkuh, berantem ama mertua, ditinggalin. Kumenangis membayangkan betapa kejamnya dirimu atas diriku ðŸ˜
Netizen: Abis itu lakinya nikah ama selingkuhannya, usahanya bangkrut, istri barunya gak mau hidup susah, terus ditinggal, si cowok balik lagi ke istrinya yang ternyata udah punya laki yang lebih kaya, penonton teriak sookoorrrr
Kumenangiis membayangkan betapa kejamnya dirimu atas diriku ðŸ˜
Author: etolong itu lagunya bisa diganti gak 🙄
Netizen: Kaga thor udah cocok banget soalnya 😆
__ADS_1
Author: Ceritanya selalu sama tapi entah kenapa gue selalu penasaran sama endingnya 😌
Udahlah ya cukup sekian dan terimakasih, bantu votenya ya netizen ku yang budiman.