Gadis 100 Juta

Gadis 100 Juta
PERTEMUAN


__ADS_3

William memutuskan untuk mengantarkan Lily ke rumah sakit menemui kakaknya yang dikabarkan telah siuman, Leon Fernandes, jika pria itu melihat dirinya, apakah ia masih bisa bernapas lagi hari esok? sepertinya mungkin bisa karena William tidak akan pernah tumbang dengan hanya menghadapi seorang Leon, tapi yang membuat pria itu nyaris kehabisan udara, bagaimana jika karena itu Lily akan membencinya.


"Tuan." Seruan Davin membuat William yang tampak melamun kemudian menoleh, mereka duduk di kursi tunggu, Leon yang tengah menjalani pemeriksaan belum bisa dikunjungi untuk saat itu.


William beranjak berdiri saat dokter yang memeriksa Leon keluar dari ruangan.


"Tuan William, anda di sini?" Dokter jaga  yang memeriksa Leon merasa terkejut, William adalah calon pemilik rumah sakit ini dan tentu saja teramat ia kenali.


"Kebetulan yang di dalam itu teman saya," ucap William yang membuat Lily menoleh.


"Ah begitu, kami akan melakukan yang terbaik untuk teman anda Tuan," ucap pria berkacamata itu, dan setelah mendapat anggukan dari William, dia menoleh pada Lily. "Anda kerabat dari Tuan Leon? Ada yang ingin saya bicarakan."


Sebelum Lily mengikuti Dokter berkacamata  memasuki ruangan, Lily sempat menoleh pada William, dan pria itupun tersenyum.


William kembali duduk di kursinya, "menurutmu apakah Leon akan mengingat peristiwa itu?" tanyanya pada Davin yang berdiri di sebelahnya. .


Davin tampak berpikir, sebenarnya ini yang dia takutkan, dan kedekatan tuanya dengan Nona Lily, tentu saja tidak bisa ia sesalkan. "Saya tidak tau Tuan."


William mendongak, baru kali ini dia mendapat jawaban kalimat sedemikian rupa, dari asistennya yang serba bisa, dia sedikit terkekeh. "Menurutmu aku harus bagaimana?"


Pertanyaan itu membuat Davin kembali berpikir, jika ia menjawab tidak tau sekali lagi, dia yakin hari ini tidak akan selamat oleh tuannya, dalam sehari jatah tidak taunya hanya boleh satu kali, dan dia dilarang mengulangnya lagi. "Anda yang menolong Tuan Leon dalam kebakaran itu Tuan," ucapnya mengingatkan.


Davin benar, tapi yang Leon tau, beberapa saat sebelum peristiwa itu terjadi, William tengah  berdebat dengan ayahnya, "dia tidak akan percaya jika aku menceritakan kebenarannya kan? Tentu saja dia akan percaya pada ayahnya sendiri."


"Kurasa mungkin memang seperti itu, Tuan, kita tunggu saja waktu yang tepat, sampai saya dapat mengumpulkan semua bukti tentang peristiwa itu."


William mengangkat satu telapak tangannya, kemudian beranjak berdiri, "Biarkan saja, jika memang dia akan membenciku selamanya, aku tidak masalah, aku tidak mau mereka kecewa dengan ayahnya."


Davin tertegun, tuannya ini senang sekali dibenci oleh orang lain, padahal belum tentu dirinya terlibat dalam hal itu. Davin ikut masuk ke dalam ruangan saat William memutuskan untuk menemui Leon yang tengah berbaring memejamkan mata di atas ranjangnya.


Keadaan Leon memang sudah lumayan membaik, meski sebagian wajahnya masih tertutup perban, tapi jika dilihat keseluruhan, tampaknya sudah banyak kemajuan. "Leon Fernandes, kau ingat aku?" William berucap pelan, dan saat pria itu membuka mata, dia kembali nerbicara. "Senang kau selamat," imbuhnya.


"Kau!" Suara Leon tampak tercekat, keadaannya yang belum stabil membuat ia sedikit kesulitan untuk berucap. "Pergi kau dari sini, pergi!" Leon berteriak histeris, bahkan hanya sekedar mendengar suara yang teramat ia kenali siapa pemiliknya. Tangan pria itu bergerak menyibak tak tentu arah.


Hal itu membuat William mundur satu langkah, menoleh pada Davin yang juga tampak kebingungan di tempatnya, William mengangkat telapak tangannya dan mendekatkan pada wajah Leon yang tampak ngos-ngosan menahan amarah, namun anehnya pria itu seperti tidak dapat melihat keberadaannya.

__ADS_1


Davin ikut menggerak-gerakan tangannya di depan wajah Leon untuk memastikan, dan mendapati tuanya memutuskan untuk keluar ruangan, dia pun mengikutinya.


"Sepertinya ada masalah dengan penglihatan Leon," ucap William saat mereka sudah berada di depan pintu.


"Apakah saya harus mencari tau tentang keadaan beliau, Tuan." Davin meminta persetujuan.


Tanpa menoleh, William yang kembali duduk di kursi tunggu kemudian mengangkat sebelah tangannya. "lakukanlah," ucap pria itu.


Setelah Davin beranjak pergi, Lily dan juga Dokter yang mengajaknya masuk ke dalam ruangan itu kemudian mendekat, Lily mengangguk saat Dokter berkacamata itu pamit undur diri, begitu juga dengan William.


"Apa yang terjadi?" Pertanyaan William membuat Lily yang tampak murung kemudian menoleh.


"Kakakku mengalami kebutaan," ucap perempuan itu, lalu menceritakan apa saja yang dokter katakan barusan, termasuk penyebab kebutaan tersebut yang tidak bisa ia jelaskan.


William menyentuh pundak Lily, "aku akan menyuruh dokter di sini untuk memberikan pengobatan yang terbaik untuk kakakmu, sampai dia bisa kembali seperti semula, biar aku yang menanggung semua biayanya."


Lily yang nampak tertegun seketika menoleh, "apa kau yakin, menurut dokter, itu sangatlah mahal," ucapnya. Namun kemudian berpikir, rumah sakit ini adalah milik pria itu, tentu saja kecil baginya jika ingin memutuskan sesuatu. "Terimakasih Will," ucapnya dengan penuh haru, reflek memeluk pria itu.


Kehadiran Daniel membuat Lily dengan cepat melepaskan pelukannya, pria ber jas putih itu mengangguk pada William sebagai bentuk sapaan.


Lily menggeleng, "aku sangat ingin menemuinya, apakah sudah boleh."


"Tentu saja," balas Daniel.


Lily menoleh pada William, "Kau mau ikut," tawarnya.


William yang semula mengarahkan tatapannya pada Daniel, kemudian beralih pada wanita itu, "kalian duluan saja," ucapnya.


Daniel mengangguk saat berjalan melewati William, dan Lily mengekori di belakangnya. Saat mereka sudah berada di dalam ruangan tempat Leon dirawat, keduanya terkejut karena pria itu yang sudah terduduk dengan raut wajah yang penuh emosi.


Leon yang mendengar kedatangan seseorang langsung waspada, "pergi!" teriaknya saat mengira yang datang adalah orang yang sama.


Lily menghambur pada kakaknya, memeluk pria itu dengan penuh kerinduan, juga rasa takut atas apa yang kakaknya lakukan. "Ini aku Kak, kumohon jangan seperti ini."


Daniel menyuruh Leon untuk tenang, dan mengatakan kondisinya yang belum terlalu baik tidak seharusnya pria itu membuang banyak energi, sebagai dokter ia menyarankan untuk banyak beristirahat.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Lily yang bingung dengan sikap Kakaknya.


Leon yang dibantu oleh Daniel untuk kembali berbaring, kemudian meraih tangan Lily, "orang itu ada di sini, kamu harus berhati-hati," ucapnya.


Lily sedikit kebingungan, "orang yang mana? Selain kami, tidak ada siapapun di tempat ini," ucap wanita itu.


"Apa sebelum ini ada yang datang menemui kakakmu?" tanya Daniel.


Lily menggeleng, "aku tidak tau," ucapnya, kemudian menceritakan bahwa ia baru saja mengobrol dengan dokter yang menangani kakaknya itu.


William yang sudah lumayan lama berada di antara mereka memilih untuk diam saja, pria itu semakin merasa bersalah, begitu marahkah Leon pada dirinya?


"Bukankah begitu Will?"


Pertanyaan Lily membuat William mengerjap tersadar, dia tidak tau apa yang tengah mereka bahas sebelumnya, hingga kemudian meminta pendapat pada pria itu.


Saat William mengangkat alisnya pertanda tidak mengerti, Lily menceritakan lagi tentang pria itu yang bersedia menanggung semua biaya Leon hingga pulih kembali.


"Benar begitu Tuan? Wah anda benar-benar luar biasa," puji Daniel, dan William hanya tersenyum sebagai tanggapan.


Leon sangat berterimakasih, pria itu mengulurkan tangan agar William mau mendekat, dan saat pria itu mengangsurkan tangannya, Leon mendekapnya dengan begitu erat.


"Terimakasih atas kebaikanmu, Tuan, akan kuganti semuannya jika pulih nanti," ucap Leon.


William diam saja,  pandangannya mengarah pada tangannya sendiri yang masih digenggam oleh Leon. Dia bingung, haruskah ia melontarkan sura, dan pria itu tentu saja akan mengenalinya.


**iklan***


Author : hayoloh kira-kira Bang Bule diem-diem bae gak 😆


Netizen : jemuran oooh jemuran, demen banget gantung-gantungin adegan, kek sinetron ikan terbang 🤧


Author : 😆😆 kan udah seribu lebih kebanyakan entar gumoh yang baca 😌


Netizen: ya tapi gak ngegantung juga Jumadi. 😒

__ADS_1


Author: gak digantung gak penasaran dong. 😆


__ADS_2