Gadis 100 Juta

Gadis 100 Juta
INGATAN


__ADS_3

Menjelang siang, Leon baru terbangun saat mendengar dering ponsel yang begitu nyaring mengganggu tidurnya, pria itu mengambil benda yang tergeletak di atas ranjang, dan menyipitkan mata membaca pesan-pesan yang ternyata dari Naura.


Leon menoleh ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh, dan janji dengan wanita itu tepat jam delapan, tentu saja dirinya sudah begitu sangat terlambat untuk memenuhinya.


"Maaf," ucap Leon saat panggilan yang ia tujukan pada Naura kemudian mendapat jawaban.


Naura mengomel pada awalnya, mengatakan bahwa dirinya sudah menunggu amat lama, dan sekali lagi pria itu minta maaf atas kelalaiannya.


"Kau di mana, mau aku jemput?" tanya pria itu akhirnya saat kekesalan Naura terdengar sedikit mereda. Dan Naura menjawab tidak usah karena Daniel sudah bersedia untuk mengantarnya.


Leon mematikan sambungan, merasa lega saat Naura ada yang mengantarkan pulang ke kantornya. Dan satu pesan dari Daniel membuat pria itu kemudian tersenyum.


Daniel: Aku mengantar Naura karena kasihan, dia tidak ada yang menemani ke sini, jangan salah paham.


Leon mengetikkan balasan, 'semoga berhasil', begitu isi pesan yang telah ia kirimkan.


Daniel: Berhasil untuk apa, aku sedang tidak melakukan pendekatan bodo*h.


Umpatan itu membuat Leon kemudian tertawa, dan pria itu memberikan balasan berupa penjelasan, bahwa dia tidak ada hubungan apa-apa dengan Naura, tidak lama kemudian Daniel pun menghubunginya.


"Bukankah kalian adalah pasangan?" tanya Daniel di seberang telepon.


Leon yang sudah duduk kemudian bersandar pada kepala ranjang, "bukan," balasnya singkat. Lalu Daniel kembali menceritakan bahwa Naura begitu ingin mengingat masa lalunya bersama pria itu.


"Ada satu hal yang membuatnya dulu memilih meninggalkanku, dan jika dia mengingat masa lalunya, mungkin Naura akan melakukan hal yang sama," ucap pria itu. "Bantu dia mengingat apa yang ingin dia ingat, dan sekalipun hal itu ingin dia lupakan nantinya," imbuhnya, dan setelah kembali melanjutkan beberapa obrolan, mereka pun mematikan sambungan.


Leon kembali merebahkan tubuhnya ke atas kasur, dan obrolan lupa waktu bersama Lura yang melintas di ingatannya, membuat ia kemudian tersenyum.


***


William menghentikan kendaraannya di rumah besar kediaman Fernandes, setelah makan siang di rumah sang mami keduanya pulang ke tempat Lily karena untuk sementara rumah itu yang akan mereka tempati, pria itu berada di dalam kamar Lily.


"Kak Leon sudah makan?" pertanyaan Lily membuat Leon yang tengah mengambil air dingin di dalam kulkas sedikit terlonjak, pria itu menoleh.


"Kau baru pulang?" bukan menjawab pertanyaan adiknya, pria itu justru balik bertanya.


"Kak Leon mau makan apa?" tanya Lily.


Leon terdiam, menatap wanita kesayangannya begitu dalam, "Lily, kau sudah tidak perlu mencemaskan aku, sekarang ada pria yang harus lebih kau pentingkan saat ini, tidak perlu mengurusku lagi," ucapnya sungguh-sungguh.


Lily sedikit tertegun, mengurus sang kakak memang sudah menjadi kebiasaannya, tapi apa yang pria itu bicarakan ada benarnya juga. "Aku hanya bertanya," sangkal wanita itu.


Leon tersenyum, "dan satu lagi, kalian tidak harus memaksakan tinggal di sini demi menemaniku, William pasti butuh privasi, aku tau itu," ucapnya, kemudian melangkah pergi.


Ditinggal sendiri Lily jadi ingat  mengambilkan minum untuk William, setelah membawa satu gelas air dingin, wanita itu melangkah ke kamarnya.

__ADS_1


"Terimakasih," ucap William saat meminum satu gelas air putih yang disodorkan oleh sang istri, dan mendapati wanita itu terlihat gusar ia kemudian menanyakan keadaannya.


"Sayang, apa benar kau tidak nyaman jika kita tinggal di sini?" tanya Lily, "kata Kak Leon kau pasti butuh privasi, dan jika begitu aku mau mengikutimu ke mana saja," ucapnya sungguh-sungguh.


William meletakan gelas di tangannya ke atas meja, kemudian berlutut di depan istrinya yang mendudukkan diri di tepi ranjang, "apartemen tidak terlalu baik untuk ibu hamil sepertimu, tidak mungkin juga kau tinggal bersama keluarga papaku kan?" pertanyaan itu membuat Lily dengan cepat menggeleng, ibu tiri suaminya tidak terlihat ramah, bagaimana dia bisa betah. "Jika di rumah Mami Willona bagaimana?"


Lily tertegun, mami Willona begitu baik, tapi dia kan juga punya keluarga baru, suami wanita itu mungkin akan risi dengan keberadaannya, dan Lily kembali menggeleng, "apa tinggal di sini kau tidak apa-apa?" tanyanya.


William merapikan anak rambut sang istri dan ia selipkan di balik telinga, pria itu kemudian tersenyum, "asal kau merasa nyaman, aku tidak masalah," ucapnya.


Lily tentu terharu, suaminya begitu pengertian, setelah mengucapkan terimakasih, dia mencium kening pria di hadapannya berkali-kali.


William beranjak berdiri, mengganti kemejanya dengan kaus biasa, "hari ini aku ingin bersamamu seharian, karena mulai besok aku harus bekerja," ucapnya dengan naik ke atas ranjang, kemudian berbaring di sana.


Lily yang masih duduk lalu menoleh ke belakang, "Kau akan meninggalkanku sendirian?" tanya wanita itu.


William menarik sang istri agar ikut merebahkan diri di sampingnya, lalu mengusapkan tangannya pada perut Lily seperti biasa. "Kan ada bibi, aku tidak akan pulang malam, sore pasti sudah kembali," ucapnya berjanji.


Lily yang semula melirik perutnya sendiri kemudian beralih pada wajah tampan sang suami. "Kak Leon juga mulai besok bekerja di perusahaanmu?" tanyanya.


William mengangguk, "untuk sementara biarkan dia beradaptasi dulu, setelah itu baru membuka usaha pribadi," ucapnya, dengan menjadikan satu lengannya sebagai bantal kepalanya sendiri, kemudian berkata lagi. "Kakakmu yang mau begitu," imbuhnya.


Lily mendongak, "jabatan apa yang akan kamu berikan pada Kak Leon?" tanyanya penasaran.


William sedikit berpikir, "cleaning service," ucapnya asal.


"Tidak," gemas William dengan mencubit pipi sang istri, "tentu saja sesuai dengan keahliannya di bidang apa," ucapnya kemudian.


Lily yang ikut tertawa membuat suaminya itu semakin gemas, dan berkali-kali mengecup bibir wanita itu hingga puas.


William memundurkan kepala saat sang istri mendorong wajahnya, "ini masih siang, memangnya kau mau apa?" tanya Lily saat suaminya berusaha melucuti kaus yang wanita itu kenakan.


William berdecak sebal, "pengantin baru selalu tidak kenal waktu, seharusnya kau tau itu Lily sayang," bujuk pria itu dengan terus mencium daerah sensitif wanita di pelukannya.


Lily kembali mendorong wajah William untuk menjauh dari lehernya. "Aku tengah hamil muda, dan menurut dokter tidak boleh sering-sering berhubungan," ucapnya mengingatkan.


Pria yang menopang kepalanya dengan tangan itu kemudian tampak berpikir, "hanya sekali," ucapnya sembari memainkan rambut sang istri yang berbaring di hadapannya.


Lily mengerutkan dahi, raut wajahnya tampak tidak percaya, "benar hanya sekali?" tanyanya merasa tidak yakin.


Suaminya itu memejamkan matanya sejenak, "dua," bisiknya setelah mendekatkan bibirnya pada telinga.


Lily menggeliat geli, "tuh kan," omelnya tidak terima.


"Aku janji akan melakukannya dengan perlahan," ucap pria itu dengan sedikit memaksa, tatapannya tampak mengiba, dan Lily tidak berdaya karenanya.

__ADS_1


***


Sore ini Naura meminta Leon untuk menjemput wanita itu di kantornya, dan yang pria itu tidak tau Naura juga mengajak sepupunya untuk pulang bersama.


"Kalian berdua saja, aku bisa naik taksi," tolak Lura yang merasa tidak enak jika harus berada di antara mereka, namun Naura terus memaksanya, hingga mau tidak mau Lura pun ikut dengan keduanya.


"Apa mulai besok kau tidak bisa menjemputku lagi?" tanya Naura yang membuat Leon sekilas menoleh pada wanita, yang duduk di kursi penumpang sebelahnya. "Besok kau mulai kerja kan?" imbuh Naura dengan masih mengarahkan tubuhnya, menghadap pria yang duduk di balik kemudi.


Leon tampak berpikir, "jika aku tidak sibuk, bisa saja aku menjemput kalian lagi," ucapnya dengan masih fokus pada kemudi.


"Tapi mulai besok papa sudah mengizinkan aku bawa mobil, asalkan dengan Lura, jadi tidak dijemput pun tidak masalah, tapi jika kau mau, nanti biar mobilku dibawa Lura saja, aku pulang denganmu," ucapnya panjang lebar, "bukan begitu Lura?" tanyanya meminta pendapat pada sang sepupu yang tampak sibuk dengan ponselnya di jok belakang.


Lura mendongak, wanita itu tampak gelagapan, menoleh pada Leon yang tampak menatapnya lewat spion dalam, "ah, tentu saja," balasnya riang, meski tidak terlalu menyimak obrolan mereka, tapi Lura dapat menangkap maksud sepupunya itu yang akan menitipkan mobilnya jika dijemput oleh Leon. Sepertinya begitu.


"Luangkan waktu untukku Simba, karena denganmu aku merasa telah menemukan duniaku kembali," ucap Naura.


Sekilas Leon kembali melirik Lura lewat kaca spion dalam, dan wanita yang tampak sibuk dengan benda di tangannya itu terlihat biasa saja, tanpa pria itu sadari, saat tatapan Leon beralih pada sepupunya, Lura melirik pria itu lewat spion yang sama.


"Ingatanmu sudah ada kemajuan?" tanya Leon terdengar antusias.


Naura mengangguk, "aku malah mengingatmu saat kita masih sama-sama remaja," ucap wanita itu.


Leon mengerutkan dahi, "benarkah sampai sejauh itu?" tanyanya tidak percaya.


Naura kembali mengangguk, kemudian menoleh pada Lura dan tersenyum, yang dibalas senyum juga oleh sepupu perempuannya itu. "Saat aku bertemu dokter itu, dia menyuruhku untuk mengingat seseorang yang mungkin ada dalam masa laluku, dan yang kuingat adalah kamu, setelah itu bayangan remaja kita muncul begitu saja," ucapnya terlihat bahagia.


"Oyah?" Leon tampak ikut senang.


Namun sesaat wanita itu merasa ragu, "tapi jika aku dekat denganmu saat remaja, kenapa aku tidak bisa mengingat Lily juga!" tanyanya bingung.


"Lily tinggal di Luar Negri saat kecil, diasuh oleh neneknya sejak ibunya meninggal, dan ketika neneknya juga meninggal barulah dia tinggal di negara ini." Lura yang menjawab, dan hal itu membuat Naura menoleh ke arahnya dengan tatapan takjub.


"Kau tau?" tanya Naura.


Lura tersenyum, "aku memang bersahabat dengan Lily sejak kuliah," ucapnya.


"Apa kalian juga saling mengenal?" tanya Naura dengan memberikan tatapan pada Leon juga sepupunya secara bergantian.


"Hanya sebatas mengenal nama, tapi tidak dekat sepertimu," balas Lura yang membuat sepupunya itu mengangguk percaya.


Sekilas Leon dapat menangkap tatapan Lura lewat spion dalam di atasnya, entah kenapa ada perasaan menyesal, kenapa dia tidak mencoba mengenal wanita itu sejak lama.


"Lurus saja," pinta Naura saat Leon menyalakan lampu sein untuk belok menuju rumahnya. "Kita antar Lura terlebih dulu, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," imbuh wanita itu, dan tanpa membantah Leon menuruti keinginannya.


Ada perasaan sedih saat Lura menyaksikan kedekatan pasangan di hadapannya, sejak ciuman panas Leon malam itu, dia merasa ingin memiliki pria itu untuk dirinya, sungguh egois, tapi begitulah perasaannya.

__ADS_1


***


__ADS_2