Gadis 100 Juta

Gadis 100 Juta
MESRA


__ADS_3

"Kau mau sarapan?" William bertanya saat dirinya tengah sibuk memanggang roti di dapur, dan Lily menghampirinya setelah bangun tidur, wanita itu mengenakan kemeja putih William  yang tampak kebesaran. "Bajumu masih banyak di lemari jika kau mau ganti," ucap pria itu.


Lily mengangguk, menghampiri William dan menopangkan dagu di pundak pria itu, tatapannya tertuju pada sayur hijau yang William tengah cuci. "Kau mau masak apa?" tanyanya.


William sedikit menoleh, "hanya ingin membuat salad," balasnya dan setelah meletakan sayur yang ia pegang ke dalam wadah, pria itu menghadap pada Lily sepenuhnya. "Kau mau makan sesuatu?" tanya pria itu.


Sejenak Lily berpikir, "aku tidak lapar," ucapnya.


William menyentuh kedua tangan Lily yang melingkar di pinggangnya, "Kau mungkin tidak lapar, tapi anak kita butuh asupan," ucapnya perhatian.


Lily tertawa, kemudian mengusap perutnya yang masih rata, "menurutmu dia laki-laki atau perempuan?" Tanya wanita itu menggoda.


William mengalihkan pandangannya pada perut Lily, kemudian ikut menyentuhnya. "Bagaimana jika keduanya, laki-laki dan perempuan," ucap William meminta penawaran.


Lily kembali tertawa, "Kau tengah bernegosiasi?" sindir wanita itu.


"Jika boleh, aku maunya malah empat."


"Astaga, sebesar apa perutku nanti," omel Lily dengan memukul lengan pria itu, kemudian tertawa lagi.


Saat alat pemanggang roti di belakang William berbunyi, pria itu sibuk menyiapkan piring untuk dirinya juga Lily, mereka menghabiskan sarapan pagi pertama setelah keduanya resmi saling mengungkapkan perasaannya.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya William saat mendapati wanita yang duduk di sebelahnya itu tampak melamun.


Lily menoleh, meletakan jatah sarapannya ke atas piring, "Kak Leon tidak menghubungiku Will, sepertinya dia benar-benar marah," ucapnya.


William mengangkat tangan kanannya untuk mengusap puncak kepala wanita itu, "mungkin dia tengah berpikir, pengorbananmu jauh lebih besar untuk kelangsungan hidupnya, bagaimana pun juga, satu-satunya saudara yang dia miliki adalah kamu, dan tidak mungkin dia setega itu untuk melupakanmu," hibur pria itu.


Lily tampak ragu, dia takut sang kakak yang marah akan melakukan sesuatu yang melukai dirinya sendiri, terlebih semalam pria itu berkata lebih baik mati daripada mendapati kenyataan bahwa Lily tengah menjual kehormatannya pada William, pria yang amat dia benci.


Lily tidak habis pikir, kenapa dia bisa jatuh cinta pada William, padahal sejak awal dirinya sudah berniat untuk menyakiti pria itu.


William menoleh pada Lily yang tampak memperhatikannya, kemudian tersenyum, "Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya pria itu penasaran.

__ADS_1


"Bolehkah aku bertanya sesuatu Will?" tanya Lily dengan menopang dagu, tatapannya lekat mengarah pada lelaki itu, "untuk apa kau memasang alat penyadap di liontinku, dan apa saja yang sering kau dengar dari sana?" imbuhnya setelah William menanggapi dan mempersilahkan mau bertanya apa.


"Alat penyadap itu?" William malah balik bertanya, namun senyum tertahan dari bibirnya itu sukses membuat Lily merasa curiga. "menurutmu untuk apa?"


Mendapat pertanyaan balik seperti itu membuat Lily berdecak sebal, dia mencubit kaus bagian depan yang dikenakan William, hingga mengenai  perut pria itu. "Katakan apa yang biasa kamu dengar dari sana, Will?" desaknya.


William mengaduh, menyentuh tangan Lily yang mencubitnya dengan tertawa-tawa, "aku tidak mendengar apa-apa," dustanya.


Kini gantian Lily yang mengaduh, sepertinya cengkraman William pada kedua pergelangan tangan wanita itu terlalu keras, hingga membuat luka di lengan Lily terasa nyeri.


"Maaf," ucap William melepaskan tangan wanita itu dengan raut wajah merasa bersalah. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya.


Lily menggeleng, senyumnya tampak mengembang, setelah tau dia mengandung anaknya, dari semalam sikap William terasa amat berlebihan, Lily merasa sangat dimanjakan. "Aku harus ganti perban untuk luka ini," ucap wanita itu yang sengaja mengalihkan perhatian karena detak jantungnya terdengar semakin berantakan.


"Biar kubantu," ucap William dengan sigap, dan mendapati wanita di hadapannya itu menggeleng, dia terlihat kecewa. "Kenapa?" tanyanya.


"Sepertinya aku harus meminta bantuan seorang perempuan," ucap Lily, mendapat luka di lengan atasnya itu tidak bisa ia obati sendiri.


Sejenak Lily merasa ragu, namun kemudian mengangguk, keduanya beranjak ke arah sofa dengan William yang mengambil kotak berisi alat kesehatan yang ia punya.


Berhubung luka Lily berada di lengan atas bagian belakang tubuhnya, William pun duduk melipat satu kakinya di balik punggung wanita itu, Lily membuka tiga kancing kemeja yang ia kenakan, dan menurunkannya hingga menampakkan sebagian pundak yang terbuka, wanita itu menyibakkan rambutnya ke bagian yang tidak mendapat luka.


Melihat itu William menelan ludah, dari leher Lily menyerbak aroma vanila yang memanjakan penciumannya, dengan hati-hati pria itu membuka perban yang tampak lusuh di hadapannya.


"Kau penasaran dengan apa yang sering aku dengar, dari alat penyadap yang kusimpan dalam liontinmu," tanya William, sengaja mengalihkan perhatian dari pikiran liar yang begitu ingin menerjang wanita di hadapannya.


Lily sedikit menoleh ke arah pria yang duduk di belakangnya,"aku tidak pernah berbicara sendiri, atau melakukan yang aneh-aneh, jadi tidak terlalu penasaran," ucap wanita itu.


"Benarkah? Pernyataan cinta yang setiap malam kau gumamkan sebelum tidur, apa berarti kau sedang berdialog dengan orang lain?"


William tidak dapat melihat saat Lily menggigit bibirnya, wanita itu ingat dengan celotehan itu saat dia memandang foto William dalam Ponselnya." Kau curang Will, kau bahkan dapat tau kegiatanku saat di rumah, apa yang aku gumamkan dan bicarakan dengan orang lain, kau tentu dapat mendengarnya kan?"


William tertawa pelan, "dengan begitu aku tetap yakin, dengan terus berjuang meskipun kau bahkan berniat akan membunuhku," ucapnya yang membuat suasana sesaat berubah hening, hanya suara gunting yang sesekali terdengar memotong kain kasa saat pria itu hampir menyelesaikan tugasnya.

__ADS_1


"Tentang hal itu, maafkan aku," ucap Lily menyesal, dia benar-benar salut pada ketegaran William saat selalu mendengar ungkapan kebencian dari dirinya juga sang kakak. "Dan kartu memory itu, isinya apa?"


William menghentikan gerakannya yang ingin menempelkan perekat pada perban yang telah rapi ia lilitkan pada lengan Lily, "Kau belum melihatnya?" tanya pria itu.


Lily menggeleng, "Kau bisa menjelaskan itu vidio apa, semalam kau bilang vidio itu adalah bukti bahwa kau tidak terlibat atas kematian ayahku," ucapnya menjelaskan, "lalu sebenarnya siapa pelakunya Will?" imbuhnya kemudian.


William telah menyelesaikan tugasnya mengganti perban pada luka Lily, kemudian mencium pundak wanita itu hingga membuat dirinya sendiri meremang. "Kau ingin lihat, aku punya salinannya di laptop ku," ucap William, memberikan usapan lembut pada lengan Lily dan kembali mengecup pundaknya lagi.


William menarik kerah kemeja Lily hingga menutupi pundak wanita itu, Lily sedang sakit dan tentu saja dia tidak ingin membuat lukanya semakin memburuk, "Maaf," ucap pria itu.


Lily justru tidak merasa lega, sebagian dari dirinya begitu mendamba, sentuhan William sudah menjadi hal biasa yang selalu membuatnya bahagia, wanita itu menggigit bibir, entah bagaimana cara dia mengungkapkan keinginannya, terlalu gengsi jika harus lebih dulu meminta, terlebih belum ada ikatan pernikahan di antara mereka.


William memeluknya dari belakang, menopangkan dagu pada pundak wanita itu, yang Lily takutkan pria di belakangnya ini akan mendengar degup jantungnya yang berdetak tidak karuan.


"Jika kau melihat rekaman cctv itu, berjanjilah untuk tidak menangis," ucap William lirih.


Hal itu berhasil mengalihkan perhatian Lily dari degup gugup yang ia rasakan sendiri, "Memangnya kenapa?"


William tidak menjawab, malah semakin mengeratkan pelukannya hingga membuat Lily kembali menahan napas.


"Kau lihat saja nanti," balas pria itu lagi, semakin melesakkan wajahnya pada ceruk leher Lily, hingga akhirnya wanita itu sedikit mendesah saat tangan William sudah beralih kemana-mana.


"Will?"


"Oh Lily, maaf, aku benar-benar merindukanmu."


Bersambung woey!


Netizen: Stiker lempar sendal* azab buat tukang nulis yang suka ngasih adegan php itu apa ya kira-kira 😌


Author : 😂😂 lu harusnya makasih dong, dosa jariyah woey, gue kasian sama pembaca yang masih dibawah sumur.


Netizen: umur woey, dibawah sumur kelelep, Samiin. 😌

__ADS_1


__ADS_2