Gadis 100 Juta

Gadis 100 Juta
Pertemuan 2


__ADS_3

Lily yang terlihat pucat setelah mengantar bunga untuk pelanggannya, membuat Nindi anak buah yang mengurus toko miliknya itu jadi kebingungan.


"Nona terlihat tidak sehat, mau saya ambilkan minum?" tanya perempuan berusia dua puluhan itu dengan sedikit khawatir.


Beberapa saat setelah mengangguk, Lily meraih gelas berisi air putih pemberian Nindi, dan dengan gemetar perempuan itu meminumnya. Dia masih tidak habis pikir, kenapa pria gila bernama William itu selalu ada di mana-mana, sampai di rumah pelanggan bunganya pun ada dirinya, benar-benar mengerikan.


"Sudah Nona? Anda mau minum lagi?"


Perempuan itu menggeleng," tidak, terimakasih," ucapnya, dia tidak berani bercerita lebih jauh, tentang pertemuannya dengan pria bernama William itu, toh Nindi juga tidak mengenalnya, satu-satunya orang yang tau hal ini adalah Lura, tapi bagaimana dia dapat menghubungi sahabatnya itu, sedangkan ponsel saja belum sempat dia punya. "Sepertinya aku tidak enak badan, tolong kau urus semuanya ya, sudah tidak ada lagi bunga yang harus diantar kan?"


Nindi mengangguk, "jika ada, nanti biar saya saja yang mengantarnya Non, " ucapnya sembari membantu tuannya berdiri.


Lily beranjak menuju lantai atas yang memang disulap menjadi ruangan pribadinya, namun belum juga sampai menginjak tangga, seseorang yang datang dan membunyikan lonceng di atas pintu mengalihkan perhatiannya.


"Daniel?" Lily berbalik menghampiri sahabatnya, kedatangan pria itu memang sudah ia tunggu sejak pagi , di rumah sakit kemarin, dia berjanji untuk menemui nya sore ini. "Bagaimana keadaan kakak ku, kau sedang tidak sibuk?"


"Aku sedang tidak ada pasien, jadi hari ini aku libur, senang bisa bertemu denganmu,"ucap pria itu.


Lily menyuruh Daniel untuk duduk, dan minta tolong pada asistennya untuk membuatkan tamunya minum. "Akhirnya kita bisa bertemu di luar rumah sakit, tempat itu membuatku tidak nyaman," balas Lily.


Daniel tertawa kecil, kemudian teringat sesuatu. "Kau tidak perlu khawatir dengan Kak Leon, dokter dan suster di sana selalu  bergantian menjaga kakakmu, dia tidak akan sendirian."


"Terimakasih Niel, itu berkatmu, kakakku selalu saja diprioritaskan." Lily berucap dengan haru, dan kedatangan Nindi yang membawa dua cangkir teh hangat membuat keduanya menoleh. Setelah berterimakasih, asistennya itu pun segera pergi.


Daniel mengangguk  tersenyum, saat Lily menyuruh pria itu untuk meminum teh digelasnya. "Kebetulan saja para dokter di sana memang semua teman-temanku, dan mereka pun bersedia untuk membantu."


Lily kembali berterimakasih, saking senangnya, perempuan itu sampai tidak sadar telah merengkuh tangan  Daniel untuk dia genggam, hingga pria itu sedikit kebingungan.


Daniel mengusap tengkuknya dengan sedikit gugup. "Tidak perlu sungkan Ly, aku senang melakukan semua itu untukmu," ucap pria itu.


Belum sempat menanggapi bunyi lonceng yang selalu terdengar saat ada seseorang yang membuka pintu membuat keduanya menoleh.


Lily reflek menarik jemarinya dari tangan Daniel, jantungnya berdetak begitu cepat, saat mulai menyadari siapakah yang ia lihat.


"Tuan William," gumam Daniel merasa heran, dengan kedatangan tamu sahabatnya yang begitu mengejutkan.


***


William mengendarai mobilnya membelah jalan raya, entah kenapa suasana hatinya begitu senang sore ini, apa karena ia akan menemui Lily, sikap polos perempuan itu benar-benar membuatnya jatuh hati.


Sekali lagi pria itu melirik kertas bertuliskan alamat toko bunga di tangannya, menurunkan kaca jendela untuk melihat suasana di sana.


"Toko bunga Lily." Pria itu membacanya, dan tidak salah lagi, ini adalah tempat yang dia cari.


Melihat mobil yang terparkir di depan toko membuat William berpikir, mungkinkah wanita itu tengah kedatangan tamu, tapi tentu saja dia tidak peduli akan hal itu.


Lonceng yang berbunyi di atas pintu menandakan bahwa dirinya sudah masuk ke dalam toko, ruangan yang cukup luas dengan dipenuhi berbagai jenis bunga itu tidak lantas membuat seorang William terpesona, pria itu fokus pada dua orang yang duduk saling berhadapan di sudut ruangan, dan kedatangan seorang William disuguhi raut terkejut dari wajah keduanya.

__ADS_1


"Selamat sore, bisa saya bantu, bunga apa yang anda cari, Tuan?" Nindi dengan semangat menyambut pelanggan yang baru datang, dilihat dari penampilan juga kendaraan yang pria itu bawa, sepertinya dia adalah orang kaya.


"Lily," jawab William tanpa mengalihkan pandangannya pada dua orang di depan sana yang sudah beranjak berdiri.


Nindi sedikit kebingungan, menoleh pada arah pandang pria itu yang tertuju pada Nonanya, namun tentu saja dia tidak berpikir bahwa pria ini tengah mencari majikannya. "Ah, maksudnya bunga Lily? Kami memang mengistimewakan bunga yang satu itu di toko ini," ucap gadis itu dengan semangat.


William menoleh pada gadis yang terus mengoceh di hadapannya, kemudian berkata, "aku ingin bunga Lily yang paling cantik," ucapnya dengan kembali mengarahkan pandangan pada seseorang yang  mendekatinya, "berikan padaku, semahal apapun harganya," imbuh pria itu.


"Nindi kamu urus yang lain saja, pria ini biar aku yang tangani," ucap Lily saat sudah berhadapan dengan William, Daniel mengikuti di belakangnya.


Setelah asisten wanita itu pergi, William mengambil satu tangkai  bunga berwarna putih di sekitarnya, kemudian berkata."Inikah Lily yang harus aku beli? Berapa harganya?" Tanya pria itu dengan menghirup aroma bunga di tangannya.


Lily yang entah kenapa berubah gugup kemudian menoleh pada Daniel, pria itupun terlihat kebingungan.


"Tuan William, tidak kusangka bisa berjumpa di sini, bunga apa yang anda butuhkan?" tanya Daniel dengan sedikit segan, aura mengerikan dari pria kaya di hadapannya itu terlihat tidak bersahabat.


"Aku hanya ingin menemui pemilik toko ini," ucap William tenang.


Kalimat itu membuat Lily sedikit terlonjak, kemudian kembali menoleh pada Daniel yang tampak memberikan tatapan tidak menyangka.


"Kalian saling mengenal?" tanya Daniel.


Lily masih diam, entah kenapa perempuan itu terlihat ketakutan, dia khawatir dengan kalimat apa yang akan William lontarkan.


"Kami memang saling mengenal, bukan begitu?" William menoleh pada Lily yang raut wajahnya terlihat tegang. "Oh Lily? Katakanlah bahwa aku telah mengenalmu luar dalam."


Lily nyaris limbung, dia tentu tau maksud dari kalimat itu, namun Daniel yang tidak mengerti apa-apa tentu saja mungkin merasa curiga.


Lily mencoba untuk dapat menguasai diri, menetralkan detak jantungnya yang berantakan, perempuan itu mencoba berani untuk menanggapi kalimat William."Kami hanya pernah berjumpa beberapa kali," ucapnya kemudian tersenyum. "Dia pernah membeli bunga di tempat ini, bukankah begitu Tuan William?" Dustanya yang kemudian meminta dukungan.


William tertawa kecil, "benar sekali, dan aku telah membeli bunga Lily dengan begitu mahal, bukan begitu Nona Lilyana."


Lily tidak mengerti, pria di hadapannya ini, apalah yang sebenarnya dia cari, dia jadi geram sendiri. "Apa yang anda inginkan Tuan William, maaf saya sedang kedatangan tamu,  dan tidak punya banyak waktu untuk melayani anda," ketusnya.


Meski memilih diam, William masih terlihat tenang jika dilihat dari raut wajahnya, pria itu malah tersenyum. "Berikan aku sedikit waktu untuk memilih bunga di tempat ini, Nona Lilyana."


Lily menghela napas, "silahkan," ucapnya, kemudian memanggil Nindi untuk melayani pria itu.


Mengabaikan gadis di hadapannya yang terus mengoceh menjelaskan beragam jenis bunga, William mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada seseorang.


"Masihkah ada jenis bunga yang seperti ini?" tanya William menunjuk tanaman yang entah apa namanya, dan membuat perhatian gadis itu teralihkan.


"Oh ada, Tuan, tapi di belakang, mau kah anda menunggu?"


William mengangguk, "berikan aku semuanya," ucap pria itu yang membuat gadis di hadapannya terlihat bahagia, dengan semangat beranjak ke belakang dan meminta waktu yang sedikit lebih lama.


William menghampiri dua orang yang kembali duduk di sudut ruangan, melihat kedekatan keduanya tentu ia merasa kesal, namun dia punya cara sendiri untuk membereskan itu semua.

__ADS_1


Lily ikut berdiri saat Daniel yang mendapat panggilan telepon dari seseorang membuat wajah pria itu terlihat panik. "Ada apa Niel?"


"Ada masalah di rumah sakit, aku harus segera ke sana," ucap Daniel dengan tergesa.


"Apakah terjadi sesuatu dengan kakakku?" Lily yang ikut panik kemudian bertanya.


Daniel menggeleng, "semoga tidak, orang yang menghubungiku hanya berkata ada masalah yang serius, dan aku harus segera ke sana, sampai jumpa Ly, nanti aku hubungi."


William mengangguk saat Daniel yang berpapasan dengannya, berpamitan untuk pulang, dan mencekal lengan Lily saat perempuan itu nyaris melewatinya." Mau ke mana?"


Lily yang berusaha melepaskan diri kemudian berkata,"aku ingin ikut Daniel, takut terjadi sesuatu dengan Kakakku di sana."


"Tidak akan terjadi apa-apa," ucap William, raut wajahnya yang semula tenang berubah dingin, dan hal itu kembali membuat Lily merasa ketakutan.


"Lepaskan aku," mohon Lily, saat merasakan sedikit nyeri di lengan kanannya.


William menarik perempuan itu menuju pintu keluar, "ikut denganku," ucapnya.


Lily terus meronta untuk melepaskan diri, "aku tidak mau," tolak perempuan itu.


Namun William yang terus menarik lengan perempuan itu tampak tidak peduli, dia sudah terlanjur kesal dengan perlakua Lily terhadap dirinya, dan William akan memberikan sedikit pelajaran, agar wanita itu tau dengan siapa dia sedang berurusan.


"Hentikan." Lily berhasil melepaskan diri saat mereka sudah berada di ambang pintu. "Kau tidak berhak memaksaku melakukan apapun, kita sudah tidak lagi ada urusan."


William menatap perempuan itu dengan tajam, gerakannya yang mendekat membuat Lily melangkah mundur, perempuan itu tidak berani untuk kabur.


"Kau seharusnya tau, di dunia ini tidak ada yang tidak bisa aku lakukan, termasuk membuat orang-orang disekitarmu ikut terancam."


Lily membulatkan mata, rumah sakit tempat Daniel bekerja, William lah pemiliknya, apakah kepergian Daniel juga atas rencananya.


"Aku malas bersandiwara, biar kutunjukan, saat ini kau sedang berurusan dengan siapa."


Lily yang ketakutan berubah pasrah saat William kembali menarik lengannya, pria itu memaksa untuk masuk ke dalam mobil dan membawanya entah kemana.


***iklan***


Author: Gue jadi kepikiran sama Nindi, pas keluar dia bingung dah,"lah kok nggak ada orang ya?" 🙄


Netizen: orang mah pikirin tuh si Lily mau dibawa kemana thor malah Nindi. 😒


Author: kalo itu mah blom kepikiran besok aja. 😂


Netizen: Serah. Eh banyak yang penasaran Bang Entin anak bungsunya namanya siapa thor tau tau udah gede aja 🙄


Author: Nggak tau gue juga bingung. 🤔


Netizen: asal jangan Sarboah aja thor apalagi Markonah. 😒

__ADS_1


Author: Jubaedah aja mendingan 😑


Vote vote vote, yang gak terima nama anak bang entin Jubaedaah silahkan protes di kolom komentar 🤣🤣 jan lupa like ya.


__ADS_2