
Lily mengeratkan genggaman tangannya pada lengan William saat mereka sudah berada di depan rumah besar kediaman Albert Handelson, ayah dari pria itu.
William menoleh, dia merasakan kegelisahan wanita di sebelahnya, "jangan takut, ada aku," ucapnya dengan menarik jemari Lily kemudian menciumnya. "Tanganmu begitu dingin," komentar pria itu.
"A, aku begitu gugup," ucap Lily sedikit terbata.
William kembali mencium tangannya, menyalurkan ketenangan yang terpancar dari kedua bolamata pria itu. "Apapun yang terjadi, yang akan menemani seumur hidupmu itu adalah aku, tidak perlu memedulikan komentar mereka, toh rumah tangga kita hanya ada kau dan aku, juga anak anak kita nantinya, aku hanya perlu meminta restu saja."
"Bagaimana jika mereka tidak merestui keinginanmu?" tanya Lily sungguh-sungguh, tatapannya terlihat khawatir.
Namun William menanggapi itu dengan teramat santai, "aku tidak peduli, aku akan tetap menikahimu," ucapnya.
"Apa aku membuatmu menjadi anak yang tidak berbakti?"
Kalimat itu membuat William menghentikan langkah saat akan menarik Lily masuk ke dalam rumah keluarganya, pria itu menghela napas, "Kau tau hidupku seperti apa dulu, sejak kecil aku memang hidup sendiri, dan semua aset kekayaan yang aku miliki pun bukan dari warisan keluarga, aku hanya menyandang gelar Handelson saja, selebihnya aku berhak atas diriku sendiri, termasuk memilih siapapun untuk menjadi pendampingku nanti." William berucap panjang lebar, meski hal ini sering kali dibahas, tapi sepertinya Lily masih terlihat ragu.
Lily tersenyum, dia percaya pada cinta William, dia sudah yakin dengan perasaan pria itu sekarang, "terimakasih sayang," ucapnya setelah mengangguk.
William ikut tersenyum, "percayalah, pendapat mereka tidak akan menggoyahkan keinginanku," ucapnya, kembali menarik tangan Lily dengan lembut, kemudian mendorong pintu ganda di hadapan mereka.
Perkenalan itu berjalan dengan sempurna, obrolan-obrolan kecil mengalir dengan semestinya, dan keluarga William pun tampak hadir semua.
Hanan dan sang istri juga Alan yang memilih bersantai di belakang beberapa menit yang lalu, meninggalkan Albert dan istrinya, juga pasangan Lily William yang masih duduk di ruang makan itu.
"Jadi sekarang apa kegiatanmu?" tanya Rosa, sejak pertama, wanita paruh baya itu memang tidak terlihat ramah, senyumnya pun tampak terpaksa.
"Untuk saat ini masih di rumah saja," balas Lily.
Rosa menanggapinya dengan biasa, kemudian berkata, "pacar William sebelumnya model loh, kebetulan nama kalian sama, di mana yah dia sekarang," sindirnya.
William mengajukan pertanyaan pada sang papa untuk mengalihkan pembahasan ibu tirinya, dan mengusap punggung tangan Lily di bawah meja, pria itu tersenyum.
Mereka beralih ke ruang tv, Lily duduk dengan canggung di hadapan kedua calon mertuanya itu, dan kepergian William ke kamarnya semakin membuat Lily merasa ketakutan.
"Ayahmu memilih bunuh diri karena perusahaannya terancam bangkrut, berita itu sudah menyebar, apakah itu benar?" Albert yang sesaat tadi jarang berbicara kali ini mengajukan pertanyaan pada Lily.
Wanita itu semakin gugup, "I, itu," balasnya gagap, dan bingung harus memberikan pembelaan apa, berita yang beredar memang begitu adanya, dan dia harus berkata apa.
"Sungguh kasihan putra kami jika harus menanggung malu atas kejadian itu, kamu tidak kasihan." Kali ini Rosa ikut-ikutan mengutarakan kalimatnya.
Lily semakin menunduk, dia memang berpikir sampai ke situ dan berkali-kali membahasnya dengan William, tapi pria itu tidak peduli dengan pendapat orang-orang, begitu jawaban yang ia dapat dari kekasihnya setiap kali dia mengutarakan kerisauannya.
"Jika kau peduli dengan nama baik keluarga kami, dan kasihan pada William, lahirkan anak itu dan tinggalkan putra saya," ucap Albert.
Kalimat itu membuat Lily mendongak, tidak menyangka akan mendapatkan perintah seperti itu dari calon orangtuanya, Lily pun tersenyum, "saya tidak akan meninggalkan William, kecuali memang dia yang berniat meninggalkan saya,"ย ucapnya.
Albert sedikit terhenyak dengan jawaban berani dari wanita yang terlihat pendiam di hadapannya, pria itu menghela napas, dan kedatangan Williamย membuat perhatian mereka teralihkan.
__ADS_1
"Kami pulang dulu," ucap William setelah sedikit berbasa-basi melanjutkan obrolan, dia pun mengantar Lily untuk pulang ke rumahnya.
William menghentikan kendaraannya di depan kediaman rumah besar wanita itu, tidak adanya obrolan saat mereka di perjalanan membuatย dirinya merasa curiga. "Apa ada kalimat dari orangtuaku yang menyinggung perasaanmu?" tanyanya.
Lily menoleh, tersenyum kemudian menggeleng, "mereka baik," ucapnya.
Pria itu mengusapkan buku jarinya pada pipi halus Lily, dia dapat melihat kebohongan dari sorot mata wanita itu. "Katakanlah, apa yang mereka sampaikan padamu? Jika itu adalah perintah untuk meninggalkanku, tolong jangan lakukan," ucapnya menebak.
Lily sempat tertegun, pria itu, apa sih yang dapat dia sembunyikan dari William, sepertinya dia begitu pintar membaca pikirannya. "Aku tidak akan meninggalkanmu, kecuali kau meminta untuk itu," ucapnya sungguh-sungguh.
William mencondongkan tubuhnya untuk melepas sabuk pengaman di tubuh Lily, tanpa memundurkannya lagi, dia menatap wanita itu penuh arti. "Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah memintamu untuk meninggalkanku, tidak akan," ucapnya setelah mengecup sekilas bibir wanita itu.
Lily tersenyum, pria ini mengajarkannya untuk tidak peduli dengan pendapat orang lain, yang akan menghalangi kebahagiaannya sendiri, dan sepertinya Lily juga tidak peduli dengan ketidak sukaan calon mertuanya, itu tidak penting selagi mereka tetap bisa bahagia.
"Kau terlihat murung," komentar William.
Lily mencondongkan tubuhnya, kemudian memeluk pria itu dengan erat, "aku ingin memelukmu," ucapnya.
William yang sedikit kebingungan memilih untuk tersenyum saja, "Kenapa?" tanya pria itu.
Lily tidak melepaskan dekapannya, "apa memelukmu harus punya alasan?" dia balik bertanya.
William balas memeluk wanita itu dan mengusap punggungnya, "aku akan segera mengurus semuanya, mengurus pernikahan kita."
Lily semakin mengeratkan rangkulannya hingga kedua tangannya saling bersentuhan, "jangan tinggalkan aku, apapun yang terjadi, kumohon," ucapnya.
***
Lily melambaikan tangan hingga mobil kekasihnya itu menghilang di tikungan, kemudian menutup gerbang rumahnya dan masuk ke dalam.
"Sudah pulang?"
Pertanyaan itu membuat Lily sedikit terlonjak, dilihatnya sang kakak yang berjalan menuruni anak tangga, "dari mana Kak?" tanyanya.
Leon mengedikkan bahu, "balkon," jawabnya, menghentikan langkah di hadapan sang adik yang terlihat sedih raut wajahnya. "Ada yang menyakitimu?" tanyanya kemudian.
Lily yang tidak menjawab tiba-tiba memeluk Leon dan menangis sesenggukan di dada pria itu, "kakak," ucapnya tersedu.
Leon dapat menebak apa yang terjadi, namun pria itu membiarkan saja sang adik menumpahkan airmatanya, dan dengan lembut dia mengusap rambut kepala Lily untuk sedikit menenangkan wanita itu.
"Apa benar ayah bunuh diri karena perusahaannya terancam bangkrut?" tanya Lily setelah tangisannya mulai berhenti, wanita itu pun melepaskan rangkulannya.
Leon menghapus airmata adiknya itu dengan ibu jari, "siapa bilang?" tanyanya tanpa emosi, dia tau adiknya hanya butuh ketenangan sekarang. "Itu hanya kecelakaan, kau lihat sendiri kan vidionya?"
Lily mengangguk, "tapi berita yang beredar seperti itu, dan keluarga William sepertinya tidak suka padaku," ucapnya lirih.
Pria itu menghela napas, menarik Lily menuju sofa kemudian mendudukkannya di sana. "Jadi kau ingin meninggalkan William karena itu?"
__ADS_1
Pertanyaan sang kakak membuat Lily dengan cepat menggeleng, dan Leon tersenyum karenanya. "William pria yang baik, kita lihat sendiri dari sikapnya menghadapi kebencian kita sebelum ini, apa kau masih ragu?" tanyanya kemudian.
Lily tertegun, tatapannya lekat pada sang kakak yang kali ini terlihat bijaksana.
"Kalian sudah terlalu banyak berkorban, dan egois sedikit saja kurasa tidak masalah, toh yang akan menjalani rumah tangga kamu dengan William, bukan dengan keluarganya."
"Tapi bukankah aku akan merasa tidak nyaman dengan mereka nantinya?" tanya Lily.
"Kau hanya perlu berbakti pada William, tunjukkan pada keluarganya, bahwa denganmu putranya justru bisa bahagia, bukankah itu lebih penting?"
Lily tersenyum, "terimakasih Kak," ucapnya.
Leon mengangguk. "Berbahagialah Lily," balas pria itu.
"Kau juga harus bahagia Kak, cepatlah menikah, aku sudah punya seseorang yang harus kuperhatikan, dan sudah tidak bisa memperhatikanmu lagi," ucap Lily menasihati.
Leon mencebikkan bibir, pura-pura merasa sedih, "apa setelah menikah nanti kau akan melupakanku?" tanyanya dengan telapak tangan menyentuh dada, raut wajahnya terlihat dramatis.
Hal itu membuat Lily jadi tertawa, "jadi pada siapa hatimu berlabuh, Naura atau sepupunya?" goda Lily.
Leon mengerutkan dahi, "sepupunya? Siapa?" tanyanya.
Lily menghela napas, "Lura, Kak Leon," ucapnya gemas.
Dan pria itu malah tertawa, "Lura? Lura menyukaiku? tidak mungkin Lily," sangkalnya.
Lily tidak berkata-kata, tatapannya lekat pada wajah sang kakak yang masih terlihat tertawa, wanita itu memilih diam saja.
"Apa kau serius?" tanya Leon sedikit khawatir.
Lily beranjak dari sofa, "Kau pikir saja sendiri," tukasnya kemudian melangkah pergi.
"Hey! Katakan dulu apa ucapanmu itu benar?" tatapan Leon mengekori adiknya menaiki anak tangga, dan tidak mendapat jawaban atas rasa penasarannya itu dari Lily, dia jadi frustrasi sendiri.
Lura dan Naura, mana mungkin dia harus memilih di antara mereka, membayangkan wajah cantik Lura yang menurut sang adik ternyata menyukainya, membuat pria itu jadi tersenyum sendiri, tapi dia juga teringat pada Naura, wanita itu amat membutuhkannya.
***
Author : Jadinya kalian di tim mana nih Leon Lura apa Leon Naura ๐
Netizen : Kalo gue mah Leon Davin aja biar adil, harus milih gue gak tega ๐
Author : Masa Davin ๐ jeruk makan jeruk
Netizen : Esekarang emang modelnya kek gitu thor yang ganteng pacarnya ganteng juga ๐
Author: ๐๐๐๐
__ADS_1