
Lily nyaris menangis seharian, bagaimana tidak, hatinya yang sudah mulai sedikit terbuka untuk William kini harus dihancurkan dengan sebuah kenyataan.
Dia bingung kenapa harus bertemu dengan William saat dulu ia menjual harga dirinya. Apakah hal itu juga sudah menjadi skenario pria itu. Mungkinkah dia memang sengaja ingin menghancurkan semua keluarganya? Jika memang begitu bodoh sekali ia bisa luluh karena semua sikap manisnya.
Lily tidak tau harus bagaimana membuang perasaannya yang sudah terlanjur tersimpan, dia takut sakit hati yang begitu dalam dikalahkan dengan sebongkah perasaan, tapi bagaimana pun juga, satu hal yang tidak seharusnya itu harus dapat ia kendalikan.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Lily pada Lura lewat sambungan telepon, wanita itu menceritakan semua masalah yang ia hadapi pada sahabatnya.
Sesaat terdengar hening dari arah sana, "memangnya sudah pasti Tuan William pelakunya? Bisa saja kakakmu salah," jawab Lura akhirnya.
Lily menggelengkan kepala meski seseorang di seberang sana tidak dapat melihatnya, sesekali punggung tangan wanita itu bergerak mengusap air mata. "Kak Leon menyuruhku merebut perusahaan cabang kami kembali, yang diambil alih oleh Hs grup, dan kau tau Ra, pemimpin Hs grup itu siapa?"
"Jangan bilang kalo itu Tuan William." Lura menebak dengan ngeri.
"Sayangnya kau benar," ucap Lily, dan helaan napas berat, tampak terdengar dari seberang sana. "Aku harus bagaimana, Kak Leon menyuruhku untuk mendekati William, dan menghancurkan pria itu dari dalam."
"Jika ternyata kau yang terlena karenanya, dan justru malah dirimu yang hancur pelan pelan, bagaimana?"
Sejenak Lily terdiam, kalimat itu mau tidak mau sudah menjadi beban pikiran, tapi tentu saja dia harus bertahan, "kurasa tidak, aku pasti akan mengambil semuanya, termasuk hatinya."
Kali ini Lura yang tampak diam, namun sesaat kemudian terdengar suara, "jika masalah hati aku yakin dia sudah jatuh padamu, dan kau, siap tidak jika harus membuatnya semakin rapuh."
Lily menghela napas, "aku pasti bisa Ra, demi ayahku yang sudah tidak ada, aku harus membalaskan sakit hatinya."
"Hati-hati Ly, pesona Tuan William dapat membutakan siapa saja, jangan sampai malah kau yang jatuh pada dirinya."
"Tidak akan, tenang saja."
***
William menghentikan laju kendaraannya di depan rumah ibu Marlina yang ditempati oleh Justin juga, kemudian menoleh pada Karin yang sibuk merapikan barang-barang putranya saat mereka akan turun dari sana.
"Bang Bule mau mampir?" tanya Karin dengan membenarkan letak kepala Arka yang tidur di pangkuannya, sepertinya bocah itu kelelahan.
"Kira-kira apakah Justin sudah pulang? Aku ingin mengajaknya berbicara."
Karin memperhatikan mobil mewah yang terparkir di depan rumah besar itu, kemudian berkata. "Tapi mobilnya sih ada" ucapnya.
Sejenak William berpikir, kemudian memutuskan untuk ikut saja, keduanya masuk ke dalam rumah yang pintunya sedikit terbuka, terdengar keributan dari si kembar di dalam sana.
"Bu ada Bang Bule nih." Karin yang sedikit kerepotan menggendong putranya, menyenggol lengan wanita itu.
__ADS_1
Marlina yang tengah sibuk dengan ponsel baru yang dibelikan Justin kemudian menoleh, "eh, Nak Willi," ucapnya saat sahabat putranya itu menghampiri dan mencium punggung tangannya. "Kamu sudah makan? Makan dulu yah."
William tersenyum, wanita yang sudah seperti ibunya sendiri itu selalu saja menyuruhnya makan saat dirinya datang berkunjung, dia pun menggeleng. "Justin ada Bu?"
Marlina yang kembali menekuni benda di tangannya itu kemudian menoleh, "kayaknya lagi mandi deh, baru pulang dia, kalo Nena lagi nyuapin anaknya," jawab wanita itu.
"Bang Ar belum pulang Bu?" Karin yang baru kembali dari kamarnya setelah menidurkan Arka kemudian ikut duduk di antara mereka.
Marlina membenarkan letak kacamatanya yang sedikit Merosot, tanpa menoleh dia menjawab. "Belum liat Ardi ibu hari ini," ucapnya.
William memutuskan untuk menunggu saja, sembari memainkan ponselnya.
"Ibu lagi ngapain si?" Karin bertanya sembari mengambil kardus kosong ponsel keluaran terbaru di atas meja, kemudian membaca merknya.
"Ini loh ibu minta dibeliin hp baru sama abangmu malah dibeliin yang kaya begini." Marlina memjawab dengan menunjukkan layar hp yang akan berubah jika disentuh sekali saja.
Karin membuka ponsel di tangannya, masih tampak baru dan belum ada aplikasi tambahan di dalamnya, "emang ibu mau apa?" tanyanya.
"Ibu mau ini dong apah, jualan bapperware online eh temen-temen ibu pada minta nomor wa, lah ibu kan nggak punya, ibu liat mereka hpnya keluaran terbaru semua jadi ibu minta dibeliin aja."
Karin mencerna cerita pendek yang terlontar dari ibu mertuanya, biasanya akan lebih panjang lagi pembahasannya jika dia mulai bertanya, jadi perempuan itu memutuskan untuk membantunya saja." Ni aku udah unduh aplikasi Wa nya, nanti ibu tinggal hubungi temen-temen ibu lewat sini aja," ucapnya dengan memberikan ponsel itu pada sang ibu.
Marlina menerimanya dengan masih sedikit kebingungan, "terus nomor wa yang harus ibu kasih ke temen-temen ibu yang mana dong?" tanyanya.
Marlina ternganga, "lah kalo gitu ngapain ibu beli hp baru, mending donload yang kaya begini aja ya," ucapnya dengan menunjuk aplikasi ber logo telepon di tangannya.
Karin jadi tertawa, "yang nyaranin ibu beli hp baru itu siapa," tanyanya.
"Ibu pikir yang beginian cuman ada di hp baru aja," ucapnya sedikit kecewa, dan Karin kembali tertawa, beruntung putranya itu orang kaya, "Kalo gitu ajarin ibu cara kirimin gambar dagangannya ya."
Karin menggeleng, "aku suka nggak sabar kalo disuruh ngajarin, Mbak Nena aja Bu."
Nena yang kebetulan lewat dari arah luar dengan menggendong putrinya kemudian menyahut, "aku lebih nggak sabaran lagi kalo disuruh ngajarin ibu," ucapnya.
"Tenang Oma nanti Jino ajarin," ucap bocah laki-laki yang kemudian merebut benda itu dari tangan omanya. "tapi Jino pinjem buat main game dulu ya."
"Eh?"
William yang diam-diam menyimak obrolan mereka hanya bisa ikut tertawa, belum sempat menanggapi, kemunculan Justin membuatnya kemudian menoleh.
"Ngobrol di belakang atau runganku saja?" tanya Justin menawarkan saat tau sahabatnya itu ingin membahas sesuatu.
__ADS_1
William beranjak berdiri, "kita ke belakang saja," ucapnya kemudian melangkah, dan saat perdebatan tentang ponsel baru di ruangan itu mulai tidak terdengar, pria itu mulai menceritakan permasalahannya.
"Jadi menurutmu dia pura-pura tidak mengenalimu saat kau bersuara?" Justin bertanya setelah mendudukkan diri pada salah satu kursi yang saling berhadapan di sana.
William mengangguk, kemudian ikut duduk, "dari ekspresi yang dia tunjukkan, kurasa dia memang telah mengenaliku."
Sejenak Justin berpikir, "lalu setelah itu apa, dia pasti akan menceritakan pada adiknya tentang siapa dirimu Will."
Itu yang sebenarnya William takutkan, meski dari jauh-jauh hari sudah dipersiapkan banyak kemungkinan, tapi tetap saja masalah itu masih membuatnya kepikiran.
"Aku harus bagaimana?" tanya William dengan tatapan dilema, "jika dia membenciku aku memang harus terima, kan?"
Justin sejenak berpikir, "hanya ada dua kemungkinan. Dia membencimu dan semakin menjauh, atau dia akan memilih mendekat hanya untuk menghancurkanmu," ucap pria itu.
William diam saja, kemungkinan keduanya tentu akan membuatnya merasa kecewa, tapi jika dibenci oleh Lily dan setelahnya dia pergi, lebih baik memilih dekat meski cepat atau lambat wanita itu akan membuatnya jatuh sekarat.
Ya sepertinya begitu lebih baik daripada ia menyerah dan berhenti begitu saja, karena jika itu sampai terjadi, lembaran mereka tidak akan menjadi sebuah kisah yang akan ditunggu kelanjutannya.
"Jika memang pada akhirnya mereka menyusun sebuah rencana untuk menjatuhkanku, maka aku akan mengikuti semua permainannya." William berucap dengan yakin.
Dan hal itu membuat sahabatnya menghela napas, "Kau yakin? Meskipun semuanya akan hancur pada akhirnya, dan kau juga terluka, apa kau sudah siap?" tantangnya.
William beranjak berdiri, memasukkan kedua telapak tangannya pada saku celana, langit sore yang keindahannya tidak bisa bertahan lama tetap saja sempat membuat dirinya bahagia."Tidak apa, setidaknya aku kalah bukan karena aku yang lemah, tapi memang harus seperti itu jalan ceritanya," ucapnya.
Meski senja cepat tenggelam, tapi keindahannya tidak pernah mengecewakan.
**iklan**
Author : Semales malesnya aku nulis cerita, tapi masih mikirin pembaca yang mungkin nungguin kelanjutannya. Apa susahnya sih tekan like sama nulis next dikolom komentar, semakin banyak yang antusias, aku semakin semangat nulis kelanjutannya kan. 😌
Netizen : biar kata gak like sama komen juga vote gue mah kenceng thor. 😏
Author : Nah kalo gitu mah nggak papa dah 😂
Netizen: itu ibu Marlina kudet amat ya thor 🤭
Author : masih mending, emak gue kalo diajakin vidio call, hapenya ditempelin di kuping 🙄
Netizen: apa kabarnya orang yang kalo ngomong di telepon suaranya ampe kedengeran ke rumah tetangga 😌
Author: yang bikin terharu dia selalu bilang, gausah kamu yang nelpon wa mama aja entar kuota kamu abis. 🙄 Lah dikira sama ama pulsa ya.
__ADS_1
kangen sama emak jadinya.