Gadis 100 Juta

Gadis 100 Juta
INGATAN


__ADS_3

Albert tengah memeriksa pekerjaan kantor di rumahnya, saat asisten pria itu berkata ada William yang ingin bertemu dengan dirinya, dia cukup terkejut mendapati putranya datang berkunjung, anak itu biasanya tidak akan pulang ke rumah jika dirinya tidak memberi perintah, tapi malam ini William datang tanpa ia memintanya. "Ada apa?" tanya Albert.


William semakin masuk ke dalam ruangan pribadi sang papa yang terletak di rumah besar pria itu, "aku ingin bicara sesuatu," ucapnya.


"Katakanlah," balas Alber dengan melepas kacamata.


William sengaja tidak duduk, karena jika nanti sang papa melemparkan sesuatu atas ungkapannya, dia bisa langsung melarikan diri. "Aku tidak mau dijodohkan dengan siapapun," tukas William.


Albert mengerutkan dahi, kemudian melengos seraya menghela napas. "Papa tidak butuh penolakan, memang sampai kapan kau akan terus sendiri, syarat untuk mendapatkan seluruh warisanku adalah menikah jika kau lupa," ucapnya panjang lebar.


"Aku memang akan menikah, tapi tidak dengan Naura, karena dia pun tidak mencintaiku, aku ingin menikahi wanita pilihanku sendiri." William menjelaskan.


Sejenak Albert tertegun, kemudian kembali memasang kacamatanya. "Papa tidak setuju jika kau menikahi wanita sembarangan," ucapnya. Menurut pria itu Naura adalah wanita yang pas juga pantas untuk putranya.


William maju satu langkah, menopangkan tangannya pada meja di hadapan pria itu, "dia bukan gadis sembarangan, namanya Lilyana Fernandes, papa tentu mengenal keluarganya."


Albert mendongakkan pandangannya, pria itu tampak tengah mengingat, dan kemudian dia berdehem, "putuskan wanita itu, keluarga kita tidak pantas bersanding dengan keluarga mereka, karena bahkan selain bangkrut, dia juga sudah meninggal, apa bagusnya." Albert menghentikan ocehannya, beranjak berdiri dan merapikan berkas-berkas yang berantakan di hadapan pria itu."Jelas, keluarga Naura lebih pantas bersanding dengan kita William, papa tidak setuju atas pilihanmu," tukas sang papa, kemudian menaruh barang-barangnya di dalam lemari kaca besar yang terletak di belakang pria itu.


"Maaf, aku tidak bisa meninggalkan Lily, karena dia sudah mengandung anakku," aku William yang seketika membuat kertas-kertas di tangan Albert terjatuh ke lantai, dadanya sedikit terasa nyeri.


"Apa kau bilang?" Tanya pria paruh baya itu, saat berbalik dan kembali duduk di kursinya. "Kau ingin aku cepat mati William," geramnya.


William sedikit khawatir, namun tentu saja papanya itu harus segera tau, karena setuju atau tidak setuju dia akan tetap menikahi wanita yang dia mau.


"Wanita baik-baik macam apa yang bisa hamil di luar nikah William!" omel Albert marah.


William memejamkan mata, saat bentakan sang papa terdengar menggelegar di telinganya, pria itu menghela napas, "aku yang salah, aku yang telah memaksanya," ucap pria itu. "Papa tentu tidak mau kan jika cucu papa lahir tanpa keluarga?" tanyanya mencoba membuat pria paruh baya di hadapannya itu merasa iba. "Bagaimanapun juga, dia cucu Papa," ucapnya.


Albert mengatur napasnya yang memburu, tatapannya tajam mengarah pada putra pertamanya itu, "kau yakin itu anakmu?" tanyanya.


William mengangguk, "Lily wanita baik-baik, dia hanya melakukannya denganku, aku percaya itu," ucapnya yakin.


"Tunggu wanita itu melahirkan dulu, kemudian pastikan bahwa dia adalah anakmu." Albert memberi perintah.

__ADS_1


Tentu saja William tidak setuju, pria itu kembali mendekati sang papa dan membujuk pria itu untuk menyetujui keinginannya. "Aku akan tetap menikahi Lily, dengan atau tanpa restu dari papa sendiri, karena dari dulu toh papa tidak pernah peduli denganku, maaf Pa, untuk kali ini aku tidak bisa menuruti kemauan papa," ucapnya.


Albert sudah kehabisan kata-kata, yang dia tau putranya itu amat keras kepala, dan sebagai seorang ayah tentu dia harus bersikap bijaksana, setelah menghela napas, dia berkata, "bawa wanita itu ke hadapanku, jika kau benar-benar ingin menikahinya," ucap Albert.


William tersenyum, mendekati sang papa kemudian memeluknya, "aku hanya ingin bahagia dengan pilihanku, biarkan aku menikahinya, Papa," pinta William saat pria itu sudah melepaskan pelukannya.


Albert terdiam, putranya itu sejak dulu tidak pernah menuntut apa-apa, dan mungkin hanya ini permintaannya. "Berbahagialah, putraku," ucapnya yang kembali mendapat rangkulan dari putra kesayangannya itu.


***


Leon membuka pintu, saat seseorang membunyikan bel rumahnya, pria itu terkejut saat dua orang wanita berdiri di hadapannya. "Kalian mau apa?"


"Aku kesini mencari Lily, dan mengantarkan Naura untuk bertemu denganmu Kak." Lura yang menyahut.


Leon mempersilahkan keduanya masuk, "untuk apa Nona Naura mencariku?" tanya Leon sedikit segan, pertemuan pertama dengan wanita itu kemarin agak sedikit mengecewakan.


"Panggi Naura saja," ucap Naura, bersamaan dengan itu Lura berpamitan pada keduanya untuk menghampiri Lily yang Leon bilang sedang di kamar, wanita itu pun naik ke atas tangga.


Leon yang duduk di sofa bersebelahan dengan wanita itu memberikan tatapan prihatin, "Kau benar-benar tidak mengingatku?" tanyanya sungguh-sungguh.


Naura mengerjap gugup, dia memang Sama sekali tidak mengingat seberapa dekatnya dulu dengan pria itu, "apa kita punya hubungan yang spesial?" tanyanya.


Leon tersenyum, "bisa dikatakan seperti itu," ucapnya.


Ada sedikit keraguan dalam diri Naura yang tampak tersirat di matanya, hal itu membuat Leon meraih tangan Naura dan membawanya ke suatu tempat.


Leon membuka pintu kamar utama di rumah itu yang adalah miliknya, terletak di lantai satu dan begitu luas ukurannya. "Kau ingat kamar ini?" tanya pria itu setelah menoleh pada wanita yang terus mengikuti langkahnya.


Naura sedikit terkejut, "aku pernah ke kamar ini?" tanyanya tidak percaya.


Dan hal itu membuat Leon tertawa, "aku bercanda," ucapnya.


Naura berdecak sebal, namun wanita itu tersenyum juga, dia penasaran seberapa dekat dirinya dulu dengan pria tampan di hadapannya ini. "Apa ini?" tanya Naura ketika Leon mengambil album foto dari dalam laci.

__ADS_1


"Buka saja," ucap Leon, melangkah ke arah jendela kamarnya yang berfungsi juga sebagai pintu penghubung ke halaman belakang rumah keluarganya, pada kursi malas di sana keduanya duduk saling bersebelahan.


Naura tampak takjub ketika melihat foto-fotonya bersama pria itu, tampak dekat dan begitu akrap, dia menoleh pada Leon yang kemudian tertangkap basah tengah memandangi wajahnya. "Apa kita berpacaran?"


Leon mengerjap gugup, jika ditilik dari kedekatan mereka di dalam foto, mungkin siapapun yang melihatnya akan menyangka jika mereka adalah pasangan, dan Leon pun menggeleng, "belum," ucapnya.


"Belum?" Naura bertanya bingung, "apakah aku menolakmu?"


Pertanyaan itu membuat Leon tertawa, "apa pria tampan seperti aku, berpotensi mendapat penolakan dari seorang wanita," tanyanya dengan nada bercanda, mencondongkan wajahnya pada Naura hingga wanita itu memundurkan tubuhnya.


Naura mendorong wajah Leon yang sialnya memang tampan, "ya siapa tau, kau kan menyebalkan," ucapnya merasa akrap, dan keduanya kemudian tertawa, Naura merasa mereka memang teman lama yang baru saja berjumpa.


Naura menutup album di pangkuannya, sedari tadi pria di sebelahnya itu selalu menceritakan setiap kenangan yang tertangkap di dalam potret mereka, namun entah kenapa tidak ada sedikitpun dia mengingat tentang masalalunya.


"Tidak usah dipaksakan." Leon menangkap tangan Naura saat wanita itu mencengkram kepalanya sendiri. "Pelan-pelan saja, toh kita hidup menuju masa depan, sebagian orang justru ingin melupakan masalalunya, seharusnya kau tidak perlu repot untuk mengingat semua itu," ucap Leon panjang lebar, berharap wanita itu akan bersabar, dan hidup dengan lembaran baru bukankah akan lebih baik.


Naura menggeleng,"Kamu tidak pernah tau, hidup dengan kepala kosong lebih menyeramkan dari kenangan buruk yang orang-orang ingin lupakan," ucapnya yang membuat Leon kemudian terdiam, wanita itu menatapnya begitu dalam. "Bantu aku mengingat semuanya Leon, paling tidak, bantu aku untuk mengingat dirimu, tolong lakukan sesuatu," pintanya begitu memohon, menarik-narik baju lengan panjang Leon di bagian pinggangnya, pria itu terlihat amat tidak tega.


"Ada satu kesalahan di masalalu yang membuat kau menamparku, dan aku berjanji untuk tidak melakukannya lagi," ucap Leon, tatapannya teduh mengarah pada wajah cantik Naura yang terlihat amat penasaran, "dan ada satu kesalahanku juga yang membuatmu akhirnya pergi meninggalkanku," tambahnya, tatapan keduanya tampak saling mencari jawaban, "Kau mau aku melakukan yang mana?"


Naura mengerjap bingung, sebuah kesalahan di masalalu apa? tentunya hal itu akan membuatnya tidak suka, tapi dia benar-benar penasaran untuk mengetahuinya. "Kesalahan apa yang membuat aku sampai menamparmu?" tanyanya kemudian.


Leon menghela napas, "apa itu berarti kau akan menamparku lagi?" tanyanya dengan nada bercanda.


Naura mengerutkan dahi, dia terlihat ragu,  takut jika kesalahan itu akan membuatnya tidak senang, wanita itu kemudian membuang muka, mengarahkan tatapan kembali pada album foto yang ia buka.


Leon menarik tengkuk wanita itu kemudian mencium bibirnya, meluma*tnya dengan lembut, Naura tampak terkejut hingga membuat album dalam pangkuannya terjatuh ke lantai, namun kemudian wanita itu memejamkan mata saat bayangan-bayangan samar berkelebat di kepalanya.


Saat ciuman mereka terlepas, Naura kembali membuka matanya, tatapan itu terlihat linglung, "Leon? my simba," ucapnya lirih.


Pria di hadapannya itu tersenyum lebar, tidak menyangka Naura dapat mengingat panggilan wanita itu pada dirinya. "Kau ingat?" tanyanya tidak percaya, dilihatnya Sorot mata Naura semakin sayu, sesaat kemudian tidak sadarkan diri dan jatuh ke pangkuan pria itu. "Naura!"


***

__ADS_1


__ADS_2