Gadis 100 Juta

Gadis 100 Juta
TIDAK MENGERTI


__ADS_3

William menghentikan kendaraannya di parkiran apartemen yang ia tempati, pria itu menoleh pada Lily di kursi penumpang sebelahnya yang sudah terlihat tenang.


"Ayo kita turun," ajak William dengan menyentuh puncak kepala Lily dan mengusapnya.


Wanita itu menoleh, tanpa banyak bicara dia memilih untuk mengangguk saja.


Saat sampai didepan pintu apartemen dan membukanya, William menyalakan lampu, gandengan tangan mereka belum terlepas, "Kenapa?" tanya William saat merasa wanita di belakangnya itu tidak mau melangkah.


Lily terdiam, dia bingung harus berkata apa, sedangkan tinggal di apartemen mewah pria itu sudah menjadi keputusannya. Tidak mungkin jika ia meminta untuk diantarkan pulang lagi.


William menghela napas, dan saat mengangkat tangannya untuk menyentuh pipi Lily, wanita itu refllek menghindar.


"Maaf," ucap Lily yang takut membuat pria di hadapannya itu tersinggung.


"Tenanglah Ly, aku tidak akan menganggumu malam ini," ucap William, kalimat yang tampak menggantung membuat wanita di hadapannya itu sedikit bingung.


"Kenapa hanya malam ini?" tanyanya curiga.


William menahan senyum, "aku tidak tau apa yang akan terjadi besok atau lusa," ucapnya.


Dan kalimat itu membuat Lily berbalik pergi, namun William mencekal lengannya.


"Aku bercanda," ucap William, dan wanita di hadapannya itu diam saja, tatapannya yang dingin membuat pria itu semakin gencar menggodanya. "Saat ini aku berjanji, tidak akan macam-macam, selama kamu tidak mau."


"Jangan pernah berjanji kalau kamu tidak mampu untuk menepatinya Will," omel Lily.


William menghela napas, "salahkan kamu yang membuat janjiku sering teringkar, siapa yang dapat memastikan tidak akan tergoda jika satu rumah dengan wanita yang kamu puja," ucapnya.


"Aku pulang saja." Lily kembali melangkah pergi, namun William mencegahnya.


"Aku tidak akan berbuat macam-macam padamu kecuali kau yang mau," ucap pria itu.


Lily berdecak, mana mungkin dia akan meminta lebih dulu, "aku tidak akan pernah mau," tekadnya.


Bukannya tersinggung, William malah tersenyum miring, tatapannya tampak menantang, "benarkah begitu," sindirnya.


"Jangan berharap banyak padaku Tuan William," sindir Lily geram, tatapannya yang sinis mengiringi kalimat pedas yang terlontar untuk pria itu.


William pun mengangguk, "tidur lah Ly, kau pasti lelah, " ucapnya setelah melepaskan lengan wanita itu, kemudian berjalan menuju kamarnya.


Kelembutan pria di hadapannya sejenak membuat Lily tertegun, namun alih-alih tersentuh, wanita itu lebih memilih untuk mengabaikannya. "Aku tidur di mana?" tanya Lily.

__ADS_1


"Di kamarku," balas William enteng, tangannya membuka pintu kamar utama yang berada di apartemen mewah itu.


"Will!?" Lily menghentikan langkahnya.


"Aku tidur di kamar yang kosong, kenapa? Kau mau tidur denganku?" godanya.


Lily mengikuti William yang hendak melangkah masuk ke dalam kamarnya, "Kenapa aku tidak tidur di kamar yang kosong saja?"


"Aku takut kau tidak nyaman?"


"Apa kau yakin kamarmu sudah cukup nyaman?" tanya Lily tidak percaya, pasalnya kamar sang kakak di rumah besarnya yang dulu juga bau asap rokok dan sedikit berantakan, namun pertanyaan itu terjawab dengan kondisi kamar William yang begitu rapi dan harum sekali, dia jadi malu sendiri.


William mengulurkan tangannya ke arah ranjang, mempersilahkan wanita itu untuk beristirahat.


Lily menurut, sebelumnya dia memang pernah tidur di kamar ini saat tangannya terborgol dengan William, dan mengingat hal itu dia jadi ngeri sendiri.


Wanita itu mengikuti gerak pria di hadapannya yang tampak melucuti jam tangan untuk ia taruh di tempat khusus, kemudian membuka kemejanya dan ia letakkan di keranjang baju kotor.


Saat William berbalik sembari mengenakan kaus tipis polos untuk tidur, Lily segera membuang muka, punggung lebar yang begitu berotot dan terlihat begitu kekar terus terbayang-bayang di kepalanya.


"Jika kau butuh sesuatu, aku di kamar sebelah." William memberi pesan, kemudian melangkah keluar dari kamar itu.


Wanita itu menarik selimut tebal beraroma maskulin milik William hingga menutupi sebagian besar tubuhnya, dia gelisah, memikirkan sang kakak yang belum memberi kabar, juga dua pencuri yang membuat berantakan toko bunganya, tapi yang lebih memenuhi isi kepalanya adalah sosok William, benarkah dirinya sudah berubah benci terhadap pria itu, dan mulutnya yang menguap ngantuk tidak lagi membuat wanita itu memikirkan jawaban atas pertanyaannya sendiri.


***


Lily terbangun mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, dia terkejut menoleh pada jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh pagi, benarkah dirinya senyenyak itu, hingga kalah dari William yang terbangun lebih dulu.


Wanita itu kembali memejamkan mata saat pintu kamar mandi terdengar membuka, aroma mint dari sabun yang pria itu kenakan menguar kemana-mana.


Lily sedikit mengintip saat pria itu memunggunginya, sibuk menggosok rambut kepalanya yang basah, bertelanjang dada dengan hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya, wanita itu pun kembali memejamkan mata saat pria itu berbalik setelah mengenakan pakaiannya.


Aroma woody yang semakin menyengat pada penciumannya membuat mata Lily kemudian terbuka, dan sedikit terkejut mendapati pria itu yang begitu dekat dengan dirinya.


William menegakkan tubuhnya setelah sesaat tadi kedua tangannya bertumpu pada sisi ranjang untuk mengamati wajah cantik Lily yang berpura-pura tidak sadarkan diri. "Aku dapat melihat kau memperhatikan aku dari cermin di sana," ucapnya.


Lily yang merasa tengah tertangkap basah tentu amat malu, wanita itu beranjak duduk dari tidurnya, lalu memberikan tatapan kesal pada pria yang berdiri di hadapannya itu yang tampak menahan tawa.


"Bisa bantu aku pasangkan dasi?"


Kalimat itu tidak seperti sebuah pertanyaan, melainkan perintah yang harus segera Lily laksanakan, dia pun beranjak turun dari ranjang dan menghampiri pria bernama William, yang sepagi ini sudah terlihat begitu tampan.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu, dasi di leher William belum juga rapi, entah kenapa aroma woody yang menguar segar dari tubuh pria itu membuat konsentrasi Lily jadi terganggu, dia pernah beberapa kali memasangkan dasi untuk kakaknya, juga sang papa saat dulu pria itu meminta bantuannya, tapi entah kenapa memasangkan benda itu untuk William begitu amat menyulitkan, jantungnya pun berdetak tidak karuan.


"Biar kuajari," ucap William dengan meraih kedua tangan Lily yang masih sibuk di bagian lehernya, sentuhan jemari lentik yang tidak sengaja menyenggol permukaan leher pria itu membuatnyaย  begitu bergairah.


Lily tersenyum senang saat dia berhasilย  menyelesaikan tugasnya dengan bantuan William,ย  pria di hadapannya itu tampak ikut tersenyum, dan sesaat kemudian keduanya saling terdiam.


"Aku akan berusaha pulang lebih cepat, agar kau tidak kesepian." William lebih dulu memutus keterdiaman di antara mereka.


Lily mengangguk, dan mendapati tatapan mata biru pria di hadapannya tampak berbeda, wanita itu pun bertanya kenapa.


"Kau begitu cantik." William memuji, dan rona merah di pipi Lily semakin menjadi, entah kenapa dia begitu gugup saat pria di hadapannya itu mulai merayu.


Lily diam saja saat buku jari William mulai menyentuh sebelah pipinya, dengan lembut menarik wanita itu untuk mendekat dan menyatukan bibir mereka.


Baru saja saling bersentuhan, dengan cepat Lily menarik kepalanya, "aku belum mandi," ucap wanita itu.


William terlihat kecewa, namun entah bagaimana caranya dia harus bisa mendapatkan apa yang ia pinta. Dan sepertinya juga wanita di hadapannya itu tengah lupa dengan perjanjian yang mereka buat semalam, hingga saat pria itu membawa tubuh Lily ke dalam dekapannya wanita itu pun dia saja.


"Aku suka dengan aroma tubuhmu yang alami, begitu manis dan terlalu menggoda, bisa kah kita melakukannya?" bujuk pria itu.


Lily yang tersadar saat bibir basah William menyentuh permukaan lehernya, mendorong tubuh pria itu dengan segera, "kumohon Will, kau sudah berjanji untuk tidak macam-macam selama aku di sini," ucapnya mengingatkan.


Ternyata William telah salah mengira bahwa wanita di hadapannya tengah lupa dengan perjanjian yang dibicarakan semalam, dia pun menghela napas, mengangguk sekilas kemudian melangkah pergi tanpa mengucapkan apa-apa.


Lily jatuh terduduk di atas ranjang, mendapati hatinya yang begitu sakit akan reaksi William tentu membuat dia tidak mengerti, apakah memang dia suka terhadap paksaan, apa dia berharap bahwa pria itu akan terus memohon padanya dan terus meminta apa yang dia inginkan? Lily benar-benar tidak mengerti dengan dirinya sendiri.


***Iklan***


Netizen: Makanya mbaknya jangan munaroh, mau mah mau aja gosah sok-sokan nolak ๐Ÿ˜’ kesel kan jadinya gak ada adegan dan mereka melakukannya.


Author : ๐Ÿ˜‘ etolong ya kang gali kubur, jan kompor lu.


Netizen: mana dua bandit gadungan masih misteri. Sebenernya sapa si, ๐Ÿ˜Œ


Author : Sabar napa dah, gw aja yg nulis sabar nunggu imajinasi keluar, tinggal baca doang ibet banget lu ๐Ÿ˜’


Netizen: et dah songong bet, nggak vote nih like jempol ditahan ๐Ÿ˜’


Author : ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿคง๐Ÿคง๐Ÿคง๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ


Jan kaya netizen ya ntar jempolnya ilang ๐Ÿ˜Œ komen nextnya ditungguuu ๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2