
Lily tampak gugup saat wajahnya sudah dirias dengan begitu cantik, dan saat sahabatnya masuk ke dalam ruangan, wanita itu tersenyum manis.
"Ya Ampun cantik sekali kau." Lura tampak tulus memuji, dan Lily tersipu karenanya.
"Aku gugup," ucap Lily yang memang terlihat gelisah.
Lura mengusap lengan sahabatnya untuk menenangkan wanita itu, "tidak perlu ada yang dikhawatirkan Ly, kau cantiik sekali," ucapnya tulus.
Belum sempat menanggapi suara seseorang dari luar memberitahu bahwa acara pemberkatan akan segera dimulai.
Lura tampak bersemangat, wanita yang wajahnya juga dirias cantik sebagai pengiring pengantin wanita tampak tidak sabar ingin melihat sahabatnya mengucap janji setia, keduanya keluar ruangan untuk mengikuti jalannya acara.
***
Leon menggenggam tangan sang adik yang dibungkus sarung tangan putih, yang tentu saja tidak dapat merasakan bahwa jemarinya begitu dingin karena gugup, pria itu bertugas mengantarkan adiknya menuju William yang tampak menunggu berdiri di depan altar.
Ada sedikit rasa haru saat pria itu menyerahkan adiknya pada William, tapi dia percaya Lily tentu akan bahagia, Leon kembali ke tempatnya, menyaksikan pemberkatan juga upacara janji setia yang membuatnya ingin meneteskan airmata, tapi tentu saja dia menahannya, dan ikut bertepuk tangan saat keduanya sudah dinyatakan sebagai pasangan.
Leon menoleh pada Lura juga Naura yang berdiri bersebelahan, kedua wanita itu menjadi bridesmaid untuk adiknya, dan tentu saja terlihat cantik, mereka pun tampak menoleh, memberikan senyum yang sama manisnya hingga membuat jantungnya berdebar-debar, namun yang membuat dirinya bimbang, untuk siapa hati ini merasa berdesir, dan yang mana penyebab detak jantungnya sulit disetir, dia jadi sedikit khawatir.
Davin juga tampak ikut menyaksikan prosesi pernikahan atasannya, ikut menjadi salah satu pengiring pengantin pria yang adalah sebuah kehormatan untuk dirinya, disebelahnya Nadira tampak semangat bertepuk tangan dan ikut bersorak saat kedua mempelai begitu romantis saat berciuman.
"Jadi, kapan kita akan mengikuti jejak si bos," bisik Davin yang membuat wanita di sebelahnya itu salah tingkah.
Nadira tersenyum, "Kau dulu, baru aku," ucapnya memberi kesepakatan.
Davin mengerutkan dahi, "Kenapa tidak kita berdua saja," ucapnya.
"Eh?"
***
Sebagai sahabat terdekat William, Justin tentu menghadiri acara pernikahan pria itu untuk yang ke dua kali, dan semoga tidak ada yang ke tiga, kali ini.
"Jadi acaranya di gedung Mas, nggak di Greja?" tanya Nena saat membantu memasangkan dasi untuk suaminya.
"Tadi pagi di Greja, kita ikut acara yang digedung saja," jawab pria itu.
Beralih dari sang suami, Nena kemudian memeriksa penampilan putra kembarnya, "ingat yah, nanti di sana kalian jangan nakal," pesannya yang membuat putra pertamanya mengangguk patuh. "Jino?" panggil wanita itu pada putra ke duanya yang tampak masih sibuk memasang kancing kemeja.
Jino mendongak, "iya Mami," ucapnya patuh, kemudian tersenyum saat maminya itu membantu memasangkan kancing di kedua lengan panjangnya.
"Ayo dong nanti kita telat, di gedung makanannya rebutan loh, nanti ibu nggak kebagian," ucap sang ibu yang tidak kalah cantik dari menantunya, di gendongan wanita paruh baya itu, Sena anak bungsu putranya tampak rewel meminta berpindah pada gendongan sang papa.
Justin menggantikan sang ibu menggendong putrinya, "Ayo papi tunggu di mobil," ucapnya dengan melangkah ke luar rumah.
"Ardi nggak bareng?" tanya Marlina saat mereka sudah berada di dalam mobil.
Nena yang duduk di jok depan memangku putrinya kemudian menoleh pada sang ibu, "katanya ketemu di sana aja, dia bareng sama temen-temennya," jawab wanita itu, yang kemudian tidak mendapat tanggapan dari ibunya, mereka pun segera menuju tempat acara.
__ADS_1
"Ya ampun ibu ada yang lupa dibawa," ucap Marlina setelah memeriksa isi tas besarnya, Nena yang menoleh kemudian bertanya barang apa yang ibunya itu lupa, "brosur bapperware ibu lupa dibawa, siapa tau kan ada yng mau," ucapnya.
Nena berdecak sebal, sedikit menggaruk rambutnya kemudianย menoleh pada sang suami yang tampak menggelengkan kepala.
***
Ardi juga teman-temannya sudah mendapat giliran bersalaman dengan mempelai pengantin, dan tampak memilih jamuan yang ingin mereka makan.
"Eh jangan dimakan ini nggak Islami," ucapย Ipang saat melihat Ardi membawa sepiring kue tradisional yang berbentuk bulat berwarna hijau dengan parutan kelapa di atasnya.
Ardi jadi bingung, dan menoleh pada Edo yang tampak membawa sepiring kecil kue yang sama, "masa?" tanyanya ragu.
"Nggak Islami kenapa coba, emang bikinnya pake daging babi?" tanya Edo ikut nimbrung.
"Yakali kue manis begini pake daging." Agung ikut berkomentar, tapi sedikit ragu juga.
Lisa istri dari Ipang yang tampak menggendong anaknya itu ikut nimbrung, "oh itu kue yang lagi viral, katanya nggak Islami karena muncr*t di dalem," ucapnya ingin tertawa.
"Ya bagus dong di dalem biar jadi," komentar Edo mendapat sikutan dari sang istri, mereka jadi tertawa.
"Eh jangan malu-maluin dong, banyak bule di sini," tegur Karin setengah bercanda.
"Heran juga Kenapa banyak tamu bule tapi makanannya kebanyakan kue tradisional ya?" komentar Agung, yang membawa kue putu mayang di tangannya.
Alya sang istri menanggapi, "ya mungkin mau memperkenalkan makanan tradisional kali, bagus dong biar orang-orang bule itu tau makanan tradisional juga enak-enak," ucapnya.
"Besok ganti nama aja lu jadi misro," ucap Ipang.
Agung menoleh, "beda woy, misro mah temennya comro," protesnya.
Edo yang tertawa ikut menanggapi, "iya juga tapi biar nggak dituding nggak senonoh dia kasian, padahal cuman gara-gara pas di makan gulanya muncr*at di dalem mulut, ya abis gimana ya makannya pake mulut," ucapnya.
"Diemut aja biar nggak muncr*at dah."
Usul Ipang membuat mereka jadi tertawa, Agung mengambil sendok di dekatnya. "Gue belah aja mendingan biar nggak muncr*at," ucapnya.
Edo bergidig ngeri, "anj*ir ngilu sumpah," komentarnya.
Keseruan mereka teralihkan oleh kedatangan Ibu Marlina, "Eh kalian nggak pada makan, ayo deh makan dulu," ajaknya bak siempunya acara, dan herannya mereka justru menurutinya.
"Kenapaย sih Bu, dagingnya ditusuk-tusuk gitu?" tanya Karin bingung dengan kelakuan ibu mertuanya.
Marlina menjawab, "ibu lagi milih daging yang empuk," ucapnya.
Karin tampak berpikir, "harus ditusuk-tusuk gitu yah?" tanyanya.
"Iya dong," ucap sang ibu kemudian berlalu menuju menu berikutnya.
Karin yang mengikuti cara sang ibu mendapat teguran dari suaminya. "Cepetan Yang, udah antri nih," ucap Ardi.
__ADS_1
"Kata ibu milih daging harus ditusukin gini loh," balas Karin.
Ardi berdecak, "ibu diikutin," protesnya.
Keduanya bergegas menuju teman-temannya yang sudah mendapat jatah makanan masing-masing, dan mendapati mereka tampak tertawa, Ardi jadi bertanya kenapa.
"Gue milih daging yang paling gede ternyata lengkuas, siyal," ucap Ipang.
Ardi jadi ikut menertawakan sahabatnya, "makan lah udah bagian lo," ledeknya.
Karin jadi bersyukur, "untung aku dapet tutorial milih daging dari ibu," ucapnya ngawur.
***
Nena tampak kebingungan mendapati satu putranya yang menghilang entah kemana, "Abang kamu mana?" tanyanya pada salah satu si kembar yang tengah sibuk memakan kue di tangannya.
"Aku loh abang Mi," ucap Nino yang tampak memaklumi karena sang mami memang sering salah mengenali mereka jika sedang panik.
"Jino mana?" tanya wanita itu dengan mengedarkan pandangannya.
Justin menghampiri mereka dengan menggendong putri bungsunya, kemudian bertanya ada apa.
"Jino ilang Mas," jawab Nena sedikit panik.
Namun suaminya itu terlihat biasa saja, "nanti juga dia kesini," ucapnya memberi dugaan.
Dan benar saja, bocah berusia sembilan tahunnan yang mereka kenali tampak setengah berlari datang menghampiri, lalu melonpat ke hadapan ibunya. "Jino dapet ini, Mi, tadi istrinya Om Bule yang buang," ucapnya senang, dengan menunjukkan buket bunga cantik di tangannya.
Nena menyentuh keningnya dengan telapak tangan, "Jino, ini bukan buat kamu, nanti kamu cepet nikah gimana dong," ucapnya khawatir.
Justin berdecak, "mitos itu, nggak usah dipercaya," komentarnya.
Jino tampak tersenyum senang, "ini bukan buat Jino tapi buat Mami," ucapnya dengan menyerahkan bunga di tangan kecilnya.
Dan Justin langsung melarang saat sang istri justru malah menerimanya, "jangan diambil entar kamu jadi nikah lagi," komentarnya ngawur.
Dengan gemas Nena memukulkan buket bunga di tangannya pada lengan sang suami, "katanya mitos, jangan dipercaya, gimana si," omelnya yang membuat keduanya jadi tertawa.
***iklan***
Author : ini part khusus yang udah baca Noisy Girl ya, kalo yang belum baca pasti bingung sama kelakuan mereka ๐
Netizen: itu ngapa kue yang lagi viral dibawa-bawa thor ๐ค
Author : ya gue juga masih bingung sih kenapa itu kue dibilang nggak Islami, kan nggak ada hubungannya ya ๐
Netizen: yodah jangan bahas kue lagi, gue mau nanya kapan Bang bule malem pertamanya ๐๐๐
Author : ๐๐๐ dan mereka melakukannya aja dah.
__ADS_1