Gadis 100 Juta

Gadis 100 Juta
Bahagia


__ADS_3

William melepaskan sepatu dari kaki Lily dengan perlahan, "Kau pasti lelah, beristirahatlah," ucap pria itu dengan mencium kening wanita yang malam ini sudah resmi menjadi istrinya.


Mereka pulang ke apartemen William karena memang lebih dekat dari tempat pesta di selenggarakan.


"Aku khawatir pada Kak Leon, karena belum memberi kabar bahwa kita tidak pulang ke rumah," ucap Lily dengan mengikuti pergerakan suaminya yang kemudian duduk di tepi ranjang, bersebelahan dengan wanita itu.


William tengah membuka sepatunya ketika memberi usul pada Lily untuk menghubungi sang kakak dan menanyakan keberadaannya.


Lily berjalan ke atas meja rias di mana dia meletakan tas berisi barang-barangnya, dan mengambil ponsel dari sana, baju pesta yang masih ia kenakan membuat wanita itu sedikit kesulitan untuk berjalan.


William mendekati sang istri, membantu membukakan resleting pada punggung wanita itu hingga membuatnya menoleh, setelah tersenyum, pria itu mencium pundak Lily yang sudah berhasil terbuka sebagian.


Lily menurunkan ponselnya dari telinga, kemudian berbalik pada William yang masih menatapnya, "tidak mendapat jawaban," ucap wanita itu.


William yang masih meletakan kedua tangannya pada pinggang Lily kemudian tersenyum, "kakakmu tidak akan mengkhawatirkanmu, karena dia pasti tau kau bersamaku sekarang," tuturnya.


"Aku yang mengkhawatirkan Kak Leon," tukas Lily.


William mendecih, "untuk apa, dia sudah dewasa, tidak perlu kau pikirkan, bagaimana jika sekarang kita mandi dulu, setelah itu istirahat," usul pria itu.


"Yasudah sana mandi," usir Lily dengan menahan senyum.


"Aku ingin denganmu," ucap William menggoda istrinya itu dengan terus mencondongkan kepalanya.


"Will." Lily mendorong wajah sang suami saat dia merasa geli, dan tidak disangka pria itu benar-benar menjauhinya.


William mendesis. "Ah, aku benci panggilan itu," ucapnya dengan berbalik dan melangkah menuju kamar mandi.


Lily mengejarnya dan menangkap lengan pria itu, "baiklah Sayang, ayo kita mandi," bujuknya kemudian.


***


Leon mengatupkan keningnya pada setir mobil, pria itu sudah berada di depan rumah kediamannya, setelah mengantarkan kedua wanita itu pulang ke huniannya masing-masing, dan pria itu terus saja memikirkan, tentang kejadian di parkiran beberapa saat barusan.


Leon memejamkan mata, kembali mengingat kejadian itu yang entah kenapa selalu menggetarkan relung hatinya, sensasi yang ia dapat saat mencium bibir Lura terasa berbeda dengan saat dia mencium Naura waktu itu.


Setelah beberapa saat yang lalu ia mengabaikan panggilan di ponselnya, pesan yang masuk membuat pria itu mendongakkan kepala, mengambil ponsel di atas dashbord mobilnya dan membaca pesan dari Lily yang menanyakan keberadaannya, juga mengabarkan bahwa dia tidak pulang ke rumah malam ini.


Leon tidak terlalu memikirkan tentang hal itu, toh sang adik sekarang pasti sedang bersama suaminya, dan satu pesan masuk dari Naura membuat perhatiannya teralihkan.


Besok kau ada waktu? Daniel berkata psikiater temannya itu ada jadwal kosong besok pagi, kau mau mengantarkan aku Simba?


Panggilan itu menciptakan senyum tipis di bibir Leon, pria itu membalasnya dengan satu kata singkat, dan berarti bahwa ia menyetujuinya.


Menatap layar ponselnya yang sudah mendapat balasan ucapan terimakasih dari Naura, Leon justru mencari nomor Lura dan mengirimkan pesan singkat pada wanita itu.

__ADS_1


Sudah tidur? Ketiknya, dan sesaat entah kenapa dia menunggu balasan dari wanita itu, namun hingga dirinya memutuskan turun dari mobil, mengunci semua pintu dan merebahkan diri di kamarnya, balasan dari wanita itu belum juga sampai di ponselnya, dan entah kenapa dia merasa gelisah.


Ting!


Notif pesan di hpnya yang ia lemparkan ke atas kasur membuat pria itu bergerak mengambilnya, dan tersenyum saat nama Lura tertera di sana.


Satu kata bertuliskan belum, atas jawaban pertanyaannya apakah wanita itu sudah tidur membuat Leon sejenak berpikir, apalagi yang akan dia katakan agar  mereka dapat mengobrol malam ini, dan entah keberanian dari mana, pria itu justru menekan panggilan pada nomor Lura dan menunggu wanita itu menjawabnya.


Halo?


Leon memejamkan mata, sejenak dia merasa bingung harus berkata apa, dan kalimat "aku minta maaf," akhirnya meluncur dari bibirnya.


Sejenak Lura tampak terdiam di seberang sana, mungkin wanita itu tengah menerka,  untuk perbuatannya yang mana lelaki itu meminta maaf, sudah mengganggunya dengan menelepon malam-malam atau kejadian ciuman di parkiran.


Minta maaf untuk apa? Tanya Lura.


Leon mengubah posisinya tengkurap jadi terlentang, menatap langit-langit kamar dengan memijit pelan pelipisnya. "Aku minta maaf atas kejadian di parkiran itu," ucapnya.


Di seberang sana Lura kemudian berkata tidak apa-apa, dan menyuruh pria itu untuk melupakannya.


"Bagaimana aku bisa melupakannya, bahkan alasanku sulit tidur malam ini karena hal itu, maaf, aku benar-benar merasa bersalah."


Lura terdengar sedikit tertawa, dan tidak terasa obrolan keduanya berlanjut hingga menit-menit berikutnya.


***


Semua pasang mata mengarah pada layar yang menunjukkan gambar tidak jelas yang kemudian mendapat pengertian dari sang dokter, dia berkata bahwa usia kandungan Lily sudah masuk ke sekian minggu, dan William tersenyum karena itu.


Sang dokter memberikan resep vitamin juga mkanan apa saja yang harus dikonsumsi oleh Lily, agar janinnya berkembang dengan baik, dan justru malah William yang antusias karena itu.


"Apa kau tidak menginginkan sesuatu?" tanya William, saat keduanya sudah berada di dalam mobil, dan dia masih bingung akan menuju ke mana hari ini.


Lily menggeleng, "aku hanya ingin terus melihatmu ada di dekatku," balasnya dengan tersenyum.


William mengerutkan dahi, kemudian mengusapkan jemarinya pada pipi halus wanita itu, "Bagaimana jika nanti aku bekerja?" tanyanya.


"Tentu saja aku ikut," ucap Lily dengan raut wajah yang cemberut, dan William tertawa karenanya.


"Kandunganmu masih sangat rentan, dan kita dilarang bepergian jauh, jadi bulan madu mungkin harus diundur sampai anak ini lahir," ucap William, meski begitu, raut wajahnya tidak tampak menyesal, kehadiran buah hati dalam pernikahan mereka adalah kado terbaik yang pernah dia terima, dan pria itu terus mengusap perut istrinya.


"Aku tidak butuh bulan madu sekarang, asalkan ada kau aku sudah bahagia," ucap Lily dengan tersenyum, dan kemudian teringat sesuatu, "Mami Willona mengundang kita makan siang bersama, apa kau lupa?" tanyanya mengingatkan, dan keduanya menuju rumah sang mami yang terletak di pinggiran kota.


William menekan bel rumah sang mami saat keduanya sudah sampai setelah membeli buah tangan terlebih dahulu, dan yang membukakan pintu membuat keduanya sedikit terkejut.


"Rachel? Di mana ibuku?" tanya William, belum sempat mendapat jawaban, seorang wanita paruh baya muncul dan menyapa kedua tamunya.

__ADS_1


"Masuklah Lily, kebetulan Rachel sedang main ke sini, " ucap Willona dengan menarik lengan menantunya, meninggalkan William yang masih berdiri di ambang pintu.


William hendak melangkah masuk saat Rachel kemudian menghalangi jalannya, pria itu sedikit memundurkan kepala saat nyaris menabrak wanita di hadapannya.


"Selamat atas pernikahanmu, Will," ucap Rachel dengan mengulurkan tangan mengajak bersalaman.


William sedikit ragu, namun kemudian menjabat tangan wanita itu, beberapa saat kemudian Rachel tidak juga melepaskan genggaman tangannya, wanita itu mendekat dan berbisik pada telinga William.


"Kita lihat, sampai di mana kau dapat mempertahankan pernikahanmu," ucap wanita itu, nadanya tampak mengancam.


William menyentuh tangan kiri Rachel yang mencengkram bagian dada pria itu, kemudian menurunkannya. "Aku tidak takut dengan ancamanmu, Rachel," ucapnya dengan sedikit mendorong wanita itu hingga termundur satu langkah.


Tatapan William yang tajam balik mengancam wanita bernama Rachel, dan membuang muka adalah hal satu-satunya yang dapat wanita itu lakukan saat ini, karena menatap lebih lama wajah tampan pria yang tidak dapat ia miliki, membuatnya kembali merasakan sakit hati.


"Kau wanita yang cantik."


Kalimat itu membuat Rachel seketika menoleh, tatapan pria di hadapannya yang berubah lembut sedikit membuat hatinya yang beku kian meleleh.


"Tapi bukan aku pria beruntung yang mendapatkanmu, carilah pria yang baik Rachel, kau berhak mendapatkannya," imbuh William dan kemudian melangkah pergi meninggalkan wanita itu.


Di tempat yang berbeda, Willona yang mengajak Lily masuk ke dapurnya, menunjukkan beberapa hasil masakan pada menantunya itu.


"Katakan Sayang, kau suka yang mana, ini makanan kesukaan William, atau kau tidak suka semuanya? Wanita hamil biasanya pilih-pilih makanan," tutur Willona panjang lebar, raut wajahnya tampak senang saat menunjukkan semua hasil masakannya.


Lily tersenyum, kemudian mengusap perutnya sendiri, "sepertinya kehamilan ini tidak merepotkan, aku bahkan tidak pilih-pilih menu tertentu yang akan dimakan, apa saja aku suka," tutur wanita itu yang membuat Willona terlihat bahagia.


Willona ikut mengusap perut Lily, "cucuku ini memang sangat pengertian," ucapnya, kemudian beralih menatap wajah menantunya yang terlihat gelisah, menoleh ke arah pintu karena suaminya belum juga terlihat, dan Willona mengerti perasaannya. "Tidak usah khawatir, Rachel wanita yang baik sebenarnya, dan kami masih ada hubungan saudara dengan gadis itu," ucapnya.


"Dulu Mami yang mengenalkan Rachel pada William, tentu Mami menginginkan Rachel menjadi menantu Mami kan, maafkan aku," sesal Lily yang merasa telah menggugurkan keinginan wanita itu.


Willona menggeleng, "siapapun pilihan William mami pasti akan setuju, karena hanya itu yang dapat mami lakukan untuk putra mami," ucapnya lembut, mengusap lengan Lily dan tersenyum pada wanita itu.


Kemunculan William membuat perhatian keduanya teralihkan, dan pria itu memeluk tubuh sang istri dari belakang. "Kalian pasti membicarakan aku," tebaknya sok tau.


Keduanya tertawa, dan kemudian sedikit bercanda, hingga kemunculan Rachel mengalihkan perhatian semuanya.


"Tante Willona, aku pulang dulu," ucap Rachel meminta izin.


Willona teringat sesuatu, "sebentar ya, tante titip barang untuk ibumu," ucapnya kemudian bergegas menuju kamar. Meninggalkan ketiganya yang tampak canggung satu sama lain.


Lily sudah melepaskan rangkulan William saat wanita bernama Rachel mengulurkan tangan padanya, "Selamat atas pernikahanmu, kalian begitu serasi," ucapnya terlihat tulus.


Lily tersenyum, dan setelah menoleh sekilas pada suaminya, wanita itu menjabat tangan Rachel dengan segera, "Terimakasih," ucapnya.


***

__ADS_1


__ADS_2