Gadis 100 Juta

Gadis 100 Juta
SAINGAN


__ADS_3

Selain menaruh memory cctv bukti tentang siapa dalang dari peristiwa kebakaran perusahaan F grup, di dalam liontin kalung itu juga William menyisipkan alat penyadap suara agar dia dapat memantau kegiatan wanita itu.


Semalam William sempat mendengar percakapan tentang Lily dengan kakaknya yang butuh uang banyak untuk operasi Leon, dan dia masih belum dapat menebak langkah apa yang akan diambil oleh perempuan itu.


"Anda memanggil saya Tuan," ucap Davin yang membuat atasannya menoleh.


William beranjak berdiri, "menurutmu apa yang akan dilakukan Lily?" tanya pria itu dengan kedua tangan bertumpu ke atas meja.


Davin mencoba untuk menebak, sejak William menyuruh untuk membelikan sebuah kalung dan menyisipkan benda-benda yang ia butuhkan di sana, pria itu tau tentang rencana tuannya, dan tau juga tentang operasi Leon yang membutuhkan banyak biaya.


"Mungkin Nona Lily akan menghubungi Tuan, setau saya tidak ada lagi yang dapat diharapkan oleh wanita itu selain anda." Davin berucap dengan yakin.


William menegakkan tubuhnya, kemudian berpikir, dia tau Lily, wanita itu terlalu menjunjung tinggi harga diri, dan sepertinya hal itu sulit terjadi. Pria itu mengaktifkan alat canggih yang tersambung pada liontin Lily, dan yang ia dengar berikutnya membuat pria itu memejamkan mata.


"Dia akan menjual kalungnya Dav," ucap William dengan sedikit kecewa, wanita itu tidak menghargai pemberiannya.


"Apakah saya harus mencari Nona Lily, agar tau dimana beliau menjual kalung anda Tuan?" Dengan sigap Davin memberi usulan.


William membenarkan letak alat yang tersangkut di telinganya, dan tersenyum menyadari apa yang dia dengar dari sana, "tidak perlu Dav, kita tunggu saja," ucapnya yang membuat Davin mengerutkan dahi, namun selain mengangguk mengiyakan, pria itu tidak berani untuk kembali mengutarakan usulan.


"Baik Tuan," ucapnya patuh.


***


Di tempat lain Lily masih dilema antara menjual kalung pemberian pria itu atau meminjam saja uang padanya, wanita itu sudah berdiri di depan toko perhiasan, menanyakan harga benda tersebut dan begitu terkejut dengan nominal yang disebutkan.


"Semahal itu?" Tanya Lily tidak percaya.


Si pemilik toko mengiyakan, dan mengatakan betapa langka benda itu ditemukan, dan berkata bahwa Lily begitu beruntung memilikinya.


Lily sempat berpikir, jika memang Semahal itu tentu lebih dari cukup untuk biaya operasi kakak kandungnya, bahkan bisa sekalian jalan-jalan ke luar negri satu keluarga, tapi tentu saja dia ragu untuk melakukan itu.


"Nanti saya coba pikirkan lagi." Lily berkata sembari mengambil kembali kalung di hadapannya, saat pemilik toko perhiasan itu bertanya jadi menjual atau tidak.


Saat sampai di toko bunganya, Lily menduduki kursi dengan menatap kalung di tangannya, sejauh perjalanan menuju arah pulang tadi perempuan itu masih belum bisa untuk mengambil keputusan.


Setelah memasangkan kalung itu ke lehernya kembali, Lily mengambil ponselnya dan memandangi nomor kontak bertuliskan Tuan Mesum di sana.


"Katakan Will, haruskah aku menghubungimu?" Tanya Lily pada ponsel di tangannya. Dia benar-benar gengsi jika harus menghubungi pria itu lebih dulu. "Aku tidak mungkin menghubungimu duluan kan, katakanlah  aku harus bagaimana?"


Dengan pasrah Lily meletakan ponsel canggih pemberian William ke atas meja, dan terkejut saat benda itu menyala-nyala, panggilan masuk dari Tuan Mesum. Bagaimana bisa?


Di tempat berbeda, William yang tampak geli tidak bisa untuk tidak tersenyum, sampai tidak sadar dengan gemas menggigit ujung ibu jarinya sendiri, pria itu menggelengkan kepala, mengambil ponsel dari atas meja dan menghubungi wanita itu.


"Halo, ada apa?" Tanya Lily diseberang sana.


William berdehem untuk menormalkan suaranya yang ingin sekali tertawa, "tiba-tiba aku begitu merindukanmu, apa kau memanggil-manggil namaku?"

__ADS_1


Sesaat tidak ada jawaban, dan William memutuskan untuk menunggu.


"Tidak ada yang memanggil namamu," ucap wanita itu.


"Benarkah?" Tanya William.


Lily pun membalas. "Dan aku juga tidak merindukanmu."


William tersenyum, "oh, baiklah, aku tutup saja teleponnya," gertak pria itu.


"Eh, Will!"


"Iya?"


Keraguan Lily yang menimbulkan jeda beberapa saat pada obrolan mereka  membuat William kembali bersuara, "katakanlah Ly," desaknya.


"Em.., Will. Ada yang ingin kubicarakan. Dimana aku dapat menemuimu."


"Kamar nomor dua kosong tujuh."


"Will!" Lily menyahut geram atas jawaban pria itu.


William terkekeh, "datanglah ke kantorku sebagai Nona Fernandes."


***


"Maaf saya mau menemui Tuan William ruangannya di sebelah mana yah?" tanya Lily pada resepsionis cantik yang berdiri di balik meja dengan gagang telepon yang menempel di telinganya, wanita itu terlihat amat sibuk sepertinya.


"Maaf sebentar," wanita itu berucap sopan, dan setelah menyudahi obrolannya yang entah dengan siapa, dia mengarahkan pandangannya lagi pada Lily, "Maaf ada yang bisa saya bantu Nona?"


"Saya ingin menemui Tuan William, ruangannya di sebelah mana yah?" tanya Lily.


"Maaf sebelumnya apa sudah ada janji temu dari beberapa hari yang lalu, Tuan kami jadwalnya padat sekali," ucapnya.


Mendengar itu Lily mengerutkan dahi, apakah memang begitu sulit ingin bertemu dengan pria itu, kenapa akhir-akhir ini William selalu mengganggunya seperti orang yang tidak punya kerjaan.


"Saya sudah membuat janji satu jam yang lalu." Jawaban Lily tentu membuat wanita cantik penerima tamu itu mengerutkan dahi, raut wajahnya seolah tidak percaya.


"Maaf atas nama siapa?"


Lily agak sedikit ragu, namun kemudian menyebutkan namanya, dan setelah itu wanita yang terlihat lebih ramah di hadapannya menunjukkan arah tempat ruangan dimana tuannya berada.


Saat mendapati pintu ganda bertuliskan direktur utama yang ia yakini itulah ruangan kerja William, Lily harus kembali melewati seorang wanita cantik yang mungkin adalah sekretaris pria itu.


"Saya ingin menemui Tuan William," ucap Lily saat wanita itu menyapanya lebih dulu, dan menanyakan maksud kedatangannya.


Kembali wanita itu juga menanyakan identitasnya, dan mungkin menghubungi William untuk meminta persetujuan, "silahkan masuk Nona, kedatangan anda sudah ditunggu," ucap sekretaris itu.

__ADS_1


Belum sempat Lily mengucapkan terimakasih, seorang wanita yang juga mengaku mencari Tuan William membuat Lily menoleh.


"Nadira, saya mau bertemu dengan atasan kamu, dia di dalam kan?"


Nadira yang merupakan sekretaris William tampak hapal sekali dengan siapa wanita di hadapannya. "Maaf apakah Nona Rachel sudah membuat janji dengan Tuan William, karena untuk saat ini beliau tengah menunggu seseorang."


"Siapa?" tanpa menunggu jawaban, Rachel yang kemudian menoleh pada wanita di sebelahnya itu langsung saja mengerti, "apakah perempuan ini yang kau maksud?"


Saat Nadira mengangguk, Rachel tampak tidak percaya, pasalnya wanita sesexi dirinya harus bersaing dengan perempuan sepolos itu, apakah William sudah berganti selera, begitu pikirnya.


"Mbak Nadira, terimakasih atas infonya, saya permisi," ucap Lily yang kemudian melangkah menuju pintu ganda ruangan William.


Rachel mengejarnya dan menarik lengan perempuan itu dengan sedikit kasar, "ada perlu apa kamu dengan Tuan William?" tanyanya dengan melipat kedua tangannya di depan dada.


Lily mengerutkan dahi, tentu saja dia tidak perlu menjelaskan ada urusan apa dia membuat janji temu dengan pria itu, Lily merasa heran dengan begitu bar-barnya perempuan di hadapannya ini, apakah mungkin dia salah satu dari yang pernah William kencani?


Tidak mendapatkan tanggapan dari wanita di hadapannya Rachel pun merasa geram, tidak mungkin perempuan itu gagu, toh tadi dia sempat mendengarnya bertutur kata dengan Nadira.


"Maaf saya permisi." Lily malas meladeni wanita bernama Rachel itu.


"Tidak, aku akan menemui kekasihku lebih dulu, kau lebih baik urungkan saja niatmu." Setelah berucap seperti itu, Rachel kemudian melangkah menuju pintu.


Nadira menghalangi, "Maaf Nona Rachel, bukan anda yang tengah ditunggu Tuan William, mungkin setelah ini baru anda dapat menemuinya," ucap perempuan itu.


Lily yang tidak mau membuang waktu memilih untuk membuka pintu, dan dengan cepat Rancel menerobos nya hingga menabrak wanita itu.


Lily jatuh tersungkur, dan di hadapannya sepasang sepatu milik seseorang membuat ia mendongakkan kepala.


"William?"


**iklan**


Author: Kira-kira Bang Bule marah gak tuh 🤔


Netizen : Tungguin sampe besok Bang bule berdiri di depan pintu 😌 sabar ya Bang authornya rada sableng.


Author : yang penting njemur dulu 😆


Kalo ada plot hole, atau kejanggalan dalam isi cerita kasih tau di kolom komentar ya, soalnya daku suka lupa, kemaren nama bapaknya Lily siapa juga akoh lupa 🤣 untung ada pasukan emak NG yang bantuin makasih ya mak.


Jangan lupa dukung aku terus ya, vote komennya ditunggu. Eh jan lupa Rate bintang 7 ya itu rate nya turun jempol sapa si yg iseng 😌


Netizen: Bintang 5 thor bintang 7 obat puyeng. 🙄


Author: Akoh taunya obat puyeng bodrek lah 🤔


Netzen: Jadinya iklan ini disponsori oleh obat warung ya 😌

__ADS_1


__ADS_2