
William duduk di ruang tunggu saat dokter tengah menangani luka tembak pada lengan Lily, dia berharap semoga tidak terjadi apa-apa dengan wanita itu, apalagi janin dalam kandungannya.
Justin yang duduk di sebelah sahabatnya menepuk pundak William hingga dia menoleh sekilas, kalimat menenangkan sesekali terlontar dari pria itu.
Sama halnya dengan Leon yang tampak berdiri dengan gelisah, menyandarkan tubuhnya pada tembok, di sebelahnya Dion yang merasa bersalah terus menundukkan kepalanya.
Ardi dan teman-temannya sudah izin untuk pulang beberapa saat yang lalu, begitu juga dengan orang-orang Leon, hanya tersisa Justin yang pasti akan menjaga William jika Leon kembali melakukan serangan.
Pintu ruangan yang terbuka juga dokter dan suster yang keluar dari sana membuat William beranjak berdiri, dan Leon yang lebih dulu menanyakan bagaimana keadaan adiknya.
Dokter mengatakan bahwa pasien baik-baik saja, tidak ada luka yang serius, dan mereka bersyukur karenanya.
Setelah pria bersnelly putih itu pergi, suster yang membawa catatan di tangannya itu menghampiri mereka kemudian bertanya. "Adakah suami dari pasien di sini?"
Pertanyaan itu tentu membuat Leon merasa bingung, pria itu maju satu langkah, "saya kakak kandungnya Sus," ujar pria itu.
Sang suster memberikan secarik kertas pada Leon, "segera ditebus Tuan obatnya, juga ada vitamin untuk kandungan Nyonya Lily, terimakasih," ucapnya, kemudian beranjak pergi.
Leon terpaku di tempatnya berdiri, dia tidak mungkin salah dengar dan Dokter pun pasti tidak salah memeriksa, "Lily, hamil," gumamnya Lirih, masih tidak percaya dengan apa yang telah terjadi.
William yang sudah tau tentang hal itu tentu saja tidak tampak terkejut, dia malah khawatir pada Lily yang mungkin akan mendapatkan kemarahan dari sang kakak.
Justin dan DionΒ memilih diam saja, sebagai pendukung dari kedua belah pihak masing-masing, mereka tidak mau ikut campur lebih jauh, begitu pun saat Leon beranjak masuk ke ruangan sang adik, hanya William yang berinisiatif mengejarnya.
Lily yang sudah terduduk di tepi ranjang menoleh saat Leon dengan cepat mencengkram lengan kirinya yang tidak terluka, dan membuat wanita itu meringis kesakitan. "Jelaskan padaku tentang kehamilanmu Lily," desak Leon.
Lily tertegun, mengerjap takut saat mendapati sang kakak yang begitu terlihat murka, "A, aku...," ucapnya terbata.
Dan Leon berbalik pada William dengan mencengkram kerah kemeja pria itu, "aku yakin kau lah pelakunya William! Kau lah pria brengse*k yang menghamili adikku, bajinga*n!" Leon menonjok wajah pria itu dengan kesal.
William yang sempat limbung segera dapat menguasai diri, pria itu mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya, dia merasa memang pantas untuk mendapatkan pukulan dari Leon atas perbuatannya.
Saat Leon kembali akan melancarkan pukulan William segera menghindar,Β tidak lama Justin dan Dion pun masuk ke dalam ruangan saat mendengar keributan.
Justin menahan Leon saat kembali menyerang, "sesuatu yang masih bisa dibicarakan tidak perlu menggunakan kekerasan, ini rumah sakit, keributan kalian dapat mengganggu kenyamanan di tempat ini," omelnya.
__ADS_1
Napas Leon masih tampak memburu, tatapannya tajam pada William dengan Sorot penuh kebencian, "setelah kau membunuh ayahku, kau juga menghancurkan masa depan adikku, Tuan William!" ucapnya geram.
William menoleh pada Lily yang tampak menangis, belum sempat menanggapi omelan Leon, pria itu berucap lagi.
"Katakan Will, apalagi yang kau mau ambil dari keluargaku, apalagi yang mau kau hancurkan hah? Ambil saja nyawaku William, ambil agar kau merasa puas!" Leon yang benar-benar marah terus menyongsong William, membuat pria itu terpaksa mendorong Leon hingga termundur beberapa langkah."
"Lily datang padaku, dan menawarkan dirinya demi uang, kau pikir untuk siapa?" dengan begitu tenang William pun bertanya, seolah tidak ada ketakutan dalam dirinya.
Leon menoleh pada sang adik tidak percaya, dan Lily yang terus menunduk karena tidak berani menatap sang kakak memilih untuk diam saja, wanita itu hanya bisa menangis.
"Apa maksudmu?" Tanya Leon.
Setelah menoleh pada Lily yang juga balik menatapnya dengan pandangan yang pasrah, William menceritakan semuanya, tentang sejumlah uang yang Lily butuhkan untuk biaya rumah sakit kakaknya.
Leon terhenyak tidak percaya, pria itu menggeleng kecewa, kembali beranjak pada Lily dan mencengkram lengan wanita itu. "Katakan Ly, katakn bahwa semua itu tidak benar!" Pinta Leon.
Lily yang terus menangis hanya dapat menggeleng, "itu benar Kak, maafkan aku, aku tidak punya pilihan lain untuk itu."
Leon mendesah kecewa, mengusap raut wajahnya dengan gusar, dan kembali memusatkan tatapan marahnya pada sang adik yang belum berani mengangkat kepala. "Lihat aku Lily, katakan kenapa kau bisa sebodoh ini?" ucapnya geram.
"Lebih baik aku mati Ly, lebih baik aku mati!" Leon berteriak marah, hingga beberapa petugas keamanan yang datang karena mendengar ada perkelahian mencoba untuk menenangkan pria itu.
"Tolong jangan membuat keributan di sini Tuan," ucap salah satu petugas yang tidak digubris oleh Leon. Pria itu pergi begitu saja meninggalkan Lily yang terus menangis, dan dengan sengaja menabrakkan bahunya pada William.
"Leon," panggil William yang membuat langkah Leon kemudian berhenti, namun pria itu tidak membalikkan tubuhnya. "Kartu memory cctv yang kusimpan dalam kalung Lily, adalah bukti bahwa aku tidak bersalah atas kematian ayahmu, kuharap kau dapat menerima kenyataan itu," ucapnya, dan tidak lama Leon pun beranjak pergi, dengan Dion yang terus mengikuti.
William melangkah mendekati Lily saat Justin juga beberapa petugas yang datang, memilih untuk keluar dari ruangan."Semua akan baik-baik saja, percayalah Lily," ucap William dengan membawa kepala Lily ke dalam dekapannya, dan di dada William wanita itu melanjutkan tangisannya.
***
William menyalakan lampu apartemen yang tersambung pada semua ruangan, menoleh pada Lily yang berjalan lemah mengikutinya. "Untuk sementara kamu di sini dulu saja, nanti kita bicarakan pada kakakmu pelan-pelan," ucap William dengan mengusap puncak kepala Lily, dan wanita itupun mengangguk. "Aku akan mengambilkan minum untukmu," imbuh pria itu, kemudian beranjak menuju dapur.
Lily masuk ke dalam kamar William yang beraroma maskulin, selalu rapi dan teramat nyaman, wanita itu berdiri di atas cermin besar menatap penampilannya yang tampak sedikit berantakan.
Dia pun melepaskan jas William dari tubuhnya, menatap luka di lengannya yang dibalut perban lewat pantulan cermin di hadapannya, ngilu dan denyut nyeri masih ia rasakan sampai saat ini, namun tidak sebanding dengan rasa takut atas kemarahan sang kakak dengan apa yang telah terjadi.
__ADS_1
William meletakan gelas berisi air putih yang ia bawa ke atas meja, menghampiri Lily dan saling memandang lewat kaca di depan mereka, pria itu mencium pundak Lily yang terbuka, mengusap luka di lengan wanita itu dengan lembut.
"Apakah masih sakit?" tanya William, menolehkan pandangannya pada cermin yang menampilkan senyum lemah Lily dan gelengan pelan dari wanita itu.
William menghela napas lega, kembali mencium pundak wanita itu dan mengusap kan buku jarinya pada perut Lily yang masih rata.
Lily menangkap tangan William yang menyentuh perutnya, "setelah ini apa yang akan kita lakukan Will?" tanyanya.
William tersenyum, "tentu saja menikah, dan membesarkan anak-anak kita, apalagi?" ucapnya serius.
Lily membalikkan tubuhnya, membuat mereka saling berhadapan, "Bagaimana dengan Kak Leon, dia sangat membencimu," ucapnya.
Dengan tenang, William mengusapkan jemarinya pada pipi Lily, menyelipkan anak rambut wanita itu ke belakang telinga, kemudian mengecup keningnya sedikit lebih lama. "Kita Yakinkan bersama-sama," ucap William setelah memundurkan kepala.
Lily tertegun, menatap wajah tampan pria di hadapannya dengan seksama, "apa kau benar-benar akan menikahiku?" tanyanya yang terdengar lucu oleh William.
William sedikit tertawa. "Apa selama ini kamu pikir aku bercanda?" tanyanya tidak percaya.
"Aku takut kamu tidak benar-benar mencintaiku Will," ucap Lily sedikit ragu.
William menarik tubuh ringkih Lily ke dalam dekapannya, menaruh dagunya pada puncak kepala wanita itu, "percayalah Lily, aku sangat mencintaimu, bagaimanapun caranya kita berdua pasti akan menikah, dan membesarkan anak kita bersama-sama," ucapnya panjang lebar, terdengar tulus hingga membuat jantung Lily berdebar-debar.
"Aku juga mencintaimu William," balas wanita itu.
***
Author : ini nggak digantung ya, jadi gosah pada ngomel π
Netizen: Thor, itu mbak Lily yang diperban lengannya kan ya bukan kepalanya π
Author: kayak sinetron azab ya, yang ketabrak kaki yang bocor jidatnya π
Netizen: gue pikir bakal dibikin amnesia kali mbak Lilynya π€
Author: ya nggak kelar-kelar urusannya dong Idaaaah π
__ADS_1
Ini mau ditamatin cepet apa gimana? Nanya ya bukan ngancem, gue nanya. π