
William meraih tangan Lily untuk ia ajak masuk ke dalam Restoran yang sudah Davin persiapkan, keduanya lalu duduk saling berhadapan hingga kedatangan seorang pelayan.
Suasana Resto yang begitu mewah dan nyaman membuat Lily merasa takjub dengan setiap dekorasinya, meja yang dibiarkan terlalu berjarak mungkin memang sengaja agar para tamu di sana lebih nyaman bercengkrama.
Dari luar, gedung Resto ini memang tampak berbeda dan sepertinya hanya orang-orang tertentu yang dapat masuk ke dalamnya.
"Aku yakin kau pasti pernah makan di sini," ucap William saat Lily mengedarkan pandangannya pada setiap penjuru tempat itu.
Lily yang menoleh kemudian tersenyum. "Darimana kau tau? Mungkin Restoran ini terlalu mewah untuk kelas wanita biasa seperti aku."
William sedikit terkekeh, "putri bungsu pemilik perusahaan F grup apakah memang sesederhana itu?" sindirnya.
Lily terdiam, raut wajahnya tampak kebingungan, "sejak kapan kau tau tentang itu?" tanyanya.
"Sudah lama," ucap William kemudian terjeda saat seorang pelayan mengantarkan pesanan mereka.
Lily ikut berterimakasih saat hidangan yang terlihat mewah itu sudah tersusun di atas meja, dia kembali menoleh pada William, "saat aku berkata ada yang ingin aku bicarakan, sebenarnya aku ingin mengatakan hal itu. Tapi ternyata kau malah sudah tau," ucap Lily kemudian mengambil sendok yang terletak di sebelah piringnya.
William mendongakkan pandangannya pada Lily, lalu sedikit tersenyum,"siapapun dirimu, aku tidak mepermasalahkan itu," ucapnya.
"Tapi perusahaan ayahku sudah bangkrut, sejak peristiwa yang merenggut nyawanya, keluargaku juga kehilangan semua yang kami miliki," ucap Lily, dari tatapannya yang begitu dalam, dia terlihat amat kesakitan. "Aku bahkan sampai menjual diri untuk biaya pengobatan kakak, apa setelah ini kau akan berpikir bahwa aku mendekatimu karena kau begitu kaya?" tanyanya.
William tersenyum, "di luar sana akan ada pria yang lebih kaya dari aku, dan aku hanya perlu mencari wanita yang tidak peduli akan hal itu, dan kau adalah orangnya."
Lily tertegun, kalimat itu cukup menyentuh perasaannya, dan dia justru bingung bagaimana cara menanggapinya, dan akhirnya memilih diam saja.
"Bagaimana dengan ibumu?" Tanya William.
Lily memotong daging di piringnya dengan perlahan, wanita itu kemudian mendongak, "sejak aku kecil, ibuku sudah meninggal, dan ayah tidak memberikan kami ibu pengganti, untuk itulah kami sangat menyayangi ayah kami."
William mengangguk, kemudian memasukkan makanan ke dalam mulutnya, sesaat acara makan keduanya berjalan tanpa percakapan.
"Kau tidak penasaran kenapa ayahku meninggal?" tanya Lily mencoba memulai percakapan saat acara mereka hampir selesai.
"Beritanya sudah ramai di koran, dan kau juga pernah bercerita bahwa seseorang telah sengaja melakukan itu semua, kurasa aku tidak perlu lagi bertanya."
Lily sedikit terkekeh, ada perasaan sakit hati yang tiba–tiba muncul saat ia mengingat meninggalnya sang ayah, tentu saja pria di hadapannya sudah tau semuanya, sebab menurut sang kakak dialah pelakunya. William, ternyata kau begitu pandai bersandiwara, Lily tersenyum sinis diam-diam.
"Aku pernah memintamu untuk membantu mencari orang itu kan." Lily kembali membahas permintaannya tempo lalu, saat dirinya belum tau siapakah orang yang menjadi pelaku.
Tanpa terlihat berpikir lama, William langsung mengangguk, "aku percaya, kau pasti akan menemukan siapa orangnya, bahkan dengan mata kepalamu sendiri, tidak perlu tau dari orang lain, karena kau sendiri sudah begitu dekat dengan pelakunya."
Dan itu kau William, Lily berucap dalam hati, wanita itu tersenyum tipis," jika aku sudah menemukan pelakunya, dan ternyata itu adalah orang yang sangat aku percaya, aku harus bagaimana?" Lily terus memancing William untuk membuka topengnya.
"Kebenaran akan menunjukan jalan Ly, orang yang kau anggap bisa dipercaya, mungkin menjadi orang yang paling bersalah di balik itu semua, maka jangan terlalu membenci sesuatu yang belum kau yakini."
__ADS_1
Lily mengerutkan dahi, wanita itu sedikit tidak mengerti dengan maksud yang dibicarakan pria di hadapannya, belum sempat menanggapi, William kembali mengutarakan kalimatnya.
"Ada sesuatu untukmu." William mengangsurkan benda berbentuk kotak ke hadapan Lily, saat makanan penutup di malam itu telah selesai dinikmati.
Lily mengerutkan dahi, "apa ini?" tanyanya dengan meraih kotak berwarna hitam di hadapannya, dan saat pria itu menyuruh untuk membuka, dia terkejut akan isinya. "Kunci?"
Memang sebuah kunci, namun bukan untuk mobil atau sejenisnya, ini semacam kunci sebuah pintu dan Lily seperti mengenali benda itu.
"Simpan saja, aku ingin membawamu ke suatu tempat." William mengajak Lily keluar dari tempat itu, dan kembali masuk ke dalam mobilnya.
Lily sedikit kebingungan, saat William yang ingin membawanya ke suatu tempat, ternyata malah menuju sebuah alamat yang ia hapal sekali, dan keduanya berhenti di depan sebuah pagar tinggi rumah mewah yang amat ia kenali. "Rumah ini?" Lily bergumam sendiri, hingga tidak menyadari saat sabuk pengaman yang ia kenakan sudah terlepas dari tubuhnya.
William menghubungi seseorang, tidak lama pintu gerbang itu pun terbuka, dan Salah satu anak buahnya menghampiri mereka.
"Kalian boleh pergi," ucap William saat satu anak buahnya itu telah melaporkan bahwa mereka sudah membersihkan rumah itu yang memang telah lama tidak berpenghuni.
Lily yang masih merasa tidak percaya bahwa dia kembali ke rumahnya terlihat berkaca-kaca, dia rindu dengan suasana hangat di gedung besar itu. "Mengapa kita di sini, bukankah ini sudah disita?" tanyanya.
William yang berdiri di sebelahnya mengajak wanita itu menuju pintu, "bukalah, tuan rumah pasti punya kuncinya."
Lily reflek merogoh tas kecil yang tersangkut di pundaknya, mencari benda yang beberapa saat lalu William berikan kepadanya, dia memang teramat mengenali kunci ini. "Bagaimana mungkin?" gumamnya tidak percaya saat pintu di hadapannya telah terbuka.
"Aku membelinya untukmu," ucap William saat mereka masuk ke dalam rumah itu.
Lily menutup pintu di belakangnya, setelah itu sedikit berlari menuju benda-benda yang tampak sama seperti terahir kali saat ia meninggalkannya. "Aku rindu sofa ini," ucapnya setelah menduduki benda itu.
"Tidak ada yang berubah Will, benda-benda ini masih sama." Lily mengambil satu bingkai foto keluarga yang terletak di atas meja kemudian memeluknya, "bahkan foto ini pun masih ada."
William memang sudah membeli rumah itu sejak lama, saat tulisan disita tertempel di pagarnya, bahkan pria itu pun sudah menutupi hutang-hutang perusahaan F grup berupa gaji buruh dan lain-lainnya, hanya saja wanita itu tidak tau tentang semua kebenarannya.
"Ada piano di sudut ruangan sana, apa itu milikmu?"
Pertanyaan William membuat Lily menoleh, "itu milik Kak Leon," ucapnya.
William tampak mengangguk, kemudian mendekati wanita itu, "Kau bisa memainkannya?"
Lily terlihat ragu, namun kemudian mengangguk, "bisa tapi tidak pandai, kau mau dengar?"
William kembali mengangguk, belum sempat menanggapi, Lily yang melangkah lebih dulu ke arah tempat yang akan mereka tuju, memilih untuk terus mengikuti wanita itu.
"Bawakan satu lagu untukku, aku akan memberikan hadiah untukmu." William memberikan tantangan.
"Apa hadiahnya, apa itu menarik?"
"Tentu saja, kau pasti akan suka."
__ADS_1
Setelah sedikit bernegosiasi tentang hadiah yang telah dipersiapkan pria itu, Lily yang ternyata memiliki suara merdu mulai menyanyikan sebuah lagu, William tersenyum senang, lagu berjudul love me like you do milik Ellie goulding, dibawakan dengan begitu sempurna oleh wanita itu.
Lily sedikit terhenyak saat dari arah belakang William memasangkan sebuah kalung yang begitu indah di lehernya, wanita itu menghentikan nyanyiannya.
"Untukku?" tanya Lily dengan menolehkan kepala pada pria yang berdiri di belakangnya.
William mengangguk, "biar kupasangkan," ucapnya.
Sentuhan lembut jemari tangan William pada tengkuk leher Lily, saat menyibak rambut panjangnya untuk memasangkan sebuah kalung, membuat wanita itu sejenak menahan napas, meski tidak mau mengakui, dia tentu sadar bahwa sentuhan pria itu telah menjadi candu yang entah sejak kapan membuatnya merasa rindu.
William kembali merapikan rambut panjang Lily, duduk saling berhadapan dan memberi komentar cantik pada wanita itu.
"Maksudmu, kalungnya yang cantik?"
William menggeleng, "Kau," ucapnya tulus, sesaat keduanya terdiam.
William kembali memperhatikan benda di leher Lily. Sebuah kalung dengan liontin kecil berbentuk hati yang sebenarnya bisa dibuka, dan pria itu menyisipkan chip rekaman cctv yang diberikan Davin ke dalamnya.
"Kau suka?" Tanya William.
Lily mengangguk, senyum di bibirnya yang tidak pernah luntur membuat William amat bersyukur, dia tidak tega jika langsung memberitahu tentang rekaman itu pada Lily, karena wanita itu pasti akan kecewa sekali.
William beranjak berdiri, kembali memperhatikan rumah besar yang ditempati oleh keluarga wanita itu, "tempat sebesar ini kalian hanya tinggal bertiga?" tanyanya.
Lily yang sebelumnya duduk menghadap piano kini mengarah pada pria itu. "Memangnya kenapa?"
William menoleh, kemudian menggeleng, "di mana kamarmu?" tanya pria itu.
Lily yang sudah beranjak berdiri kemudian melipat lengannya di depan dada, "Kau mau apa?" tanyanya.
Tatapan William yang begitu dalam membuat Lily nyaris tenggelam, "aku merindukanmu," ucap pria itu.
* ** iklan***
Author : kalo ini sinetron dan emak gw nonton, dia pasti ngomel, "itu liontinnya dibuka dong cepetan, biar ketauan. Ih kesel mama." 😌
Netizen: Gue malah lebih penasaran sama mereka yang mau ke kamar Lily, ada adegan dan mereka melakukannya gak ya kira-kira. 🤔
Author : terusin aja sendiri 😒
Netizen : 😑😑 eh itu lagunya tumben gak ditulis thor.
Author : cape gue nyalin nya, 😒 cari di internet aja lagu plus vidio Bang Bule ama mbak Lily, biar baper.
Netizen : itumah vidio filmnya 😌
__ADS_1
Author : pentingkan lagunya sama 🙄