
Telapak tangan Lura yang berdarah membuat Naura segera mengambil alat kesehatan yang tersimpan di apartemen saudaranya itu, dia tau tempatnya, karena memang sudah sering berkunjung ke sana.
Setelah Naura tidak tampak lagi di pandangannya, Leon pun mendekat, beradu tatap dengan wanita yang masih basah kedua matanya. "Apa yang kamu lakukan?" tanyanya dengan meraih tangan wanita itu.
Lura menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman Leon, kemudian mundur satu langkah, "aku tidak apa-apa, hanya luka kecil yang sedikit perih, lebih baik kalian cepat pulang," tukas wanita itu tanpa menatap pria tampan di hadapannya.
"Aku akan mengatakan pada Naura semuanya," ucap Leon yang seketika membuat Lura mendongak, kemudian menggeleng.
"Kau sudah berjanji untuk tidak menyakiti saudaraku Leon, kau sudah berjanji," desis wanita itu dengan suara pelan, Sorot matanya tampak kesakitan, entah itu berasal dari telapak tangannya yang saat ini tengah terluka, atau bahkan hatinya sendiri yang tengah kecewa dengan keputusannya.
"Selain menyakiti dirimu sendiri, kau juga menyakiti aku, dan mungkin menyakiti saudaramu jika dia tau tentang hal itu." Leon berucap dengan memelas, entah bagaimana lagi dirinya bisa meluruskan kekacauan yang telah terjadi saat ini, dia tidak mungkin terus bersandiwara untuk mencintai wanita yang kini namanya sudah hilang dari hatinya.
***
Di dalam mobil saat Leon mengantarkan Naura pulang ke rumahnya, pria itu masih saja memikirkan Lura yang kini mungkin tengah menangis di kamarnya.
"Kau tampak melamun, Leon?" Pria di sebelahnya yang tidak juga merespon panggilannya membuat Naura sedikit mengguncang lengannya hingga pria itu menoleh sekilas.
"Maaf," ucap Leon.
Naura tersenyum, tidak terlalu merisaukan hal itu, dia kembali berceloteh tentang hubungan mereka yang baru saja diresmikan. "Bagaimana jika kita makan malam dulu untuk merayakan hari jadi kita Simba, kau setuju?" tanyanya meminta pendapat.
Leon menepikan mobilnya, dia tidak bisa membiarkan kesalahpahaman ini berlarut-larut, dan saat menoleh pada Naura yang tampak berbinar kedu bola matanya, dia kembali lemah.
"Ada apa?" tanya wanita itu.
"Percayalah Naura, bahwa kau dulu tidak mencintaiku, dan kau meninggalkan aku karena pernyataan itu," ucapnya.
Naura sejenak tertegun, "aku sudah tidak merisaukan itu Simba, sekarang aku mencintaimu," ucapnya.
Leon menggeleng, "tapi aku tidak lagi mencintaimu," ungkapnya yang membuat wanita di sebelahnya itu terdiam.
"A, apa maksudku?"
"Pada awalnya aku mungkin mencarimu, untuk memastikan apakah perasaanku masih sama seperti dulu, dan ternyata tidak," ucap Leon hati-hati.
Naura tampak kecewa, ada sedikit nyeri di sudut hatinya yang membuat wanita itu kemudian mengerjapkan mata, air bening nyaris turun dari sana, "Kenapa kau tidak menjauhiku sejak awal, kenapa seolah kau memberikan ruang untuk perasaanku terus berkembang," desaknya marah.
Leon menangkap lengan wanita itu yang terus bergerak memukulinya, "Kau memintaku untuk membantumu mengingat kenanganmu Naura, kau yang memintaku untuk itu," ucapnya lirih.
Naura sudah menangis di tempatnya, dan menepis tangan Leon saat pria itu hendak mengusap kepalanya.
"Ada satu pria dalam kenanganmu, namun alam bawah sadarmu menolak untuk mengingat itu," ucap Leon, menjawab kebingungan yang selama ini wanita itu rasakan, kenapa seolah ingatannya sulit sekali untuk terbuka.
"Siapa?" tanyanya dengan mengusap air mata.
__ADS_1
Sejenak Leon merasa ragu, "ayahmu yang tau, sebaiknya kau tanyakan saja pada beliau," ucapnya yang membuat Naura kembali mengerutkan dahi.
"Ayahku, tau?"
Leon mengangguk, dan saat wanita itu mendesaknya untuk menjawab, dia tetap tidak mau bersuara, "sebaiknya kau tanyakan saja pada keluargamu," ucapnya memberi saran.
Naura semakin kebingungan, keluarganya punya rahasia yang dia tidak tau itu apa, namun untuk sekarang wanita itu lebih penasaran tentang perasaan Leon yang sebenarnya, "jadi dengan siapa kau dekat akhir-akhir ini?" tanyanya.
Leon terdiam, namun kemudian berucap juga, "Lura," singkatnya.
Naura tampak tidak percaya, wanita itu kembali mengingat peristiwa apa saja yang mengganjal di antara mereka, tentang gelas-gelas yang Lura jatuhkan saat mendengar percakapan mereka, juga wanita itu yang selalu menghindar saat dia membahas tentang Leon dengannya.
Benar-benar merasa dihianati oleh keduanya Naura memilih keluar dari mobil Leon, namun pria itu mencegahnya.
Sebuah tamparan di pipi atas kekesalan wanita itu akhirnya dia terima, namun Naura tetap saja memilih menghentikan taxi saat dia mengejarnya.
Leon kembali masuk ke dalam mobil, memikirkan langkah apa yang akan dia ambil, dan akhirnya dia memilih untuk kembali ke apartemen Lura.
Sesampainya di sana dan menekan bel di sebelah pintu, pria itu menunggu seseorang membukanya, namun saat benda itu terbuka, kembali segera ditutup oleh pemiliknya.
"Aku ingin bicara," cegah Leon dengan menahan pintu di hadapannya agar tidak tertutup.
Lura menatapnya dalam diam, kemudian berkata, "sebaiknya kita akhiri saja hubungan ini, dan fokus pada urusan masing-masing," ucapnya.
"Aku sudah mengatakan semuanya pada Naura," sambar Leon.
"Kau pasti membuat Naura begitu kecewa?" gumam Lura, tatapannya terlihat kosong.
Leon memeluknya, "Tidak seperti itu, Naura memang harus tau kebenarannya, dan yang ia cari dalam ingatannya itu bukan aku," ucap pria itu.
Lura menatap wajah Leon saat pelukannya sudah terlepas, "maksud kamu?" tanyanya penasaran.
"Sebelum kecelakaan itu dia memang punya pacar, dan kekasihnya itu yang membuat ingatan Naura terkunci begitu lama."
Lura masih belum bisa mengerti, dan dia mendesak pria itu untuk menjelaskannya. "Jika memang Naura punya pacar kenapa orang itu tidak pernah muncul selama ini?"
Leon sempat memilih untuk bungkam, namun wanita itu terus saja mendesaknya, "orang itu sudah meninggal," ucapnya kemudian.
"Meninggal?"
Leon mengangguk, "dan yang membunuhnya adalah Naura," ucapnya yang membuat Lura sempat tidak percaya.
Leon tau tentang ini dari Daniel, saat Naura menjalani pengobatan dengan dokter teman pria itu, Naura selalu menyebut satu nama saat keadaannya setengah sadar, dan setelah diusut ternyata orang itu sudah meninggal, Leon menceritakan semuanya pada Lura.
Lura menggeleng, menolak untuk percaya, namun ikut miris dengan yang dialami saudaranya, "jadi karena pria itu ingin berbuat buruk pada Naura, dia lalu memukul kepalanya dengan vas bunga," ulangnya.
__ADS_1
Leon kembali memeluk wanita di hadapannya, "mungkin Naura tidak sengaja, dia hanya ingin melindungi dirinya, dan hal itu membuat ia trauma, dan saat pulang kecelakaan itupun terjadi."
"Tapi kenapa kasusnya tidak muncul ke permukaan?"
"Karena keluarga Naura sendiri yang menutupinya, orang kaya selalu punya banyak cara Lura," ucapnya setelah melepaskan pelukannya.
Keduanya terdiam, tidak menyangka semua ini akan begitu rumit, "lalu bagaimana dengan Naura?" Tanya wanita itu.
Leon menghela napas, "yang pasti dia tentu meminta penjelasan pada keluarganya," balas pria itu.
"Aku khawatir padanya."
Leon mengusap pipi Lura, meraih tangan wanita itu yang terluka, "apa masih sakit?" tanyanya mengalihkan pembicaraan. "Sekarang berhenti memikirkan tentang hal itu, aku lelah."
Sama Bang hayati juga lelah 🙄🙄
Temen temen pembaca yang aku sayangi, ceilaah.
Aku minta maaf yang sebesar besarnya buat yg pada komen.
Loh kan ini nopel bang bule kok yg dibahas Leon terus.
Loh kok, loh loh
Sebelumnya kan aku udah bilang ya markonah 😭 Bang bule itu udah tamat, itu aku cuman bikin bonus chapter, dan berhubung banyak yg nuntut kisah bang Leon jadi sekalian aku tulis di sini aja biar gak pada penasaran. AKU UDAH BILANG LOH YA.
Dan aku sedih sama yang banyak komentar kek gitu, jadinya Bang Leon pun aku stop sampe di sini, kalo ada kesempatan nanti aku bikin lapak sendiri yang bener bener bahas kisah tentang mereka dengan lebih jelas, di sini Bang Leon dibully mulu atuh lah.
Selain sedih sama komen julid, akoh juga sedih sama level yg gak naik naik.
N: loh thor kan gue udah vote banyak poin, ya sukurin aja thor rank 6 udah bagus.
Bukan ranking Julehaaaa 🤧 level ini gak bisa didongkrak pake poin ya sayangku. Kalo ranking mah aku udah masuk 10 besar aja udah alhamdulillah.
N: Oh level, aku udah level 7 tuh thor rajin buka misi aja ntar juga level naik dapet poin lagi, mayan buat vote 🙄
Bukan level akun Jamaaal 😭 level akun beda lagi, ini level karya loh ya, jadi setiap novel itu dapet level ya. Dan level ku gak naik naik.
N: ya semangat aja thor kan nulis itu hoby masih mending ada yang baca.
Kumenangiiiiisss 😭😭
Jangan lupa ikutin ig aku Adeannisa66 buat tau karya berikutnya. Makasiiih.
__ADS_1
Aku mau enjoy nulis kisah Bang Jino dan Nino, semoga bisa menyenangkan kaya Noisy girl, jan lupa mampir.