
William masih memikirkan bagaimana cara dirinya untuk menghadapi Leon, akankan dia benar-benar mati, tapi nyawanya pun sering kali di ujung tanduk, dan ternyata sampai saat ini ia masih hidup, tidak mungkin ia membiarkan nyawanya hilang hanya karena tindakan Leon, untuk melumpuhkan pria itu pasti dia akan menemukan cara, karena sebagai pemeran utama, pasti akan ada banyak jalan menuju roma.
Pria itu menoleh saat seseorang yang mengetuk pintu, tidak lama pun membuka benda itu.
Davin dengan langkah tegapnya menemui William kemudian mengangguk hormat, "setengah jam lagi, Anda harus menghadiri undangan makan siang dari Tuan besar, beliau berkata, amat mengharapkan kedatangan anda," ucapnya.
William tertegun, dia memang sudah mengabarkan sang ayah bahwa dirinya sudah berhenti dari bisnis ilegal yang selama ini ia geluti, meski tidak sepenuhnya meninggalkan itu tapi setidaknya sang papa tau bahwa namanya sudah bersih, untuk itulah beliau tidak marah lagi.
Pria itu beranjak berdiri, bersandar pada meja dan mengambil hiasan bola yang ia pajang di sana. "Siapa saja yang mendapat undangan makan siang?" tanya William, tanpa mengalihkan pandangannya dari benda di tangannya itu meski tidak penting, dia selalu malas jika membahas masalah keluarga sang papa, belum lagi sudah pasti akan ada banyak drama di dalamnya.
"Sepertinya Tuan Hanan juga datang, menurut informasi yang saya terima, Tuan besar menyiapkan lebih banyak jamuan, tidak seperti biasanya."
William meletakan benda di tangannya ke atas meja, "antarkan aku ke Sana," ucapnya.
Di dalam perjalanan, William yang duduk di kursi penumpang menyibukkan diri dengan ponsel di tangannya, dia berharap mendapat pesan dari Lily, namun pertanyaan terakhir yang ia kirimkan pun belum juga mendapat jawaban, saat dirinya mengaktifkan alat yang terhubung dengan kalung Lily, sepertinya wanita itu menyimpannya di tempat yang berbeda, tidak ada suara-apa-apa di dalamnya.
"Sudah sampai Tuan," ucap Davin yang membuat atasannya itu sedikit terlonjak.
Pria itu menoleh, dan ternyata mereka memang sudah berada di depan kediaman sang ayah, "beristirahatlah Dav, tinggalkan mobilku di sini, biar nanti aku pulang sendiri," ucapnya.
Davin mengangguk, "baik Tuan."
William turun dari mobil, disambut oleh para pekerja sang papa yang seketika menunduk horman dengan kedatangan pria itu.
"Tuan besar berada di belakang, Tuan," salah satu pelayan memberikan informasi tentang keberadaan sang papa. Dan William mengangguk setelahnya, namun pria itu tidak menuju ke belakang rumah, dia menghampiri adik laki-lakinya yang duduk di ujung sofa.
"Bagaimana sekolahmu?" tanyanya basa-basi.
Alan, remaja kelas tiga sma itu mendongak dari ponselnya, "Kak William, senang bertemu dengan kakak lagi," ucapnya antusias.
William tersenyum, mengusap puncak kepala anak itu yang tidak berhenti memamerkan deretan giginya. "Ayo kita main game bersama kak," ajaknya.
William menggeleng, "lain kali saja," ucapnya yang membuat remaja di hadapannya itu sedikit kecewa.
"Kakak William, bolehkah aku bertanya padamu?" Alan sedikit ragu, anak itu tampak merasa malu.
Melihat raut wajahnya yang tampak bersemu William tentu mengerutkan dahi, pria itu kemudian menopang dagu, "sepertinya kau sedang jatuh cinta," tebaknya.
Alan tentu saja kelabakan, dia begitu gugup, bagaimana sang kakak bisa tau tentang hal itu, dan tersenyum canggung ia berikan sebagai tanggapan.
"Kak William, kenapa yah? Saat kita ingin mengajak seorang gadis ke suatu tempat, dan bertanya mau kemana, pasti jawaban mereka selalu saja 'terserah' dan saat aku yang memilih tempatnya, dia pasti tidak suka," ucap remaja itu.
__ADS_1
William kembali mengulas senyum, "jika kalian ingin ke suatu tempat, jangan tanya dia mau kemana, suruhlah gadis itu menebak kalian akan ke mana, dan jika dia sudah membalas, katakanlah bahwa jawabannya adalah benar, biasanya tebakan wanita untuk yang pertama selalu datang dari dalam hatinya." William kembali mengacak puncak kepala Alan saat menyudahi ucapannya.
"Ya itu benar, bisa jadi tempat pertama yang dia sebutkan itu memang tempat yang ingin dia tuju, bukankah begitu? "
William mengangguk," dan kau hanya perlu mengatakan bahwa tebakannya itu benar," ucapnya.
Alan tertawa senang, "oh, ok aku mengerti," ucap anak remaja itu.
Belum sempat menanggapi, kedatangan Hanan beserta keluarganya membuat keduanya menoleh, sejenak mereka berbasa-basi, hingga istri dari kakak tirinya itu beranjak undur diri.
"Saat pesta Paman Lim nanti, apa kau akan membawa pasangan?" Tanya Hanan saat istri dan anaknya sudah pergi mencari sang ibu.
Pertanyaan Hanan membuat William menoleh, dia terlalu malas untuk menanggapi obrolan apapun dengan pria itu sebenarnya, hanya saja terlalu tidak sopan jika dia memilih untuk mengabaikannya." Tentu saja aku akan bawa," jawab William.
Hanan terlihat sedikit terkejut, namun William tau bahwa itu hanyalah pura-pura, "ah sayang sekali, padahal papa ingin mengenalkanmu dengan putri bungsu dari teman bisnisnya, tapi ternyata kau sudah punya kekasih, yasudah lah."
William merasa bodoh sekarang, kenapa dia tidak tau dengan maksud sang papa mengundangnya makan siang. Jika tau akan seperti ini lebih baik dia tidak usah menghadirinya, namun tentu saja di depan Hanan dia berusaha bersikap biasa, ''hanya sekedar menghargai tidak masalah, toh memperbanyak teman tidak ada ruginya," ucap pria itu.
Hanan terdiam, sulit sekali memancing emosi pria di hadapannya ini, dia pun berusaha untuk tersenyum memaklumi," iya kau benar sekali," ucapnya.
William pamit undur diri ke kamarnya, di rumah besar keluarga Handelson, dia memang punya satu kamar di Sana, hanya saja jarang sekali dia tempati akhir-akhir ini.
"Siyal, apa-apaan pria tua itu, benarkah dia akan menjodohkan aku?" William terus menggerutu setelah dia menutup pintu, dasi yang mengendur di lehernya ia lepaskan dan meletakan begitu saja di atas meja.
"Kau mau kemana?" Tanya sang papa saat keduanya berpapasan di depan pintu penghubung ruang keluarga.
"Aku ada urusan papa, dan sepertinya tidak bisa ikut menghadiri makan siang bersamamu," ucapnya.
"William, papa sudah mengundang teman bisnis papa untuk dikenalkan kepadamu, tolong hargai dan jangan pergi," pinta pria itu.
William melangkah mundur dengan menyuguhkan raut wajah yang penuh penyesalan, "Maaf papa, lain kali saja," ucapnya dengan berbalik kemudian beranjak pergi.
"Williaaam!" Albert meneriakan nama putranya, dia benar-benar kesal, namun hanya pada William pria itu dapat melihat sosok dirinya di masa silam.
***
Lily membuka pintu saat suara Ketukan di benda itu terdengar memburu, dan dia terkejut mendapati siapakah yang bertamu. "William," gumamnya dengan menoleh ke sekeliling, dia takut sang kakak masih berada di sekitar sini.
"Aku benar-benar merindukanmu Lily," ucap William dengan mendekatkan wajahnya pada wanita itu.
Lily menghindar, "jangan mendekat, aku tidak suka aroma parfummu," tolak wanita itu.
__ADS_1
William mencium aroma tubuhnya sendiri, begitu segar seperti biasa, seingatnya dia tidak pernah berganti parfum merk lain, kenapa baru kali ini wanita itu tidak suka. "Biasanya tidak masalah," ucap pria itu enteng.
Lily melangkah ke dalam toko bunga miliknya yang sudah tidak lagi dibuka, dan di belakang, William mengikutinya.
"Tapi kali ini berbeda, aku tidak suka," tukas Lily, kemudian berpikir. "Bagaimana kau bisa tau bahwa Kak Leon tidak ada di sini?" tanyanya dengan berbalik menghadap pria itu.
William tersenyum, kemudian menyentuh dadanya sendiri, Lily melirik pada liontin yang tersangkut di lehernya, kemudian kembali mendongak pada pria itu.
"Hatiku," ucap William, "hatiku mengatakan bahwa kau tengah sendirian, dan sudah saatnya aku datang."
Lily tertawa, "dasar pecundang," oloknya, "kau takut pada Kak Leon," sindir wanita itu kemudian.
William duduk di kursi menghadapkan tubuhnya pada Lily, "bukan takut, aku hanya malas ribut, ah iya, aku lapar, kemana kita bisa makan siang?" tanyanya.
Sejenak Lily berpikir, "terserah kau saja," ucap wanita itu.
William melengos, dia lupa dengan trik yang dia sendiri ajarkan pada Alan, pria itu kemudian berdiri dan sedikit mencondongkan tubuhnya pada Lily.
"Coba tebak, siang ini aku akan mengajakmu makan apa?" ucap pria itu.
Lily kembali berpikir. "Pasta?"
"Ok baiklah, kita makan pas–? Eh, pasta?" William bertanya heran, pasta bukan makanan yang buruk, tapi dari sekian banyak pilihan kenapa harus itu. "Tidak ada yang lain? Aku punya bnyak rekomendasi tempat makan siang," ucapnya memberi penawaran.
Lily menggeleng, "aku ingin makan pasta," ucapnya sedikit merengek.
William menghela napas, "ok baiklah, di mana kita bisa makan pasta?" tanya pria itu yang membuat Lily tampak bahagia.
"Aku akan memasaknya sendiri, untukmu, dengan tanganku," ucap wanita itu dengan menunjukkan kedua telapak tangannya.
William tercengang, "bisa tidak kita cari di restoran saja, aku sangat lapar," usulnya.
Lily kembali menggeleng, "aku ingin melihatmu memakan masakanku Will, kumohon kali iniii saja," pintanya.
William memejamkan mata sejenak kemudian dengan tabah mengangguk, "baiklah," ucap pria itu, mau tidak mau harus terima, sepertinya ini karma atas kelakuannya pada sang papa.
Bersambung dulu udah kebanyakan.
Netizen: Woooh Mbak Lily ngidam pasta gigi thor 😆
Author : etolong ya bukan odol ini pasta, nyang orang hajatan. 🙄
__ADS_1
Netizen: Pesta woey 😌 eh ada yg komen kemaren katanya kan baru semalem ya kok langsung halim. 🤔
Author: Atulah tulisan gw yg panas haredang cuman ini ya, dan mereka melakukannya itu bukan cuman sekali, wajar masuk angin soalnya gapake baju, eh gimana 🙄