
William masih berada di toko bunga Lily memandang masakan di hadapannya dengan ngeri.
"Kamu tidak akan mati keracunan, tenang saja," ucap Lily menenangkan.
Pria itu mengambil sendok dan mulai memakan pasta di hadapannya, perutnya yang sedang lapar membuat makanan yang ia santap terasa enak, atau mungkin ini memang enak?
"Bagaimana?" tanya Lily dengan antusias, wajahnya berbinar penuh harap.
William mengangguk, "Lumayan," ucapnya dengan kembali menyuapkan satu sendok ke dalam mulut, "coba saja," ucap pria itu.
Dan melihat Lily menggeleng pria di hadapannya itu mengerutkan dahi, "aku tidak mau makan pasta," ucapnya.
"Jika tidak mau makan ini kenapa memasaknya?"
Lily tersenyum, "untukmu," jawab wanita itu.
Sejenak William tertegun, entah kenapa wanita di hadapannya itu semakin terlihat menggemaskan, dan pria itu tidak percaya, wanita semenggemaskan ini akan tega membunuh dirinya.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Lily curiga.
William menggeleng, kemudian melirik liontin yang tergantung indah di leher Lily. "Apapun yang terjadi Lily, jangan pernah jauhkan kalung itu dari tubuhmu," ucapnya.
Lily melirik liontin yang menjuntai di atas dadanya, kemudian kembali menatap William penuh tanya. "Kenapa? memangnya ada apa dengan kalung ini?"
Tatapan William teduh mengarah pada wajah cantik Lily, kemudian tersenyum. "Kalung itu adalah penghubung, aku akan merasa dekat jika kau terus memakainya, dan sepertinya sepagian tadi kau melepaskan benda itu," tebak William.
Lily sedikit terlonjak, "aku hanya melepasnya sebentar, tapi bagaimana kau bisa tau?" tanyanya sedikit curiga.
"Kan sudah kukatakan, kalung itu penghubung, aku akan merasa rindu jika kau menjauhkan nya dari tubuhmu," ucap William sunggu-sungguh, namun wanita di hadapannya justru menganggap dia sedang bercanda, hingga kemudian tertawa.
"Memangnya sehebat apa kalung ini, apa dari sini kau dapat mendengar suaraku meskipun jauh?" Lily bertanya saat tawanya mulai reda.
William tertegun di tempatnya, namun kemudian menanggapi candaan wanita itu dengan ikut sedikit tertawa.
"William, boleh kuminta satu hal lagi padamu?"
Kalimat itu membuat William yang fokus dengan makanan di hadapannya kemudian mendongak. "Apa, katakanlah."
Lily sedikit ragu, dan pria di hadapannya itu tampak menunggu, "jangan pernah datangi tempat ini lagi Will, jangan temui aku, aku takut Kak Leon memergokimu," ucapnya khawatir.
"Bagaimana dengan pesta yang kuceritakan, apa kau boleh ikut?" William mengambil tisu untuk mengelap bibirnya, pria itu tampak menunggu wanita di hadapannya kini yang diam saja.
Lily tampak menoleh ke ruang kosong di sudut tempat itu, dan tampa ia sadari William memperhatikan pergerakannya.
__ADS_1
"Ly?" panggil pria itu saat Lily terlihat ragu.
"Besok malam kan pestanya, pukul berapa?" tanyanya lirih.
William tersenyum, "jam delapan malam, bisa?" tanyanya.
Lily mengangguk, "jemput aku jam tujuh malam," ucap wanita itu yang menerbitkan kembali senyum di bibir William. "Kau tidak bertanya bagaimana caranya aku meminta izin pada Kak Leon?" sindirnya.
William mengacak rambut kepala Lily dengan gemas, "Kau wanita yang pintar, pasti kau tau caranya menghindar, aku tunggu kabar darimu besok malam," ucapnya kemudian beranjak berdiri.
"Mau kemana?" tanya Lily yang ikut berdiri.
"Aku harus pulang Sayang, di sini berbahaya," balas William setengah bercanda.
Ada gelenyar aneh dalam hatinya saat pria itu memanggilnya sayang, Lily sadar wajahnya pasti memerah kali ini, dia benar-benar tersipu. "Hati-hati di jalan," ucapnya dengan tersenyum.
Sebelum berpisah, William sempat terdiam, beberapa detik keduanya saling bertatapan. William mengusapkan buku jarinya pada pipi Lily, tatapannya teduh menyelimuti raut cantik wajah Lily yang entah kenapa terlihat merasa bersalah.
"Aku percaya padamu Ly, percaya bahwa kita akan bersama, kuharap kau juga begitu, aku sangat mencintaimu."
Mendengar itu Lily mengerjap pelan, mulutnya yang terbuka secelah menandakan ada yang ingin ia sampaikan pada pria di hadapannya, namun kemudian ia urungkan.
Lily terduduk dengan wajah bingung di kursi, tempat William dengan lahap memakan masakannya beberapa saat tadi, dan kini pria itu telah pergi, ada perasaan bersalah yang teramat sangat hingga air mata yang ia tahan mati-matian seketika jatuh ke pipi, wanita itu menutup wajahnya kemudian menangis.
Lily masih tersedu, dia tidak menyangka akan benar-benar menghabisi pria itu, "aku tidak bisa melakukannya Kak," ucapnya dengan mendongak, air mata yang terus luruh ia biarkan begitu saja. "Aku tidak bisa," ungkapnya.
Leon berdecak sebal, mendekati Lily dan mengguncang kedua pundaknya. "Kau seharusnya tau, sadarlah Lily, dengan dia menaruh alat penyadap pada liontinmu seharusnya kau mengerti, ada niatan tidak baik dari laki-laki itu terhadap dirimu," ucapnya mengingatkan, dengan gemas terus mengoceh panjang lebar agar adiknya bisa paham. Perasaan Lily sudah dibutakan oleh lelaki itu, dan tentu saja Leon tidak bisa tinggal diam.
"Kita tetap harus menjalankan rencana yang kita susun dari awal, kau pasti bisa Ly," ucap Leon menyemangati.
"Apa kita tidak harus lihat dulu apa isi dari kartu memory itu?" tanya Lily melirik liontin di tangan Leon yang terbuka.
Leon menggeleng, "tidak penting, kau simpan saja," ucapnya dengan memberikan kalung pemberian William ke tangan Lily, kemudian beranjak pergi.
Wanita itu menggenggamnya dengan nelangsa, perasaannya harus ia buang seiring dengan pria itu yang telah lancang mengusik kehidupannya.
Dia tidak habis pikir mengapa William menaruh alat penyadap di kalungnya, dan dengan bodoh selama ini dia tidak pernah menyadarinya. Kenyataan itu benar-benar menghancurkan kepercayaan Lily, merobohkan perasaan wanita itu yang mati-matian ia bangun sendiri. Lily benar-benar merasa kecewa.
***
Suara bel di pintu rumahnya membuat Justin bertanya-tanya, siapakah malam-malam begini mengunjungi kediamannya. "William?" ucap pria itu saat mendapati seseorang yang berdiri di hadapannya.
Justin keluar, mengajak pria itu duduk di teras, dari raut wajahnya yang tampak murung dia dapat menduga terjadi apa-apa dengan sahabatnya.
__ADS_1
"Katakanlah Will," ucap Justin.
William yang tampak melamun kemudian menoleh, dia menceritakan bahwa Leon telah menyadari isi liontin yang diberikan ya pada Lily. "Dia sengaja menjebakku untuk datang, dan aku dapat melihat dia bersembunyi di balik tembok rumahnya itu, aku harus bagaimana?" tanyanya.
Justin menghela napas, "seharusnya dia juga bisa tau isi kartu memory di dalamnya kan, atau dia sengaja tidak membukanya."
William menggeleng," jika memang isi memory itu dia putar, pastinya dia sudah tau kebenarannya, bukan malah menjebakku seperti ini."
"Apa sebaiknya kau batalkan saja semuanya, menghindar dulu dengan tidak melakukan apapun, dengan begitu kau akan aman," usul Justin.
William berdecak, "aku tidak sepengecut itu Just, jika memang mereka menginginkan nyawaku, untuk menebus rasa sakit mereka atas kematian ayahnya, aku harus siap, toh hidupku sudah tidak berarti apa-apa."
Melihat sahabatnya begitu putus asa, Justin menepuk pundaknya, menyerongkan duduknya menghadap pria itu. "Kau tidak perlu khawatir, ikuti saja permainannya."
Melihat begitu yakin Justin terhadap ucapannya, William menoleh, pria itu seperti mendapatkan sebuah harapan baru. "Terus?"
"Pesta Paman Lim terlalu meriah jika memang mereka akan beraksi di sana, kurasa kau pasti akan dibawa kesuatu tempat." Justin menggambarkan dugaannya.
"Lalu aku harus bagaimana?" Tanya William, diliputi perasaan was-was membuat otaknya sulit berpikir.
Justin kembali menepuk pundak sahabatnya itu, "nanti kukabari lagi, sekarang pulanglah, untuk menghadapi kenyataan yang terkadang pahit, kau butuh banyak beristirahat."
William berdecak sebal, meski senyumnya terlihat sinis, tapi pria itu sangat berterimakasih pada sahabatnya.
"Jika ingin menangis, menangis saja," sindir Justin.
William melengos, "yang benar saja."
***
Netizen: Kenapa kemaren gak up thor? 🙄
Author : Capek tau mikirin alur, trus nyusun kata kata biar enak dibaca, wajar lah kalo aku libur seminggu sekali. 😌
Netizen: ya seenggaknya ngomong kek kan gw gak nungguin 😒
Author : iya minta mangap, gw hilap, gw pikir bakal bisa update ternyata gak bisa, mangap dah. 🙄
Yatapi gak harus komentar dibilang authornya mati juga, kan gue gedeg banget jadinya. Gw update tiap hari ya sukimin, trus pas gak update sehari lu kata mati, sini-sini gw tampol sendal jepit mulut lo biar dower.
Netizen: sabar thor sobaaar. 😜
Author: Erosiii 😣 kalo gak mau up telat bantuin cari ide dong kedepannya kekmana maunya, kan gw juga bingung. 🙄
__ADS_1
Netizen: Ada kang nulis kek begini minta ide ma pembacanya