
Entah sudah gelas keberapa Leon menghabiskan minumannya, pusing di kepala pria itu membuat dirinya nyaris tidak sadarkan diri, "berikan aku satu gelas lagi," Pintanya pada bartender yang dengan patuh menuangkan cairan beralkohol pada gelas yang disodorkan pria itu.
Leon sudah membuka vidio yang William maksud, dan mendapati kenyataan itu dia sungguh merasa tidak terima, sebagian dari dirinya justru amat tidak percaya, dan sampai kapanpun dia tidak bisa untuk mengakui kebenarannya.
Pria itu mengernyit saat cairan pahit mengalir di tenggorokannya entah untuk ke berapa kali, Leon menjambak rambutnya sendiri, mengurangi rasa pusing di kepalanya yang semakin menjadi.
"Kak Leon?"
Panggilan itu membuat Leon menoleh, matanya yang memerah terlihat sedikit menyipit untuk mengenali siapa wanita yang menyapanya, dan kemudian pria itu tertawa, "Kau?" ucapnya.
Lura mengernyit saat mencium bau alkohol yang begitu menyengat dari mulut kakak sahabatnya itu, "sepertinya kau terlalu bnyak minum," ucapnya dengan menghalangi pelayan di bar itu untuk menuangkan minuman ke gelasnya lagi.
"Berikan aku satu lagi," Pinta Leon yang lagi-lagi dicegah oleh Lura. Leon menoleh geram, turun dari kursi tingginya dengan sedikit limbung menyongsong wanita itu, "bisa kah kau tidak usah ikut campur dengan urusanku," bisik pria itu dekat sekali dengan telinga Lura, hembusan panas yang menerpa daun telinganya membuat wanita itu menahan napas.
Lura sedikit terkejut saat Leon menarik tubuhnya dan menghimpitkan pada meja bar, dia mengerjap takut dengan jantung yang berdegup gugup. "Kau terlalu mabuk Leon," protesnya.
Leon tertawa, meski kalah nyaring dengan hentakan musik yang amat bising di tempat itu, tapi masih dapat terdengar samar di telinga Lura, hingga wanita itu dapat merasakan bahwa Leon tengah kecewa. Tapi kenapa?
Sudah beberapa minggu ini dirinya bahkan belum bertukar kabar dengan Lily, dan sekarang malah berjumpa dengan kakaknya di tempat ini. "Pulang lah Kak, Lily pasti mengkhawatirkan kamu," saran Lura dengan mendorong tubuh pria itu agar menjauh.
Leon menggeleng, hingga tidak lama kemudian ambruk tidak sadarkan diri menimpa tubuhnya yang dengan sigap menguasai diri.
***
Cahaya yang menyusup dari balik jendela kamar Lura, membangunkan pria yang tertidur di kamar itu saat dia membukanya.
Leon menyentuh kepalanya yang masih terasa berat, tertidur tengkurap di kasur empuk yang baru kali ini ia lihat, dan yang pasti bukan kamar miliknya saat menyadari selimut berwarna Pink yang menutupi sebagian tubuhnya.
"Sudah bangun? Aku membawakan sarapan untukmu," ucap Lura dengan menunjuk roti senwich di atas meja yang beberapa saat lalu ia meletakannya.
Leon mengangkat kepala, "Kenapa aku bisa berada di sini?" tanyanya.
"Kau begitu mabuk hingga tidak sadarkan diri, dan membawamu pulang ke toko Lily terlalu jauh, jadi kuputuskan saja untuk membawamu ke apartemenku ini." Lura menjelaskan panjang lebar.
Leon sedikit terkejut saat mendapati dirinya bertelanjang dada, pria itu menatap Lura dengan pandangan yang curiga.
"Tolong jangan menatapku seperti itu, bajumu terlalu kotor dan bau alkohol. Jadi aku berinisiatif untu mencucinya.
__ADS_1
Sebenarnya Leon tidak merasa peduli, meski sahabat adiknya ini terkenal sebagai wanita panggilan, tapi dia tau bagaimana menjaga batasan, terlebih dirinya adalah orang yang dia kenal.
"Aku akan mengabarkan pada Lily bahwa kau berada di sini," ucap Lura yang seketika membuat Leon yang sibuk memijat kepalanya itu seketika menoleh.
"Bisa kau rahasiakan saja, aku sedang tidak ingin berdebat dengannya," tolak Leon.
Lura tentu saja tidak mengerti, tapi mungkin pria di hadapannya ini sedang ada masalah yang tidak ingin dibagi-bagi, "baiklah," ucap pria itu.
"Punya handuk? Aku ingin mandi," ucap Leon saat sudah menurunkan kedua kakinya dari ranjang, duduk di tepian benda itu.
Lura segera beranjak ke lemari, mengambil handuk bersih, juga satu set baju pria yang ia simpan di tempat itu. "Milik pacarku, dan sudah putus beberapa bulan yang lalu, kau dapat mengenakannya jika mau," tawar wanita itu.
Mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Lura, Leon tidak tampak terkejut, dia juga tidak ambil peduli, baginya sudah cukup dia punya baju ganti untuk saat ini, "terimakasih," ucap pria itu.
Tubuh Leon sedikit limbung saat dia beranjak berdiri hendak ke kamar mandi, dan dengan sigap Lura menahannya, untuk sesaat pandangan keduanya saling bersitatap.
"Oh, sory," ucap Lura dengan melepaskan lengan kekar Leon dari cengkraman jemarinya yang lentik, wanita itu tersenyum canggung.
Leon tidak menanggapi, menoleh pada foto yang terpasang di dinding dan mengerutkan dahi saat melihat gambar siapa yang terbingkai di benda itu, dia pun mendekati.
"Dia sepupuku," jawab Lura tanpa menunggu ditanya.
Namun Lura tetap dapat mendengarnya, dan dia merasa bingung, "Darimana kau tau?" tanyanya.
"Dimana dia sekarang?" Leon bertanya.
Ada sedikit kecewa yang terpancar dari raut wajah Lura, saat pria tampan itu lebih tertarik dengan saudaranya. "Jika kau teman lama Naura, percuma saja, dia tidak akan mengenalimu, kecelakaan yang terjadi satu tahun yang lalu membuat ingatannya terganggu."
Leon tertegun, benarkah seperti itu? Kenapa dia tidak tau tentang kabarnya selama ini, dua taun yang lalu mereka berpisah saat wanita itu memutuskan pergi jauh dari tempat ia tinggal, dan Leon tidak tau kapan wanita itu telah kembali.
Lura dapat menangkap senyum tipis Leon, saat mata pria itu menatap ke arah foto yang terpajang di sana, dan harapannya untuk dekat dengan pria itu mendadak sirna entah kemana.
***
William sudah bersiap akan pergi menghadiri undangan dari keluarga besarnya saat Lily menarik kemeja pria itu untuk menghadap kepadanya.
"Kau sudah berjanji untuk menunjukkan rekaman cctv itu, Will," tagih Lily.
__ADS_1
William tertawa pelan, "Memangnya kau sudah siap melihatnya," ucap pria itu.
Lily mengangguk, dia bertekad untuk tetap tegar jika memang pahit kenyataan yang harus ia terima nantinya. "Ayolah, aku tidak masalah," bujuknya.
Setelah mengambil laptopnya di dalam kamar, William mengajak Lily untuk duduk di sofa bersebelahan dengan pria itu, raut wajahnya yang tampak tegang membuat William tidak tahan untuk tidak mengusap puncak kepalanya.
"Malam ini aku akan mengatakan pada keluargaku bahwa kita akan segera menikah," ucap William sembari menunggu benda di hadapannya itu menyala.
Lily menoleh ragu, kali ini raut wajahnya tampak gugup, dan William tersenyum karenanya, wanita kesayangannya ini mudah sekali ditebak suasana hatinya, sungguh menggemaskan.
"Aku belum siap untuk bertemu keluargamu, Will," jawab Lily, meski tidak fokus pandangannya mengarah pada laptop William yang mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
"Untuk itu aku tidak mengajakmu sekarang, tapi nanti kau pasti akan segera aku kenalkan," tekad William.
Lily tidak menanggapi, mulai fokus pada rekaman cctv yang menampilkan sosok William juga sang ayah yang mengobrol saling berhadapan di meja kerja ayahnya.
"Kami berdebat waktu itu, dan kakakmu Leon belum datang, aku menolak kerjasama yang ditawarkan beliau bukan tanpa alasan, karena perusahaan kalian memang tidak lagi ada harapan," ucap William sembari memperhatikan raut wajah Lily yang tampak tegang.
Wanita itu membungkam mulutnya dengan telapak tangan, saat vidio menampilkan api yang membakar ruangan itu juga melahap tubuh sang ayah. William menarik kepala Lily ke dalam pelukan, membiarkan wanita itu menangis di dadanya, dan dengan sebelah tangan pria itu mematikan laptop di hadapan mereka.
"Ayahmu membakar semua dokumen penting miliknya di hadapanku, dia sengaja akan melakukan sabotase pada perusahaannya, agar mereka dapat asuransi, tapi api itu mengenai cairan mudah terbakar yang ia letakkan dibawah meja," ucap William menjelaskan, dan wanita itu masih saja sesenggukan di pelukannya. "Menurut investigasi, beliau memang sengaja ingin membakar satu lantai di gedung itu, tapi hingga sampai mengenai dirinya sendiri tentu kamipun tidak dapat menduganya, saat itu Leon datang dan hendak menolong ayah kamu tapi percuma, api itu justru ikut melahap tubuhnya." William mengakhiri ceritanya, mencium puncak kepala Lily untuk menenangkan wanita itu.
Lily mendongak, menatap mata William yang jernih penuh ketulusan,"dan kau menolong Kak Leon," ucapnya pelan.
William tertegun," Maaf hanya kakakmu yang bisa kami selamatkan," ucapnya.
Di sela tangisnya Lily menggeleng, "bodohnya kau Will, kamu sudah menolong Kak Leon tapi saat kami membencimu bahkan berniat buruk padamu kau malah diam saja," ucapnya marah, dengan memukul tubuh pria itu hingga William menangkap pergelangan tangannya.
"Aku tidak mau kau dan Leon kecewa pada ayah kalian sendiri," ucap William hati-hati.
Lily mengusap air matanya yang membasahi pipi, percuma jika terus ditangisi, toh semua itu tidak dapat diperbaiki. Apalagi untuk diputar kembali, yang terpenting sekarang semua baik-baik saja, dan William bukanlah orang jahat yang seperti mereka kira.
"Will?" ucap Lily dengan menatap pria yang juga mengarahkan pandangan pada dirinya.
"Iya, Lily," ucapnya.
"Terimakasih untuk semuanya, untuk perasaan tulusmu, untuk kesabaranmu juga, terimakasih," ucap Lily dengan memeluk erat tubuh pria itu.
__ADS_1
William balas memeluknya, "Terimakasih juga untuk hatimu yang begitu lembut, aku benar-benar mencintaimu Lilyana."