Gadis 100 Juta

Gadis 100 Juta
Panik


__ADS_3

Lily memutuskan untuk nanti saja mengatakan pada William tentang kehamilannya, karena sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk membahas hal itu.


"Will, bisa kah kau antar aku ke suatu tempat?" tanya Lily yang membuat William sejenak menoleh, dan saat kembali fokus pada jalan raya pria itu bertanya.


"Kemana?"


"Di depan nanti belok kanan," ucap Lily memberi perintah, setelah menoleh ke belakang untuk memastikan mobil sang kakak benar mengikutinya.


Lily terlihat gelisah, dia harus menyelamatkan William Bagaimanapun caranya, karena wanita itu tidak akan membiarkan anaknya nanti lahir tanpa memiliki seorang ayah, dan saat sang kakak menyuruhnya untuk belok kiri dia justru malah meminta William untuk menuju ke arah yang berlawanan.


Ponsel di tangannya bergetar, pesan dari Leon yang memberitahukan bahwa dia salah menunjukkan arah, orang-orang Kak Leon pasti sudah menunggu di tempat yang mereka sepakati, dan Lily tidak mau membawa William ke sana.


William sudah curiga saat Lily mengajaknya menuju ke suatu tempat, dan saat ia melirik spion dalam pada kendaraannya, mobil hitam yang ia yakini milik kakak wanita itu tampak terus mengikuti mereka.


Pria itu sungguh kecewa, mungkinkah ini akhir dari hidupnya, dan pelaku utama adalah orang yang benar-benar ia cinta.


"Setelah ini kita ke arah mana?" William bertanya.


Dan Lily yang melamun tampak sedikit terkejut, dia jadi bingung sekarang, dan tentu saja tidak tau harus bagaimana.


"Ly, kau baik-baik saja? Sebenarnya kamu mau ke mana?" Tanya William sembari memperlambat laju kendaraannya sebelum sampai di tikungan.


Lily menggeleng, "kemana pun Will, asal kau bisa selamat dari jebakan Kak Leon." Lily berucap dengan bergetar, tidak menyangka ternyata dia malah menjadi penghianat untuk kakaknya sendiri.


William mengerutkan dahi, namun reaksinya yang tidak tampak terkejut membuat Lily berpikir.


"Apa sebelumnya kau sudah tau rencana Kak Leon?" tanya Lily dengan menatap raut wajah William yang begitu terlihat tenang, padahal nyawanya kini tengah terancam.


"Aku tau kau akan menjebakku untuk mendatangi orang-orang Leon, dan yang membuatku bingung kenapa kamu menyuruh aku kabur dari kakakmu?"


"Jika kamu tau semuanya kenapa kamu tidak pergi saja, kenapa kamu malah seolah sengaja menyerahkan diri Will, Kak Leon akan membunuhmu dan itu tidak main-main." Lily berucap panjang lebar dengan marah, menoleh pada mobil di belakangnya yang tampak mengejar, dan pria di sampingnya itupun semakin cepat melanjukan kendaraannya.

__ADS_1


William melirikkan pandangannya pada spion dalam, mengamati kecepatan kendaraan yang dibawa Leon dan mempercepat kemudinya sendiri. "Jadi kamu sekarang berada di pihak sipa Lily?"


Ditanya seperti itu Lily jadi ragu, dia tidak ingin William celaka, begitu juga dengan sang kakak, dia bingung bagaimana cara menyatukan keduanya.


William tampak menghubungi seseorang dengan alat yang tersangkut di telinganya, meski tidak ada yang melihat, pria itu tampak mengangguk, dan setelah mengakhiri sambungan, dia kembali menoleh sekilas pada Lily yang masih terlihat kebingungan.


"Lily katakanlah, apa kau tidak ingin aku mati?"


Seiring pertanyaan itu terlontar, Lily mengeratkan jemarinya pada pegangan yang terdapat di atas pintu mobil, wanita itu sedikit ngeri dengan betapa cepatnya laju kendaraan yang mereka tumpangi.


"Lebih tepatnya aku tidak ingin ayah dari anak dalam kandunganku ini mati."


Decitan ban mobil terdengar nyaring saat William reflek menginjak Rem untuk menghentikan laju kendaraan yang dia bawa, hingga keduanya nyaris terlompat ke depan jika tidak mengenakan sabuk pengaman.


William menatap Lily dengan diam, tenggorokannya yang tercekat, membuatnya kesulitan berkalimat. "Ka, kau," ucapnya dengan terbata, "hamil?"


Belum sempat Lily menjawab, kendaraan yang ditumpangi Leon dengan sengaja menabrak mobil yang keduanya tumpangi, hingga sedikit terdorong dan membuat mereka menoleh terkejut.


Leon dengan marah mengetuk kaca mobil yang terdapat sang adik di dalamnya. Lily sudah menangis ketakutan, wanita itu melepaskan sabuk pengaman dari tubuhnya.


Sesaat Lily terdiam, gedoran di pintu yang semakin kuat membuat wanita itu bertambah takut, dan setelah menelan ludah dia pun mengangguk mengiyakan.


William tertawa tanpa suara, pria itu terlalu senang hingga tidak bisa berkata-kata, dan ancaman Leon yang terdengar di luar sana membuatnya segera membuka kunci pada mobilnya.


Leon menarik Lily untuk keluar dari mobil dengan kasar, pria itu terlihat sangat marah, "Kenapa kau mengacaukan rencana kita Lily," omelnya dengan mencengkram kuat lengan wanita itu.


William yang entah sejak kapan sudah berada di antara mereka dengan berani menyentuh tangan Leon agar tidak menyakiti Lily, "tolong jangan kasar terhadap Adikmu," lerainya.


Namun Leon malah mengacungkan senjata api pada William hingga membuat Lily membelalak. "Meskipun rencanaku tidak berjalan dengan baik, tapi membunuhmu adalah poin penting malam ini," ucapnya dengan nada mengancam.


Lily menggeleng, segera melangkah ke arah William dan menghalangi tubuh pria itu, membentangkan kedua tangannya menghadap pada sang kakak.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan Lily!" teriak Leon marah, pria itu menoleh saat satu buah mobil hitam berhenti di antara mereka, dan Justin juga orang-orangnya, keluar dari dalam sana.


Leon tertawa keras, "jadi seperti ini, kau yang balik menjebakku dengan mendatangkan orang-orangmu Will?"


Justin yang keluar dari mobil, dan melihat apa yang telah terjadi mencoba untuk membaca situasi, pria itu tidak pernah menduga bahwa keadaannya akan sesulit ini.


"Bang, jadi ini musuhnya yang mana?" Ardi sempat-sempatnya bertanya pada sang kakak yang tampak berusaha untuk mencerna.


Justin berdecak, "pantau saja," ucapnya dengan kembali memusatkan perhatian pada William yang tampak berdiskusi dengan lawannya.


"Ini boleh dividioin nggak si," pertanyaan Ipang mendapat sikutan dari Agung sahabatnya, pria itu mengaduh.


"Rumit banget, emang nggak bisa dibicarakan baik-baik, duduk di sofa sambil ngopi gitu, pake todong-todongan senjata segala." Edo sahabat Ardi yang sengaja diajak untuk mengamankan situasi, ikut berkomentar dan hanya ditanggapi lirikan jenaka dari teman-temannya.


Suasana mulai terkendali saat Leon akhirnya menurunkan senjata yang ia acungkan pada pria di hadapannya, hingga kedatangan teman-teman Leon yang membantu menyusun rencana tanpa aba-aba melepaskan senjata api ke udara, dan suara letusannya membuat kepanikan bagi mereka yang berada di sana.


Tidak hanya sampai disitu, kedatangan mereka yang keroyokan juga langsung melakukan penyerangan, tentu saja Justin dan orang-orangnya tidak bisa tinggal diam, dan baku hantam semakin tidak terkendali hingga salah satu dari mereka dapat dilumpuhkan.


Leon melepaskan tembakan ke udara untuk menghentikan perkelahian di antara mereka, dan hal itu mendapat protes dari Dion, yang adalah sepupu dari pria itu.


"Leon bodoh! Kau seharusnya sudah membunuh William, untuk membalas sakit hati atas kematian Paman Jonathan, kenapa kau malah ragu," teriak pria itu.


William yang sudah bergabung dengan Justin juga teman-temanya itu masih terengah setelah berkelahi dengan orang-orang Leon yang kini sudah dapat dilumpuhkan, pria itu menoleh pada Lily yang berlari ke arahnya, seiring suara letusan dari senjata api milik Dion yang pria itu tuju pada William, Lily sudah sampai di pelukan pria itu.


William jatuh terduduk saat wanita yang memeluknya itu kemudian ambruk menimpa dirinya, "Lily!" darah segar yang mengalir dari lengan wanita itu membuat William berteriak histetis, begitu juga dengan Leon yang langsung memukul sang sepupu atas tindakan cerobohnya.


Ni kalo sinetron chanel ikan terbang tau-tau adegannya udah pindah ke rumah sakit ya, mana rumah sakitnya gak ganti-ganti lagi 🤣


Netizen: Eh, ini udah bersambung thor 🙄


Author: udah woy, besok lagi 😂

__ADS_1


Netizen: Yaelah keburu mati kehabisan darah Mbaknya nungguin besok thoor, tegaa!! kumenangiiiiis 😭😭😭


Author: Bodo amat yg penting update, daripada dikira gw yg mati gara gara gak update. 😌


__ADS_2