Gadis 100 Juta

Gadis 100 Juta
Bujukan


__ADS_3

"Senang kau sudah dapat melihat kembali Leon Fernandes," ucap William, namun pria di hadapannya itu diam saja, tatapannya lekat pada William, kemudian beralih pada sang adik, bertambah geram saat mendapati tangan mereka saling bertaut.


Lily reflek melepaskan genggamannya dari jemari William, kemudian menghampiri sang kaka yang terlihat begitu seram. "Kak Leon," ucapnya lirih.


Leon merenggut lengan sang adik dengan kasar, membuat wanita itu kemudian mengernyit, "apa yang kalian lakukan di belakangku Lily, kau," ucapnya tercekat, begitu terkejut melihat adik kesayangannya itu begitu dekat dengan musuh mereka.


William mendekat, menyentuh tangan Leon yang mencengkram lengan Lily, pria itu berkata agar jangan kasar pada adiknya sendiri.


Tentu saja Leon begitu murka, ditepisnya tangan William dari lengannya, kemudian mengacungkan telunjuknya pada pria itu, "Kau pembunuh ayahku, dan sekarang mempengaruhi adik Perempuanku untuk iba kepadamu, hen." Leon tertawa sinis, "hebat sekali kau," imbuhnya menyindir.


Mendapati telunjuk Leon yang begitu dekat dengan hidung mancung nya, William kemudian membuang muka, lalu kembali menoleh pada pria itu saat tangannya sudah ia turunkan ke tempat semula. "Adikmu tidak salah jika memang dekat denganku, dan aku bukan pembunuh," ucapnya berusaha untuk menyangkal.


Leon menyuruh Lily untuk masuk ke dalam toko bunga, dia tidak mau adiknya ikut campur dengan perdebatan mereka. Pria itu tertawa sinis, kemudian memberikan tatapan tajam pada William yang justru terlihat begitu tenang, "aku sudah dapat melihat sekarang, dan tidak akan bisa kau kelabuhi lagi Tuan William yang terhormat," ujarnya.


William memasukkan tangannya ke dalam saku celana, "aku tidak pernah mengelabuhimu," sangkalnya.


Leon menyongsong pria di hadapannya itu kemudian menarik kerah bajunya, "Kaupikir aku tidak tau kau sering mengunjungi kami tanpa mengatakan padaku," hardiknya dengan menahan emosi.


William tetap tenang di tempatnya. "Aku tau bahwa kau menyadari keberadaanku, dan saat kau mengetahui sosok diriku untuk yang pertama kali akupun tau, tapi yang kau tidak tau, bukan aku dalang dari peristiwa kebakaran itu."


"Omong kosong!" Leon menyentakkan tangannya dan melepaskan cengkraman pada kerah kemeja William. "Pergi lah sejauh yang kau mampu, karena aku akan terus membayangi ke mana langkahmu itu William, kau tidak akan merasa tenang."


William mengulas senyum, baginya ancaman Leon bukanlah apa-apa, karena dia sudah sering mendapat ancaman yang jauh lebih berbahaya,"aku tetap di tempatku jika kau kesulitan menemuiku, Leon," ucapnya lembut, namun terdengar tajam dan begitu menusuk bagi pria di hadapannya itu.


"Siaalan!

__ADS_1


***


"Leon telah kembali," ucap William yang membuat sahabatnya yang duduk di sofa tunggal sibuk dengan berkas-berkas di tangan itu sejenak menoleh, namun kemudian sibuk lagi.


"Terus?" tanya Justin tanpa minat.


William menghela napas, dia tau sahabatnya itu telah bosan jika mendengar pembahasan tentang ini, tapi harus dengan siapa lagi dia bercerita, "dia berencana akan membunuhku," ucapnya.


William dapat melihat pria di hadapannya itu menghentikan gerakan, kemudian mendongak dari benda yang ia genggam di tangannya. "Kau yakin?" tanya Justin setelah meletakan berkas-berkas yang ia baca ke atas meja.


Justin mengerutkan dahi saat sahabatnya itu bercerita tentang rencana Leon untuk menghabisinya saat pesta Paman Lim, tidak lupa juga pria itu menjelaskan langkah apa yang akan Leon ambil untuk memuluskan rencananya. "Dan kau diam saja?" Justin pun bertanya.


William menyandarkan tubuhnya pada sofa, mengusap wajahnya dengan gusar "aku harus bagaimana?"


Mendengar keluhan sahabatnya yang terdengar putus asa, Justin memang mengakui bahwa cinta dapat membodohkan segalanya, "ada seseorang yang berencana membunuhmu dan kau diam saja?" tanyanya geram.


Justin sedikit mencondongkan tubuhnya pada William yang masih bersandar pada sofa, "jika dia punya rencana, maka kita juga harus membuat rencana juga, kapan pesta Paman Lim diadakan, masih lama kan?"


William menoleh, "pestanya dimajukan, tinggal beberapa hari lagi," ucapnya menjelaskan.


Justin tercengang, "Mati lah kau William," ucapnya mengingatkan.


***


Lily tidak mengerti kenapa hatinya begitu luluh pada William, bahkan sampai saat ini dia menangis di hadapan sang kakak yang duduk memperhatikannya itu, dia tidak mampu untuk memberikan alasan yang tepat kenapa kami bisa kedapatan bersama.

__ADS_1


"Jawab Ly, sejauh mana hubunganmu dengan pria bernama William itu," desak Leon.


Lily menggeleng, namun dia bingung harus berkata apa, dan untuk Kali ini Leon sudah dapat membaca dari raut wajahnya.


"Breengsek!" Leon berteriak marah, pria itu menghampiri sang adik yang duduk di sofa menangis di hadapannya. "Apa yang pria itu lakukan padamu Ly, katakan pada kakak apa yang terjadi padamu," desak pria itu.


Lily terus menggeleng, dan Leon putus asa karenanya, tidak mungkin Lily berani mengatakan bahwa William telah membelinya dengan mahal, tidak mungkin juga wanita itu jujur pada sang kakak bahwa kehormatannya sudah diberikan pada pria itu.


"Ingat Ly, William itu musuh keluarga kita, dia yang telah membunuh ayah, dia yang telah menghancurkan semuanya."


Lily terus menatap pria di hadapannya yang berlutut menggenggam jemarinya, air mata di pelupuknya yang menggenang membuat bayangan pria tampan itu kabur dari pandangan, wanita itu hanya mampu menangis tanpa berkata apa-apa.


"Kakak akan tetap menjalankan rencana yang sudah ada, dan kau harus terlibat di dalamnya." Leon berkata tegas. Beranjak berdiri dan membelakangi adiknya itu.


Lily terhenyak di tempatnya, wanita itu mendongakkan kepala, melihat keseriusan pria itu yang mungkin tergambar dari raut wajahnya."Aku tidak mau Kak," tolak wanita itu.


Leon membalikkan tubuhnya dengan cepat, kembali berlutut dan menangkap lengan adiknya. "Kau harus mau, bunuh perasaanmu Ly, bunuh semua rasa iba yang ada dalam hatimu untuk pria itu, dan bunuh orangnya demi ayah."


Lily menggeleng dengan kuat, "aku tidak mau jadi pembunuh Kak, jika memang benar pria itu yang membunuh ayah, dan kita kemudian membunuhnya, apa bedanya kita dengan William," ucapnya.


Leon menggeleng, pria itu terus membujuk Lily dan meyakinkan wanita itu bahwa apa yang akan mereka lakukan adalah benar, pria itu terus memaksa Lily untuk sadar dan kembali ke rencana awal," Kau sudah dibodohi oleh William, kau dibutakan rayuan manis pria itu, kumohon sadar Ly, William tidak benar-benar mencintaimu."


Sejenak Lily tertegun, sang kakak yang terus membujuknya itu mau tidak mau membuat wanita itu terpengaruh, tatapan keduanya saling bertemu, dan ketulusan Leon atas kasih sayangnya tergambar pada bola mata pria itu, Lily pun mengangguk.


Leon mengusap puncak kepala Lily, pria itu tersenyum, terlalu banyak menangis membuat Lily merasa mual, wanita itu menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi.

__ADS_1


"Kau baik-baik saja?" Tanya Leon khawatir saat adik perempuannya itu keluar dari kamar mandi, belum sempat menjawab Lily kembali menutup mulutnya lagi.


Leon memijit tengkuk leher Lily, wanita itu menegakkan tubuhnya setelah mencuci mulut dengan air bersih di tempat itu, saat sang kakak bertanya keadaannya lagi, diapun menggeleng, "hanya sedikit tidak enak badan, tidak apa-apa," ucapnya.


__ADS_2