
Kedatangan Lily juga William disambut dengan suka cita oleh Ibu Marlina, atau yang sering disapa sebagai Kanjeng Mami dalam akun sosmednya, wanita paruh baya itu memang sudah merambah ke dunia online untuk menjajakkan dagangannya.
"Ibu punya loh yang keluaran terbaru, warnanya lebih cantik," bujuk wanita itu, menggandeng tangan Lily dengan begitu lembut, trik merayu yang sejauh ini tidak pernah gagal untuk mendapatkan member baru.
Lily tentu teramat senang, wanita yang memang begitu menyukai alat-alat dapur, untuk menunjang hoby memasaknya itu memang senang sekali dengan produk berkualitas dan cantik-cantik, dan Marlina dengan senang hati, menggiring calon pembelinya ke dalam satu ruangan yang khusus dihuni oleh barang-barang kesayangannya.
William membiarkan saja istrinya itu bersenang-senang dan memilih barang yang ingin ia beli, pria itu menemui Justin yang tengah mengajari putra pertamanya mengerjakan sebuah materi.
"Om William, Bang Nino sudah kelas lima loh, aku ditinggal." Jino mengadu pada pria bule itu tentang sang kakak yang ikut kelas akselerasi, dan lompat kelas sesuai dengan kemampuan anak itu.
Nino yang semula fokus pada buku di atas meja kemudian menoleh, "Kamu juga bisa ikut aku, kamu saja yang tidak mau," ucap anak itu.
William tersenyum, mengusap rambut kepala Nino yang kembali menekuni buku di hadapannya, kemudian menoleh pada Jino yang duduk di sebelahnya. "Kenapa kamu tidak mau ikut abang?" tanya pria itu.
"Dia terlalu khawatir dengan teman-temannya, katanya tidak ingin berpisah kelas dengan mereka." Justin yang duduk di sofa sebelah Nino menjawab.
William tampak mengangguk, kemudian menoleh lagi pada Jino saat anak itu berkata sesuatu.
"Aku tidak sepintar Bang Nino Om, pusing belajar terus mending juga main bola," ucapnya riang.
William bergantian mengusap puncak kepala anak di sebelahnya, dan beralih pada Justin yang begitu sabar mengajari Nino dalam belajar, dia kagum dengan cara Justin mendidik putra kembarnya itu, sifat mereka yang berbeda membuat pria itu mengarahkan masing-masing sesuai kemampuannya, tidak pernah memaksa harus seperti yang dia mau, dan kedua putranya pun tumbuh dengan baik tanpa merasa cemburu satu sama lain.
"Om William, kenalin nih kucing baru Jino," ucap Jino yang membuat William yang tampak melamun seketika menoleh, ikut mengusap kucing kecil berwarna putih yang entah sejak kapan sudah berada di pangkuan bocah itu.
"Cantik sekali," puji William yang membuat Jino mengerutkan dahi.
"Ini kucing tampan, Om, soalnya kata mami ini laki-laki, tuh kan ada biji*nya," ucap Jino dengan menunjukkan jenis kelamin hewan kesayangannya itu.
"Eh, apah?" William jadi geli, dan kedatangan Nena dengan membawa air minum di tangannya langsung membungkam mulut putranya, setelah meletakan nampan ke atas meja.
__ADS_1
"Nena?" gumam William yangembuat istri dari sahabatnya itu menggaruk rambut kepala.
"Aku hanya menunjukkan gender kucing ini saja, apa salahnya," ucap wanita itu beralasan, kemudian beralih pada Jino dan mengatakan sesuatu sebagai pengalihan, "coba katakan pada Om William siapa nama kucing kamu," suruh wanita itu pada putranya.
William kembali fokus pada Jino yang tampak semangat, "memang siapa namanya, meow atau kitty?" pria itu mencoba menebak.
"Namanya bapperware, Om." Jino menjawab dengan polos.
William mengerutkan dahi, dan menoleh pada pasangan Justin Serena yang tampak menahan senyum, "kenapa bapperware?" tanyanya bingung.
Jino yang mengusap kepala si kucing lucu bernamakan bapperware itu kemudian mendongak, "biar disayang sama oma, Om, soalnya kan oma nggak suka kucing, dia sukanya bapperware, jadi aku namain bapperware aja biar oma sayang," jawabnya kemudian tertawa.
William yang tidak mampu menyembunyikan senyumnya kemudian mengusap kepala bocah itu, "Kamu tuh bukannya tidak sepintar abang kamu, hanya lebih malas dan suka bermain saja," ucapnya mulai menduga.
Kedatangan Lily, dengan satu kotak tempat makanan di tangannya itu membuat mereka yang berada di ruang keluarga kemudian menoleh, William tersenyum.
Namun kemunculan Ibu Marlina dengan dua tas besar di kedua tangannya membuat pria itu berubah mengerutkan dahi, "sebanyak ini?" tanyanya tidak percaya.
William menghela napas, melirik lengannya yang sudah digelayuti kedua jemari sang istri, kemudian beralih ke wajah cantiknya yang tampak berseri-seri, "jika memang masih kurang, katakan saja," ucapnya sedikit terpaksa, namun tetap saja hal itu membuat istrinya amat bahagia.
Marlina meletakan barang-barang di tangannya itu di dekat pasangan suami istri yang entah kenapa begitu terlihat serasi, mengangsurkan kertas daftar harga juga tulisan bonus-bonus di dalamnya dengan semangat. "Buat yang sayang istri," ucapnya yang membuat William tersenyum miris.
"Oh ibu, apakah tidak ada diskon untukku?" tanya pria itu sedikit bercanda.
Marlina mengibaskan sebelah tangannya, "Eh, orang kaya nggak boleh nawar, menyenangkan istri rezeki lancar," ucapnya menasihati.
Nena dan Justin kompak menahan tawa, wanita hamil yang satu ini tampaknya termakan rayuan ibunya, mereka memang sudah tidak lagi heran dengan kemampuan berniaga wanita paruh baya itu.
"Terimakasih ya Nak Willy," ucap Marlina setelah William mengatakan nanti akan segera mengirimkan bayaran lewat rekeningnya, wanita itu kemudian mengusap pundak Lily. "Sering-sering main ke sini yah, nanti ibu masakin makanan enak," rayunya sekali lagi.
__ADS_1
"Udah deh Bu, nanti bisa-bisa isi lemari bapperware ibu pindah ke rumah William loh," ucap Nena yang membuat sang ibu menoleh.
"Ya tidak apa-apa, nanti ibu belanja lagi yang banyak buat stok," ucapnya yang terlihat begitu bahagia, "Eh iya ibu jadi ingat, hutang kamu yang pake tempat makan kemarin tolong dibayar ya," tagih wanita itu.
Serena memberenggut, "ya ampun ibu perhitungan banget sama cucu sendiri, itu kan Nino yang pake," ucapnya tidak terima.
"Eh bisnis itu nggak boleh dicampur aduk dengan urusan pribadi, ya harus bayar dong," goda sang ibu yang sebenarnya tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya itu, namun tetap saja, menantu kesayangannya itu terlihat kesal raut wajahnya.
Kedatangan tamu berikutnya membuat Marlina beranjak dari duduknya, dan menyambut bocah kecil yang sudah lancar berjalan itu dengan teramat senang, cucu ketiganya datang.
"Wah ada tamu." Ardi sang adik dari Justin menyapa, kemudian menyalami tamu abangnya dengan Karin yang mengikutinya.
"Ini juga sudah mau pulang," balas William yang membuat Ardi kemudian mengangguk.
Setelah menoleh pada putranya yang entah dibawa kemana oleh sang ibu mertua, Karin kemudian fokus pada wanita hamil di hadapannya, "Selamat ya Mbak Lily atas kehamilan anak pertamanya," ucap wanita itu.
Lily tersenyum, "terimakasih," ucapnya, "Eh target memberi adik untuk Arka kira-kira berapa lama?" tanyanya penasaran.
Karin sedikit tertawa, "ini aku udah hamil lagi masuk minggu ketiga," balasnya terlihat bahagia.
"Wah, selamat," ucap Lily ikut bahagia juga, "cepet yah ternyata," imbuhnya tidak menyangka.
"Ya cepet dong bapaknya rajin." Serena yang menjawab dengan beranjak berdiri karena mendengar putri bungsunya yang menangis.
Sebelum kakak perempuannya itu melangkah pergi, Ardi lebih dulu berkomentar, "Eh rajinan suami Mbak ya, anaknya udah tiga, targetnya bikin kesebelasan sepak bola dia," ucapnya bercanda.
Hal itu membuat Serena nyaris menoyor kepala adiknya, "sembarangan," omel wanita itu sebelum akhirnya berlalu menuju kamarnya. Meninggalkan mereka yang kembali melanjutkan obrolan tanpa dirinya.
***
__ADS_1
Author : tinggalin dulu jejak jempolnya. 🙄