
Saat Davin kembali mengingatkan William, atas undangan makan malam dari keluarganya, pria yang duduk di kursi kerjanya itu menoleh, kemudian sedikit berpikir. "Dav, apa menurutmu undangan makan malam itu tidak bermaksud apa-apa?" tanyanya meminta pendapat.
Di tempatnya berdiri Davin tampak ikut berpikir, "sepertinya ini masih ada hubungannya dengan makan siang yang waktu itu Tuan gagalkan," ucap Davin memberi dugaan.
William tertegun, "aku juga merasa begitu, apa menurutmu ayahku akan kembali mengundang tamunya itu?"
Dengan hati-hati Davin menjawab, "sepertinya memang makan malam ini dirancang untuk membicarakan tentang perjodohan Tuan," ucapnya.
William menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, memijit keningnya yang terasa berdenyut pusing, ayahnya itu sampai kapan akan memaksakan kehendak pada dirinya yang bahkan bisa menentukan apapun sendiri.
Pria itu beranjak berdiri, melirik jam pada pergelangan tangannya dan menoleh pada Davin, "siapkan mobil untuk setengah jam lagi," ucapnya, setelah itu masuk ke dalam kamar yang terletak di ruangan kantornya, untuk membersihkan diri.
***
Di dalam mobil menuju kediaman ayahnya, William mendapat pesan dari Lily, berupa pertanyaan sedang apa yang membuat pria itu mengerutkan dahi, sebelumnya mana pernah wanita itu mengirim pesan lebih dulu.
"Merindukan aku?" tanya William dengan menempelkan ponselnya pada telinga, alih-alih mengetikkan pesan untuk memberikan balasan, pria itu memutuskan untuk menelepon saja.
"Aku hanya bertanya kabarmu," jawab Lily di seberang sana.
William tersenyum, "jika rindu bilang saja," sindirnya.
Sesaat Lily tampak terdiam, hanya suara hembusan napas wanita itu yang sesekali sempat terdengar, "iya, aku merindukanmu," ucapnya di seberang telepon sana, dan William reflek tertawa. "Kau menertawakanku?" omel Lily.
"Tidak, sayang," balas William yang kembali membuat wanita di seberang telepon sana sejenak terdiam. "Apakah aku perlu datang?" tanyanya.
"Bukankah malam ini kau ada jadwal makan malam dengan keluargamu?"
Meski wanita itu tidak dapat melihat dia mengangguk, tapi William melakukannya, pria itu kemudian bersuara. "Aku akan datang jika makan malamnya dibatalkan, atau aku bisa kabur saat jamuan tengah berjalan," tutur pria itu sedikit bercanda, namun ada sedikit keseriusan dari raut wajahnya, dan tentu saja Lily tidak bisa menyadarinya.
"Yang benar saja," omel Lily setengah tertawa, "aku merindukanmu Will, tapi bukan berarti kau harus langsung ada jika aku memintanya, patuh lah terhadap orang tuamu" ucap wanita itu.
William tidak memberikan tanggapan, mobil yang dikemudikan Davin sudah sampai di halaman rumah sang ayah, "Lily, aku juga merindukanmu," ucap pria itu, kemudian berpamitan dan berkata akan mengabari lagi nanti saat makan malam sudah selesai.
__ADS_1
William menyuruh Davin meninggalkan mobilnya dan asistennya itu sudah diperbolehkan pulang sekarang, kemudian dirinya masuk ke dalam rumah, yang mendapat sambutan dari pegawai sang papa di sana.
"Anda sudah ditunggu tuan besar di dalam, kebetulan tamunya pun sudah datang," ucap salah satu pelayan wanita saat pria itu menanyakan keberadaan keluarganya.
William mengangguk, terkadang dia bingung, dari sekian banyak restoran yang papanya itu miliki, kenapa pria itu malah mengundang tamunya ke dalam rumah, pasti orang ini bukanlah tamu biasa, begitu pikirnya.
"Maaf saya terlambat," ucap William setelah mendudukkan dirinya di sofa ruang keluarga, tempat mereka berkumpul di sana, sang papa yang menduduki sofa tunggal tampak tersenyum ramah padanya, tumben sekali pria itu tidak marah-marah.
"Perkenalkan Tuan Freddy, ini putra saya," ucap Albert pada pria paruh baya yang seumuran dengan dirinya, dia juga menjelaskan bahwa mereka adalah teman akrab sejak masa kuliah, dan William mengangguk ramah, beranjak berdiri memperkenalkan dirinya seperti yang diperintahkan oleh sang papa.
Selain pria itu, juga ada istrinya yang juga menyalami William, dan berbasa basi memuji bahwa putra sahabatnya itu begitu tampan.
"Ayo perkenalkan dirimu," ucap wanita paruh baya itu pada perempuan muda yang tampak diam saja di sebelahnya, dan perempuan itu beranjak berdiri, dengan acuh mengulurkan tangannya.
"Saya Naura, senang berkenalan dengan anda," ucapnya, kemudian kembali duduk saat William melepaskan jabatan tangan mereka.
Dari percakapan yang lebih didominasi oleh sang papa juga teman kuliahnya itu, William dapat menangkap, memang ada bau-bau perjodohan untuk dirinya, dan pria itu memilih diam saja, sampai akhirnya ibu tirinya kemudian bertanya.
"Kami menyerahkan semua keputusan pada putra kami saja, walaupun William tidak lahir dari rahim saya, tentu saya menginginkan yang terbaik untuk dirinya," ucap Rosa, saat istri dari pria bernama Freddy menanyakan tentang kesetujuannya.
"Bagaimana William, dia tampan kan? Bukankah kalian tampak serasi," imbuh Rosa mengompori.
Sekilas Naura menoleh pada William, pria matang dan siap berkeluarga itu memang terlihat tampan, tapi entah kenapa dia merasa seperti masih terikat dengan seseorang di masa lalu, kecelakaan yang merenggut ingatannya itu, menyisakan kenangan samar yang sepertinya sulit ia abaikan.
"Sepertinya kami tidak akan cocok, aku bukan wanita yang pintar menyenangkan suami, apalagi masalah dapur, masak mi instan saja aku tidak bisa," ucap Naura, berusaha sehalus mungkin agar tidak membuat siapapun di sana merasa tersinggung atas ucapannya, dia hanya sedikit menunjukkan kepenolakan, dan sikutan dari sang mama terasa ngilu di pergelangan tangannya.
Rosa tertawa sumbang," ah, itu tidak masalah, sayapun tidak berpengalaman masalah dapur, dan kami punya banyak koki handal di rumah," ucapnya.
Istri dari Tuan Freddy ikut tersenyum menanggapi, begitu senang karena Nyonya Rosa ternyata dapat memakklumi, "Nak William sendiri, seperti apa tipe calon istri idaman yang kamu inginkan, tentu saja cantik seperti putri saya bukan?" ucapnya sedikit bercanda.
William tersenyum menanggapi, kemudian menjawab, "istri idaman saya tentunya yang bisa masak mie instan," ucapnya yang membuat mereka kemudian terdiam, suasana berubah canggung.
Naura mengarahkan tatapannya pada William, wanita itu tampak mengulas senyum yang disembunyikan, dia senang ternyata pria itu juga tidak setuju atas perjodohan mereka.
__ADS_1
Untuk mengatasi kecanggungan di antara mereka, Rosa segera mengajak tamunya untuk beranjak ke ruang makan, menu spesial yang dimasak oleh koki handalnya itu sudah tersedia di atas meja.
Setelah makan malam usai, Albert menyuruh William untuk mengajak Naura mengobrol di tempat lain, bertujuan agar diantara mereka segera terjalin keakraban, dan pria itu menurutinya.
"Sepertinya kau tidak suka denganku," ucap Naura saat mereka sudah sampai di taman belakang dekat kolam renang.
"Bukan denganmu, tapi dengan perjodohan ini," ucap William, kemudian mendudukkan tubuhnya pada kursi malas di tempat itu.
Naura tampak mengangguk, dia juga berkata bahwa dirinya tidak setuju dengan perjodohan yang direncanakan, dan dia senang ternyata William merasakan hal yang sama."Jika boleh tau, kenapa kau tidak setuju?" tanyanya.
William mendongak pada wanita yang berdiri di hadapannya, "aku sudah punya calon istri, atas pilihanku sendiri," ungkap pria itu.
"Kenapa kau tidak bilang saja?" tanya Naura merasa heran.
Pria di hadapannya itu tertawa pelan, "didepan tamu ayahku, dan menimbulkan keributan? Bukan waktu yang tepat untuk membicarakan itu, tapi nanti pasti akan aku katakan," ucap William.
Sejenak Naura terdiam, tidak ada obrolan di antara mereka beberapa saat ke depan. "Aku ingin pulang," ujarnya.
Tentu saja William mempersilahkan, pria itu membiarkan saja Naura pergi meninggalkannya, malah mengambil ponsel di saku celana kemudian menghubungi Lily.
"Apa kau sudah makan?" tanya William saat Lily mengangkat panggilan dari dirinya. "Aku akan segera ke sana," ucap pria itu setelah Lily menjawab pertanyaan yang ia lontarkan, bersamaan dengan terputusnya panggilan mereka, Naura kembali menghampiri William yang membuat pria itu mengerutkan dahi.
"Aku ditinggal ayah dan ibuku, sepertinya mereka sengaja agar kau mengantarkan aku pulang," ucap Naura.
William menghela napas, beranjak berdiri dari duduknya kemudian berkata, "baiklah, biar kuantar kau pulang," ucap pria itu.
Naura yang menunduk kemudian mengangguk, dia merasa tidak enak, namun harus bagaimana, dan saat pria itu menyanggupinya dan bersedia mengantarnya sampai di rumah, Naura menyadari bahwa William adalah orang yang bertanggung jawab, jika pria itu tidak mengaku sudah punya calon istri, mungkin Naura mau sedikit untuk berbaik hati, dan menerima William menjadi calon suaminya nanti.
William menghentikan mobilnya di depan gerbang tinggi rumah mewah kediaman keluarga Naura, namun yang membuatnya terkejut, seseorang seperti telah menunggunya di sana.
"Dia siapa?" Tanya Naura yang memang tidak bisa mengingat siapa teman-temannya.
William tertegun, meski mungkin pria itu tidak bisa melihat sosok dirinya yang duduk di balik kemudi, tapi mobil yang ia bawa tentu dia hapal sekali.
__ADS_1
Menyadari perubahan dalam diri William setelah melihat pria yang berdiri di depan mobilnya, Naura pun bertanya. "Kau mengenalinya?"
William mengangguk, "Leon."