
Lily menepis tangan William dari pipinya, Sorot kebencian terpancar dari kedua bolamata perempuan itu.
"Aku tau semuanya, kau yang telah membunuh ayahku, kau adalah dalang dari peristiwa kebakaran yang terjadi di kantor ayahku." Kalimat wanita itu terhenti, sedu tangisan yang terdengar menyayat itu berhasil membuat William membeku.
"Aku harus bagaimana agar kau dapat percaya, aku tidak terlibat dalam peristiwa itu." William mengguncang kedua bahu wanita di hadapannya. "Percaya padaku Ly, bukan aku pelakunya," imbuh William, berusaha terus meyakinkan wanita itu.
Lily yang menggeleng semakin membuat William ingin menyerah, dia melirik liontin di leher perempuan itu dengan pasrah, namun tidak mungkin dia dapat menunjukkannya.
William membawa Lily ke dalam pelukannya, dan semakin mengeratkan dekapan lengannya saat wanita itu berusaha memberontak.
"Aku membencimu Will, sangat membencimu, kau menghancurkan semuanya." Dengan tersedu, Lily terus memukuli tubuh pria itu.
William melepaskan pelukan pada wanita itu, menghimpit tubuh Lily pada tembok di hadapannya, dan menangkap kedua pergelangan tangan perempuan itu untuk menguncinya di atas kepala.
Jarak sedekat ini membuat Lily membuang muka, hembusan napas dari hidung mancung William yang menerpa permukaan lehernya membuat ia memejamkan mata.
Lily terus menangis saat bibir pria itu menempel di permukaan lehernya, dan memberi kecupan berkali-kali di sana. "Hentikan!" Pinta wanita itu.
William beralih pada telinga Lily, "Kau mencintaiku Ly, aku tau kau sangat mencintaiku," bisiknya yang membuat perempuan itu dengan kuat menggelengkan kepala, dia terus menyangkalnya.
"Omong kosong, aku begitu membencimu William!"
Pria itu sedikit mengendurkan cekalannya, menyatukan kening mereka, dan memaksa untuk saling beradu pandang, tatapannya yang teduh nyaris membuat hati Lily merasa luluh, dia tetap menggeleng.
"Jangan biarkan kebencianmu menutupi perasaanmu sendiri Ly, kumohon berikan aku kesempatan," pinta William dengan meraih kedua pipi wanita di hadapannya itu dengan kedua tangannya. "Kumohon," imbuhnya lagi dengan menarik dagu wanita itu untuk menyatukan bibir mereka.
Lily memejamkan mata, dengan sekuat tenaga berusaha menolak untuk terbuay dengan desiran hangat yang memanas dalam dadanya, untuk kali ini saja, sampai kakaknya pulang nanti, dia akan mengalah pada pria ini.
Saat William melepaskan pagutan bibirnya, Lily pun mengangguk mengiyakan apa yang dia inginkan.
William tentu tau perasaan Lily tidak diberikan sepenuhnya, dan kata setuju yang meluncur dari wanita itu hanya pura-pura, tapi tidak apa, setidaknya sampai kakaknya kembali, dia akan terus berusaha mengambil hatinya.
***
Lily meringkuk di kamarnya, wanita itu merasa gelisah, nyatanya selimut tebal yang nyaris menutupi seluruh tubuhnya itu tidak bisa membuatnya tenang begitu saja.
William masih berada di rumah ini, tidur di sofa lantai bawah atas kemauannya sendiri, dia sudah berjanji untuk tidak macam-macam padanya kali ini, tapi tetap saja kalimat yang meluncur dari pria itu sering kali tidak dapat ditepati.
Ketukan di pintu membuat Lily yang masih terjaga sedikit terlonjak, wanita itu memejamkan mata, haruskah ia pura-pura tidur saja, dan bersikap seolah tidak dapat mendengarnya, dia benar-benar dilema.
Di balik pintu, William mengetuk benda itu untuk ketiga kalinya, tidak ada jawaban dari Lily, mungkin wanita itu sudah tidur, atau mungkin dia takut pada dirinya yang akan berbuat macam-macam, mengingat itu dia jadi ingin tertawa, sebegitu menyeramkannya kah dia, padahal sepertinya wanita itupun amat menikmati setiap sentuhannya.
"Aku akan pergi sebentar, jika memungkinkan nanti, aku akan kembali ke sini."
Setelah mengucapkan kalimat itu, William sejenak menunggu, dan saat benar-benar tidak ada balasan dari Lily, dia pun memutuskan untuk pergi.
Suara pintu terbuka membuat langkah William terhenti, kemudian berbalik, Lily dengan wajah datarnya muncul dari balik benda itu. "Mau ke mana?" tanyanya.
__ADS_1
Sesaat William diam saja, tatapannya teduh mengarah pada wanita itu yang tampak menggoda, dengan pyama tidurnya yang sedikit terbuka. "Aku ada urusan malam ini."
"Kemana?" Desak Lily, entah kenapa dia jadi peduli dengan kemanakah pria itu akan keluar malam ini, seharusnya biarkan saja dia pergi.
William tersenyum, mengangkat tangannya untuk menarik cardigan yang dikenakan wanita itu agar menutupi bahunya yang sedikit terbuka, "aku tidak akan lama, nanti kembali ke sini."
Lily mengangguk, kemudian keluar kamar, "tidak usah kembali juga tidak masalah," ucapnya dengan lebih dulu melangkah menuruni tangga, dan pria itu mengikutinya.
"Kau tidak takut sendirian?" tanya William, dia berharap setidaknya wanita itu berusaha untuk menahan.
Lily menghentikan langkahnya di ujung anak tangga, kemudian menoleh, "sepertinya keberadaanmu di sini lebih membuat aku takut daripada harus sendiri," ucapnya ketus.
William mencebik sedih, wanita di hadapannya ini kenapa berubah pedas sekali.
Lily membukakan pintu untuk William, dan menyuruh pria itu untuk segera keluar dari tempat tinggalnya.
"Kau tidak akan menahanku untuk tetap tinggal di sini?"
Pertanyaan itu mendapat gelengan dari Lily, dan setelah William melangkah keluar pintu, dengan segera Lily mengunci benda itu.
Lily ingin tertawa sebenarnya, pria itu kenapa lucu sekali, dan deru mobil yang terdengar menjauh membuat Lily beranjak kembali ke kamarnya.
Ketukan di pintu yang terdengar tidak sabaran membuat Lily merasa geram, kenapa pria itu cepat sekali kembali, mungkinkah ada yang ketinggalan.
Dan saat Lily membuka pintu, dia terkejut dengan kedatangan dua orang tamu yang memakai masker untuk menutupi sebagian wajahnya, orang itu mengacungkan senjata hingga Lily merasa ketakutan karenanya.
Suara benda terjatuh membuat Lily sempat menoleh, pria satunya lagi membanting vas bunga-bunga miliknya dan membuat kediaman wanita itu tampak berantakan, "apa yang kalian lakukan!" teriaknya.
"Dimana kakakmu, saya ada urusan penting dengan si brengse*k itu," ucap salah satu pria yang terus mengikuti langkah Lily.
"Dia tidak ada di sini, dia sudah pergi!" Jawab Lily dan dengan cepat berlari ke kamarnya, dia tidak tau pria itu mengejarnya atau tidak, tapi saat dia menutup pintu dan mengunci benda itu, sebuah ketukan juga tendangan keras terdengar setelahnya.
"William, kumohon kembalilah." Lily meracau sendiri, meraih ponselnya di atas meja dan menghubungi orang pertama yang muncul di kepalanya.
"Hallo?"
"Will, cepatlah kembali, aku takut!"
"Ada apa?"
"Kumohon tolong aku!"
***
William benar-benar kembali ke toko bunga Lily, pintu yang terbuka membuat pria itu langsung melangkah ke dalamnya, satu orang pria tampak menghancurkan vas-vas berisi bunga di dalam ruangan itu.
"Heh, sudah-sudah, sudah cukup," ucap William setengah berbisik, dan setelah menghentikan kegiatannya, pria itu pun menghampirinya.
__ADS_1
"Kurasa ini masih kurang berantakan." Pria yang sebagian wajahnya tertutup masker itu berkomentar.
William berdecak, tangga yang memang terbuat dari kayu terdengar berisik saat dengan cepat seseorang menuruninya, kedua pria itu menoleh.
"Terlalu keras menendang pintu kakiku jadi sakit, siyal!" Ucap pria itu saat sudah berada di hadapan keduanya.
"Bagaimana dengan Lily?" tanya William khawatir.
Pria yang menuruni tangga itu kemudian menjawab, "tentu saja ketakutan, aku menodongnya dengan senjata tajam," ucapnya sembari menunjukan pisau di tangannya.
William berdecak, "Kau melukainya?"
"Tidak, tenang saja."
Satu pria yang merusak bunga-bunga menghampiri William, kemudian menepuk bahunya, "Bang Will ternyata pacarnya cantik sekali yah, pantas tergila-gila," komentarnya yang langsung mendapat tendangan di kaki dari William.
Bersamaan dengan itu, kemunculan Lily di ujung tangga membuat ketiganya menoleh, kedua pria yang memakai masker dan hody yang menutupi kepalanya itu reflek menjauh.
"Berhati-hatilah, Will!" teriak Lily dengan panik.
William reflek menendang pria di hadapannya hingga terjatuh menabrak satu temannya itu, dan setelah tetsungkur, keduanya berlari kabur. Sungguh terlalu mudah menjinakkan dua bandit gadungan di hadapannya, dan semoga wanita itu tidak curiga.
"Will, kau baik-baik saja?" Lily bertanya dengan panik, kedua tangannya memeriksa tubuh William takut terjadi apa-apa pada pria itu.
William tertegun, wanita yang terlihat ketakutan di hadapannya itu sungguh teramat kasihan, kedua telapak tangannya yang dingin tampak gemetaran, ya ampun Lily, maafkan aku.
Mendapati William menggeleng, Lily merasa lega, wanita itu nyaris menangis lagi karena trauma, belum pernah seumur hidupnya dia ditodong senjata.
Dan William membawa tubuh ringkih Lily ke dalam pelukannya, "jangan takut, itu bukan apa-apa," ucapnya menenangkan.
Lily balas memeluk, di dada pria itu dia melanjutkan tangisannya, "tolong jangan pergi, aku takut," pinta wanita itu, dan saat sebuah kecupan di puncak kepala ia dapatkan dari pria didekapannya, ia pun merasa aman.
William merasa bersalah sebenarnya, tapi juga ingin tertawa, dan sedikit menyesal telah mengikuti ide gila sahabatnya, dia sungguh tidak tega.
"Untuk saat ini, sampai kakakmu kembali, tinggallah dulu di tempatku," usul pria itu dengan menangkup kedua pipi Lily menggunakan kedua telapak tangannya.
Sorot ketakutan masih terpancar dari kedua bola mata itu, dan tanpa diduga akan semudah ini, Lily pun mengangguk setelahnya.
***iklan***
Netizen: ini mah si Leon operasinya dibikin lama pasti, bukan cuma mata, idung ampe bibirnya juga ikut dirombak biar lamaan kayaknya 😆
Author : gue mah penasaran sama dua maling gadungannya, pasti Bang Ar sama Bang entin nih 🤔
Netizen: kan lu yang nulis ya, ngapa jadi spoiler dah 😒
Author : Lah iya juga 😆
__ADS_1