Gadis 100 Juta

Gadis 100 Juta
UNGKAPAN


__ADS_3

Lily meletakan satu vas penuh dengan bunga-bunga, tersusun rapi di atas papan panjang yang ia letakkan di depan toko bunganya, perempuan itu melirik layar hp yang dia bawa, tidak ada pesan dari siapa-siapa, hanya ada satu pesan suara dari Daniel, yang menyuruhnya untuk tidak lupa makan, dan ia membalas dengan menuliskan ok saja.


Lily menunggu seseorang menghubunginya, terlalu gengsi jika ia menanyakan kabar lebih dulu, tapi pria yang sudah beberapa minggu seperti menghilang itu benar-benar membuatnya rindu.


Terakhir William menghubunginya saat pria itu mengirimi sejumlah uang, dan Lily berusaha untuk menolaknya, biaya operasi sang kakak sampai wajahnya pulih seperti semula pun sudah cukup menguras sedikit hartanya, belum lagi jika ada pendonor mata, pria itu pun bersedia untuk membiayainya juga, berapapun harganya.


Sudah beberapa minggu William tidak ada kabar berita, haruskah dia mencarinya.


"Merindukan aku Nona?"


Suara itu membuat Lily terlonjak mundur, dia benar-benar terkejut, tidak menyangka pria yang memenuhi isi kepalanya kini sudah berada di depan matanya. "Kau membuatku terkejut," omelnya dengan cemberut.


William terkekeh, pria yang tampak begitu tampan dengan kemeja yang digulung pada bagian lengan itu sedikit mencondongkan kepala, "Oh Lily, aku begitu merindukanmu," bisiknya.


Lily berdecak sebal, wanita itu pura-pura jual mahal, sebenarnya banyak yang ingin ia tanyakan perihal ketidak hadirannya minggu-minggu ini, tapi tentu saja semua itu hanya bercokol di kepalanya.


"Beberapa minggu ini aku ke luar Negri, ada urusan di sana, dan tadi pagi baru saja sampai di Indonesia."


Lily menyimak dalam diam, ingin sekali ia mengomel, memangnya tidak bisa menghubungiku sekali saja, apakah di Luar Negri tidak ada ponsel yang bisa dipakai, "untuk apa kau jelaskan begitu, aku tidak butuh penjelasanmu," ucapnya pura-pura acuh.


William tertawa pelan, baginya sikap malu-malu perempuan di hadapannya  begitu amat menggemaskan. "Benar begitu? Ah aku  kecewa," ucapnya dengan nada bercanda.


Lily tidak menanggapi, wanita itu pura-pura menyibukkan diri dengan bunga-bunganya.


William mengambil setangkai bunga dan memberikannya pada Lily, "untukmu," ucap pria itu.


Untuk mengalihkan tawanya, Lily sengaja mendengus keras, "memang milikku kok," balasnya dengan merebut bunga di tangan William dan meletakkan lagi di tempatnya.


"Bunga ini mungkin milikmu, tapi kau adalah milikku."


Kalimat itu membuat Lily berdecih, kemudian teringat sesuatu. "Ah iya kemarin Kak Leon sudah diperbolehkan pulang, dan sekarang dia di dalam, dia begitu ingin bertemu denganmu."


William mendadak diam, dan hal itu membuat Lily mengerutkan dahi, "Kenapa?" Tanyanya.

__ADS_1


"Aku sedang tidak ingin muncul di hadapannya sekarang, jangan bilang aku di sini ya," pinta pria itu.


Sesaat Lily terdiam, dia tidak mengerti kenapa sepertinya William menghindari kakaknya.


"Bagaimana keadaan kakakmu?" William mengambil satu tangkai bunga mawar, durinya yang tajam sedikit menggores ujung jarinya, namun pria itu malah dengan sengaja menggenggam tangkai berduri itu hingga berdarah.


"Will? Apa yang kau lakukan?" Lily menarik tangan pria itu dan membuang bunga dalam genggamannya.


Perempuan itu mengusap telapak tangan William dengan tisu yang dia ambil dari atas meja, kemudian mendongak dengan raut wajah yang penuh tanya.


William tersenyum, "aku suka bunga ini," ucapnya. "Cantik," imbuh pria itu kemudian.


"Tapi tanganmu terluka," balas Lily.


"Oh Lily," seru William yang membuat wanita di hadapannya itu mendongak, kemudian mengangkat alis. "Jika seseorang yang kau suka ternyata dapat melukaimu, kamu bagaimana?"


"Siapa yang suka pada siapa?"


"Aku menyukaimu."


"Kalau begitu, ikutlah denganku."


Sebelum mengajak Lily pergi, William membeli satu buket bunga dari toko itu, dan Lily menyuruh Nindi untuk menjaga kakaknya juga.


"Pemakaman umum?" Lily yang merasa bingung kemudian bertanya.


William mengangguk, membantu wanita itu melepaskan sabuk pengaman dari tubuhnya, kemudian mengajak untuk turun.


Lily mengikuti William hingga pria itu berlutut di sebuah makam yang terlihat amat terawat. Batu nisan di sana bertuliskan Greteva Alexandra, dia tidak tau ada hubungan apa William dengan wanita itu.


"Dia istriku," ucap William yng membuat Lily menoleh.


Wanita yang sudah ikut berlutut di depan pusara itu dapat melihat raut wajah pria di sebelahnya yang tampak sedih, mungkin inilah wanita yang fotonya terdapat dalam dompet William, begitu pikirnya.

__ADS_1


William menceritakan bahwa wanita yang ia sebut dengan panggilan Eva itu meninggal karena kecelakaan, dan Lily dapat melihat gurat kesedihan dari wajahnya.


"Aku ingin mengenalkan Eva padamu," ucap William yang membuat Lily mengerjap gugup, perempuan itu beralih menatap pusara di hadapannya dan malah bingung harus berkata apa.


"Halo Eva." Lily tersenyum, dia merasa aneh sekarang.


William benar-benar mengenalkan Lily seolah wanita bernama Eva itu masih ada, begitu cintakah pria itu pada mendiang istrinya, dalam hati, Lily bertanya.


Setelah beberapa saat, mereka memutuskan untuk kembali ke dalam mobil, Lily mendapat bantuan untuk memasangkan sabuk pengaman pada tubuhnya, dan berada sedekat itu membuat jantungnya berdegup cepat, parfum yang telah melekat dalam ingatan wanita itu terasa amat memikat.


"Jika Eva itu mantan istrimu, lalu siapa My Lily? yang fotonya kau simpan dalam dompet itu?"


Pertanyaan Lily membuat William yang sibuk memasang sabuk pengaman pada tubuhnya sendiri kemudian terdiam, pria itu menoleh. "Dia mantan kekasihku," ujarnya.


Lily ber oh tanpa suara, "Will, kudengar wanita yang kau kencani itu sangat banyak, kenapa hanya mereka berdua yang kau simpan fotonya, atau mungkin di rumahmu ada satu album yang isinya foto mantan kekasihmu semua?"


Pertanyaan itu berhasil membuat William tertawa, pria yang sudah melajukan kendaraannya itu sesekali menoleh pada wanita yang duduk di sebelahnya. "dulu kau sempat bermalam di apartemenku, Kenapa tidak kau cari saja?" ledeknya.


Lily yang raut wajahnya berubah cemberut kemudian menyahut, "mana aku tau kau punya album semacam itu," balasnya.


William mengusap kepala wanita itu, kemudian berkata. "tentu saja tidak ada."


Lily sebenarnya ingin bertanya tentang kebenaran pria itu yang kabarnya sering mengoleksi banyak wanita, tapi ia urungkan, toh untuk apa, seharusnya dia juga tidak peduli juga. "Will, Kak Leon banyak bercerita padaku tentang peristiwa kebakaran itu."


Willim reflek menghentikan laju kendaraannya dengan tiba-tiba, beruntung jalanan menuju toko bunga milik wanita itu kali ini sedang sepi, dan dia memilih untuk menepi.


Lily yang sedikit terlonjak kemudian bertanya ada apa, wanita itu sedikit takut dengan perubahan sikap pria di sebelahnya. "Kau sakit?" tanyanya.


William menggeleng, kemudian menyerongkan duduknya menghadap Lily dengan raut wajah yang penuh tanya. "Apa saja yang Leon ceritakan padamu?" tanya pria itu.


Lily sedikit berpikir, "kakak bilang kebakaran itu bukan murni kecelakaan, tapi ada dalang di balik itu semua." Lily menceritakan tentang sang Kakak yang begitu membenci seseorang yang diduga menjadi otak dalam peristiwa itu.


"Kau tau siapa orangnya?" tanya William.

__ADS_1


Dan saat Lily menggeleng, pria itu pun merasa lega. "Kak Leon tidak mengatakannya," ucap wanita itu kemudian terjeda. "Will, mau kah kau membantuku untuk mencari tau siapa orangnya?"


Untuk sesaat pria itu terdiam, namun kemudian tersenyum, "tentu saja," ucapnya.


__ADS_2