
"Jadi bagaimana caranya aku bisa buang air kecil tanpa kau harus ikut?" Lily bertanya saat mereka sudah berada di depan pintu kamar mandi apartemen William yang ternyata mewah sekali.
William bersandar pada kusen pintu, menatap perempuan yang berdiri di hadapannya dengan jenaka," apa yang mau kau tutupi, aku bahkan pernah melihatmu polos seperti bayi," candanya.
Kalimat itu membuat Lily melengos kesal, "memangnya tidak ada yang bisa kau lakukan dengan borgol ini?" tanya perempuan itu, dan sebuah gelengan ia dapatkan dari pria di hadapannya.
Dengan pasrah Lily masuk ke kamar mandi, dan William ikut terseret ke dalamnya.
"Karena aku sudah tidak tahan lagi jadi kumohon berbaliklah," pinta perempuan itu.
William mengangkat alis, "memangnya kenapa, tidak usah malu denganku, kita kan sudah sedekat itu," ucapnya.
Lily berdecak sebal, perempuan itu kembali mengomel dan menyuruh agar William membalikkan tubuhnya, tidak puas sampai di situ dia menyuruh pria itu untuk menutup rapat-rapat kedua matanya.
"Merepotkan sekali sih." Meski mengeluh pria itu menurut juga, dan dengan sedikit drama yang mengundang tawa, acara buang air kecil perempuan itu pun terlaksana.
William membuka kancing celananya sendiri dan hal itu mendapat omelan dari Lily, "apa kau sudah gila!" umpat wanita itu.
William berdecak sebal, "memangnya kau saja yang punya panggilan alam, aku bahkan ingin mandi," ucap pria itu.
Lily menggeleng, "jangan berharap, Tuan," sindirnya dengan nada yang sedikit mengancam.
William terkekeh pelan, dengan santai pria itu menyelesaikan urusannya. "Sudah selesai," ucapnya kemudian beranjak keluar kamar mandi dengan wanita itu yang secara otomatis mengikutinya.
"Lukamu bagaimana? Kenapa tidak ke rumah sakit saja." Lily bertanya dengan khawatir, menyentuh bagian lengan yang terkoyak kainnya, dan meninggalkan noda darah yang mengering di sana.
"Ini luka kecil, tidak perlu ditangani dengan serius, cukup dibersihkan nanti sembuh sendiri." William yang melangkah menuju laci, mengeluarkan kotak obat dari dalamnya.
"Biar kubantu," ucap Lily dengan merebut kotak itu dari tangan William, kemudian wanita itu mengajaknya duduk di sofa setelah menyiapkan satu mangkuk air untuk membersihkan luka.
William membuka kemejanya, pria itu hanya memakai kaus dalam berwarna putih yang juga terdapat bercak darah di sana, kesulitan membuka kain tersebut mereka memutuskan untuk mengguntingnya.
Pria itu mengernyit saat Lily dengan perlahan menempelkan cairan betadin pada bagian lengan yang terluka, perempuan itu pun reflek menarik tangannya.
"Sakit kah?" tanya Lily.
"Lumayan," jawab William dengan pandangan yang masih memperhatikan luka di lengan yang masih mendapat pengobatan dengan perlahan.
Dari jarak sedekat ini, Lily dapat merasakan hembusan napas pria itu yang terdengar amat tenang, berbeda dengan deru napasnya sendiri yang terasa menyesakkan, entah kenapa batas yang semakin menipis diantara mereka sesekali membuatnya menahan napas, dan detak jantung yang entah milik siapa mulai terdengar jelas di telinganya.
"Kenapa kau melindungiku?" tanya Wanita itu yang membuat pandangan pria di hadapannya kemudian mendongak, dan senyum di bibir tipsnya membuat hati Lily seketika berdesir.
"Wanita kan memang harus dilindungi," ucap William yang tidak mendapatkan tanggapan dari Lily, dia sibuk memasang perban untuk menutup luka di lengan pria itu dengan teliti. "Aku tidah ingin kau terluka."
__ADS_1
Kalimat itu membuat Lily menghentikan gerakan tangannya, selain ayah dan kakaknya, William adalah orang pertama yang rela berkorban untuk dirinya, jujur saja dia merasa sedikit terharu karenanya. "Kau tidak harus melakukan itu, lindungilah dirimu dulu, baru orang lain."
"Aku tidak menganggapmu orang lain."
Lily tertegun, namun sesaat kemudian menyibukkan diri dengan peralatan yang kembali ia masukan ke dalam kotak, mencoba melupakan apa yang barusan pria itu utarakan. "Aku ingin pulang, ini sudah malam," ucapnya kemudian.
William menatap wanita di hadapannya dengan ekspresi yang sulit dibaca, dan hal itu membuat Lily kembali bertanya.
"Kenapa?"
"Besok pagi anak buahku sampai di sini, dia yang akan membawakan alat untuk membuka borgol ini, jadi malam ini tidur lah di sini."
"Apah?" Lily berucap tidak percaya, perempuan itu mengedarkan pandangannya ke mana saja, pernyataan itu membuat dirinya sulit berkata-kata. "Yang benar saja?"
"Memangnya kenapa? Atau kau lebih nyaman menginap di hotel seperti waktu itu."
"Hentikan Will, kumohon jangan bahas itu lagi, aku bukanlah wanita murahan yang seperti kau pikirkan, dan dapat kau panggil saat dirimu menginginkannya, aku melakukan itu hanya terpaksa, dan cukup sekali saja."
William mencerna setiap kalimat yang terlontar dari wanita itu, kemudian bibirnya yang melengkungkan senyum, membuat Lily sontak mengerutkan dahi.
"Siapa bilang kau murahan, aku bahkan membelimu dengan begitu mahal, " ucap William yang membuat wanita di hadapannya itu menghela napas berat.
Lily tidak tau lagi harus berkata apa, mungkin dalam pandangan pria itu dirinya begitu hina, dan yang membuat wanita itu bingung sifat pria di hadapannya ini sering kali berubah-ubah, terkadang bisa begitu dingin, namun sering juga bersikap manis seperti sekarang ini, dia jadi takut jika berbuat salah.
William beranjak berdiri, dan hal itu membuat Lily mendongakkan kepala, "Mau ke mana?" tanya wanita itu.
"Aku tidur di bawah saja, biar kau yang tidur di atas kasur," ucap Lily memberi usul.
"Kau begitu takut denganku, memangnya kenapa? Asal kau tau Nona, untuk yang kedua tidak akan terasa sakit seperti saat pertama, tenang saja."
Kalimat itu membuat Lily berpikir, "apa maksudnya?" tanya perempuan itu.
William terkekeh pelan, dan gerakan membuka kain terahir yang melekat pada tubuh bagian atasnya itu membuat Lily tertarik mendekat, nyaris menubruk dada bidang pria itu.
"Oh, sory, aku melupakan borgol ini," ucap William, dan tanpa menunggu tanggapan, dengan lebih perlahan pria itu melepaskan kaus itu, dan mengguntingnya agar terlepas . "Kau mau buka baju juga?" goda pria itu.
"Tidak terimakasih." Lily menjawabnya dengan membuang muka, pria yang bertelanjang dada di hadapannya ini mungkin tidak pernah tau bahwa jantungnya mulai bertalu-talu. Apa hanya dirinya yang merasakan itu, jika dilihat dari raut wajahnya, William tampak biasa saja. Sialaaan.
Saat William menaiki ranjang, pria itu menoleh pada Lily yang terlihat ragu dan memilih diam saja, pria itu meraih pergelangan tangan Lily, sedikit menarik agar perempuan itu ikut naik.
Dengan cepat Lily menyembunyikan nyaris seluruh tubuhnya ke dalam selimut, jujur saja dia merasa begitu takut.
Keheningan di antara keduanya tidak berlangsung lama, saat William kemudian mengeluarkan suara, "jika boleh tau, untuk apa kau menjual dirimu?" tanya pria itu.
__ADS_1
Lily sebenarnya tidak ingin bercerita, namun daripada pria itu berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya, lebih baik ia mengungkapkan semuanya, wanita itu mulai menceritakan tentang kakaknya yang koma di rumah sakit, dan karena kebakaran di kantor perusahaannya, semua harta benda yang tersisa kemudian disita.
William bergerak memiringkan tubuhnya, menatap perempuan itu dengan sorot yang berbeda, "Kau sedih?" tanyanya.
Lily yang semula menghadap langit-langit kemudian menoleh, "tentu saja," ucapnya lemah, kembali menghadapkan pandangannya seperti semula, "tapi harus bagaimana, demi kakakku aku harus bertahan."
William terdiam, jika nanti kakaknya bangun, mungkin melihat dirinya wanita ini sudah tidak lagi sudi, karena pria itu adalah kunci, dan hanya dia yang tau siapa yang terlibat di balik semua kebakaran yang terjadi, namun yang tidak ia ketahui tentu saja tentang kebenaran itu sendiri
William mengangkat tangannya yang tersangkut borgol ke atas bantal, hingga tangan Lily ikut tertarik karenanya, dan tanpa terduga, pria itu menautkan jemari mereka. "Jika kau butuh tempat berlindung, mungkin kau butuh aku," ucapnya dengan sedikit terdengar bercanda.
"Aku punya Tuhan, kenapa harus berlindung padamu." Lily menanggapi.
Sejenak William berpikir, "jika seandainya Tuhan mengutusku untuk melindungimu, apa kau mau?"
Lily terdiam dengan tatapan yang mengarah pada wajah pria itu, tidak ada gurat bercanda dari raut wajahnya untuk kalimat yang baru saja ia terima, apakah ini sebuah ungkapan perasaan, tapi mengapa terdengar terlalu mudah, dan lagi kenapa cepat sekali pria ini menjatuhkan perasaannya.
William tidak mengerti kenapa sepertinya ingin sekali dia melindungi wanita ini. Apa sesederhanya sebuah nama yang kebetulan sama dengan mantan kekasihnya, atau karena rasa bersalah pada wanita itu karena dia ikut terlibat dalam musibah kebakaran yang dialami keluarganya. Dan yang tidak pria itu sadari bahwa mungkin dia melakukan semu ini karena dirinya telah jatuh hati.
"Tidurlah," ucap William, melepaskan tangan perempuan itu untuk ia letakkan saling bersisian, diapun memejamkan mata.
Lily merasa lega, karena mungkin malam ini tidak akan terjadi apa-apa, namun entah kenapa sebagian dari dirinya malah kecewa, dan hal itu membuat ia menggelengkan kepala, sepertinya dirinya mulai gila.
"Kenapa?" William yang terlihat gelisah membuat perempuan yang merasa terganggu itu jadi bertanya.
Pria itu memejamkan mata, belum pernah seumur hidupnya satu ranjang dengan seorang wanita dan dia tidak melakukan apa-apa, oh sungguh tidak bisa.
Lily tampak menunggu, dan keputusannya menyentuh pipi pria itu menjadi sebuah hal yang amat ia sesali kali ini, karena saat mata pria itu terbuka, sorot sayu yang terpancar dari sana terlihat sama seperti saat pertama mereka melakukannya.
William merasa deru napasnya mulai memburu, "aku menginginkanmu," ucap pria itu.
"Eh?"
***iklan***
Author : maaf ya, ternyata aku gak mampu kalo buat update lebih cepet, semoga kalian sabar menunggu.
Ada yang diralat dari cerita ini, rumah Lily termasuk ke dalam yang di sita ya, jadi yang kebakar cuma kantor perusahaannya aja. Yaelah ribet amat kanjeng. 🙄
Netizen:gue sih lebih tertarik sama terusannya, itu kira-kira mereka ngapain aja coba, masa sama sekali nggak ada tulisan dan mereka melakukannya 😌
Author: ya terus mau gimana lagi, lu bayangin aja sendiri masa ia main gundu kan gak mungkin. 😑
Netizen: jelasin dikit napah 😒
__ADS_1
Author : ntar gue pikir-pikir dulu, banyakin atuh votenya biar hati gue tersentuh 🤣🤣
Netizen : 😑😑😑