Gadis 100 Juta

Gadis 100 Juta
RINDU


__ADS_3

William menduduki sofa di dalam ruangan kerjanya, selepas rapat tadi dia yang tidak dapat berkonsentrasi mendapat teguran dari Justin.


"Masalah pribadi tidak usah dibawa ke kantor, sepertinya dulu kau yang sering mengatakan itu," sindir Justin, pria itu merasa heran saat dalam ruangan tadi William lebih banyak melamun.


Jujur saja William memang memikirkan Lily seharian ini, sejak kemarin pria itu tidak berani menghubungi Lily, pesan terakhir wanita itu adalah sebuah permintaan untuk tidak menemuinya lagi.


Pria itu bersandar pada sofa, menutup kedua matanya dengan satu lengan, "katakan Justin, aku harus bagaimana?" tanyanya meminta pendapat.


Justin menghela napas, sahabatnya itu memang sempat bercerita perihal masalahnya sore kemarin, dan tentu saja dirinya tidak bisa berbuat apa-apa selain memberikan nasihat. "Kau bodoh atau bagaimana, sudah jelas wanita itu mendekatimu hanya ingin uang agar kakaknya dapat disembuhkan, kau menolong serigala terjepit yang dapat memakanmu sewaktu-waktu." Justin terus mengomel.


William menurunkan lengannya, kemudian menoleh. "Leon bukannya singa?"


Justin melengos malas, sempat-sempatnya pria itu membahas hal demikian, padahal dia sedang kesal, "terserah kau saja."


"Coba saja kau yang berada di posisiku, dan Nena yang menjadi wanita itu, apa yang akan kau lakukan?" William bertanya dengan menjadikan istri sahabatnya itu sebagai perumpamaan, dan tentu saja tidak mendapatkan jawaban. "Sulit bukan? Kau tidak tau Lily, dia tidak sama seperti banyak wanita yang kau pikirkan."


"Aku tidak memikirkan banyak wanita," sangkal Justin yang membuat sahabatnya itu melengos, dia menegakkan duduknya dari sandaran sofa, "aku heran, wanitamu begitu banyak, tapi kenapa yang membuatmu gila hanya perempuan itu," imbuhnya.


William mengangkat bahu, "dia berbeda, kau tidak akan mengerti," balasnya, belum sempat sahabatnya itu menanggapi, suara pintu terbuka membuat keduanya menoleh.


Ardi menyapa para seniornya di dunia bisnis, pria ber anak satu itu ikut duduk di sofa dan meletakan berkas-berkas yang ia bawa ke atas meja. "Banyak hal yang harus kuselesaikan hari ini, kepalaku pusing," keluhnya.


Justin yang adalah kakak dari pria itu kemudian mengambil benda yang adiknya letakkan ke atas meja, dan dengan perlahan memeriksanya.


"Ar, jika wanita yang kau cintai berkata akan pergi, apa yang kau lakukan?"


Ardi yang semula ikut memperhatikan sang kakak membaca berkas di tangannya kemudian menoleh, lalu berpikir, "memberikan ongkos pergi maksudnya?" dan dia malah bertanya, biasanya jika istrinya akan pergi dia selalu menanyakan punya uang atau tidak.


William berdecak, dan Justin nyaris tertawa karenanya. "Bukan pergi dalam arti sebentar, tapi berniat meninggalkanmu," ralatnya.


"Tentu saja aku akan memperjuangkannya," balas Ardi setelah mengangguk mengerti, namun William diam saja, "Memangnya siapa yang ingin meninggalkan siapa?" tanyanya kemudian.


Justin menyikut lengan adiknya, dan keduanya membahas isi berkas-berkas yang pria itu bawa.


William menghela napas, setelah sempat menegakkan duduknya tadi, kini ia sandarkan lagi pada sofa, pusing memikirkan masalah cinta,"jadi kalian tidak ada yang bisa memberikan aku solusi?"


Pertanyaan itu membuat kedua kakak beradik di hadapannya kompak menoleh, "setauku wanita yang Bang Will kencani banyak sekali, seharusnya masalah ditinggal dan meninggalkan sudah menjadi hal yang biasa." Ardi berkomentar.


William menegakkan duduknya lagi, "perempuan yang ini berbeda, aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja, seperti ada separuh jiwaku yang terbawa," ucapnya dengan menyentuh dada, pandangan pria itu menerawang entah ke mana.


"Aku punya ide untukmu," ucap Justin setelah benda di tangannya ia letakkan di atas meja, dan William begitu antusias mendengarnya.


***


Daniel baru saja menemui Leon juga adiknya untuk membahas jadwal operasi, pria itu senang bertemu dengan Lily, perempuan berambut panjang itu selalu terlihat cantik sekali.


Sepertinya Leon begitu mendukung agar dia mendekati adiknya, tapi kedekatan Lily dengan pria bernama William tentu saja membuat Daniel tidak berani untuk mengambil keputusan, yang sebenarnya ingin menjadikan Lily sebagai calon istri di masa depan.

__ADS_1


Pria itu beranjak berdiri, untuk menjadikan Lily sebagai calon istri tentu dia harus bekerja lebih keras lagi, saingan sekelas Tuan William tentu saja membuat ia kehilangan nyali.


Belum sempat melangkah, suara pintu terbuka membuat Daniel sedikit terkejut, terlebih saat mendapati beberapa pria bertubuh besar yang tidak ia kenali tampak memasuki ruangannya. "Ada apa ini?" tanya Daniel, biasanya jika ada yang ingin bertemu, dia selalu mendapat pemberitahuan dari suster dulu.


Dan kemunculan William yang seharusnya dapat menjadi jawaban nyatanya membuat pria itu malah semakin kebingungan, ada apa orang ini datang menemuinya.


"Tuan William." Daniel menundukkan kepala sejenak, "ada hal apakah yang membuat anda sampai datang menemui saya Tuan?" tanyanya dengan sedikit gentar, suara pintu ruangannya yang dikunci oleh pria terakhir yang memasuki tempat itu, membuat Daniel sedikit takut.


William melepas kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, tatapan pria itu tampak dingin hingga membekukan seseorang di hadapannya.


"Aku ada perlu denganmu," ucap William datar.


Daniel mengangguk lagi," apa itu Tuan?" tanyanya.


William meminta jadwal kapan Leon akan menjalankan operasi donor mata, dan pria itu mendapatkan jawabannya dengan segera.


"Aku ingin mengajakmu kerja sama," ucap William yang membuat pria bersnelli putih itu jadi waspada.


***


Lily merasa heran saat mendapati kabar dari Daniel tentang perubahan jadwal operasi untuk kakaknya, pria itu bilang dokter khusus yang menangani mendadak diutus tugas ke luar Negri, dan jika ia ingin tetap menjalankan operasi, mereka harus menyusulnya ke Negara sana.


"Jadi kau akan meninggalkan aku sendirian?" Lily bertanya sembari merapikan baju yang akan kakaknya bawa ke dalam koper, "biarkan aku ikut Kak," Pintanya.


Dengan menyesal Leon harus berkata tidak bisa, "tunggu kakak pulang Ly, kau akan baik-baik saja, jika kamu takut, ajak saja Lura untuk menemanimu." Leon memberi usul.


Leon mengulurkan tangan, dan Lily menangkapnya untuk kemudian menaruh di pipinya sendiri, kakak kandungnya itu mengusapnya dengan ibu jari. "Jangan takut, setelah ini kakak akan selalu menjagamu setiap hari, terimakasih sudah membantu aku selama ini."


Lily yang menganggukkan kepala dapat dirasakan oleh tangan Leon yang kemudian mengulas senyum di bibirnya, dan Ketukan di pintu membuat keduanya menoleh.


Koper berukuran sedang di tangannya segera Lily berikan pada Daniel saat kedatangan pria itu mengabarkan bahwa mereka harus berangkat dengan segera.


"Kenapa begitu tiba-tiba?" tanya Lily.


Daniel menjelaskan sesuatu yang mungkin dapat wanita itu mengerti, dan mau tidak mau mereka juga harus mengikuti.


"Cepatlah pulang kak, aku menunggumu," pinta Lily.


Tatapan Daniel yang tampak berbeda membuat Lily sedikit curiga, dia pun bertanya ada apa.


Daniel menggeleng, kemudian menyentuh pundak wanita itu dengan tangan kanannya, "jaga dirimu baik-baik Ly, kami akan segera pulang," ucapnya yang membuat wanita di hadapannya itu mengangguk, dan lambaian tangan Lily mengiringi laju kendaraan yang mereka tumpangi.


Lily mengunci pintu, dan segera menuju kamarnya di lantai dua, namun suara ketukan pada benda itu membuat dia kemudian menoleh. "Kenapa mereka cepat sekali kembali, mungkin ada yang tertinggal," gumamnya.


Tanpa mengintip ke luar jendela terlebih dulu, Lily kemudian membuka pintu, dan tidak menyangka akan kedatangan seorang tamu.


"Merindukan aku Nona." Sapaan pria yang sangat ingin dia hindari itu membuat Lily amat terkejut, dia berubah takut.

__ADS_1


William menahan pintu di hadapannya tertutup saat wanita itu berusaha menghindarinya, dengan tenaganya yang tidak sebanding tentu saja begitu mudah benda itu kemudian terbuka.


"Kau mau apa?" tanya Lily dengan melangkah mundur saat pria itu beranjak mendekat.


William tertawa, "Kenapa kau terlihat takut, aku masih William yang sama."


Lily menggeleng, "sudah kukatakan padamu Tuan William, tolong jangan temui aku lagi," ucapnya dengan sedikit gemetar, dia merasa ada yang berubah dari tatapan pria di hadapannya.


William tertawa lagi, "aku hanya rindu pada setiap lenguhanmu, dapatkan kita mengulang semua itu?"


Lily tersudut pada tembok yang punggungnya tabrak di belakangnya, wanita itu tidak bisa lagi kemana-mana.


Sentuhan pertama dari William pada pipi Lily, membuat ia memejamkan mata, dan ketakutan karenanya.


"Oh Lily, ini aku, kau melupakanku?"


Suara lemah itu membuat Lily membuka kelopak matanya, tatapan teduh pria itu dia sangat mengenalinya, dan dia sadar bahwa iapun merindukannya.


Bersambung...


To be continue...


Besok lagi...


Ngeselin...


Iklan sirup marziaan.


Netizen: itu Bang Leon dikirim ke Negara mana si thor 🤔


Author : Kemana aja lah seterah lu 😒


Netizen: Ada tukang nulis kek begini, pembaca suruh mikir sendiri 😌


Author : Eh gue mau tanya. Hal apa yang selama ini masih membuat lu bingung ampe sekarang. 😌


Netizen: 🙄 apaan si, yang bikin gue bingung kenapa like per episode ini beda beda, apakah ada yg gak punya jempol. 🤔


Author : Biarin aja lah yang penting votenya kenceng. 😌


Netizen: trus hal apa yg membuat lu bingung sampe sekarang thor. 🙄


Author: Gue bingung sih kenapa sering ikutan Give away tapi sekalipun gak pernah dapet 🤔


Netizen: Ngenes 😌 gapernah gue ikutan GA thor, orang dikirimin pesan suruh ngambil hadiah mobil aja gue diemin.


Author: pesan Penipuan itu mah 😌

__ADS_1


__ADS_2