Gadis 100 Juta

Gadis 100 Juta
Salah Paham


__ADS_3

William keluar dari mobilnya, disusul dengan Naura yang kebingungan melihat seseorang berdiri di depan gerbang rumahnya.


Leon mendekat, tatapannya tajam pada William yang tampak diam saja, "adakah penjelasan tentang ini?" tanyanya, pria itu tampak begitu kesal, dan William bisa melihat tangan calon kakak iparnya itu sudah terkepal. "Breengsek!"


William mundur satu langkah saat pukulan Leon mengenai sudut bibirnya. Pria itu mengusap darah yang mengalir dari sana.


"Hentikan!" Naura yang terlihat syok berdiri di hadapan William, menghalangi pria itu saat Leon akan kembali menyerangnya. "Kamu siapa? Kenapa memukul orang seenaknya," omel wanita itu.


Leon masih terlihat belum puas dengan apa yang dia lakukan, napasnya tampak memburu, tatapannya tajam mengarah pada pria itu. "Adakah pria yang lebih tidak berperasaan dari pada kau," ucap Leon sinis.


William menghela napas, wajar jika Leon terlihat marah saat melihat dirinya bersama wanita lain, namun yang membuat dia bertanya-tanya, untuk apa pria itu berada di sini. "Hubungan kami tidak seperti apa yang kau pikirkan Leon," ucap William.


Leon berdecih sinis, "lalu seperti apa hungungan yang kau maksud, mengatakan pada Lily bahwa kau tengah menghadiri makan malam keluarga, dan sekarang berada di sini dengan mengantarkan seorang wanita?" omelnya panjang lebar.


Naura menoleh pada William, "Siapa Lily?" tanyanya.


"Dia kekasihku, calon istriku." William menjawab, dan mendapati Naura yang terlihat biasa saja, emosi Leon kemudian mereda.


"Lalu siapa pria ini, kenapa dia terlihat marah sekali?" tanya Naura pada William, kemudian beralih menatap Leon bergantian.


William ikut menatap Leon dengan ketenangan di wajahnya, setelah menjawab pertanyaan Naura bahwa pria di hadapan mereka adalah kakak dari kekasihnya, dia kemudian bertanya."Kau mengenal Nona Naura?"


Sejenak Leon terdiam, dia sedikit merasa ragu, tatapannya beralih pada Naura yang terlihat tengah menunggu. "Ya, aku mengenalnya," ucap pria itu.


"Kau mengenalku?" tanya Naura tidak percaya, wanita itu mencoba mengingat sosok pria tampan di hadapannya.


Pria itu mengulurkan tangan, "Leon Fernandes," ucapnya.


Dengan ragu Naura mengangkat tangan kanannya, "Leon?" ulang wanita itu, demi berusaha keras mengingat sipa sosok pria di hadapannya itu, Naura begitu dalam mengerutkan dahi, dan rasa pusing di kepala membuat tubuhnya sedikit limbung, dan Leon dengan sigap menangkapnya saat wanita itu tidak sadarkan diri.


"Naura!"


***


"Jadi begitu Nak Leon, Naura belum bisa mengingat apapun, dan saat dia berusaha keras untuk membuka kembali ingatannya, dia pasti seperti ini, dan itu sudah sering terjadi," tutur Freddy ayah dari Naura saat Leon mengaku sebagai teman dekat wanita itu saat kuliah dulu.


Leon menoleh pada William yang duduk di sebelahnya, saat Naura pingsan tadi kedua pria itu segera membawa wanita itu masuk ke dalam rumahnya.


"Apa kalian sudah saling mengenal?" tanya Freddy, tatapannya mengarah pada William, dari interaksi keduanya meski tanpa mengucapkan apa-apa tapi terlihat sekali bahwa mereka mungkin sering berjumpa.


William hendak berucap sesuatu, namun Leon lebih dulu bersuara,"kami berteman, dulu," ucapnya.

__ADS_1


Kalimat itu membuat William menoleh, kemudian beralih pada ayah Naura yang tampak tersenyum di hadapannya.


"Baguslah jika kalian saling mengenal," ucapnya, kemudian menyuruh kedua tamunya untuk minum.


Tidak lama kemudian William berpamitan, disusul dengan Leon yang juga mengutarakan hal yang sama, pria itu menitip salam pada Naura dan meminta maaf karena telah membuatnya tidak sadarkan diri.


"Kalian dijodohkan?" tanya Leon dengan melipat lengannya di depan dada, saat mereka sudah berada di depan mobil William.


Bukannya menjawab William justru membuka pintu untuk penumpang di mobilnya, dan menyuruh Leon untuk masuk.


Dalam perjalanan menuju pulang, William menceritakan sedikit tentang perjodohan yang direncanakan keluarganya. "Bukan hanya aku, Naura pun tidak setuju dengan perjodohan itu," ucap William dengan sejenak menoleh pada Leon yang duduk di sebelahnya, kembali fokus pada jalanan dan membelokan kemudi menuju rumah Leon, dia mengaku naik kendaraan umum saat berkunjung ke rumah Naura. "Jadi hubungan kalian?"


Leon menoleh mendengar pertanyaan itu, "teman," jawabnya.


William sedikit terkekeh, "aku tidak yakin," ucapnya menyindir, mengingat betapa kerasnya pukulan pria itu yang mengenai rahang hingga sudut bibirnya berdarah, dia rasa bukan karena dirinya yang kedapatan menghianati sang adik, melainkan karena cemburu pada Naura, sepertinya begitu.


"Kami sempat dekat dulu, dua tahun sebelum Naura mengalami kecelakaan itu," tutur Leon.


William mencoba menjadi pendengar yang baik. "Dan sekarang dia tidak mengingatmu? Kau pasti sedih sekali," ucapnya dengan nada bercanda, Leon melengos karenanya.


"Aku justru senang karena dia tidak mengingatku, ada satu hal yang mungkin akan membuat dia menjauh saat nanti mengingatnya, tapi saat ini aku akan memulai dari awal dan dia akan mengenal diriku tanpa masa lalu," ucap pria itu.


"Tolong jangan katakan dulu tentang ini pada Lily, biar nanti kuselesaikan sendiri," Pinta William saat mereka sudah berada di depan pintu.


Leon tampak berpikir, "adakah upah tutup mulut untuk ini?" tanyanya yang membuat William berdecak sebal.


"Baiklah, apa yang kau inginkan?" tawar pria itu.


"Mobil dan semua kendaraan yang kumiliki masih disita bank, kau tau lah apa maksudnya." Leon brucap.


"Mahal sekali uang tutup mulutmu," sindir William setengah bercanda.


Dan Leon kemudian tertawa, " satu lagi, jangan dekati Naura, karena bisa saja dia malah tertarik padamu," ancam Leon.


William tertawa kecil, "Kau takut?" tanyanya.


"Jadi? Apa yang membuat kalian terlihat akrap?"


Belum sempat Leon membalas olokan William, kalimat itu membuat keduanya merasa terkejut, ternyata pintu rumah yang memang sedikit terbuka menjadikannya tidak bersuara saat Lily kemudian mendorongnya.


"Naura siapa?" Lily mengulang kalimat yang ia dengar diperdebatkan oleh keduanya, dan nama seorang wanita tentu saja membuat ia bertanya.

__ADS_1


"Bukan siapa-siapa," ucap Leon, merangkul sang adik kemudian mengajaknya masuk.


Saat sudah di dalam, Lily melepaskan rangkulan sang kakak kemudian beralih pada William yang mengikuti mereka.


"Naura siapa Will?" tanya Lily pada kekasihnya itu.


William tersenyum lembut, mengarahkan jemarinya untuk menyentuh pipi wanita itu. "Bukan siapa-siapa, tidak usah kau pikirkan," ujarnya yang membuat Lily kemudian menyerah.


"Jangan ke kamar, kalian belum resmi, ingatlah masih ada aku di rumah ini." Leon berucap lantang, kemudian masuk ke kamarnya, dan hal itu membuat Lily tertawa.


"Ayo!" Lily menarik tangan William menuju ke ruang keluarga, dan di sofa panjang dia mendudukkan dirinya, diikuti dengan William juga melakukan hal yang sama.


William mendekat, mengarahkan tangannya untuk mengusap perut Lily yang masih belum terlihat ada janin di dalamnya. "Apa kau baik-baik saja di sana?" tanyanya yang membuat Lily sedikit tertawa.


"Tentu saja aku baik-baik saja, Papi." Lily yang menjawab, menirukan suara anak-anak yang membuat William kemudian tersenyum.


"Bagaimana kabarmu? apa kau menginginkan sesuatu?" tanya William, karena biasanya wanita hamil selalu mengidam.


Lily yang menggeleng membuat William merasa heran, "aku hanya merasa selalu rindu kepadamu," ucap wanita itu.


William meraih pipi Lily, mengusap lembut dengan ibu jarinya. "Sabar ya, sebentar lagi kita akan menikah, dan tentu saja akan tinggal bersama, kau tidak perlu merasa rindu, karena aku akan selalu ada di sekitarmu," ucap pria itu.


Lily yang merasa terharu kemudian berterimakasih, ikut menyentuh pipi William untuk mengusapnya, wanita itu mengerutkan dahi saat mendapati sudut bibir kekasihnya itu terlihat membiru, "kau kenapa?" tanyanya khawatir.


William menangkap jemari Lily, kemudian mengatakan bahwa memar di sudut bibirnya itu karena sesuatu yang tidak disengaja, "Kau tidak perlu khawatir," ucapnya.


Lily mengangguk, "aku tidak ingin pestanya terlalu meriah," ucapnya kembali membahas obrolan mereka yang sedikit tertunda.


"Kenapa?" tanya William.


Lily menggeleng, "kita undang kerabat dekat saja."


William mengulas senyum sebagai tanggapan, kemudian mengangguk, "Apapun yang membuat kau merasa nyaman sayang," ucap pria itu dengan mencium punggung tangan kekasihnya.


***


Author: buat yang nanyain undangan jan pada kecewa, situ bukan kerabat dekat Bang bule ya 😌


Netizen: lu aja keknya gak diundang ya thor 🤔


Author: Gue mah datang tak dijemput pulang tak diantar dong 😆

__ADS_1


__ADS_2