Gadis 100 Juta

Gadis 100 Juta
PELUKAN


__ADS_3

"Aku mungkin memang berada di tempat kejadian, tapi bukan berarti aku pelakunya Ly." William mencoba menjelaskan, saat Lily bertanya tentang keterlibatannya dalam peristiwa kebakaran, yang merenggut nyawa sang ayah.


Lily tampak diam, mungkin benar yang di katakan William, tapi kakaknya juga belum tentu salah kan."Aku mau pulang," ucapnya.


William menahan pintu di hadapannya untuk terbuka saat Lily menarik benda itu, "aku tidak terlibat atas meninggalnya ayahmu," ucapnya dengan raut wajah yang serius.


Lily mengangguk, "aku hanya tidak sengaja melihat beritanya di koran, bahwa kamu berada di tempat kejadian, jika memang kau tidak terlibat yasudah."


Mendengar itu William menghela napas, dia tau tidak ada berita apa apa tentang dirinya di koran Mana pun, dan dia juga tau Lily berbohong, tapi itu lebih baik.


William tidak ingin melihat Lily menyudahi kepura-puraannya, dia tidak ingin wanita itu pergi dengan tergesa, pria itu akan lebih menikmati jika wanita di hadapannya itu terus berpura-pura.


"Biar kuantar," ucap William dengan kembali ke mejanya untuk mengambil kunci mobil di dalam laci.


Lily mengerutkan dahi, "bukankah kau sibuk?"


William menghampiri Lily yang berdiri tepat di depan pintu, pria itu memberikan ciuman sekilas di bibir wanita itu, kemudian tersenyum.


Lily yang terlonjak lalu membelalakan mata, wanita itu menutupi mulutnya dengan telapak tangan.


"Kenapa? Kurang lama?" goda William.


Belum sempat Lily menjawab, pria itu kembali menyatukan bibir mereka.


***


William tidak mengerti kenapa pada Lily dia tidak dapat menahan diri, wanita itu seperti magnet yang membuat dirinya selalu terseret.


Pria itu memaksa untuk mengantarkan Lily pulang ke toko bunganya, dan saat lampu jalan raya berubah merah, William menoleh pada wanita di sebelahnya. Lily tampak diam saja, bahkan menolak disentuh dengan menepis tangan Pria itu yang mengarah pada pipinya.


"Kenapa?" tanya William dengan raut wajah yang geli, senyumnya tampak mengolok sekali.


Lily melengos kesal setelah sesaat barusan sempat menoleh, bagaimana dia tidak keki, setelah membuat penampilannya berantakan, pria gila itu segera menariknya keluar ruangan hingga ia begitu malu pada Nadira yang menahan senyum di balik mejanya.


William kembali melajukan kendaraan yang ia bawa saat lampu berubah warna, "bukankah wanita selalu suka dengan pria yang pemaksa, kukira kau termasuk ke dalamnya."


Lily melirik sinis, "siapa bilang?" sangkalnya.


"Wanita itu sulit untuk memulai, tapi setelah terbuai dia sulit untuk berhenti, apakah aku benar."


Siyal, Lily benar-benar merasa malu, mengingat tindakannya di ruangan pria itu beberapa saat yang lalu, selain diam saja, gerakan tangannya yang menahan kepala pria itu saat akan melepaskan ciuman mereka, berhasil membuat William menahan tawa. Dan dia memilih untuk diam saja hingga kendaraan yang pria itu bawa berhenti di depan toko bunganya.


Lily mengerutkan dahi saat melihat Daniel duduk saling berhadapan dengan sang kakak di kursi yang terletak pada halaman toko bunganya.

__ADS_1


"Kalian sepertinya begitu dekat," komentar William, dan berhasil membuat Lily kemudian menoleh.


"Iya, kami memang berteman," ucap Lily sembari membuka pintu.


William kembali menutup benda itu untuk Lily, tatapannya yang teduh membuat perempuan itu mengerutkan dahi.


"Kenapa?" Lily bertanya setengah tertawa melihat wajah pria di hadapannya yang terlihat berbeda.


"Jangan dekat-dekat dengan Daniel, dia sepertinya  menyukaimu."


Lily menggeleng, "dia itu temanku Will, dan tidak akan lebih dari itu, kurasa dia juga begitu."


William berdecak sebal, melirik sekilas pada pria bernama Daniel dan kembali pada Lily, "aku tidak suka berbagi, jadi jangan biarkan pria itu menyentuhmu," ucapnya, meraih jemari Lily kemudian berucap lagi, "bahkan ujung kuku tanganmu sekalipun."


Lily menarik tangannya dari genggaman William, "tidak semua pria di dunia ini kurang ajar seperti kamu, bahkan hanya kau yang berani menyentuhku sejauh itu." Lily mengomel.


Bukannya tersinggung William justru malah tertawa, dan hal itu membuat Lily menciptakan kerutan di dahinya. Wanita itu kembali membuka pintu dan lagi-lagi dengan cepat William mencegahnya.


Belum sempat mengomel, suara pintu terkunci membuat Lily heran sekali. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya panik.


William kembali melajukan kendaraannya, "aku akan mengantarmu  pulang jika pria itu sudah pergi."


"William."


***


"Mau kuantar Tuan?" tawar Davin saat William telah bersiap untuk menemui sang papa di rumah besar keluarganya.


William menggeleng, "tidak perlu, kau tidak harus terlibat, istirahatlah," titahnya, kemudian melangkah pergi setelah menepuk pundak orang kepercayaannya itu.


Davin terlihat khawatir, namun tentu saja dia tidak bisa berbuat apa-apa, tuannya lebih bisa menghadapi itu semua, diapun memutuskan untuk kembali ke rumahnya.


William memang sempat ingin menghentikan bisnis gelap yang ia jalani, dari penyelundupan barang-barang ilegal yang merugikan beberapa pihak, dan beberapa kegiatan lain yang juga melanggar peraturan, dan nyatanya hal itu malah sudah sampai ke telinga sang papa.


Pria itu melangkah tenang memasuki rumah besar orangtuanya, dan disambut ramah oleh beberapa pekerja di sana.


"Tuan besar beserta istri dan anaknya tengah makan malam Tuan," ucap salah satu asisten rumah tangga sang papa saat William menanyakan keberadaan pria itu.


William mengangguk berterimakasih, dan melangkah menuju ruang makan yang letaknya sudah ia hafal sekali.


Belum sampai pria itu ke tempat yang akan dituju, dia sudah berpapasan dengan sang papa yang sepertinya telah selesai makan malam.


Rosa menyuruh Alan putra bungsunya untuk pergi ke kamar lebih dulu, wanita itu tetap berdiri menemani sang suami menghadapi putra pertamanya.

__ADS_1


William hendak melangkah, namun Albert melarangnya untuk mendekat. "Jika berita buruk tentangmu itu adalah benar, maka jangan pernah kau menyentuh punggung tanganku lagi William."


William yang menunduk kemudian menelan ludah, dia tidak takut sebenarnya, hanya saja kesehatan sang papa membuatnya khawatir untuk mengakui itu semua.


"Jawab!" Bentak Albert.


William memberikan tatapan tenang pada pria di hadapannya, belum sempat menjawab, sang papa kembali mengutarakan kalimatnya.


"Apa kau tau, tindakan kotormu itu dapat mencoreng nama baik keluarga, jika kau tidak mau meninggalkan itu semua, lebih baik kau jangan akui aku sebagai ayahmu lagi." Albert yang terlihat marah begitu susah mengatur napasnya, pria itu terlihat lelah.


Dengan tangan kiri, Rosa menyentuh pundak sang suami, gelas berisi air putih di tangan kanannya, sengaja ia bawa untuk membantu pria itu meminum obat saat mereka sampai di kamar.


"Maaf," ucap William lirih, meski tidak merasa menyesal karena telah mengecewakan papanya, pria itu cukup menghormati beliau dengan cara tidak banyak membantah.


Satu kata maaf dari William sudah cukup menjadi alasan untuk Albert menyentuh dadanya yang terasa nyeri, putranya itu tidak banyak bicara, dan satu kata saja sudah mewakili semua pertanyaannya.


Alber merebut gelas dari tangan sang istri dan melemparkan benda itu pada putranya.


William tidak menghindar saat gelas yang mengenai tembok di sebelahnya itu pecah berhamburan, hingga serpihan kacanya sedikit mengenai pipi pria itu dan berdarah, namun dia diam saja.


"Pergi kau dari hadapanku, dan jangan pernah kembali jika sifat burukmu itu belum dapat kau perbaiki!" Usir Albert.


William bergeming di tempatnya, dan sesaat kemudian mendongak, tatapan teduh, juga rindu dari pria itu tidak tersampaikan dengan kalimatnya, diapun mengangguk, dan segera pergi dengan keresahan yang menumpuk.


***


Lily masih sebal dengan William yang mengajaknya berputar-putar, tapi entah kenapa mengingat itu semua dia malah tertawa. "Dasar gila," umpatnya sembari menatap wajah mereka di dalam ponselnya saat siang tadi pria itu terus memaksa untuk foto bersama.


"Kau itu musuhku Will, jadi tolong jangan terlalu baik, tetaplah menyebalkan agar aku bisa membencimu." Lily berbicara sendiri, dengan ponsel yang masih menampakkan foto kedekatan mereka berdua di dalam mobil.


Ketukan di pintu membuat wanita itu menoleh pada jam dinding yang tersangkut di sudut kamarnya, selarut ini siapa yang datang, begitu pikirnya.


Tidak mungkin sang kakak akan membukakan pintu untuk tamu mereka. Jadi mau-tidak mau Lily beranjak turun dari ranjangnya.


Lily sedikit terkejut saat membuka pintu dan mendapati pria yang dia kenali itu berdiri di hadapannya, raut wajahnya terlihat sayu, goresan di pipi yang tampak mengering, memancarkan luka dari Sorot matanya yang kelabu.


"Will? Are you ok?" tanya Lily.


William melangkahkan kakinya untuk mendekat, kemudian memeluk wanita itu.


"Kau tidak apa-apa kan?" Lily kembali mengutarakan pertanyaan.


William mengeratkan dekapannya pada tubuh mungil wanita itu, "aku hanya butuh pelukan," ucapnya lirih.

__ADS_1


Lily tidak mampu bertanya lagi, membalas pelukan dingin dari pria tampan itu, tubuhnya seolah membeku.


***iklan***


__ADS_2