Gadis 100 Juta

Gadis 100 Juta
UNGKAPAN


__ADS_3

Leon yang baru pulang merasa bingung dengan suasana sepi di dalam rumah, biasanya ada saja yang dilakukan ibu hamil, yang jika tidak ada ternyata menimbulkan kerinduan di hatinya, meski  dirinya sering marah-marah, tapi jika mereka kemudian pindah, dia tidak dapat membayangkan betapa sepi kehidupannya.


"Tuan dan Nyonya pergi ke rumah Tuan Justin Den Leon, mereka hanya berpesan seperti itu pada saya," ucap asisten rumah tangga keluarganya saat Leon bertanya pasangan lebay itu sedang kemana.


Leon mengangguk, yang membuat bibi asisten kemudian pamit undur diri dan melangkah pergi, namun suara bel di pintu membuat wanita itu nyaris berbalik.


"Biar saya saja Bi," sela Leon yang mendapat ucapan terimakasih dari wanita paruh baya itu.


Leon melangkah menuju pintu, dan membuka benda itu untuk si tamu, yang ternyata membuat dirinya sedikit terkejut.


"Lura?" tanyanya  tidak menyangka dengan kehadiran wanita di hadapannya.


Lura tersenyum, yang entah kenapa terlihat amat manis di mata Leon, "aku ingin bertemu Lily," ucap wanita itu.


"Lily sedang tidak di rumah," balas Leon yang membuat Lura sedikit kecewa.


Wanita itu menatap sesuatu yang ia bawa di tangannya, "Lily berkata  ingin makan buah ini, dan begitu sulit mencarinya, berhubung aku tadi melihatnya jadi kubelikan saja," tutur wanita itu yang membuat pria di hadapannya kemudian mengangguk. "Jika begitu, kutitipkan saja padamu," imbuhnya dengan menyodorkan sekantong plastik buah di tangannya pada pria itu.


Sejenak Leon tertegun, menatap benda di hadapannya sekilas kemudian beralih pada wajah cantik wanita itu. "Aku baru saja menghubungi Lily, dan katanya dia tengah diperjalanan pulang saat ini, mungkin sedikit macet, tunggu saja," ucap Leon tidak sepenuhnya berdusta, barangkali adiknya itu memang benar-benar tengah di perjalanan pulang.


Lura tampak berpikir, "Kau menghubungi Lily barusan?" tanyanya memastikan, dan Leon pun mengangguk mengiyakan, "tapi nomor Lily tidak bisa dihubungi," imbuhnya.


Leon mengerjap panik, "A, aku menghubungi William, suaminya," dusta pria itu, untuk menutupi satu kebohongan selalu saja ada kebohongan berikutnya, dan dia tidak percaya melakukan itu untuk menahan seorang wanita.


Lura mengangguk percaya, namun untuk masuk ke rumah itu dia masih sedikit ragu, dan Leon kemudian menarik pergelangan tangannya.


"Mau minum apa?" tawar Leon saat Lura sudah duduk di sofa ruang tamu, wanita itu meletakan buah di plastik ke atas meja, kemudian menggeleng.


"Biar nanti aku ambil sendiri, jika sudah haus," balas Lura.


Leon tampak mengangguk, kemudian melangkah ke kamarnya, setelah berpesan untuk jangan sungkan di rumah itu, dan menyuruhnya ke dapur jika ingin minum dan makan sesuatu.


Beberapa menit ditinggalkan Leon Lura merasa kesepian, seringkali wanita itu melongok ke arah pintu berharap sahabatnya itu cepat datang.


Lura beranjak berdiri, memperhatikan hiasan dinding di rumah itu untuk menghilangkan kejenuhannya, dan setelah merasa haus langkah kakinya pun membawa gadis itu menuju dapur.


"Apa yang kau minum?" Lura yang mendapati Leon mengeluarkan obat dari botol kecil kemudian bertanya.

__ADS_1


Namun pertanyaan itu membuat Leon sedikit terlonjak, hingga menjatuhkan satu butir obat di tangannya yang akan iya masukkan ke dalam mulut, pria itu membungkuk untuk mengambil obat tersebut dan ia buang ke tempat sampah,  saat ia sudah menegakkan tubuhnya, Lura mendekat, begitu dekat hingga pria itu nyaris dapat merasakan hembusan napas wanita itu menerpa permukaan wajahnya.


"Kau sakit?" tanya Lura dengan menempelkan punggung telapak tangan pada kening pria di hadapannya.


Sejenak Leon tertegun, kemudian meraih jemari wanita itu dari keningnya untuk ia genggam, "tidak," jawab pria itu.


"Kenapa minum obat?"


"Hanya obat pusing biasa, sepertinya aku akan flu," balas Leon dengan masih menggenggam jemari Lura di tangannya.


Lura mengerutkan dahi, kesulitan menarik tangannya sendiri, "tolong lepaskan tanganku," pinta wanita itu.


Namun Leon tidak mengindahkannya, pria itu malah bertanya, "apakah kau mendengarnya?"


"Mendengar apa?" tanya Lura bingung.


Leon membawa jemari Lura untuk ia tempelkam ke dadanya, "debar jantungku," ucap pria itu.


Lura mengernyit, namun kemudian tertawa pelan, "sepertinya kau memang sudah mulai demam," sindirnya dengan menarik tabgannya hingga terlepas.


Leon ikut tersenyum, kembali mengambil satu obat di dalam botol kemudian meminumnya, suara pria itu memang sedikit berbeda, mungkin memang benar akan sakit, dan Lura jadi tidak tega.


Lura menggeleng, "beristirahatlah Leon, suaramu sedikit berubah," sarannya.


Leon berdehem, tenggorokannya memang sedikit tidak nyaman, pria itu pun kemudian mengangguk.


"Ada yang bisa kubantu?" tanya Lura.


Sejenak Leon terdiam, "banyak jika kau mau," ucapnya, kemudian menarik wanita itu ke dalam kamar saat sudah mengangguk setuju.


"Ya Tuhan, berantakan sekali kamarmu," gumam Lura yang mendapati kekacauan di ruangan itu. "Berapa lama kau tidak merapikannya?" tanya wanita itu dengan melipat tangannya di depan dada.


Leon mengangkat alis, kemudian menggedikkan bahu, dia tidak ingat, biasanya Lily yang merapikan kamarnya ini, tapi sejak wanita itu hamil dan mengidam, sudah jarang sekali masuk ke dalam kamarnya, pria itu mencoba merapikan kaleng-kaleng bekas minuman dari atas meja, kemudian memasukkannya ke tempat sampak.


Lura mulai memungut baju kotor pria itu dari atas sofa dan memasukkannya pada keranjang baju di sana, kemudian beralih membantu merapikan meja pria itu, dengan banyak kertas dan buku-buku yang berserakan di atasnya. "Kau tidak punya ruangan kerja pribadi di rumah ini?" Lura bertanya dengan menyusun kertas-kertas entah apa di tangannya.


Leon menggeleng, "lebih enak di sini, aku lelah bisa langsung tidur saja," ucap pria itu yang merapikan buku ke dalam rak di ruangan itu.

__ADS_1


Lura tampak mengangguk, mengangsurkan benda-benda yang mungkin penting di tangannya untuk pria itu simpan, kamar Leon memang berantakan, tapi tidak terlalu buruk juga, hanya bantal dan seprei  yang terlihat   tidak pada tempatnya, namun aroma maskulin di dalam kamar itu masih kuat, mungkin dari pengharum ruangan yang di pasang oleh pria itu.


"Kau mungkin harus punya seseorang, untuk merapikan kekacauan ini setiap hari," ucap Lura, setelah selesai melipat selimut dan meletakannya di atas ranjang pria itu yang sudah terlihat rapi.


Leon sedikit tertawa, "aku memang tengah mencarinya, dan sepertinya dirimu boleh juga," ucap pria itu terdengar bercanda.


Meski sempat tertegun beberapa saat, Lura memilih untuk mengabaikan candaan pria itu, kemudian melangkah menuju pintu seraya berkata, "tugasku sudah selesai, semuanya sudah rapi, sepertinya aku harus pulang karena Lily tidak kunjung kembali," tutur wanita itu.


Leon menghadang langkah Lura yang akan pergi meninggalkannya, "masih ada yang berantakan," ucap pria itu mengabarkan.


Lura mengerutkan dahi, sedikit mengedarkan pandangannya untuk mencari, dan keadaan kamar pria itu memang sudah rapi, "berantakan di mana? Kamar mandimu, atau isi lemari?" tebak wanita itu.


Leon yang tersenyum kemudian menggeleng, menyentuh dadanya sendiri dengan telapak tangan, "masih berantakan di sini, kau belum merapikannya," ucap pria itu.


"Maksudmu?"


"Hatiku masih berantakan."


"Leon?" Lura tidak suka dipermainkan, dan menurutnya bercandaan pria di hadapannya itu sama sekali tidak lucu.


"Bagaimana jika aku menyukaimu?" ungkap Leon dengan sedikit mencondongkan kepalanya ke hadapan wajah wanita itu.


Lura tertawa mendengus, kemudian melengos dan melangkah pergi, "aku harus pulang," ucapnya berusaha menghindar.


Leon menarik lengan wanita itu hingga langkah Lura kemudian terhenti, dia pun berbalik, saling melempar tatapan berani dengan mulut yang sama terkunci, keduanya bukan anak remaja lagi, dan tentu saja Lura pun mengerti maksud pria di hadapannya ini.


"Sepertinya kau sudah gila," ucap Lura dengan menarik lengannya hingga terlepas.


"Kenapa?" tanya Leon.


"Kau tau siapa aku, dan kita juga tau Naura begitu menyukaimu, lalu apa yang harus aku lakukan dengan pertanyaanmu itu?"


Leon menghela napas, sejenak mengarahkan tatapannya ke sudut lain, menyembunyikan kegugupan yang terpancar dari sana, lalu kembali fokus pada wajah cantik wanita di hadapannya. "Aku sudah pernah bilang kan, setelah Naura mengingat semuanya mungkin dia akan kembali membenciku, sama seperti dulu," ucap pria itu.


Lura menggeleng, "Kenapa kamu seyakin itu? Naura sepertinya begitu menyukaimu, dari cara dia bercerita tentangmu, dan bahagia saat membahas apapun tentang dirimu, bagaimana mungkin dia akan membencimu, hanya karena sesuatu dalam ingatannya yang belum pasti akan kembali, dia sangat menyukaimu Leon," ucap Lura meyakinkan.


"Bagaimana denganmu?" pertanyaan Leon membuat wanita di hadapannya itu terdiam, terlihat menyembunyikan tatapannya, dan kemudian kembali melangkah untuk pergi.

__ADS_1


Dengan cepat Leon memeluk Lura dari belakang, menopangkan dagunya pada pundak wanita itu. "Aku tidak peduli dengan masa lalumu Lura, aku akan menerima kau apa adanya," ucap pria itu.


Lura yang merasa tubuhnya membeku hanya dapat mengerjapkan matanya beberapa kali, dia tentu tidak pernah menyangka, perasaannya terhadap pria itu ternyata mendapat balasan yang sama, dan dia ingin menangis karenanya, bolehkah ia bersikap egois untuk sekali ini saja.


__ADS_2