
Sikap Lily yang berubah manis dan lebih penurut nyatanya semakin membuat William merasa takut, dia dapat menyadari bahwa ada kepura-puraan dalam diri wanita itu, namun hal ini tidak akan ia sesali, selagi Lily masih mau dekat dengannya maka William akan menerimanya dengan senang hati.
Makan malam denganku, Nona.
William mengirimkan sebuah pesan siang ini, dan dengan cepat mendapat balasan dari wanita itu.
Oh Lily: Dengan senang hati, Tuan William
Kalimat manis itu membuat sudut bibir William sedikit terjungkit, dia tau mungkin wanita itu menyanggupi permintaannya dengan perasaan benci, tapi selagi dia masih dapat melihat wajah Lily, itu sudah cukup hari ini, esok dia akan berusaha lebih keras lagi.
Tanpa terduga, pesan dari wanita itu datang kembali.
Oh Lily: jangan sampai melupakan makan siangmu Tuan William.
Pria itu kembali tersenyum, menekan tombol panggilan untuk menghubungi Lily yang tidak lama mendapat sambungan.
"Halo? Kenapa menelepon, memangnya kau tidak sibuk?"
Di dalam ruangan kerjanya, William menyandarkan punggungnya pada kursi yang ia duduki. "Akhir-akhir ini kesibukanku hanya memikirkanmu," balas pria itu.
Sesaat tidak terdengar suara di seberang sana, dan kemudian Lily berkata, "Kau selalu saja membuatku tersipu," ujarnya.
Belum sempat William menanggapi suara wanita itu terdengar lagi, "ada yang ingin kubicarakan denganmu," ucapnya.
"Apa itu?" tanya William dengan memutar kursinya saat ketukan di pintu dan suara terbuka dari benda itu memunculkan sosok Davin yang sedikit tergesa, dia memberikan isyarat untuk menunggu sebentar saja.
Dan setelah Lily menjawab akan membahas tentang itu nanti malam, keduanya memutuskan untuk menutup sambungan.
"Ada apa?" pertanyaan itu William tujukan pada Davin yang beranjak mendekat. Pria itu mengangsurkan map berisi dokumen yang menurutnya cukup penting bagi tuannya.
"F Grup kembali bangkit, begitu yang saya dapat dari berita hari ini Tuan, sepertinya putra dari pemilik perusahaan F grup sudah pulih, dia kembali mengumpulkan kolega untuk membangun perusahaannya lagi." Davin menuturkan pengetahuannya dengan sesingkat-singkatnya.
William mengusap dagu setelah meletakkan kertas-kertas di tangannya ke atas meja, mungkin ini yang akan dibahas Lily nanti malam, dia ingin perusahaannya kembali, pria itu kemudian tersenyum.
Melihat tuannya yang begitu tenang Davin yakin tidak ada hal buruk yang akan terjadi nantinya, pria itu pun merasa lega.
William menoleh saat Davin meletakan kotak kecil di atas meja, sebelah alisnya yang terangkat bermakna sebuah pertanyaan, tentang benda apa yang diberikan kepadanya.
"Rekaman cctv di dalam ruangan Pemilik perusahaan F grup, terdapat percakapan anda juga di dalamnya, mungkin hal ini dapat membuktikan bahwa anda tidak bersalah," ucapnya dengan hati-hati. "Apakah jika nanti diadakan rapat pengembalian perusahaan F Grup, rekaman ini perlu diputar?" tanyanya kemudian.
William menggeleng, setelah mengambil benda itu dan sedikit memperhatikannya, dia kemudian berkata. "Tidak perlu Dav, berikan saja apa yang mereka minta," ucapnya.
Davin mengangguk patuh, "baik Tuan," begitu balasnya, sejak awal Davin kesulitan menerka apa langkah yang akan diambil atasannya. Meski bermalam-malam tidak tidurpun pria itu masih belum dapat mengendus akan dibawa ke mana rencana Tuannya itu terarah. Belum lagi Tuan Bian yang mengaku menjadi saksi kunci kejadian itu malah dengan sengaja ia lepaskan, ada apa sebenarnya.
"Dav?"
Seruan William membuat Davin sedikit terlonjak, "saya Tuan," balasnya cepat.
"Wajahmu terlihat pucat," komentar pria itu, yang membuat Davin kebingungan untuk menjawab, belum sempat pria itu menanggapi, atasannya kemudian berucap lagi. "Siapkan makan malam romantis di tempat biasa, sekarang kau istirahat saja."
Davin mengangguk mengiyakan, dia bingung pusing di kepala karena memikirkan taktik atasannya atau karena perutnya yang memang belum terisi apa-apa, pria itu memutuskan untuk menghubungi Nadira dan mengajak gadis itu makan bersama.
__ADS_1
***
Malam ini Lily berdandan cantik sekali, wanita itu akan menghadiri undangan William tentang sebuah ajakan makan malam, atau mungkin juga bisa dikatakan dengan kencan, tapi hal itu berlaku jika keduanya saling mengungkapkan perasaan.
Lily kembali mematut dirinya di depan cermin, entah kenapa menyadari pria itu akan datang, jantungnya jadi berdebar-debar, ini adalah pertama kalinya mereka bertemu setelah Lily tau semuanya.
Ketukan di pintu membuat Lily menoleh, siapapun itu dia menyuruhnya untuk masuk dan mengatakan bahwa dia tidak mengunci benda itu.
"Kak Leon ada apa?" Lily bertanya.
Leon sedikit mengerutkan dahi, "Kau harum sekali?" ucapnya.
Lily tersenyum, memangnya selama ini aku bau," selorohnya yang membuat pria itu tertawa.
"Sudah siap untuk bersandiwara?" Leon bertanya.
Mendengar itu Lily terdiam, beruntung kakaknya tidak dapat melihat ekspresi yang saat ini mungkin terlihat aneh di raut wajahnya, melihat Leon sedikit curiga, dia pun menjawab dengan segera. "Tentu saja," ucapnya.
Leon tersenyum bangga, lewat Lily dendam keluarganya mungkin akan terbalaskan, dan ayahnya bisa tenang di alam sana.
Deru mesin mobil yang berhenti di halaman toko bunga Lily yang mereka tinggal, membuat keduanya menerka-nerka, itu pasti William yang memang sudah ditunggu kedatangannya.
***
William keluar dari kendaraan yang ia tumpangi, dia siap untuk malam ini, menerima kepura-puraan yang mungkin akan tersuguh dari wajah Lily, dia tidak akan merasa jeri.
Belum sempat kakinya melangkah menuju pintu, terbukanya benda itu membuat William terpaku, Lily yang terlihat begitu cantik keluar dari dalamnya, ada kilatan yang berbeda dari Sorot matanya yang dapat tertangkap oleh pria itu, keduanya terdiam.
(jadi tataplah mataku, katakan padaku apa yang kau lihat)
Perfect paradise, tearin' at the seams
(Surga yang sempurna terjalin di dalamnya)
I wish I could escape it, I don't wanna fake it.
(kuharap aku bisa melepaskannya, aku tak ingin berpura-pura)
Wish I could erase it, make your heart believe
(seandainya aku bisa menghapusnya, membuat hatimu percaya)
But I'm a bad liar, bad liar
(Tapi aku tak pandai berbohong)
Now you know, Now you know
(Sekarang kau tahu)
I'm a bad liar, bad liar
__ADS_1
(Aku tak pandai berbohong)
Now you know, you're free to go
(Sekarang kau tahu, kau bisa bebas untuk pergi)
- Imagine Dragons- Bad Liar-
"Oh Lily, kau terlihat begitu cantik." William memecah keheningan di antara mereka dengan memuji.
Lily mengulas senyum, "terimakasih, kau juga begitu tampan," balasnya, belum sempat William menanggapi, dia berucap lagi. "Biasanya seorang pria selalu membawa sesuatu jika mengajak wanitanya makan malam, bunga yang cantik misalnya," seloroh perempuan itu.
William sedikit terkekeh, untuk apa, toh bunga di rumahnya lebih banyak, "tidak ada yang lebih cantik darimu, jadi aku takut mereka akan merasa malu," balasnya.
Lily tertawa kecil, meski tidak sampai ke matanya, tapi melihat itu William sudah merasa bahagia.
"Alasanmu bagus juga, bisa aku terima," ucap Lily, kemudian diam lagi.
Senyum di bibir wanita itu masih dapat bertahan hingga beberapa saat setelahnya, dan William pun melakukan hal yang sama, tatapan keduanya tampak berbeda, ketulusan, cinta, kepalsuan, dan keterpaksaan berbaur menjadi satu di dalamnya.
William bergerak merapikan anak rambut Lily untuk ia selipkan ke belakang telinga wanita itu, "Kau sudah siap?" tanyanya.
Lily mengangguk, "tentu saja," balas wanita itu.
William masih menatap wanita di hadapannya dalam diam, meski Sorot matanya terlihat menyakitkan, tapi pria itu selalu berusaha untuk bertahan, Oh Lily, berpura-puralah bahwa kau mencintaiku, teruslah berpura-pura hingga akhirnya kau akan lupa, bahwa kau tengah berpura-pura.
**iklan**
Author: Kapan ya bumi ini kembali normal, udah kangen bikin status otw padahal masih Rebahan 😌
Netizen: Kangen jalan-jalan ya thor, biasanya otw kemana si 🤔
Author: gak jauh-jauh si, paling otw nyuci baju, sama nyapu rumah. 🙄
Netizen:😑😑😑 ngapain pake otw segala.
Author : lah gue kan kalo mau nyuci emang otw mulu kok, tapi tetep Rebahan 😌
Netizen: Tapi kan sekarang udah New normal ya 🤗
Author : New normal apaan si 🤔
Netizen : New itu baru, atau kembali, normal itu waras. 🙄
Author: oh pantesan sebelum ini gue merasa gila 😌
Netizen: seterah 😑😑
Etolong itu lagunya bisa diganti kumenangis aja nggak 🙄 gausah lagu Barat thor lelaguan.
Author : Bosen lah kumenangis mulu, lagian lagu barat juga udah sekalian terjemahannya yaelah, tapi kalo salah jan protes sama gue, nyontek mbah google itu 😒
__ADS_1