Gadis 100 Juta

Gadis 100 Juta
MESRA 2


__ADS_3

Lura mengeratkan pegangan tangannya pada pagar balkon saat melihat kedekatan Leon dengan saudara sepupunya di bawah sana, wanita itu mencoba untuk biasa saja, namun perasaan memanas, yang memaksa airmatanya untuk turun itu tetap saja membuat suasana hatinya kian buruk, dia tidak masalah jika nanti mereka akan bersama, toh Naura jauh mengenal Leon lebih dulu daripada dirinya, tapi tidak harus diperlihatkan kemesraan itu di depan matanya juga.


"Ra?"


Panggilan itu segera membuat Lura dengan cepat menghapus air mata yang mengalir di kedua pipinya, wanita itu kemudian berbalik, "iya Ly?" jawabnya.


Lily mengerutkan dahi, mata basah dengan hidung yang memerah itu jelas sekali bahwa sahabatnya tengah menangis, "Kau kenapa?" dia pun bertanya.


Lura mengajak sahabatnya itu untuk masuk ke dalam kamar, tidak mau jika Lily tau bahwa dirinya menangisi kedekatan Naura dengan kakak kandungnya itu, "aku hanya kelilipan, anginnya cukup kencang sore ini, sepertinya tidak baik untuk ibu hamil, ayo masuk," ucap Lura dengan menutup pintu balkon saat Lily melangkah menghampiri.


Sebenarnya Lily tau sahabatnya itu tengah menangis, tapi jika Lura memang mencari banyak alasan untuk menyangkal dan tidak mau bercerita, dia tentu tidak akan memaksa."Jadi kau sudah resmi keluar dari pekerjaan di klab malam itu? Ah bagus lah, aku senang mendengarnya," ucap Lily mengalihkan pembicaraan.


Lura mengangguk, "Naura mengajak aku  bekerja membantunya di kantor papa Naura, gangguan pada ingatannya berimbas juga dengan pekerjaannya di kantor, dia harus mulai dari nol," ucapnya menjelaskan.


Lily tampak ikut prihatin dengan keadaan sepupu sahabatnya itu, dan sentuhan Lura pada perutnya yang masih rata membuatnya ikut menunduk.


"Bagaimana rasanya Ly? Ada kehidupan di dalam sini, kau tentu tidak menyangka bukan?" tanyanya takjub.


Lily tersenyum mengangguk, "aku benar-benar bahagia," ucapnya.


Lura ikut tersenyum, "bagaimana dengan William, saat mendengar dia dijodohkan, aku selalu memikirkan dirimu," ucap wanita itu.


Lily menyentuh kedua tangan Lura yang duduk di ranjang empuk berhadapan dengan dirinya, "Kau tau Ra, keluarga William ingin bertemu denganku," ucapnya.


"Benarkah?" Lura ikut senang, dan mendapati sahabatnya itu mengangguk mantap, dia begitu bahagia. "Kau pasti diterima di keluarganya Ly."


"Semoga," ucap Lily, kemudian keduanya tertawa.


Obrolan mereka terhenti oleh Ketukan di pintu yang memang tidak dikunci, "non, temannya pingsan di bawah, Tuan Leon kebingungan," ucap asisten rumah tangga Lily, mengabarkan berita Naura yang pingsan pada keduanya.


Dengan panik Lura turun dari ranjang, setengah berlari menuruni anak tangga, dengan Lily yang mengikutinya sedikit tergesa, saat ia melihat dari blkon tadi sepupunya itu tidak apa-apa, bahkan mereka terlihat begitu mesra, tapi kenapa sekarang seperti ini.


"Ada apa dengan Naura?" tanya Lura saat menemui Leon, yang tampak berusaha membangunkan Naura dengan mengusap pelan pipi wanita itu.


Leon mendongak, belum sempat menanggapi, wanita yang terlihat pucat berbaring di sofa itu mengerjapkan mata, dan dia kembali fokus padanya. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya sedikit panik, tak ayal kelegaan terpancar dari raut wajah tampannya.


Lura ikut berlutut menanyakan keadaan Naura, dan bertanya apakah mereka seharusnya ke rumah sakit saja.


Naura menggeleng, kemudian menyentuh kepalanya yang terasa sakit, "aku tidak apa-apa," ucapnya lemah.

__ADS_1


Leon tetap ingin membawa Naura ke rumah sakit, jika memang setiap berusaha mengingat sesuatu dia selalu pingsan, bagaimana dia bisa sembuh. "Aku punya kenalan psikiater," ucapnya, dan membujuk wanita itu untuk ikut dengannya.


Kedatangan William membuat perhatikan semuanya teralihkan, Leon dengan segera menghampiri pria itu, "berikan kunci mobilmu," palaknya.


William tertegun, namun kemudian menurut juga, memberikan kunci di dalam  saku jasnya pada pria itu, "Mau kemana?" tanyanya saat Leon membantu Naura bangun dari sofa.


Leon menjawab bahwa mereka akan ke rumah sakit, dan William mengangguk.


"Aku ikut," ucap Lura yang dengan sigap membantu Naura berjalan.


Tatapan William terus mengekori ketiganya berjalan ke arah pintu untuk keluar, kemudian beralih pada Lily di sampingnya yang masih terlihat khawatir.


"Jadi kita hanya berdua?" tanya William dengan mencondongkan wajahnya pada wanita itu.


Lily mendorong pipi kekasihnya itu untuk menjauh, kemudian bersidekap, "jika iya Memangnya kau mau apa?" tanyanya ketus.


William sedikit tertawa, "apa ibu hamil selalu galak? Aku jadi takut," candanya yang membuat Lily berdecak sebal, pria itu memeluk tubuh kekasihnya dari belakang, dan menaruh dagu di puncak kepala Lily yang sedikit kebingungan. "Ayahku ingin bertemu denganmu," ucap pria itu.


Lily membeku, tiba-tiba napasnya terasa sesak, dan detak jantungnya pun memburu "untuk apa?" tanyanya.


William yang melepaskan pelukannya kemudian memutar tubuh Lily untuk menghadap pada dirinya. "Tentu saja untuk membicarakan pernikahan kita."


"Iya, aku sudah mengatakan pada ayahku bahwa kita akan menikah, dan aku tidak mau dijodohkan," ucapnya menjelaskan.


"Will?" Lily menatap pria di hadapannya itu dengan lekat.


"Hm?" William berdehem sebagai jawaban, ibu jarinya sudah mengusap pipi halus Lily dengan amat perlahan.


"Kenapa kamu tidak mau dijodohkan? bukankah Naura begitu cantik?" tanyanya.


William nyaris tertawa, "Kau ingin aku menikahinya?" tanyanya yang membuat Lily dengan cepat menggeleng, dan hal itu terlihat menggemaskan di mata William.


"Lura sudah menceritakan semuanya, tentang Naura yang dijodohkan denganmu, dan wanita itu yang ternyata kehilangan ingatan," ucapnya dengan terus berjalan mengikuti William yang menariknya ke arah kamar.


"Kau tidak tau, ternyata Naura dan kakakmu itu dekat?" tanya William dengan membuka pintu kamar kekasihnya itu.


Lily menggeleng, "Kak Leon tidak pernah bercerita dekat dengan siapapun," ucapnya.


William mencolek hidung Lily hingga wanita itu mengerjap terkejut. "Dia yang tidak bercerita atau kau yang tidak terlalu peduli?" tanyanya, kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk Lily, wanita itu ikut duduk di tepiannya.

__ADS_1


"Sepertinya kami memang tidak pernah mencampuri urusan masing-masing," ucap Lily, mengingat seberapa dekat hubungannya dengan kakak kandungnya itu, tapi ternyata dirinya tidak tau apa-apa tentang Leon, dan dia baru sadar sekarang.


William memejamkan mata, tidak kembali menanggapi ucapan Lily yang terus mengoceh entah apa, pria itu kemudian mendekat, "kapan dia akan membesar?" tanyanya dengan menyentuh perut Lily yang masih rata.


Wanita itu menunduk, menatap perutnya yang terus diusap pelan oleh calon suaminya itu, "mungkin jika sudah tiga atau empat bulan baru sedikit terlihat," ucapnya.


William yang terus mendongakkan pandangannya menatap Lily yang duduk di hadapan pria itu, kemudian mengangguk, "sekarang sudah berapa bulan?"


Ditanya begitu Lily jadi berpikir, berapa ya? Seingatnya sudah lama juga dia tidak datang bulan, belum sempat menjawab William kembali mengutarakan kalimatnya.


"Nanti kita periksakan kandunganmu pada ahlinya, dia juga pasti butuh vitamin, kita beli susu ibu hamil juga nanti untukmu."


Perhatian William membuat Lily mengulas senyum, dan berganti tawa geli saat pria itu menyusupkan tangannya ke balik kaus yang ia kenakan, untuk mengusap perutnya secara langsung.


Lily meronta dan jatuh terlentang di atas kasur saat tangan William terus menggelitik bagian perutnya, jarak keduanya semakin dekat sekarang.


William menyingkap kaus Lily yang tidak mendapat penolakan dari wanita itu, kemudian mencium bagian perutnya, "sepertinya dia merindukanku," ucapnya sok tau.


Lily mencebikkan bibir, "bilang saja kau yang merindukan aku," godanya.


Dugaan itu membuat William kemudian tertawa, kembali mencium perut wanita itu berkali-kali, hingga Lily merasa geli.


"Hentikan Will," omel Lily yang membuat William menghentikan kegiatannya, pria itu mengerutkan dahi.


"Coba ganti panggilanmu padaku, dilarang memanggil nama," ucapnya.


Lily sejenak berpikir, "lalu aku harus memanggil apa?" tanyanya.


"Panggil aku sayang," pinta pria itu.


Lily mencebikkan bibir sebagai tanggapan, "menggelikan," ucapnya.


"Tapi aku suka, ayo panggil aku sayang," paksa William.


Lily menggeleng, "tidak mau," tolaknya.


"Ayo cepat panggil aku."


"Tidak mauu."

__ADS_1


***


__ADS_2