
20 menit berlalu, semua anggota geng kapak pun jatuh ke tanah dengan tak bertenaga lagi karena habis di pukuli Geby.
Geby? Meskipun memiliki luka yang tak sedikit, tapi dia tak kehilangan tenaganya.
"Ahhh, dasar semuanya lemah. Ketuanya? Juga lemah?" ejek Geby.
"Kau," marah ketua geng kapak.
Dia pun menyerang Geby membabi buta, terus dan terus menyerang tanpa mengindahkan jika Geby itu seorang gadis.
Dengan sekali pukulan yang mendarat di tengkuk ketua geng kapak, perlelahian itu pun berkahir.
"Cih dasar lemah," setelah mengatakan itu dengan tertatih Geby keluar dari gang itu.
Motornya masih ada di pinggir jalan dan dia pun menaikinya menuju rumah sakit untuk mengobati lukanya dulu sebelum pulang. Bakalan heboh jika dia pulang dengan keadaan bonyok. Itu sih mamanya yang khawatir, entah apa ayah dan kedua kakaknya akan khawatir?
Keesokan harinya saat baru memasuki kelas ada salah satu murid yang memberitahu Geby jika dirinya di panggil ke ruang kepala sekolah. Di dalam ruang keoala sekolah ternyata juga ada ketua serta para anggotanya geng kapak kemarin yang wajahnya maaih terlihat babak belurnya.
Mereka diberitahukan jika mereka di skor dan Geby jadi ikutan di skors akibat perkelahian kemarin karena mereka berkelahi itu menggunakan seragam dan parahnya ada videonya, entah siapa yang merekam mereka.
Meskipun Geby anak keluarga Pradita, tapi namanya dia anak yang di abaikan oleh ayahnya dan kebetulan pihak sekolah menelpon ke kantor ayahnya dan jadi lah dia di skors selama satu minggu. End
Perpisahan kelas 12 selesai, sampai saatnya sekarang kenaikan kelas bagi kelas 10 dan 11.
Dan ini waktunya liburrrrr
"Dik, kamu liburan ini mau kemana?"
"Tidak kemana-mana," jawab Dikha datar. "Sudah ya aku mau pulang," tanpa menunggu respon Geby Dikha telah pergi.
"Kenapa tu anak? Sudah hampir 4 bulan ini sikapnya berubah," batin Geby bingung, tapi fikirnya memang Dikha memiliki masalahnya sendiri mungkin?
Ya, sikap Dikha berubah sedari Geby mendapat hukuman dan di skorsing selama satu minggu akibat perkelahian terakhir kali dengan geng kapak.
.....
Hari-hari liburan terasa membosankan, Geby mencoba untuk menghubungi Dikha untuk mengajaknya liburan ke suatu tempat, karena saat terakhir dia bertanya, Dikha berkata tak kemana-mana, jadi dia berniat mengajaknya lagi.
__ADS_1
Dua, tiga, empat sampai hampir sepuluh kali Geby menghubungi Dikha, tapi tak terhubung, nomornya selalu tidak aktif.
"Kemana nih anak? Gak biasanya nomornya susah di hubungi?"
Geby pun menyerah menghubungi Dikha, dan dia berfikir lain kali lagi dia akan menghubunginya.
Karena tak ada kerjaan dan orang rumah juga pada gak ada di rumah jadi Geby memilih pergi mengunjungi kediaman yang baru di belinya sekedar untuk menanatanya dan juga motor pesanan Geby juga akan datang hari ini.
Motor matic nya menyusuri jalan dengan santai, dia menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya.
Geby merem mendadak saat melihat seorang perempuan yang berdiri di pinggir jebatan.
Memang jebatan yang di lalui Geby sekarang merupakan jembatan yang sangat jarang di lalui oleh pengendara.
Kenapa Geby jalan sini? Itu karena memang ini jalan satu-satu menuju kediaman yang baru di belinya.
"Eh dia mau ngapain, lompat dari jembatan itu?" Geby menuruni motornya dan menghampiri sang perempun yang terlihat sangat putus asa, terlihat dari penampilannya yang acak-acakan, tanpa alas kaki.
"Permisi, kamu mau bunuh diri?" Geby Geby kok kamu nanya nya gitu, orang juga sudah terlihat dari wajahnya yang sangat putus asa gitu.
Baru setelah Geby mengatakan itu perempuan itu menoleh ke arah Geby. Matanya terlihat tak memiliki tujuan hidup lagi, yang ada hanya keputus asaan.
Perempuan itu tak menjawab Geby dan kembali berbalik menatap derasnya arus sungai di bawah jembatan.
"Hei hei jika benar kau ingin bunuh diri, lebih baik fikirkan lagi deh. Jika memiliki masalah berbagilah dengan ku aku akan mendengarkan dan jika aku mampu aku akan membantu menyelesaiaknnya," bujuk Geby.
Lama terdiam dan masih dalam keheningan tiba-tiba perempuan itu berkata "Hidupku sudah tak ada gunanya lagi, hidupku hanya beban," ucap perempuan itu.
Geby masih mendengarkan
"Aku tidak ingin hidup jika hanya untuk terus menjadi beban keluargaku," lanjut perempuan itu.
"Setelah aku mati aku berharap mereka akan memiliki hidup yang lebih baik tanpa beban seperti ku ini," lanjutnya.
Geby terus mencerna setiap kata yang di ucapkan perempuan itu, tapi Geby masih tak paham maksud dari kata 'beban', dilihat dari fisik maupun yang lain tak ada kekuarangan dari perempuan itu? Lalu apa?
"Memangnya kau menjadi beban keluargamu karena apa? Ku lihat kau tidak memiliki kekuarangan apapun?" tanya Geby yang mulai mendekatinya dan duduk menyandar di pembatas jembatan.
Geby menepuk aspal jembatan, meminta sang perempuan duduk di sampingnya untuk bercerita dan untungnya dan anehnya sang perempuan menurutinya.
__ADS_1
Mereka duduk berdampingan dengan masih dalam keadaan diam, karena sang perempuan masih belum membuka suaranya.
"Aku memiliki penyakit kanker stadium akhir," ucapnya tiba-tiba.
Geby diam mendengarkan, karena dia tahu bahwa sang perempuan masih akan melanjutkan ceritanya.
"Keluargaku bukanlah orang yang mampu untuk mengobati penyakitmu ini,"
Perempuan itu kembali diam
"Jadi aku tak ingin menambah beban mereka dan memilih mengakhiri hidupku,"
Diam, tapi ini sedikit lama jadi Geby pun berkata.
"Apakah kau sadar, jika kau bunuh diri dan mayatmu di temukan oleh keluargamu, maka keluargamu akan sangat sedih? Apakah dengan mengakhiri hidupmu mereka akan bahagia? Ku rasa tidak. Mereka akan sangat sedih dan akan menyalahkan diri mereka, karena tak dapat menjaga dan merawatmu dengan baik. Hargai lah hidupmu, kebersamaan Mu dengan keluargamu selagi memiliki waktu," Geby.
Perempuan itu terisak, Geby pun menariknya dalam pikirannya menepuk punggungnya dan menenangkannya.
"Andai aku masih memiliki kekuatan penyembuh, apakah bisa untuk menyembuhkan kanker?"
Swushhh
Tiba-tiba sekeliling Geby menjadi gelap dan terdengar suara Sin.
"Kemampuan mu sebenarnya tak hilang karena setiap kehidupan mu, hasil yang kau toreh akan selalu mengikutiku, akan tetapi kau harus menyelesaikan misi mu membantu jiwa mereka agar tenang,"
Swasshh
Setelah suara itu berakhir, berakhir pula keadaan yang tadinya gelap menjadi seperti semula di jembatan memeluk seorang perempuan yang menangis.
"Terimakasih," ucapnya.
Geby mengangguk "Aku bukannya lancang atau tak sopan, tapi memangnya berapa lama waktu yang kau punyai?"
"Tidak apa, waktunya satu tahun,"
"Satu tahun ya, aku bisa membantumu mencari dokter hebat untuk menyembuhkanmu," tawar Geby. Sebenarnya dia juga tak yakin bakal menu dokter hebat, tapi setelah mendengar suara Sin tadi, dia pun memilik harapan selama satu tahun fikirnya cukup untuk menyelesaikan misinya dan semu kemampuan dinkehidupan lalunya akan kembali. Kalau kemampuan bela diri sih tak bakal hilang karena memang itu berasal dari kehidupan pertamanya.
Perempuan itu menggeleng "Tidak perlu, aku akan merepotkanmu dan lagi aku tak memiliki biaya untuk berobat, kita pun baru kenal dan nama pun belum saling tahu,"
"Oh iya, perkenalkan namaku Geby," ucap Geby sambil mengulurkan tangannya.
"Vanya," sambutan tangan seraya tersenyum.
Geby pun mengajaknya ke kediaman barunya untuk menawarkan kembali tawarannya.
__ADS_1
Happy Reading