
Geby menatap Adam bingung , dia tahu kalau Adam yang memaksanya untuk menikah, tapi dia mengira Adam hanya penasaran terhadap dirinya yang berbeda dengan perempuan lain, tapi bukan benar-benar mencintai dirinya. Meskipun benar-benar mencintainya pun, entah mengaoa dirinya tidak bisa membuka hati pada siapa pun untuk sekarang ini.
"Kau tahu kan, kalau ada yang melihat kita akan sangat merepotkan bukan saja untukku, tapi juga untukmu," ucap Geby.
"Dan juga aku tidak mau bertarung dengan perempuan-perempuan yang menyukaimu dan musuh-musuh yang ingin menjatuhkanmu. Aku ingin tenang sekarang. Kau tahu sendiri kau itu terkenal baik di dunia bisni maupun mafia bukan," bisik Geby yang sedikit mendekatlan dirinya ke telinga Adam.
"Sudah ya! Aku akan mengambilkan minum untukmu, kau tunggu saja di mobilmu, aku akan berusaha tidak kelihatan orang lain," ucap Geby kemudian pergi meninggalkan Adam.
Adam masih berdiri ditempat melihat kepergian Geby. "Apakah dia memberi perhatiannya padaku?"
"Jai, selidiki perempuan-perempuan yang berbuat ulah pada Geby!" perintah Adam. "Berikan mereka pelajaran yang membuat mereka berfikir mengganggu satu orang pun tak akan berani lagi," lanjutnya dengan nada dingin.
"Baik!" jawab langsung Jai. 'Baru kali ini aku melihat tuan Adam marah demi seseorang selain keluarganya. Perempuan ini telah salah mengganggu orang,' batin Jai.
Beberapa menit kemudian...tok...tok...tok...
Geby mengetuk kaca mobil...cklek. "Masuklah," ucap Adam.
"Tidak perlu! Aku harus membantu yang lain dulu membereskan lapangan untuk besok lagi," tolak Geby.
"Tuan, waktu sudah tidak banyak, ada hampir puluhan panggilan rapat sedang menunggumu," bisik Jai.
"Ya, aku tahu," ucap Adam kepada Jai. "Baiklah kalau begitu aku pergi dulu," ucap Adam.
"Hati-hati!" ucap Geby diangguki Adam dengan senyum, tapi. "Ukhh," Adam terlihat sangat kesakitan dan keringat dingin telah bercucuran deras dari keningnya.
"Adam, kau kenapa?" tanya Geby mulai panik.
"Nona, sepertinya racun pada tuan kambuh," ucap Jai juga panik.
"Astaga, kalau begitu aku akan ikut pulang kau telpon Dokter Ronald, aku akan memberitahu yang lain untuk kembali duluan," perintah Geby.
"Baik," ucap Jai.
Geby pun bergegas mendekati Angga dan mengatakan dia akan kembali duluan. Tak lama dia kembali dan langsung masuk menggenggam tangan Adam berharap itu akan meringankan kesakitan Adam seperti terakhir kali.
Dengan cepat mereka sampai di mension dan menuju ruang perawatan sebelumnya. Disana sudah ada dokter Ronald menunggu.
Geby duduk di tepi ranjang, di samping Adam sambil menggenggam erat tangan Adam.
"Mengapa ini tak berpengaruh seperti yang terakhir kali?" gumam Geby.
"Geby, sebaiknya saya keluar dan tolong coba menurunkan kadar racun Adam, karena hasil penelitiannya, memang darahmu mampu menekan kadat racunnya dan bahkan dapat menyebuhkannya, tapi bukan dengan darahmu, tapi hanya dengam sentuhan lebih dapat mengurangi bahkan menghilangkan racun ditubuhnya," ucap dokter Ronald.
Geby merasa bimbang, tapi apa boleh dibuat, kalau dia bisa membantu, dia akan membantu sebisa dirinya.
"Mari kita mulai. Bagaimana efek aku terhadap racun di tubuhmu melalui alat pengukut kadar racun ini," ucap Geby bersiap.
Dia membuka jaz dan kemeja Adam, agar memudahkan prosesnya.
Geby memegang kedua tangan Adam dan menaruhnya di pipinya sambil melihat ke layar monitor.
Bip
__ADS_1
Kadar racun yang mulanya 60 menjadi 50. "Waw benar-benar turun. Ajaib sekali!" ucap Geby. Kembali Geby mencobanya dengan semakin mendekatkan dirinya dengan Adam, yaitu menempelkan dirinya ke dada bidang Adam.
Bip
Kadarnya turun lagi dan sekarang lebih banyak yaitu menjadi 30. "Turun lagi, dan sekarang lebih banyak turunnya," ucap Geby senang.
"Adam, kelihatannya asalkan aku mendekat padamu kadar racunnya akan turun dan kalau semakin dekat kadarnya akan turun dengan drastis," jelas Geby melihat Adam yang telah sadar.
"Ah," tak sengaja tangan Geby tergeser dan membuat nya berhadapan dengan Adam yang posisinya sedang telentang di atas ranjang dan Geby diatasnya dan untungnya Gebu dapan menahan agar tak terjatuh. Tapi sekarang ini posisi mereka sangat membuat orang salah paham yang mana sperti halnya Geby yang akan berbuat sesuatu terhadap Adam.
Dag dig dug
Jantung keduanya berdetak tak karuan. Wajah masing-masing merona. Bagaimana tidak, pasalnya wajah mereka sangat dekat.
"Kalau begitu, pengobatan untuk hari ini selesai sampai disini," ucap Geby mengalihkan arah pandangnya.
Bergegas Geby turun dari ranjang dan. "Apaan sih aku ini, kenapa jantungku berdebar cepat?" batin Geby.
Kyaaa
Geby terkejut tatkala Adam menarik lengannya dan memeluk pinggangnya dari belakang.
"Kamu mau kemana? Pengobatannya belum selesai, kadar racunku belum turun semua, aku masih merasa sedikit sakit," ucap Adam dengan nafas memburu.
"Sial! Tubuhku tak dapat diajak kerja sama," batin Adam berteriak. "Aku ingin lebih darinya," lanjut Adam.
"Kau ingin melanjutkannya? Tapi aku...," sempat Geby menyelesaikan ucapannya.
Bibir keduanya menyatu. Satu menit, dua menit, tak kunjung Adam melepaskan ciumannya, meski alat pengukur racun telah beberapa kali berbunyi menandakan kadar racun ditubuh Adam semakin menurun dan hampir hilang.
Geby mendorong tubuh Adam dengan kuat, tapi tak dapat bergerak sedikit pun. Tapi setelah merasakan kalau tubuh Adam gemetar, Geby pun ikut mengimbangi ciuman Adam, takutnya Adam berbuat bergitu karena kesakitan. Dia mengalungkan kedua tangannya ke leher Adam, memperdalam ciuman mereka.
Tapi karena dia tak sanggup lagi, karena kehabisan nafas dia pun dengan sekuat tenaga setelah ada kesempatan pun mendorong Adam.
"Cukup! Huft huft," ucap Geby tersengal-sengal.
"Kamu tidak apa-apa? Kadar racunmu sudah turun mengapa tubuhmu gemetar?" tanya Geby.
Wajah Adam sedikit tersentak. "Kamu tadi...sedang membantuku?" tanya balik Adam.
"Iya!" jawab Geby.
Adam langsung berpaling membelakangi Geby.
Geby berdiri dengan tak berfikiran macam-macam.
"Baiklah! Hari ini cukup di sini dulu. Lain kali akan kita coba lagi menurunkan bahkan kalau bisa menghilangkan racun es pada tubuhmu," ucap Geby yang mengambil tasnya kemudian keluar dari ruang rawat.
"Geb, bisa bantu membawa ini ke gudang?" pinta Angga.
__ADS_1
"Bisa! Sini," jawab Geby seraya mengambil kursi yang disodorkan oleh Angga.
Sekarang ini mereka sedang membereskan peralatan-peralatan yang telah digunakan untuk festival karena festival hari terakhir ini pun berjalan lancar tanpa hambatan dan bagi Geby hari yang tenang tanpa pengganggu.
"Geby, kau boleh pulang duluan kalau mau. Kami sungguh sangat berterimakasih atas bantuanmu selama festival ini," ucap Angga yang datang membawa kursi lainnya, menaruhnya di gudang.
"Sama-sama, aku juga tidak sibuk kok jadi pulang nya sama-sama saja," ucap Geby.
"Begitukah? Kalau begitu kami akan bergegas membereakan semuanya agar kita semua dapat beristirahat...benarkan teman-teman," ucap Angga.
"Ya! Semangat," jawab mereka yang ada di gudang.
Mereka pun kembali melanjutkan pekerjaan yang tersisa dan Geby juga terus ikut membantu.
Tak terasa dua jam berlalu, pekerjaan selesai dan mereka memilih bersantai sejenak sebelum kembali ke rumah masing-masing.
"Terimakasih untuk kerjasama semuanya. Dengan kerja keras kita bersama kita dapat mewujudkan acara dengan lancar. Sekali lagi terimakasih" ucap Angga selaku ketua dari panitia kepengurusan festival.
Setelah cukup bercengkerama, mereka pun bubar, pasalnya haripun sudah malam.
"Ga, aku pulang duluan ya," ucap Geby.
"Ya hati-hati!" sahut Angga seraya tersenyum dan melambaikan tangannya.
Taxi yang dinaiki Geby pun meninggalkan lapangan kampus dan ekspresi Angga seketika berubah.
Happy Reading
__ADS_1