Gadis Jahat Insyaf

Gadis Jahat Insyaf
3.12


__ADS_3

Geby pun mengajaknya ke kediaman barunya untuk menawarkan kembali tawarannya.


Setelah beberapa menit kemudian mereka memasuki pagar besar yang telah di bukakan oleh seorang satpam muda dan tampan pilihan Geby.



**Cerita menemukan satpam muda dan tampan**.



Bugh


Bugh


Bugh


Brakk


Arhgg



Suara pukulan dengan benda tumpul sampai suara sesuatu yang sangat keras menghantam sesuatu sangat jelas terdengar di pendengaran Geby.



Geby semakin mempercepat jalannya dan memasuki gang-gang kecil nan gelap.



Saat belokan ke tiga di sudut jalan yang gelap, samar-samar terlihat beberapa orang yang sedang melakukan sesuatu, berkelahi?



Meski tak jelas terlihat, tapi suara perkelahian itu terdengar jelas.



Geby mengendap-endap mendekati lokasi perkelahian itu. Orang-orang tak menyadari kehadiran Geby, karena dia berpakaian hampir semuanya hitam, mulai dari pakaian atas hingga bawah, hanya kaos di balik jaketnya yang berwarna merah.



Setelah dia mencapai tempat strategisnya dia berbicara "Pengecut," jedanya "Beraninya main keroyokan. Untungnya di gang terpencil kalau gak, ku pastikan kalian semua bakalan di sebut pengecut oleh semua orang yang melihat," ucap Geby santai.



"Siapa itu? Keluar," marah salah satu mereka.



"Huh, aku yang duduk di depan kalian, kalian tak melihat? Ck ck ck, ternya bukan hanya pengecut, tapi juga rabun,"



"Berani nya kau, keluar,"



"Dia disana bos,"



"Oh ternyata disana, habisi dia,"



Dua orang maju menghampiri Geby dan tanpa takit, karena fikir mereka, hanya seorang gadis, takut apa?

__ADS_1



Tapi tak seperti yang mereka harapkan, seperti gadis biasa, tapi malahan mereka yang.



Buagh


Brak



Dua orang berbadan tinggi nan kekar itu terbang kena tendangan Geby.



"Si\*lan kau, kalian tangkap dia,"



Empat orang maju lagi, tapi seperti yang sebelumnya, Geby dengan mudah mengalahkan mereka dan sampai semua orang yang mengeroyok pemuda yang sudah setengah sadar tersebut habis.



"Aish, kalian para lelaki memang terlalu banyak omong, tapi tak ada hasil," ejek Geby. Semua orang yang di ejek merasa terhina dan marah, tapi tak dapat berbuat apa-apa karena tenaga mereka telah habis melawan Geby yang hanya seorang diri.



Geby pun melangkah maju dan menghampiri pemuda setengah sadar tersebut dabmn membawanya pergi. **End**


"Selamat datang nona Geby," ucap Fino. Ya, dia adalah pemuda yang di tolong oleh Geby di gang kecil yang sedang di keroyok banyak preman.


"Aih kau ini sudah ku bilang jangan panggil aku nona, panggil namaku saja," Geby.


Fino hanya tersenyum menanggapi jika dia tetap akan memanggil Geby dengan embel-embel nona.


Mereka sampai di kediaman besar "Nah kita sampaiii," ucap Geby.


Terlihat sang Vanya tenganga memandang kediaman besar itu.


Geby terkekeh "Hei hei sadar," sambil melambaikan tangannya ke depan wajah Vanya.


"Hah? Apa?" ucap Vanya tersentak dari keterkagumannya.


"Kekekeke, masuk," ajak Geby.


Hari itu pun terjadi kesepakatan antara Geby dan Vanya, yang mana kesepakatan itu membuat Vanya akan mengubau gaya hidupnya yang akan datang.


Tak terasa siang telah berlalu dan digantikan sore, Geby telah berada di kediaman barunya membenahi setiap sudut kediaman itu. Mulai dari penataan ruangan serta perabotan sampai motor-motor sport yang di pesan telah datang.


~Skip~


Liburan selama 2 minggu pun berakhir, sekarang Geby telah bersiap-siap untuk berangkat kesekolah.


"Ma, Geby berangkat dulu ya,"


"Gak makan?" Hana.


"Nanti di kantin sekolah aja,"


"Baiklah, hati-hati,"


"Ya,"


Dia tak mau makan bersama karena dia selalu tak dihargai oleh ayah serta kedua kakaknya, ya meski pun mamanya memperhatikannya, tapi kalau 3 lawan satu pastinya yang menang adalah yang 3 bukan? Ya itu lah membuat Geby tak pernah lagi ingin ikut makan bersama keluarganya yang pastinya setiap makan bersama ada saja alasan mereka untuk menyindirnya. Padahal semua sindiran itu ada alasannya.


Geby pun menaiki motor sport berwarna hitamnya, dia membelah jalan yang tak terlalu padat karena masih terlalu pagi untuk setiap orang memulai aktivitas mereka.

__ADS_1


Citttt


Dengan gerakan pelan Geby berhenti di parkiran sekolah. Mata-mata penasaran menatap Geby yang belum membuka helmnya.


"Siapa?"


"Entah, murid baru kali,"


"Mungkin,"


Pakaian longgar dengan 3 kancing terbuka menampakkan kaos hitam di baliknya menambah sosok gadis yang sedikit nakal bukan centil seperti Geby dulu yang tak jelas.


Geby melepas helmnya dan tergerailah rambut hitam panjang sepinggangnya.


"Hah? Bukankah itu Geby?"


"Kau benar, tapi cara berpakaian nya berbeda,"


"Ya, 180 derajat kebalikan dari dulu,"


Geby tak menggubris ocehan para murid yang mengomentari cara berpakaiannya, dia pun berjalan santai menuju kelasnya.


Seperti di luar, di dalam kelas pun Geby menjadi pusat perhatian. Geby menaruh tas nya kemudian keluar lagi menuju kantin karena memang dia belum sarapan pagi.


"Nasi goreng dan teh hangat ya bu,"


"Baik nak, sipahkan tunggu ya,"


Geby mengangguk dan mencari tempat duduk di dekat, karena memang keadaan kantin sekarang masih sepi karena masih pagi.


Pesanan datang dan dia mulai makan makanannya. Setelah selesai dan bertepatan bel masuk berbunyi, Geby pun bergegas masuk kelas, karen guru jam pertama ini di kenal dengan guru killer, jadi kalau terlambat pasti akan mendapat hukuman, entah berdiri di depan kelas atau lainnya, yang pasti hukumnannya tak ringan.


Guru masuk ke ke dalam kelas di ikuti oleh seorang murid? Baru?


Keadaan kelas yang mulanya tenang menjadi heboh dengan teriakan kagum dari para murid perempuan, tapi Geby tidak, karena


"Wajahnya tidak asing," gumam Geby memperhatikan murid baru di depan.


"Perkenalkan dirimu," perintah sang guru.


"Baik bu," ucapnya sopan. "Namaku Ardikha William," ucapnya singkat dan datar.


"Dari keluarga William terkaya tingkat pertama itu?" tanya salah satu murid perempuan dan di balas anggukan acuh dari Ardikha.


Kelas semakin berisik sampai suara menakutkan terdengar membuat semua murid diam. "Baiklah Ardikha silahkan kamu duduk di sebelah Geby, Geby berdiri," perintah guru.


Geby pun protes "Tapi bu kursi di sebelah saya kan tempat duduk Dikha!"


"Kamu tenang saja, karena Dikha telah pindah sekolah," sahut guru.


Geby terkejut, dia tak menyangka orang yang selama ini dianggapnya teman satu-satunya di sekolah meninggalkannya tanpa kabar. Geby pun duduk lesu dan sedih mendapati kenyataan itu.


Ardikha pun menduduki kursinya. Pelajaran di mulai dan Geby masih terlihat murung sampai bel istirahat berbunyi, dia tak menyadarinya.


"Hei,"


"Ah ya?" Geby terkejut saat seseorang menepuk bahunya dan refleks ia menoleh.


"Tidak ada, hanya saja ini sudah jam istirahat. Apakah kau tak ada niat untuk ke kantin?" dia adalah Ardikha yang mengajak Geby bicara.


"Kurasa tidak, aku tak memiliki nafsu makan untuk sekarang," ucap Geby lalu menelungkupkan kepalanya di atas meja.


Terdengar helaan nafas pelan dari Ardikha. Dia juga tak keluar entahlah kenapa? Mungkin dia masih asing dengan lingkungan sekolah ini dan tak tahu letak kantin. Tapi, apakah tak ada yang berniat mengajaknya? Aneh?



__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2