
Mendengar persetujuannya aku sangat senang, entah kenapa, tapi aku benar-benar senang sampai tak sadar jika aku menyeringai tipis, setelah sadar aku langsung mengubah ekspresiku seperti biasanya. Syukurnya Geby tak menyadarinya.
...
Keesokan paginya aku yang biasanya berangkat tak terlalu pagi, tapi hari ini aku berangkat pagian dan dengan tidak sabar aku mengayuh pedal sepedaku dengan semangat.
Seperti janji kami kemarin, kami akan masuk bareng. Hanya masuk ke kelas? Ya mau bagaimana lagi, inginnya bareng dari rumah, tapi karena aku tak ingin identitasku terbongkar untuk sekarang dan kebetulan juga arah jalan rumah kami berlawanan, jadi hanya dari gerbang sampai masuk kelas deh.
Dengan semangat aku mengayuh sepedaku agar cepat sampai dan menunggunya datang, tapi harapanku sirna ketika aku melihat dia telah duduk santai sambil mengutak atik ponselnya nya di atas motor di depan gerbang sekolah.
"Geb, sudah lama?" tanyaku saat berhenti tepat di depannya.
"Ya lama banget, kamu ini lelet banget tau," gerutu nya dengan wajah kesal. Ku kira dia benar-benar kesal aku pun minta maaf. "M maaf," kami pun masuk dengan aku mengayuh sepedaku dan dia mengendarai motornya.
Tapi "Tidak masalah, memang aku yang salah karena berangkat kepagian," ucapnya membuatku mendongak dan menatapnya yang berada di sampingku.
"Emangnya kamu berangkat jam berapa? Eh pake motor?" tanya ku penasaran sambil mengayuh sepedanya beriringan dengan Dikha.
Motor? Apa kabar tentang keluarga Pradita, keluarga terkaya tingkat ketiga? Apakah bangkrut? Tidak mungkin, karena aku tak mendengar kabar itu.
"Jam 6, emangnya kenapa kalau pake motor?" jawabnya.
"Ah pantesan lama menunggu, kepagian banget ternyata. Tidak apa sih cuman merasa asing aja, ngelihat kamu pake sepeda motor dan jika anak-anak kelas maupun sekolah tahu itu bakal heboh loh," ucapkan asal, tapi fakta juga, karena mulut orang-orang yang suka bergosip itu tak dapat dihentikan dan sangat mengerikan.
"Gak perduli tuh, terserah mereka mau kata apa, kan mulut, mulut mereka sendiri, gak ada hak melarang," ucap acuh Geby, lagi-lagi aku masih terkejut dengan setiap ucapan yang di ucapkannya, tapi aku senang dan bersyukur sekaligus tak dapat melarang, aku hanya menggeleng menghadapi perilaku baru dari Geby yang sekarang menjadi temanku dan mungkin akan menjadi orang yang aku....
Kami memarkirkan sepeda dan motor kami, dan berjalan menuju kelas melewati koridor. Seperti yang telah ku prediksikan, ocehan orang-orang yang suka gosip terdengar seperti lagi yang membuat panas telinga.
Ku lihat wajah Geby hanya biasa saja, terlihat sangat santai.
Pelajaran berlangsung dengan tenang dengan guru di depan sedang menjelaskan pelajaran.
Oh ya, kami duduk berdekatan loh, karena kami memang duduknya sendiri-sendiri, jadi apa salahnya jika meja kami di jadikan satu.
__ADS_1
Kadang-kadang aku menoleh ke arah Geby. Dia terlihat melamun sepanjang jam pelajaran, entah apa yang di fikirkannya aku tak ingin terlalu ikut campur jika bukan dia sendiri yang mengatakannya.
...
Saat istirahat dan hendak menuju kantin bersama Geby, tiba-tiba Kenan datang dan langsung menarik tangan Geby, aku mau mencegah itu, tapi saat Geby mengatakan untukku duluan ke kantin dan mengambilkan makanan untuknya, aku pun tak dapat membantah. Mungkin memang dia masih menyukai Kenan, meski menjauhinya, kan gak mungkin yang mulanya cinta mati langsung hilang rasa sukanya, Yah meski pun Kenan yang membuatnya kecelakaan.
Saat aku sudah mengambilkan makanan dan minumannya aku pun duduk menunggunya datang.
10 menit berlalu dan jam istirahat hampir berakhir dia pun datang dengan ngos-ngosan. Habis lari? Aku pun lega dan tersenyum padanya "Ah kau sudah datang! Ini pesanan mu. "Makasih," ucap nya.
POV Dikha End
Pulang sekolah Geby berpisah dengan Dikha di gerbang, mereka mengambil jalan masing-masing, tapi bukannya pulang ke rumah, tapi Geby malah ke tempat lain.
Citttt
Geby merem motornya, memberhentikannya di tempat parkiran gedung perusahaan properti/penjualan rumah atau sejenisnya.
Sebelum menuju ke perusahaan properti Geby menyempatkan diri untuk berhenti di toilet umum untuk berganti seragamnya dengan pakaian sederhana.
Karena memang pada dasarnya publik tidak mengetahui tentang identitas Geby yang merupakan anak perempuan dari keluarga Pradita. Jika mereka tahu sudah dipastikan banyak yang akan mendekatinya untuk menjilat. Yang mengetahui rupa Geby hanya keluarga, pihak sekolahan dan para murid sekolahan itu.
Karena Geby tak suka wajahnya terekspos, jadi setiap ada media yang mengorek keluarga Pradita dan memunculkan wajahnya, maka siap-siap media tersebut akan dapat amukan dari Geby.
"Ada yang bisa di bantu?" ucap resepsionis perempuan dengan sopan.
"Nama saya Geby, di sini saya ingin membeli sebuah kediaman atau sejenisnya, bisa rumah asal memiliki halaman yang luas," ucap Geby.
"Oh kalau itu anda bisa langsung pergi ke ruangan kepala," ucapnya ramah sambil tersenyum.
"Oh begitu, kalau begitu terimakasih," ucap Geby sambil membalasa senyuman si resepsionis.
"Memang kita tak dapat menilai seseorang dari penampilan. Ibu terimakasih telah mengingatkanku untuk tidak membedakan seseorang dari luarnya," batin rsepsionis itu.
__ADS_1
Memang di dunia ini kita jangan tertipu dengan penampilan seseorang dari luarnya, karena tidak semua orang yang di selimuti dengan barang mewah merupakan orang kaya begitu juga sebaliknya. Sama halnya jangan memandang seseorang dari sifat yang terlihat tanpa mengetahui dalamnya, karena tampang dapat mebipu.
Geby menuju ruangan yang berada di lantai dua.
"Permisi," ucap Geby sambil mengetuk pintu.
"Masuk," ucap suara dari dalam.
Geby masuk dengan penuh wibawa, nampak bukan gadis muda.
"Apakah anda nona Geby?" tanya orang di depan Geby dengan ramah. Dia adalah seorang pria yang berumur berkisar 40 tahunan.
"Ya," jawab Geby singkat.
"Oh kalau begitu perkenalkan nama saya Arnod pemimpin perusahaan properti ini, anda bisa memanggil saya pak Arnod,"
"Baik, kalau begitu saya juga akan memperkenalkan diri saya. Nama saya Geby, terserah anda ingin memanggil saya dengan sebutan apa, tapi nama saya cuman satu kata itu jadi mau tak mau anda hanya dapat memanggil saya denga nama itu," ucap Geby dengan wajah biasa saja.
"Oh baiklah nona Geby. Saya dengar dari resepsionis di bawah bahwa anda ingin membeli sebuah kediaman?"
"Ya benar, kalau bisa dengan halaman yang luas serta memiliki cukup banyak kamar," jelas Geby.
"Baiklah, apa ada lagi?"
"Tidak, cukup itu dulu,"
Pak Arnod pun mengambil beberapa gambar tipe kediaman dan menunjukkan kepada Geby.
Setelah melihat-lihat semua gambar yang di tunjukkan pak Arnod, pilihan Geby jatuh pada kediaman mewah dengan kesan klasik, memiliki halaman yang cukup luas, tak terlalu jauh dari perkotaan, meski letaknya dekat dengan perkebunan, dan kebetulan kebun tersebut termasuk wilayah mension tersebut juga.
Memiliki kamar sebanyak 30 kamar besar untuk pemilik serta keluarga, 10 kamar tamu, 10 kamar pelayan, satu dapur besar, dan terdapat kamar mandi pada masing-masing kamar, kecuali kamar pelayan yang memiliki 4 kamar mandi di bagi luar.
.........
__ADS_1
Happy Reading