Gadis Jahat Insyaf

Gadis Jahat Insyaf
3.19


__ADS_3

Saat memeriksa ponselnya betapa terkejutnya dia saat mengetahui jika mamanya menelponnya. "Oh astaga, banyak amat," Geby.


Geby dengan segera menghubungi balik mamanya.


Tak lama menunggu panggilan Geby langsung terhubung "Hallo ma, ada apa menelpon Geby? Maaf tadi daya ponsel Geby habis,"


"Kamu dimana sekarang?" bukan Hana yang ada di balik telpon, tapi Danu yang seperti biasa bicaranya datar.


"Dirumah," jawan Geby pura-pura ceria.


"Kau berbohong, kata orang rumah, kau tak di rumah," Danu.


Geby tak menjawab "Katakan dimana kau sekarang? Apakah di kota J?" Danu.


Geby masih diam dan beberapa detik kemudian "Ya aku di kota J," ucap Geby berubah menjadi nada datar.


"Bisa kau datang ke rumah sakit S?" Danu.


"Baiklah!" jawab Geby kemudian langsung mematikan sambungan telponnya.


"Apakah sekarang saatnya mereka tahu? Mungkin saja!" Geby pun mengambil jaket tebalnya dan memakainya.


Dia memilih menaiki taxi daripada membawa mobil sendiri, pasalnya saat ini tangannya sedang cedera.


30 menit kemudian dia sampai di rumah sakit S. "Terimakasih pak," ucap Geby pada pak supir.


"Ya," balas pak supir dengan senyuman.


Geby menaiki lift menuju lantai 3 rumah sakit.


Ting


Pintu lift terbuka Geby pun langsung menuju kamar tawar inap kedua orang tua Geby seperti yang telah diberitahukan oleh perawat yang betugas menyambut tamu.


Tok tok tok, demi kesopanan Geby mengetuk pintunya. "Masuk," ucap orang dari dalam ruangan.


Cklek, Geby membuka Dan menutup kembali pintunya dan berdiri menatap satu persatu orang yang juga menatapnya.


"Geby, kau sudah datang nak, Ayo duduk," Ajak Hana.


Geby mengikuti Hana untuk duduk di sofa.


Suasana kembali hening, tak ada yang ingin memulai pembicaraan. Merasa ini tak akan selesai, Geby pun ingin mengatakan sesuatu tetapi terhenti saat Danu bicara duluan.


"Emm, benarkah kau...juga membantu dalam penyelamatan kami?" tanya Dani dengan ragu-ragu.

__ADS_1


"Benarkah?" Hana menunggu jawaban dari puteri satu-satunya itu.


Geby tak menjawab. Kembali Yoga bertanya, karena sedari bertemu dibandara dia banyak memiliki pertanyaan yang hanya bisa di jawab oleh Geby langsung.


"Apakah benar kau itu Queen nya Blue Scorpio? Bukannya apa, hanya saja saat misi penyelamatan itu aku melihat seseorang yang berada dipesawat bersama kita,"


"Benar!" singkat, padat, jelas dan pastinya tenang. Geby sangat tenang mengatakan kebenaran itu, entah yang mendengar itu mengerti atau tidak.


"Coba katakan sekali lagi, Apakah benar kau Queen dari organisasi bernama BL itu?" tanya Farel memastikan lagi.


"Ya! Itu aku," lagi, mereka dibuat tak percaya, berkali-kali mereka mengusap dan memperbaiki pendengaran mereka tapi adiknya tetap 'ya'.


"Kalau kalian tak percaya, aku tak memaksakan kalian untuk percaya. Aku juga tidak ingin mengumbar-umbar kebenaran ini, mengingat banyaknya musuhku di organisasi membuatku tak ingin identitasku diketahui. Kalian juga pasti tahu apa alasannya bukan?" Geby.


"Maaf!" lirih Danu.


Geby menatap semua orang, dia kira untuk siapa kata maaf itu, ternyata untuknya dan kedua kakaknya.


"Maafkan ayah yang tidak menjadi orang tua yang baik untuk kalian," lanjut Danu.


"Maafkan mama juga...karena tak bisa menjadi sosok ibu yang kalian inginkan," ucap Hana terisak sambil menunduk.


"Yang berlalu tak perlu lagi disesali, karena yang terpenting adalah sekarang. Kita jalani semuanya dari awal," ucap Geby tenang membuat kedua orang tuanya maupun kedua kakanya menatapnya.


"Kenapa? Ada yang salah?" ucap Geby yang ditatap dengan berbagai ekspresi.


Sampai Geby sesak nafas karena terlalu kencang perlukan mereka.


Cerita persatuan keluarga OFF dilanjutkan kecerita pesta perpisahan.


Geby, Hana dan Sasa telah keluar dan yang telah lama menunggu hanya menggerutu. "Kalau masih belum, selesaikan saja. Sampai pestanya berakhir," sindir Yoga.


"Sudah! Kalau berdebat lagi, kapan berangkatnya," ucap Danu.


Mereka pun berangkat menggunakan dua mobil. Farel, Yoga, Geby, dan Sasa, menggunakan mobil Farel. Sedangkan kedua orang tua mereka di mobil satunya.


Jalanan ramai dengan pengendara yang juga akan malam mingguan dan kebetulan pesta perpisahan juga dilaksanakan pada malam minggu.


Bruum bruuum!


Malam minggu dijalan yang ramai bukan hal baik untuk balapan, tapi sebenarnya itu bukanlah balapan, tapi sekarang ini mobil yang ditumpangi Geby sedang dikejar oleh mobil-mobil musuh.


Bukan hanya musuh dari organisasi BS, tapi juga musuh BT.


"Bagaimana mobil yang dikendarai ayah dan mama?" tanya Geby.

__ADS_1


"Baik! Mobil mereka telah aman dari kejaran mereka," jawab Farel.


"Bagus! Sekarang kita bebas. Bawa mobil ke tempat yang lebih sepi," pinta Geby.


"Ok,"


Mobil pun tancap gas melaju ke tempat sunyi, ya namanya kota tidak ada tempat yang benar-benar sunyi selain di hutan. Farel pun membawa mobilnya ke hutan jauh dari hiruk piruk kota.


"Sekarang apa? Kita tak bisa terus mengendarai mobil, karena di hutan akan banyak pepohonan," ucap Farel.


"Berhenti di sini, pasukan ku akan segera datang, kita gunakan pistol ini dulu," ucap Geby.


"Pistol? Kau membawanya setiap saat?" tanya Yoga tak percaya.


"Tentu! Aku banyak musuh, tak bisa meninggalkan semua ini," ucap Geby membuka koper yang dia ambil dari bagasi mobil.


"Oh astaga, aku tak menyangka kau selalu membawanya. Kesekolah?" lagi, kedua kakak Geby tak habis pikir, seberapa banyak musuh Geby. Tapi ini bukan saat yang tepat untuk bertanya bukan? Pasalnya sekarang suara mobil semakin mendekat ke arah mereka.


"Cepat lari kedalam hutan," ujar Geby.


Mereka pun memasuki hutan tanpa penerangan apapun hanya sinar bulan yang sedikit menerangi pelarian mereka.


Guk guk


"Anjing?" mereka bertiga saling menatap.


"Akan sulit jika bersangkutan dengan hewan yang satu itu," ucap Geby.


"Berpencar!" ucap Farel.


"Baik!"


Mereka pun perpencar menjadi tiga arah, Farel ke kanan, Yoga ke kiri dan Geby ke depan.


Dorr dorr


Suara tembakan terdengar, entah siapa yang menembak tapi arah suaranya berasal dari arah kanan Geby. Disana arah lari Farel, Apakah Farel terlibat baku tembak? Tak ingin memikirkan kemungkinan terjadi apa-apa pada saudaranya Geby pun mendatangi asal suara tembakan.


"Heh! Ternyata kau saudaranya?" ucap seorang pria yang sekarang masih menodongkan pistolnya kearah Farel yang kakinya kena tembak.


Geby sangat terkejut saat mendengar suara itu. "Delon?" Delon merupakan salah satu anak buah terpercaya Geby di BL. Dia adalah salah satu dari sepuluh anggota berpengaruh Dan juga tahu identitas sekaligus wajah Geby. Dia pemuda yang ditolongnya saat dia sedang di kroyok oleh geng nya sendiri, itu juga karena perbuatannya sendiri yang membuat teman gang nya muak dengan dirinya. Mulanya dia telah berubah, tidak lagi minum-munuman keras, mengosumsi obat-obatan terlarang, tapi terpengaruh oleh apa, dia kembali ke kebiasaannya bahkan mengedarkannya. Geby yang hanya memberi kesempatan sekali pada satu orang pun tanpa ampun mengerluarkannya bahkan meminuminya dengan obat pelupa, tapi mungkin dengan cerdiknya dia tak menelan obat tersebut dan masih ingat sampai sekarang.



__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2