Gadis Jahat Insyaf

Gadis Jahat Insyaf
3.37


__ADS_3

Dengan langkah santai Geby dan Sasa berjalan memasuki kelas mereka yang pertama.


Banyak pasang mata yang memerhatikan mereka, tak terkecuali sepasang mata elang yang dengan tanpa berkedip menatap salah satu dari mereka.


"Siapa? Mahasiswi baru ya?"


"Mungkin?"


Tanpa memperdulikan keingin tahun orang-orang Geby langsung duduk di kursi dekat jendela, tempat duduk favoritnya.


"Geb, aku duduk di depanmu ya," cao Sasa.


"Ya, terserah kau saja," ucap Geby tak perduli.


Tak terasa jam masuk telah datang. Semua mahasiswa/i bersiap-siap mengikuti perkuliahan.


Seketika suasana menjadi riuh tatkala dosennya masuk kelas.


"Wow, siapa...siapa? Mahasiswa baru juga?"


"Tampannya...,"


"Geb geb, coba lihat," ucap Sasa menyuruh Geby dosennya.


"Hmm," hanya deheman dari Geby tanpa Geby perduli dan juga tak melihat apa yang di minta Sasa.


Sasa tak menyuruh lagi, dia kembali mengikuti yang lain bergumam-gumam sendiri atau pun berbicara kepada yang linnya memberikan pendapat.


Mahsiswa/i lainnya riuh, Geby hanya fokus pada fikirannya yang pandangannya itu menatap keluar jendela.


"Selamat pagi!" ucap pak dosen.


"Pagi!" sahut semuanya.


"Saya di sini menggantikan pak Candra untuk mengajar ekonomi," suara berat nan datar menghipnotis semua mahasiswa/i. Mereka semua diam menikmati suara nan indah di telinga tersebut.


Geby masih fokus dengan fikirannya sampai suara berat terdengar sangat dekat di telinganya.


"Sampai kapan kau akan melamun, sayang," bisiknya.


Geby langsung tersadar dan menatap sang empu. "A-adam?" ucap Geby tergagap dengan mata melotot.


Adam tersenyum menatap wajah Geby yang terkejut. "Jangan seperti itu, kau tidak tahu seberapa kerasnya aku menahannya. Ini di kelas, jadi fokuslah belajar," bisik Adam lagi. Tak ada yang menyadari kedekatan mereka berdua, karena yang lainnya fokus mengerjakan soal yang di berikan Adam.


Adam kembali berjalan mengelilingi kursi-kursi mahasiswa/i yang mengerjakan. Banyak mahasiswi yang beralasan tak paham dan meminta penjelasan kembali, tapi apa yang mereka dapat?


"Saya kan sudah bilang, kalau ada pertanyaan, pertanyakan saat saya menjelaskan tadi, sekarang waktu bertanya telah tiada, jadi cepat selesaikan," ucap Adam dengan datar dan tenang.


Jam menunjukkan 12:00, waktunya istirahat. Semua mahasiswi bukannya keluar malahan ngerumunin Adam selaku dosen pengganti.


"Geb, gak di sapa tuh calon?" goda Sasa.


Geby menatap tajam Sasa, membuat nyali Sasa menyiut. "Kantin," ucap Geby yang langsung di setujui Sasa.


Mereka keluar meninggalkan Adam yang dikerumuni para mahasiswi.

__ADS_1


*Kantin*


Uhuk uhuk..."K-kau?" Geby tersedak dengan makanannya. Menatap sang empu pembuat masalah buatnya.


"Ya?" seperti orang yang tak faham, Adam tetap duduk berhadapan dengan Geby mengabaikan Sasa di samping Geby yang menyapanya.


"Sa, kelas," ucap Geby.


"T-tapi...," Sasa tak melanjutkan perkataannya setelah mendapat tatapan tajam dari Geby.


Geby berpaling tatkala tangannya di cekal seseorang, siapa lagi kalau bukan Adam.


Adegan itu membuat mereka jadi pusat perhatian seluruh kantin.


"Lepas!" ucap Geby sambil berusaha melepaskan cekalan dengan menarik-narik.


"Ikut aku," kali ini ekspresi Adam menjadi dingin. Dia terus saja menarik Geby, meski Geby meronta-ronta.


Brak...


Pintu tertutup dengan kencang, membuat mereka berdua berada di ruangan pribadi Adam.


"Siapa dia?" tanya Adam dengan dingin.


"Apanya yang siapa?" Geby benar-benar tidak faham maksud Adam.


"Siapa pria yang menatapmu di kantin tadi?" Adam.


"Pria?" Geby mengingat-ingat, tapi siapa? Dia tidak merasa di tatap saat di kantin tadi.


"Hah!" Adam mengehel nafas kesal, kemudian berbalik membelakangi Geby.


"Hei! Bukannya aku tak sopan sebagai mahasiswimu, tapi ini melanggar etika antara siswa dan guru, jadi biarkan aku keluar. Aku tidak ingin jadi sasaran dari fans-fansmu," ucap Geby hendak membuka pintu. Baru tangannya menyentuh gagang pintu...


"Berhenti disitu, atau...,"


"Atau apa?"


"Atau aku akan mengatakan kepada semua penghuni kampus bahwa kau tunanganku dan oh ya. Aku akan mempercepat pernikahan kita, jadi bersiaplah, karena satu minggu lagi kita akan menikah," ucap Adam.


Geby melotot dan berdiri tegang. Apakah ini akhir hidupnya? Kebebasannya?


"Kau keterlaluan! Kau tak memikirkan persaanku," ucap Geby kemudian dia keluar dan menutup keras pintu.


Brakkk


Mahasiswa/i lain yang sedang berlalu lalang di depan kantor Adam merasa penasaran dan bingung, melihat Geby keluar dari ruangan dosen pengganti yang sekarang hampir selurih mahasiswi mengidolakannya.


Geby tak tahu lagi ingin kemana tujuannya sekarang hanya satu menenagkan dirinya.


Dengan langkah besar, Geby tak sadar dia telah sampai di sebuah ruangan yang mana terdengar suara seseorang yang sedang bermain piano.


Dengan langkah pelan Geby semakin mendekati ruangan tersebut dan dia pun berjinjit melihat siapa yang bermain piano melalui jendela.


"Akh," Geby langsung menutup mulutnya yang tak sengaja berteriak akibat kakinya kesandung kursi yang dia tak sadar kalau ada di sampingnya. Karena dia bergeser terus-terusan akhirnya kesandung dan jatuh.

__ADS_1


"Siapa?" suara berat terdengar dari dalam ruangan.


Geby segera berdiri dan berlari menjauhi ruangan. "Eh kenapa aku harus lari?" gumam Geby yang berhenti berlari dan menoleh kebelakang. Disana berdiri sesosok pria tinggi dengan setelan jaz lengkap.


"Maaf mengganggu permainanmu," ucap Geby seraya membungkuk. Kemudian dia pergi meninggalkan pria itu sendiri dengan seringaian tipis menghiasi bibirnya.


***


Satu minggu telah berlalu. Hari-hari di lalui Geby dengan kuliah dan bekerja. Sampai-sampai dia tak memperhatikan kesehatannya karena terlalu keras bekerja, misi, dan ditambah tugas kuliah yang baru masuk saja sudah menggunung.


"Sayang...Kan sudah mama bilang berhentilah dulu bekerja di kantor, fokus pada kuliahmu saja. Kau kan juga masih sangat muda untuk bekerja sekeras ini," ucap Hana.


"Dengerin tuh kata mama, jangan terlalu keras pada diri sendiri," ucap Yoga.


"Hmmm," hanya gumaman serta anggukan kecil yang diberikan Geby yang sekarang terbaring lemah di kasurnya.


"Hana, keluarga Williams akan datang besok untuk membicarakan tanggal pernikahan nak Adam dan Geby. Bagaimana ini? Sekarang Geby kan sedang sakit," ucap Danu serba salah. Apakah dia harus mendahulukan rekan bisnis atau anaknya?


"Katakan saja kalau Geby sedang sakit, mereka pasti mengerti," ucap Hana.


"Tapi...," Danu.


"Iya ayah, Geby kan sakit, mereka pasti mengerti tentang kondisinya sekarang," ucap Farel yang baru masuk ke kamar Geby.


"Ah, dia benar-benar melakukannya," gerutu Geby dalam hati.


The Next Day


Karena saran Geby, penentuan tanggal pernikahannya tetap berjalan meskipun tanpa kehadiran Geby yang karena masih sakit.


"Maaf tante, boleh saya menjenguk Geby?" ucap Adam sopan pada Hana.


"Oh boleh dong, silahkan!" sahut Hana.


"Aku juga akan ikut!" ucap Yoga tak bisa dibantah.


Adam dan Yoga pun meninggalkan para orang tua untuk menentukan tanggal pernikahan.


"Boleh tanya?" ucap Yoga.


"Hmm," sahut Adam seraya mengangguk kecil.


"Kau bersungguh-sungguhkan dengan adikku? Yah meski dulu kami tak dekat, tapi sekarang aku tak ingin dia menderita lagi," ucap Yoga.


Adam berhenti berjalan membuat Yoga juga ikut berhenti.


"Aku tidak main-main dengannya, meski awalnya hanya penasaran, tapi sekarang aku benar-benar menyukainya," jawab Adam tegas.


"Baguslah kalau begitu,"


Mereka berpisah dia depan kamar Geby membiarkan Adam masuk sendiri.



__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2