Gadis Jahat Insyaf

Gadis Jahat Insyaf
3.59


__ADS_3

Selamat Membaca...



Mata Adam dan Jai terbelalak. Tangan mereka terkepal kuat seraya menggertakkan gigi dan berkata penuh penekanan akan amarah yang akan meluap-luap kalau tidak terhalang oleh jarak jauh setelah melihat siapa sosok gadis yang terbaring di atas ranjang itu.



"Sai...lepaskan dia! Dia tak memiliki salah apa pun. Masa lalu kita tidak ada hubungannya dengannya," ucap Adam.



Wajah panik dan marah dari Adam membuat Sai sangat senang, dia tertawa terbahak-bahak menikmati itu.



"Hahahaha, kau masih sama Dam. Menyukai gadis ini? Benarkah itu? Atau jangan-jangan sebab kau membela perempuan hina itu karena kau menyukainya juga? Hahahaha, kau lemah akan perempuan? Hahahaha," Sai tak henti-hentinya tertawa.



Adam sangat geram, Jai pun juga, tapi Jai teringat dengan satu hal. Dia tahu bahwa Sai dan Efendy adalah organisasi mafia terkuat nomor dua. Akan tetapi mengapa melakukan itu dia juga tahu, karena dia merasa marah akan dirinya dan Adam, tapi kalau itu Efendy dia tidak akan melakukan ini. Ini pasti ulah Sai sendiri, meski Efendy juga keras kepala dan pendendam tapi dia tidak akan melakukan hal seperti ini.



Jai pun memiliki ide untuk mencari kontak Efendy. Dia pergi keluar meninggalkan Adam dan Sai.



Dia langsung menuju ruangannya dan duduk di meja menatap layar komputer. Dia sangat fokus beberapa saat sampai dia berkata. "Ketemu...," setelah itu dia mengeluarkan ponselnya. Menekan nomor disana dan terlihat menghubungi seseorang.



"Hallo," suara seseorang dari seberang.



"Efendy," panggil lirih Jai. Dusta kalau dia tak merindukan kebersamaan mereka, tapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk itu.



"Kau Jai?" Tanya Efendy.



"Ya, ini aku. Aku tidak akan bertele-tele. Apakah kau tahu di man Sai sekarang?" Tanya Jai langsung. Dia tidak memiliki waktu banyak sekarang, dia tahu betapa nekatnya Sai dalam berbuat. Dia tidak akan memperburuk hubungan yang sudah buruk ini.



"Apa maksudmu? Aku tidak tahu di mana dia," jawab Efendy.



Terdengar oleh Efendy Jai sedang menghela nafas frustasi, Efendy tahu kalau mantan temannya itu sedang dalam masalah.



"Memangnya ada apa?" Tak dapat di pungkiri kalau Efendy juga merindukan kebersamaan mereka. Berbicara seperti ini saja ada terselip rasa senang di hatinya, meski ini pembicaraan yang tak menyenangkan.



"Sai berbuat ulah! Kau tahu?" Masih tak memahami arah pembicaraan Jai. Efendy bertanya lagi. "Maksudnya apa? Memangnya apa yang telah di perbuat Sai?"



"Belum, tapi akan terjadi, kalau tidak di cegah," Jai menarik nafas untuk melanjutkan perkataannya. "Jadi bisakah kau membantuku untuk menghubungi Sai?"



Efendy merasa bimbang, tapi dia meyakinkan kalau ini tidak seburuk itu. "Ceritakan dulu sebenarnya apa yang di lakukan Sai!" Ucap Efendy.



"Fyuhhh," Jai menghela nafas berat sebelum memulai ceritanya. Sebenarnya ini bukan waktu yang tepat untuk menceritakan semunya, akan tetapi Efendy adalah orang yang keras kepala. Dia tidak akan membantu kalau dia sendiri tidak tahu apa yang harus dia bantu.



Jai menceritakan hubungan Adam dan Geby, sampai kejadian, dimana Geby di culik dan tanpa di sangka yang menculiknya adalah anak buah Sai.

__ADS_1



Mendengar cerita Jai, Efendy terkejut. Bukan karena perbuatan Jai. Akan tetapi hubungan Adam dan Geby. Dia tidak tahu kapan mantan temannya itu melangsungkan pernikahan.



"Baiklah, aku akan membantu, jadi tunggulah," ucap Efendy langsung memutuskan hubungan telepon mereka.



Kembai kepada Adam yang naik turun akan amarahnya yang terus menerus di permainkan oleh Sai.



"SAI....," teriak Adam yang telah melewati puncak amarahnya. Akan tetapi kepada siapa dia akan melampiasakannya. Tidak ada seorang pun di sekitar nya saat ini, dia sendirian di ruangan itu sembil menatap layar komputernya yang mana di seberang sana Sai mulai melancarkan aksinya.



"Ku peringatkan kau Sai... Aku tidak akan mengingat bahwa kita pernah berteman kalau kau macam-macam dengannya," peringat Adam.



Tapi peringatan itu di anggap Sai lucu, dia tertawa terbahak-bahak, menikmati kemarahan Adam.



Sai kembali memulai aksinya dengan membuka satu-persatu kancing kemeja Geby.



Geby yang masih dalam keadaan tak sadarkan diri tidak mengetahui itu dan dapat di pastikan jika dia mengetahuinya habis tuh Sai.



Lagi-lagi Adam berteriak memperingatkan, tapi dia tidak tinggal diam, dia terus memerintahkan bawahannya untuk mencari lokasi Geby sekarang.



Entah mengapa itu sangat sulit, karena semua nya telah di susun sedemikian rapi oleh Sai.




Dia mengangkat teleponnya. "Ya, ada apa kau mencariku?" Tanya Sai.



Adam fokus mendengarkan percakapan Sai yang entah dengn siapa.



"Kau membelanya?" Tanya Sai terdengar tak suka.



"Itu sama saja!"



"Kau selalu seperti ini. Apakah ku lupa dulu? Gara-gara satu cewek persahabatan kita bubar,"



"Aku tidak peduli! Aku tutup!"



Sai memutuskan panggilannya secara sepihak. Mungkin orang yang di seberang masih ingin berbicara akan tetapi tidak dengan Sai yang terlihat tidak mood lagi.



"Kau lihat Dam? Efendy masih saja membelamu," ucap Sai sendu dengan tertunduk.



Adam mendengar, dia juga terkejut, apakah yang menelepin barusan adalah Efendy, Adam tidak tahu pasti, tapi mungkin itu benar.

__ADS_1



"Sebenarnya aku melakukan ini hanya untuk bisa berbicara dengan mu Dam. Aku rindu kebersamaan kita dulu. Aku ingin kembali seperti dulu, tapi kau... Tidak pernah menghiraukannya," ucap Sai sendu.



Tak dapat di pungkiri bahwa Adam pun merasakan hal yang sama, akan tetapi karema ego masing-masing tidak ingin mengalah. Jika ada dia diantara mereka yang berniat lebih dulu untuk berbaikan dapat di pastikan tidak akan sampai sekarang mereka masih bermusuhan.



"Aku juga inginnya begitu, akan tetapi egoku terlalu tinggi untuk memulainya, jadi ku urungkan itu," ucap Adam dengan tatapan sendu menatap layar komputer dimana Sai berada.



Saat mereka masing-masing merenungkan kesalahan dan edo mereka, tanpa mereka sadari kalau Geby mulai sadar. Akan tetapi dengan cerdiknya Geby tak membuat mereka sadar kalau dirinya sudah bangun.



"Jadi bisakah kalian berbaikan dan singkirkan ego kalian dan bermaafanlah. Dan oh lepaskan ikatan ini, ini menyakitkan tau," gerutu Geby.



Kedua pria yang sedang merasa bersalah itu tersadar dan mendokangak menatap seseorang yang menggerutu.



"Geby!" panggil Adam.



"Hmm, apa? Suruh temanmu ini melepasakan ikatan ini," ucap Geby santai.



Lain Adam, lain Sai yang cengo menatap Geby yang terlihat biasa saja, padahal dirinya saat ini sedang di ikat dan pastinya kalau di ikat itu di sarang musuh kan.



"Hei kau, siapa namamu, teman Adam kan. Tolong lepas ikatan ini," ucap Geby sambil menyodorkan tangannya yang terikat.



Sai masih saja diam menatap Geby dengan Cengo sampai dia tersadar karena seseorang mendobrak pintu kamar hotel.



"Sai!" Panggil orang itu. Ternyata dia adalah Efendy.



Efendy langsung menarik Sai dan menelan kedua bahunya menatap matanya. "Hentikan ini! Ini bukan lah sesuatu yang kita ingin kan bukan?" ucap Efendy.



Sai masih diam mencerna apa yang terjadi, dia masih diam saat Efendy beralih kepada Geby dan melepaskan ikatannya.



"Sai sadarlah, kalau kita ingin berbaikan bukan begini caranya. Kita bisa berbicata baik-baik!" ucap Efendy lagi.



Efendy terus berbicara tanpa henti membuat Geby jengah dibuatnya.



"Ekhem, maaf memotong pembicaraan kalian, tapi kalian bisa bicara dengan mereka langsung," ucap Geby sambil menunjuk kamera dan di sampingnya ada layar yang menunjukkan keberadaan Adam dan Jai.



Geby sedikit banyak telah memahami hal rumit di antara mereka berempat saat Adam dan Sai berbicara sebelumnya, jadi di usahakan sebaik mungkin dia akan menjadi penengah bagi mereka. Entah akan berhasil atau tidak yang penting di coba dulu.



Maaf baru up...


Author perlu banyak memikirkan alur ceritanya, jadi gak bisa UE terus, tapi di usahakan satu minggu itu ada lah up nya.

__ADS_1


•••


Terimakasih kepada pembaca setia...


__ADS_2