Gadis Jahat Insyaf

Gadis Jahat Insyaf
3.6


__ADS_3

Sepertinya dia tak puas dengan jawabanku "Iya apa?" ucap nya lagi. Ah dia ini kok jadi banyak bicara ya setelah mengalami kecelakaan itu, apa otaknya mengalami masalah dan membuat kepribadian berbanding terbalik dari yang biasanya hanya bicara saat dia ngebully atau memarahi orang dan sekarang? Menjadi terlalu cerewet.


"T-tidak ada apa pun di wajahmu, c cuman a aku kaget saja, k-karena kau mau duduk di dekatku," ucapku seperti biasa tergagap.


"Emangnya kenapa? Kau kan juga manusia, dan emmm tidak kotor dan jika di perhatikan dengan sesama kau ganteng juga," ucapnya dengan santai. Tapi tidak denganku yang di kataka begitu. Aku tidak tahu kenapa wajahku terasa panas dan jantungku berdetak lebih cepat setelah mendengar perkataan Geby itu. Ku rasa wajahku sudah sangat memerah?


"Kamu berubah," tanpa sadar aku mengatakan itu dengan pelan, tapi sialnya di didengar oleh Geby.


"Emangnya kamu mau aku tetap seperti dulu, selalu membulat mu?" ucapnya dan aku langsung menggeleng tidak setuju "T tidak, aku suka kau seperti ini," sial kenapa aku refleks mengatakan itu.


"Eits, jangan naksir denganku ya," ucapnya sambil melambaikan lengannya ke kanan dan ke kiri.


Dan langsung ku sanggah "E-eh, t-tidak kok cuman aku suka lihat kamu tidak membully lagi," sekarang aku benar-benar gugup dan berkata gagap beneran. Apakah ini karma karena aku terlalu berakting membohongi semua orang? Amit-amit, tapi sekarang aku beneran gugup loh.


"Oh, tapi kalau suka beneran sih juga gak pa pa," lagi-lagi ucapanya itu membuatku tersentak "Eh???" aku tak dapat berkata apa-apa lagi, dia sungguh telah berubah.


Sekarang saatnya pulang, waktu yang selalu ku tunggu-tunggu, karena saat tidak berada di lingkungan sekolah aku dapat menjadi diriku sendiri.


Saat aku hendak beranjak keluar kelas tiba-tiba Geby menghentikanku, aku merasa aneh tapi raut wajah yang seharusnya terlihat menatap aneh tapi ku tutupi dengan ekspresi takut-takut.


"Dik, kamu ada waktu?" Tanya Geby padaku. Aku jadi bingung mau jawab apa, lalu ku jawab saja "Hah? Y ya ada kok,"


"Ikut aku," ucapnya sambil menarik lengan bajuku. "Kemana?" tanyaku "Ikut aja," ucapnya membuatku semakin penasaran yang akan di lakukannya padaku. Apakah dia akan membully ku, tapi kan...

__ADS_1


Saat fikiranku kemana-mana ternyata kami telah berada di depan cafe yang masih dekat dengan sekolahan. Kami duduk di salah satu meja dan pelayan cafe pun mendatangi kami.


"Ada yang ingin di pesan?" tanya pelayan cafe tersebut menghampiri kami berdua yang telah duduk.


"Kapucino," ucap Geby, dan kemudian "kamu?" tanya Geby padaku. "Samain aja," ucapku. Memang minuman itu merupakan minuman kesukaan ku. Aku tak menyangka jika dia juga suka akan minuman itu.


Aku menunggu apa yang akan di lakukan atau di katakan Geby, tapi tak ada apa pun, suara maupun perkataan yang keluar dari mulut Geby, dia terlihat sedang berfikir, jadi dari pada membuang waktu lebih lama lagi, lebih baik di selesaikan dengan cepat. "A ada apa kamu ngajak aku ke sini?" tanyaku dengan nada gugup seperti biasa.


"Aku mau tanya, karena hanya kamu yang mudah di dekati," jawabnya dan kemudian terdiam sejenak, entah apa? Tapi terlihat dia sedang berfikir.


"Tanya apa?" tanyaku penasaran.


"Begini, siapa saja yang pernah ku bully selain kamu dan Keyza?" pertanyaan Geby membuatku terkejut dan akhirnyab tersedak salivaku sendiri. Geby? Nanyain apa? Siapa saja yang di bully? Benarkah? Apakah aku tidak salah dengar? Ya ku coba saja jawab.


"Eh? I itu yang sering kamu bully cuman aku dengan Keyza, untuk yang lain paling kamu gertak," ternyata pendengaranku tak salah dan memang cuman aku dan Keyza yang sering di bullynya sih.


Hah? Mengapa raut wajahnya seperti tak percaya gitu, kan dia yang melakukannya, tapi kok gak ingat? Atau memang otaknya ada masalah akibat jatuh tersebut?


"I-iya, kalo di sekolahan cuman itu, palingan kamu ngebentak murid lain kalau membuat salah denganmu," lanjutku menjelaskan. Ya memang faktanya begitu, meski dia suka. ngebully dan memarahi murid lain, tapi tak keterlaluan kok.


Pesanan kami datang, tapi kulihat Geby tak menyadarinya, aku coba memanggilnya, tapi tak ada tanggapan. Dia melamun? Tapi apa yang di fikirkannya sampai tak menyadari sekitarnya begitu.


Aku pun bangkit dan berdiri di sampingnya lalu menepuk bahunya "Eh ya?" dia terkejut? Wah berarti dia memikirkan sesuatu itu dengan sangat keras.

__ADS_1


Aku langsung kembali duduk setelah dia sadar dari lamunannya dan berkata "T-tidak, hanya saja kau melamun, dan pesanan kita juga sudah di antarkan," alasanku merujuk pada pesanan yang sudah diantarkan beberapa waktu lalu, karena tidak ingin mengatakan mengatakan sejujurnya, jika aku penasaran dengan apa yang di lamunkannya.


"Oh sampai tak sadar aku jika pesanan kita sudah ada. Kalau begitu," dengan memposisikan dirinya berdiri di samping kursinya kemudian membungkuk.


Aku juga langsung berdiri dan membungkuk sedikit memberikan kesan sopan terhadap orang yang membungkuk, meski lagi-lagi aku terkejut saat dia berkata "Aku akan minta maaf padamu terlebih dulu atas kesalahanku sebelum-sebelumnya," dia pun bangkit dari membungkuknya, aku pun mengikutinya "Jika kau mau minta sesuatu sebagai bayarannya, katakanlah," lanjutnya.


Aku langsung menjawab "Tidak perlu, aku sudah memaafkanmu kok,"


"Masa?" ucap seperti ragu, yah wajar sih, karena dia sering membullyku dan aku langsung memaafkannya setelah melakukan banyak hal perbully an terhadapku, jika orang lain mungkin akan meminta sesuatu yang membiat si peminta maaf akan kembali marah untuk membalas, mungkin. Tapi aku tidak memang aku tak terlalu membencinya karena dia tidak terlalu keterlaluan juga saat membully ku, lebih parah murid lainnya menurutku.


"Beneran," ku yakinkan dirinya jika aku memang tulus memaafkannya.


Tapi satu ide terlintas di otakku "Tapi kalau kamu benar-benar mau memenuhi permintaanku, aku punya satu permintaan," ucap ku takut-takut kalau dia menolaknya.


"Apa itu?" tanya Geby penasaran.


"Bisakah kita berteman? A ah maksudku, kau tahu sendiri aku tak memiliki satu pun teman di sekolah, ku lihat kamu juga gak ada yang suka," ucapku takut-takut jika dia menolak.


"Ngeledek nih," ucapnya, aku langsung menyanggahnya "T tidak tidak,"


"Santai bro, aku mau kok, lagian aku juga gak suka berteman dengan orang munafik," ucapnya santai. Geby benar-benar telah berubah, tidak seperti biasanya, sebelum dia mengalami kecelakaan, saat dia merasa tidak senang akan sesuatu dia akan langsung marah dan membentak orang yang membuatnya moodnya buruk.


Aku juga tak suka orang munafik, tapi aku melihat jika Geby ini telah berubah dan sebelumnya juga dia melakukan apa yang difikirkannya tanpa menutup-nutupi dengan wajah palsu seperti orang munafik.

__ADS_1


.........


Happy Reading


__ADS_2