Gadis Jahat Insyaf

Gadis Jahat Insyaf
3.21


__ADS_3

Disebuah kamar serba putih terbaringlah seorang perempuan yang dengan segala macam alat bantu kehidupan melekat ditubuhnya. Alat pendeteksi jantung berfungsi dengan normal. Tapi sesaat kemudian bunyi dari alat itu mengeras dan grafik jantungnya semakin tak menentu, orang yang terhubung dengan alat itu pun mengalami kejang-kejang.


Para dokter serta perawat yang menangani berlari dengan cepat saat bunyi alarm terdengar dari kamar rawat.


"Apa yang terjadi?" tanya seorang dokter yang sudah terlihat berumur yang baru datang.


"Dokter Bowo? Oh ini pasien mengalami kejang-kejang dan detak jantungnya pun sangat lemah," jelas Dokter muda yang lebih dulu berada di kamar rawat.


"Gunakan alat pacu jantung untuk mengembalikan kestabilan jantungnya," perintah Dokter Bowo.


"Baik!" semua Dokter mulai mempersiapkan alat pacu jantung untuk mengembalikan kenormalan detak jantungnya yang melemah.


Semua Dokter bersiap untuk menggunakan alat pacu jantung kepada pasien. "Satu," jreet...."Lagi, dua," jreeet...."Lagi, tiga," jreeett. Tit tit tit. Akhirnya percobaan ketiga mengembalikan detak jantungnya kembali normal.


"Fiuhhh! Kondisinya kembali normal dan bahkan jari-jarinya telah memberi respon," ucap Dokter Jiko, Dokter muda berbakat.


"Syukurlah! Kalau tidak apa yang harus kita katakan pada tuan?" ucap Dokter Kai. Dokter muda berbakat lainnya.


"Untungnya dia baik-baik saja!"


Mereka semua pun keluar dari ruang rawat, meninggalkan sang pasien beristirahat sendiri setelah melepas beberapa alat medis yang tak diperlukan lagi, karena kondisi pasien mulai membaik setelah mengalami situasi hidup dan mati.


Beberapa hari kemudian, semua alat medis yang terpasang telah dilepas dan hanya meninggalkan infus dan alat bantu pernafasan.


Respon semakin sering diberikan oleh pasien. Siapakah pasien itu? Dia adalah Geby.


Tepat jam di dinding menunjukkan pukul 4 sore, kembali respon diberikan oleh Geby. Tapi sekarang bukan hanya pergerakan pada jari tapi juga pada kelopak matanya.


"Euhh," lenguhan terdengar sangat pelan dari Geby. Hanya ada satu orang yang ada di dalam kamar rawat. Tapi dia pun tak menyadarinya sampai pada saat....


Geby mengerjap-ngerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk keretinanya. Dia melihat, menelusuri keseluruh ruangan. Tapi hanya satu orang yang dilihatnya yaitu seorang pria.


Seperti memiliki insting yang tajam, pria itu langsung menoleh kearah Geby saat sebelumnya fokus pada ponselnya. Dia berdiri dan berjalan kearah Geby dan menekan tombol panggilan pada para Dokter yang menangani Geby. "Cepat kekamar rawat!" ucapan pria itu tak terbantahkan.


Menunggu para Dokter datang pria itu pun bertanya kepada Geby.


"Apakah masih ada yang terasa sakit?" ucapnya datar. Tapi kedataran dan kedinginannya saat bicara tak mengurangi ketampanannya yang tak disadari Geby saat melihatnya dari kejauhan. Tinggi, putih, hidung mancung, bibir seksi, rahang kokoh, pokoknya sempurna deh dari segi fisik.


Ingin menjawab tapi tak dapat mengeluarkan suaranya. "Ada apa dengan ku? Siapa pria ini? Dan siapa aku?" batin Geby.

__ADS_1


Tak berapa lama tiga orang Dokter datang yaitu, Dokter Bowo, Dokter Jiko dan Dokter Kai.


"Periksa!" perintah pria itu.


"Baik tuan!" jawab ketiga Dokter tersebut.


Para Dokter pun mulai memeriksa Geby, mulai dari mata, detak jantung dan sebagainya.


"Kondisi nona ini sudah jauh lebih baik, tapi karena terlalu lama koma, tubuhnya masih lemah dan juga akan sulit untuk bicara dalam beberapa hari ini," jelas Dokter Bowo.


Pria itu mengangguk saja.


"Koma? Kenapa aku bisa koma?" batin Geby.


"Kalau begitu kami permisi," ucap Dokter Bowo.


"Silahkan," sahut pria itu.


Besok dan besok dan besok harinya sampai hari ke lima pria tersebut selalu datang menemani Geby, meski Geby tak dapat melakukan apapun termasuk bicara.


Tapi pada hari kelima ini Geby mulai bisa mengeluarkan suara pelan. "Maaf, bisakah saya bertanya?" tanya Geby dengan pelan dan sopan, karena geby melihat pria didepannya ini cukup jauh lebih tua dirinya, jadi dia bicara formal.


"Tanyakan," ucapnya.


Pria didepannya sedikit terkejut namun dengan cepat dia mendatarkan wajahnya kembali.


Bukannya menjawab pria tersebut malah memanggil para Dokter.


Sesaat kemudian Dokter Jiko datang sendiri. "Ada apa tuan?" tanyanya.


"Periksa!" perintahnya.


"Baik," Dokter Jiko pun memeriksa Geby tapi tak di dapatinya gejala apapun.


Dokter Jiko bingung mau bilang apa, tapi kalau tidak melakulan apapun semua ini tak akan selesai dengan cepat. Pasalnya dia tak bisa berlama-lama dekat dengan yang disebutnya tuan ini.


"Maaf tuan Adam, saya tak menemukan kejanggalan apapun dari nona ini," ucapnya dengan hati-hati.


Adam masih diam melihat kearah Geby, sedangkan Geby yang terus dilihat merasa risih.

__ADS_1


"Dia tidak tahu dengan dirinya sendiri," ucap Adam singkat. Hanya orang-orang terdekat saja yang bisa memahami perkataan singkat Adam ini termasuk Jiko yang pada dasarnya merupakan anak muda yang sudah sejak kecil di ambil Adam dari panti asuhan karena melihat kecerdasannya.


"Akan lebih baik jika kita periksa tengkorak kepalanya dengan Rontgen," Dokter Jiko.


"Lakukan saja!" ucap Adam.


Rontgen pun di lakukan di ruangan berbeda, yaitu ruangan khusus untuk melakukan Rontgen.


Mula-mula Geby dibaringkan pada meja pemeriksaan untuk diperiksa, kemudian alat pemindaian akan beberapa kali memindai untuk menghasilkan sejumlah gambar.


Setelah dirasa cukup Dokter Jiko pun menjelaskan mengenai gambar yang dihasilkan dari hasil pemindaian


"Tidak ada cedera pada tengkorak yang serius, retak pun tidak ada, jadi nona apakah kau serius tidak mengingat dirimu sendiri?" Jiko.


Geby mengangguk. "Benar! Aku benar-benar tidak tahu siapa diriku dan mengapa aku bisa di sini!" ucap Geby.


Dokter Jiko menatap Adam, Adam yang ditatap mengangguk. "Ada yang aneh, tidak mungkin seseorang yang jatuh dari ketinggian 30 meter kebawah tidak mengalami cedera serius, tapi dia hanya hilang ingatan," batin Adam.


Mereka kembali ke kamar rawat. Sesampainya disana Geby ditinggalkan sendiri dikamarnya.


••••••••••••••••


"Kami benar-benar dari organisasi pedang hitam," ucap salah satu dari organisasi pedang hitam yang masih sadar, karena hampir kedua puluh orang lainnya telah babak belur dan tak dapat bicara lagi.


"Kalian masih untuk kami yang menginterogasi kalian, kalau ketua kami yang melakukannya kalian tak akan masih berbentuk seperti ini," ucap Jei.


Adam datang ke markasnya, ya yang dimaksud oleh Jei ketua itu adalah Adam.


Adam merupakan ketua dari organisasi mafia paling terkenal kejam didunia. Kalau Organisasi Blue Scorpio terkenal didunia, tapi dalam hal baik berbeda dengan mafianya Adam yang mendunia karena kebaikan dan juga keburukannya. Organisasi mafia ini juga yang sangat sulit untuk Geby korek informasinya, Karena tingkat pengamanannya sangatlah ketat.


"Bagaimana hasilnya Jei ?" tanya Adam pada Jei.


"Mereka hanya mengatakan mereka hanya anak buahnya dari organisasi pedang hitam, sedangkan ketuanya saat kejadian itu tidak ikut hanya wakilnya saja yang ikut, itupun telah dihabisis oleh gadis yang kau bawa," jelas Jei. "Selanjutnya bagaimana?" lanjutnya.


"Habisi!" ucapnya singkat, tapi bagaikan petir yang menyambar disiang hari bagi yang akan menerimanya.


Setelah Adam pergi dari markasnya suara rintihan kesakitan menggema diseluruh sudut ruangan. Masih enak kalau mati dengan sekali tembak, tapi ini tidak karena cara mereka menghabisi musuh yaitu dengan cara mengulitinya sampai musuh itu mati kesakitan dengan sendirinya.


__ADS_1



Happy Reading


__ADS_2