
Clek
Pintu terbuka, membiarkan Adam masuk dengan leluasa ke kamar Geby yang saat ini sedang tertidur nyenyak setelah meminum obatnya.
Adam mendekati kasur Geby, duduk di sampingnya dan menggenggam erat tangannya.
"Tidak bisakah kau membuka hatimu untukku? Aku benar-benar mencintaimu Geb," ucap Adam sambil mencium tangan Geby.
Melepaskan genggamannya, dia beralih mengecup kening Geby dan berkata lagi. "Aku akan bersabar menunggumu menerimaku," Adam pun keluar meninggalkan Geby yang ternyata setelah Adam keluar dia membuka matanya.
"Maaf, aku juga tidak tahu mengapa aku tidak bisa membuka hati pada pria manapun. Aku merasa ada yang telah terjadi di kehidupanku sebelumnya, tapi aku tidak tahu itu," lirih Geby kemudian memejamkan matanya kembali.
Dua hari berlalu, sekarang Geby telah sehat dan kembali melakukan aktivitas biasanya. Tapi sekarang dia hanya berfokus pada kuliahnya dan tidak bekerja lagi di kantornya, karena dia telah dilarang oleh kedua orang tuannya dan sekarang perusahannya dijalankan oleh kedua kakaknya dibantu anggota BS.
Geby sedang melamun di kursinya dan tiba-tiba.
Brakkkk...
"Hei kau yang namanya Geby?" tanya sarkas seorang perempuan yang di ikuti yang lainnya sambil melempar undangan ke mejanya.
"Iya," sahut Geby malas. Jantungnya hampir copot, karena terkejut.
Geby mengambil undangan itu dan...Braakkk...Geby berdiri seraya menggebrak meja. Dia menembus para perempun yang tadinya marah-marah terhadap Geby, tapi sekarang nyali mereka menciut tatkala melihat kemarahan yang begitu menakutkan dari mata Geby.
Geby tergesa-gesa menuju ke suatu tempat. Menabrak, menyenggol orang-orang yang berlalu lalang tanpa meminta maaf setelahnya.
"Hei," teriak seseorang yang telah di tabrak Geby. Geby berhenti dan menoleh dengan mata yang berapi-api. "Apa?" ucap Geby dengan dingin.
"T-tidak a-apa-apa," ucap orang itu yang nyalinya menciut setelah melihat Geby yang tidak dalam mood baik.
Geby kembali melanjutkan jalannya dan Brakkk...
__ADS_1
Dia membuka pintu dengan keras setelah sampai pada tujuannya....
Geby tak menghiraukan orang-orang yang ternyata juga ada di dalam kantor Adam. Mereka adalah dosen lainnya. "Bisa bicara?" tanya Geby dengan dingin.
"Kau tak tahu sopan santun ya," ucap salah satu dosen dengan marah.
Geby tetap menatap lurus kepada Adam yang juga menatap Geby.
"Mari kita sudahi dulu rapat ini sekarang," ucap Adam yang langsung berdiri menghampiri Geby yang ternyata sebekum dia dekat dengan Geby, Geby telah berjalan mendahuluinya. Terpaksa Adam mengikutinya.
Plak
Sebuah undangan mendarat di lantai tepat di depan Adam berdiri. Adam berjongkok mengambilnya dan melihat isinya.
"Apa itu? Mengapa sampai tersebar di kampus? Aku setuju dengan pernikahan ini, tapi aku tidak ingin diketahui oleh seluruh kampus. Kau tahu sendiri bagaimana keadaanya kan," ucap Geby.
"Lalu siapa?" tanya Geby sangat-sangat marah. "Kalau begini lebih baik aku pindah universitas. Aku tidak ingin kuliahku terganggu," lanjutnya.
"Aku akan mencari tahu. Untuk sekarang kau harus menjaga kesehatanmu untuk dua hari kedepan, karena kita akan menikah pada hari itu. Dan masalah pindah, aku akan mengurusnya. Karena setelah kita menikah, kita akan pindah kota," ucap Adam.
"Apa! Dua hari lagi? Kenapa sangat cepat, bukankah kau memberikanku waktu sampai aku bisa menerimamu? Dan mengapa harus pindah kota? Apakah itu tak terlalu berlebihan?" ucap Geby kaget. Dia tak menyangka dia akan menikah dan sekarang setelah menilah dia harus pindah kota mengikuti Adam?
"Benar aku akan menunggumu sampai menerimaku, tapi dengan status pernikahan. Dan pindah, kurasa tidaklah berlebihan," ucap Adam. "Itu untuk mengikatmu agar tak kelain hati, dan masalah pindah itu akan menjauhkanmu dari dunia bawah," batin Adam.
Dengan tergesa-gesa dalam dua hari tersebut Geby dan Adam harus fitting pakaian pengantin. Karena Geby sempat sakit dan Geby pun baru tahu kalau pernikahannya tinggal satu minggu lagi. Karena dia tak pernah bertanya kapan jadwal pernikahannya.
"Kalian sudah sampai! Yuk masuk, gaun pengantin dan Jaznya sudah disiapkan tinggal kalian coba," ucap Hana.
"Yuk cepat mama sudah tak sabar melihat kalian mengenakannya," ucap Sania.
__ADS_1
Selama hampir 2 jam dihabiskan untuk mencoba beberapa gaun pengantin. Betapa lelahnya Geby, lebih lelah daripada menjalankan misi ketibang ini, fikir Geby.
Tak terasa dua hari telah berlalu, hari yang dinantikan oleh dua keluarga telah datang. Tapi kita tidak tahu bagaimana hati sang pengantinnya.
Tamu undangan berdatangan di sebuah hotel berbintang lima yang di sewa untuk acara pernikahan Adam dan Geby.
Menuju ke kamar hias. Di dalam sudah ada Geby yang baru saja di dandani.
"Geb, sudah siap?" tanya Hana yang baru datang untuk menjemput.
Geby mengangguk mengiyakan dan dia pun di giring ke aula pernikahan dan acarapun dilaksanakan dengan khidmat.
Sekarang acara resepsinya. Para kolega bisnis, baik itu dari perusahaan Geby maupun Adam berdatangan mengucapkan selamat.
"Yo bro, selamat atas pernikahannya!" ucap seorang pria tampan yang Geby pun pernah melihatnya tapi tak mengetahui namanya.
"Terimakasih sudah datang, jer,!" ucap Adam tersenyum tipis
Dia adalah Jeremy, kolega sekaligus sahabat Adam dan juga merupakan seorang tata usaha di General University.
"Tak perlu sungkan! Jadi ini wanita yang mampu meluluhkan hati yang membeku temanku ini," ucap Jeremy menatap lekat Geby.
Geby hanya tersenyum tipis menanggapinya tanpa ada niatan membalas ucapan Jeremy.
Tamu undangan secara bergantian memberikan ucapan selamat kepada pengantin baru ini.
Dikha dan Ardikha juga berhadir selaku keponakan Adam serta teman Geby. Yang tak di sangka itu Kenan datang juga. "Selamat! Sepertinya aku tak memiliki kesempatan lagi untuk mendapatkanmu lagi. Aku sekarang sadar akan semua hal yang kau lakukan dulu dan tahu mengapa kau melakukan itu, tapi sekarang sudah terlambat. Aku hanya bisa minta maaf untuk segala yang pernah ku lakukan terhadapmu," ucap Kenan dengan ekspresi sedih.
Adam yang mendengar itu mengepalkan tangannya kuat, jngin rasanya memukul wajah itu, tapi setelah dia melihat Geby yang biasa saja amarahnya mereda.
"Yang berlalu biarlah berlalu. Kita masih bisa menjadi teman," ucap Geby tenang dengan seulas senyuman tipis terpatri di bibirnya.
Tak terasa acara hampir selesai dan Geby hampir tak mampu lagi menopang tubuhnya yang gemetar.
"Kenapa? Apakah kau tidak enak badan?" tanya Adam khawatir.
Geby menggeleng sambil memegang perutnya. "Katakan ada apa denganmu," ucap Adam dengan nada mulai tak sabar. Dia itu khawator terjadi apa-apa pada Geby bukannya marah.
"Emmm, aku lapar," ucap Geby. Yah karena Geby dari malam tidak makan, bukan disengaja, tapi tak nafsu makan karena gugup, mengingat beaok harinya. Dan sekarang acara hampir selesai baru laparnya terasa.
"Aku akan mengantarmu ke kamar dulu baru mengambilkanmu makanan," ucap Adam yang langsung membopong Geby, membuat para tamu yang belum pulang serta keluarga berteriak histeris melihat keromantisan mereka. Berbeda dengan Geby yang malu setengah mati. Dia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Adam.
"Huuuu, pasangan baru tak sabar ya...,"
"Sabar sabar bos, masa kami di tinggal sih,"
Happy Reading
__ADS_1